Stella sedang diatas panggung, Mike menghampirinya dan berbisik.
“lusa datang kepesta kolam berenangku”
“APA!”
“LUSA DATANG KEPESTA KOLAM BERENANGKU!” Ulang Mike berteriak ditelinga Stella
“oke” jawab Stella dan sama sekali tidak merasa terganggu akan itu, ia terus memainkan alat djnya.
“awas tidak datang!” teriak Mike hendak terun dari atas panggung, Stella mengangkat jari jempolnya pertanda bahwa dia akan datang.
Leon yang melihat itu merasa tidak suka, ia menatap sinis pada Mike ketika Mike menghampirinya.
“Day! Leon! Aku senang bisa melihat kalian disini. Ini datang ya” ujar Mike sambil memberikan undangan masing-masing satu pada Day dan Leon.
“kau mengadakan pesta lagi?” tanya Day membuat Mike menganggukan kepalanya.
“yoi bro, tanpa pesta dan wanita aku bisa mati. Haha”
“ck, dasar gila pesta!” komentar Leon
“kalian jangan lupa datang lusa ya, dj cantik kita Stella akan datang menghibur” ujar Mike lalu pergi dari hadapan Leon dan Day.
“jadi kau tidak akan datang?” tanya Day membuat Leon menggelengkan kepalanya,
“pasti!” jawab Leon sambil meremas undangan yang diberikan oleh Mike tadi.
$$
Pukul 01 dini hari Stella tidak menyangka Leon akan berkunjung ke apartemennya, Stella tidak mengusir Leon karena itu akan percuma saja.
Stella membuatkan teh panas untuk Leon, namun ketika ia sampai diruang tamu dimana Leon berada. Leon tertidur disofa. Stella menghela nafas kasar, lalu mengambil selimut untuk Leon.
Pandangan Stella jatuh pada wajah tampan Leon, Tuhan benar-benar menciptakan Leon dengan sempurna. Tanpa sadar tangan Stella menyelusuri wajah Leon, sungguh pemandangan yang indah.
Stella segera menggelengkan kepalanya ketika melihat bibir Leon, didalam pikiran Stella ingin sekali mencium bibir Leon.
Stella bangkit lalu masuk kedalam kamarnya meninggalkan Leon yang sudah tertidur, tidak butuh waktu lama Stella sudah berada dialam mimpi.
Leon terbangun dan melihat sekelilingnya, Leon tersenyum. Sekarang Leon berada diapartemen Stella. Leon berjalan menuju kamar Stella. Dan dengan santainya Leon tidur disamping Stella jangan lupakan Leon juga memeluk Stella.
‘nyaman sekali’ ujar Leon pelan lalu mencium kening Stella.
“selamat malam honey” ujarnya lalu kembali memejamkan matanya.
Stella bangun lebih terlebih dahulu, rasanya Stella ingin kembali tidur karena sekarang ia sangat nyaman berada dipelukan yang hangat. Stella langsung membelakan matanya, pelukan?
Stella menatap Leon yang masih terlelap, hampir saja ia jatuh karena jantungan. Stella terdiam sebentar menatap wajah tampan Leon. Bagaimana Tuhan menciptakan karya sesempurna ini? Batin Stella.
Tangan Stella ingin menyentuh wajah Leon, namun Leon lebih terdahulu bangun dari tidurnya.
“Selamat pagi” sapanya dengan suara serak khas bangun tidur lalu mencium kening Stella. Stella kembali terdiam.
“Pagi, menyingkirlah aku ingin bangun” jawab Stella dan segera menyingkir dari Leon.
“Dasar pemain wanita yang handal” ujar Stella lalu berjalan menuju kamar mandi, seperginya Stella, Leon kembali memejamkan matanya. Ia masih mengantuk.
Stella tidak mandi ia hanya mencuci wajah dan gosok gigi saja. Stella menghela nafas pelan lalu membangun kan Leon,
“Le, bangun. Basuh wajahmu aku akan mempersiapkan sarapan”
Leon membuka matanya dan menatap Stella sambil tersenyum cerah.
“Kita sudah seperti suami istri saja” ujarnya membuat Stella mendengus kesal
“Terserahmu saja, cepatlah sebelum aku berubah pikiran”
Leon tidak menjawab ia segera kekamar mandi, sedangkan Stella ia langsung menuju dapur.
Sesampainya didapur Stella menyiapka sandwich dan segela kopi untuk Leon.
Tidak lama dari itu Leon menemui Stella didapur,
“Makanlah” ujar Stella ketika Leon hanya melihat sarapan saja.
Leon tidak menjawab ia tersenyum lalu memakan sarapannya dengan perasaan yang senang.
Drttr….drttt
Leon menghela nafas kasar, lalu mematikan ponselmya.
“Kenapa tidak diangkat?” Tanya Stella sambil merengutkan keningnya.
“Mengganggu kenyamanan” jawab Leon lalu melanjutkan sarapannya.
Stella mengangkat kedua bahunya, tidak peduli tepatnya.
“Aku pulang, terima kasih telah mengizinkan aku bermalam dan sarapannya sangat lezat”
“Hm,” jawab Stella seadaanya, Stella langsung menutup pintu apartemennya setelah Leon pergi.
Tidak lama kemudian Stella keluar lagi dan memakai hoodie.
“Will, aku ingin pergi ke tempat Kim” ujar Stella memberikan ponselnya pada Will. Lebih tepatnya Stella memberikan map lokasi apartemen Kim.
“Baik Nona” jawab Will mengikuti Stella yang sudah masuk kedalam lift.
Sepanjang perjalanan Stella diam, tidak menyupir sendiri membuat Stella mengantuk.
“Nona telah sampai” ujar Will membuat Stella langsung membuka pintu mobil sebelum bodyguarnya membukakan pintu untuknya.
“Terima kasih Will” ujar Stella lalu menerima ponselnya kembali.
“Sudah tugas kami Nona, kami akan berjaga disini sampai Nona pulang”
“Kalian pergi mencari makan atau keperluan kalian juga tidak apa, jangan habiskan waktu untuk menungguku saja”
“Baik Nona”
“Baik tapi tidak dilaksanakan” komentar Stella membuat Will terkekeh.
“Sudah tugas kami Nona, nanti Thom dan saya akan bergantian berjaga didepan apartemen Tuan Kim”
“Terserah saja” jawab Stella lalu pergi diikuti oleh Will dibelakangnya.
Ting..tongg
Ini sudah kesekian kalinya Stella menekan bel namun Kim belum juga membuka pintu.
“Tuan Kim tidak di apartemen Nona?”
“Tidak tahu”
“Sebelumnya Nona sudah membuat janji?” Tanya Will membuat Stella menggelengkan kepalanya.
“Belum”
Stella menelpon Kim, benar Kim juga memiliki pekerjaan sendiri. Kim termasuk pria yang sibuk, jika Alex adalah model maka Kim adalah desainer yang merancang pakaian khusus untuk Alex.
“Hallo Kim, kau dimana?” Tanya Stella ketika panggilan sudah terhubung.
“Aku dijalan pulanh Stell, ada apa? Kau sudah didepan pintu apartemenku?” Tebak Kim benar.
“Hm, cepatlah pulang”
“Sandi apartemenku 2804898, jangan katakan kau lupa?”
“Benar aku lupa hehe”
“Ck dasar!”
“kau hati-hati”
“Iya”
Stella memasukan sandi apartemen Kim dan pintu terbuka.
“Will mau air putih?”
“Tidak Nona terima kasih”
“Baiklah, aku masuk”
Stella masuk kekamar tamu dan membaringkan diri sembari menunggu Kim pulang. Stella merindukan masakan lezat Kim dan hari ini Stella menginginkan makanan yang dimasak oleh Kim. Kim, pria itu cocok sekali menjadi koki. Cita-cita awal Kim adalah koki tapi entah mengapa Kim berubah profesi menjadi desainer,