Bab 10

1004 Kata
Stella absen dari pekerjaan malamnya, ia pulang kekediaman orang tuanya. “Dad, bisakah Will tidak menjagaku lagi?” Tanya Stella sambil bersandar disamping ayahnya. “Aku bisa menjaga diriku sendiri, lihat bahkan Will kalah dalam pertarungan denganku” ujar Stella lagi sambil meminum air mineral. Alasan Stella pulang adalah ingin membuktikan jika ia bisa mengalahkan Will sehingga ia tidak butuh lagi penjagaan. “Baiklah, kalau begitu. Jika kau bisa mengalahkan Mars, Will tidak akan menjagamu lagi” jawab ayahnya membuat mata Stella kembali berbinar. Mars adalah tangan kanan ayah Stella yang mana kekuatan Mars hampir setara dengan ayahnya. “Oke dad, aku terima tantangannya” ujar Stella dengan penuh keyakinan. Walaupun mengalahkan Mars akan sulit, tapi Stella akan berusaha sekuat tenanganya. “MARS!” “Kau bertarunglah dengan putriku!” “Tapi tuan..” “Jangan meremehkan putriku Mars, dan ingat lawanlah dia dengan penuh tenagamu” “Baik tuan” Mars tidak banyak bicara lagi, jika tuannya sudah memberinya perintah maka Mars akan melakukan apa yany seperti tuannya katakan. Stella bangkit dari duduknya lalu memulai pemanasan ulang, selagi melakukan pemanasan Stella memikirkan strategi untuk mengalahkan Mars. Mars juga melakukan hal yang sama seperti Stella, ia melakukan pemanasan. Bertarung dengan nona muda memang tidak pernah terlintas dipikiran Mars, tapi demi untuk menambah pengetahuan dan kekuatan nona muda Mars akan bertarung seperti biasanya. Mars dan Stella sekarang sedang saling berhadapan dan sama-sama memasanh kuda-kuda. “Ready Go!” Setelah mendengar aba-aba Stella langsung melancarkan aksinya, namun Mars lebih cepat daripada dirinya. Sehingga Stella terpental jauh. Stella memegang pipinya, ia meludahkan darah dari dalam mulutnya. Stella kembali berdiri dan menghadapi Mars, Stella sangat kesusahan untuk menggapai Mars. Pertarungan sengit berlangsung selama 3 jam dan Stella menang dengan babak belur, “Mars, kau baik-baik saja?” Tanya Stella sambil membantu Mars berdiri. “Saya baik-baik saja Nona, Nona anda sangat hebat saya tidak menyangka jika saya akan kalah dari Nona” “Kau berlebihan Mars, tapi aku memang hebat” jawab Stella. Ayah Stella tidak bisa berkata-kata, putrinya sudah berkembang sangat pesat. “Lain kali aku akan mengalahkan kak Bryan” ujar Stella menghampiri ayahnya. “Diskusikan dengan kakakmu, daddy tidak mau ikut campur” “Yoss, berarti sekarang aku sudah tidak dijaga Will dan kawan-kawan. Selamat Stella, kau berhasil menyelamatkan duniamu” ujar Stella memuji dirinya sendiri, Brakk Cemilan dan minuman yang dibawah oleh ibu Stella jatuh kelantai. Ia segera menghampiri Stella. “Kau! Menjauhlah dari putriku” ujar ibu Stella pada ayah. “Putri kita sayang” “Apa yang kau lakukan, lihatlah wajah cantik putriku jadi begini” ujar ibu menatap ayah dengan tajam. “Sayang..” “Mom aku baik-baik saja” “Diam kalian ini anak dan ayah sama saja, selalu membahayakan diri sendiri, KALIAN! KENAPA DIAM SEMUA, CEPAT BAWA STELLA KERUANG KESEHATAN” “Mommy galak sekali, tapi daddy sangat mencintainya” “Malam ini kau tidur diluar!” “Nanti kalau kau kedinginan bagaimana sayang?” “Bukan urusanmu!” “Pelan-pelan, awas saja kalau kalian menambah lecet putriku!” $$ “Ya Tuhan, lihatlah kau lebam sweety. Astaga, mommy ingin mencekik daddy sekarang rasanya” ujar ibu Stella ketika Stella sudah diobati. “Mom, luka kecil seperti itu beberapa hari akan sembuh” ujar Bryan kakak Stella diambang pintu. “Kalian dan daddy kalian sama saja, selalu membuat mommy cemas” jawab ibu Stella. “Dimana Sean?” Tanya Stella karena tidak melihat Sean keponakannya. “Dibawah bersama Letha dan daddy” jawab Bryan sambil berjalan menuju dua wanita yang ia sayangi. “Siapa yang menang?” Tanya Bryan pada Stella. “Tentu saja aku” jawab Stella sombong. “Benar-benar adik kakak sekali” “Memangnya selama ini adik siapa?” Tanya Stella pura-pura merajuk. “Adik tetangga” “Mommy, kak Bryan” adu Stella sambil memeluk ibunya. $$ Suasana rumah yang ramai membuat Stella tanpa sadar mengembangkan senyum manisnya. Sudah lama rasanya tidak makan malam selengkap ini. “Stell, kapan kau mau bergabung keperusahaan daddy?” Tanya ayahnya membuat kunyahan Stella terhenti. “Yang mana dad? Perusahaan yang sama dengan kak Bryan atau perusahaan ‘bawah tanah’?” Tanya Stella membuat mommy membulatkan mata. “Jangan coba-coba bergabung keperusahaan ‘bawah tanah’ daddy” ancamnya membuat Stella menganggukan kepala. “Tentu saja mom, Stella malas berurusan dengan darah” “Stell, ada Bara disini” ujar Bryan langsung membuat Stella menutup mulutnya. “Maaf kak. Lagian Dad, aku belum mau hidup repot dan teratur” “Daddy cuman punya Bryan dan kau, siapa yang akan melanjutkan selain kalian berdua” “Bara, Stella yakin Bara besarnya akan menjadi pria yang bisa diandalkan. Kak Bryan dan kak Letha pasti setuju kan?” “Kalau kakak, nantinya terserah pada Bara. Mau jadi pengangguran sekalipun asal dia yang mengambil keputusan sendiri, kakak tetap mendukung” “Kak Letha, tuh Dad contoh kak Letha” ujar Stella. “Stella ingin membuka toko kue” ujar Stella membuatnya menjadi pusat perhatian “Seriusly? Jangan membuat kakak tertawa Stell” “Kakakmu benar sayang, nanti yang ada toko kuenya yang gosong” ayahnya ikut menjahili Stella. “Mom” “Kalau kau mau membuka toko kue, mommy akan mengajarimu sampai bisa” “Mommy yang terbaik” $$ Stella bangun kesiangan, lebih tepatnya Stella salalu bangun kesiangan. “Mom daddy sudah berangkat kerja?” Tanya Stella ketika menemukan ibunya sedang menonton televisi. “Pagi-pagi sekali daddymu sudah berangkat, ada yang harus daddymu kerjakan di bawah tanah” jawab ibunya, Stella menganggukan kepalanya lalu duduk disamping ibunya. “Kak Bryan?” “Sudah pulang bersama Letha dan Bara” “Sepinya” ujar Stella membuat ibunya menganggukan kepala “Kau ada acara malam nanti?” “Hm, pesta kolam renang Mike” “Pria itu tidak berubah, si gila pesta” komentar ibunya membuat Stella memganggukan kepala. “Benar mom, malah bertambah parah saja” Obrolan panjang nan ringan terus mengalir diantara ibu dan anak, sesekali mereka tertawa sambil memakan cemilan. Intraksi manis yang selalu tercipta, Stella memeluk ibunya hingga tertidur dipelukan ibunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN