Akhir shift hari ini, Adelina berulang kali mengecek pantulan wajahnya di cermin toilet sebelum melangkah ke luar. Perasaannya tidak semenggebu tadi. Tidak sekesal tadi. Dan tidak sejengkel tadi. Pokoknya, meskipun tadi pak Yogi menyebalkan, Adelina sadar diri bahwa gajinya selama ini turun dari jabatan mutlak pria itu. Dengan begitu, dirinya kembali tenang, kalem, dan lapang d**a.
“Kamu harus tau, tadi itu bener-bener kocak!” namun malangnya nasib memiliki sahabat senista Ai dan Devan—mereka berdua belum saja puas membicarakan kejadian Mango Mousse Cake tadi--terutama Ai yang menjadi sumber berita--setelah Adelina menyelesaikan urusannya di toilet lalu kembali bergabung bersama sahabat-sahabatnya ini.
“Kalau aku tidak menahannya tadi, pasti dia sudah mengamuk! Hahaha!” Ai tertawa keras tanpa merasa bersalah. Padahal Adelina sudah berkali-kali melototinya. Devan pun terpancing tertawa juga.
Adelina menghela napas pelan. Berusaha sabar di kursinya. Kini, mereka bertiga sedang berkumpul di pantry khusus karyawan—tempat di mana mereka semua biasa berkumpul saat rehat, pergantian shift ataupun sebelum pulang.
“Hei, Devan.” Adelina pun buka suara. Mulai tidak tahan dipanas-panasi. “Kamu tidak cepat ke dapur? Cook Helper macam apa kamu? Jangan makan gaji buta, ya.” Sindirnya santai.
“Ooowww,” bukannya tersindir, Devan malah semakin menggoda. “Adelina masih sensitif.” Pemuda itu terkikik geli dan Ai lagi-lagi mengikutinya.
Adelina menghela napas lagi. “Kalian berdua agak sinting.” Ujarnya pelan seraya bangkit dari tempat duduknya. “Ai, ayo kita pulang. Kamu mau lanjut shift siang?” gadis itu serta merta menarik lengan sahabatnya. Namun, dengan cepat Devan mencegah mereka berdua.
“Hei! Temani aku dulu, lah. Aku masih menunggu Chika.” Ujarnya melas.
Adelina mengerut kening. “Ada apa?” tanyanya penasaran. Gadis itu sempat berpikir jangan-jangan pasangan bucin ini bertengkar kembali.
Devan malah cengengesan. “Tidak ada apa-apa, sih… Cuma mau berpamitan saja sebelum dia pulang. Hehe,” jawabnya tanpa merasa bersalah. Tentu saja sontak membuat gadis itu kesal.
“HALAH!” Adelina menyeloroh sambil menepis tangan Devan yang masih mencegahnya. “Lama-lama ikut sinting aku tambah menghadapi bucin macam kalian berdua!”
“Heiiih, janganlah begitu,” Devan setengah merayu. “Kamu saja yang jomblo dari lahir. Jangan sembarang menghakimi kalau belum merasakan. Iya kan, Ai?”
Ai malah mengedik bahu. Kali ini dia tidak memihak pemuda itu. “Aku juga jomblo dari lahir dan belum pernah merasakan jadi bucin. Tapi, aku juga tidak mau merasakannya. Menggelikan, tau!” Ai memberikan ketegasan di akhir kalimatnya. Kini dia berada di pihak Adelina. Tentu saja yang dipihak senang. Ai pun langsung menyusul Adelina yang mulai pergi begitu saja.
“Hah,” pemuda itu menghela napas dalam dengan tatapan belum lepas dari dua sosok sahabatnya yang terus berjalan menjauh itu. “Dasar para jomblo.” Lirihnya pelan setengah miris. Sebab mungkin terlalu lama bucin, pemuda itu berpikir siapapun yang jomblo, hidupnya selalu kesepian tanpa perhatian. “Hei!” serunya tiba-tiba tertuju pada dua sahabatnya yang masih terlihat di pelupuk mata. “Hati-hati di jalan, ya!” pesannya tulus.
“Ya!” Ai dan Adelina menjawab serempak tanpa berbalik.
“Kalau ada om-om girang di pinggir jalan, jangan mudah tergiur! Lihat dulu kekayaannya!”
“Kamu mau mati?!”
“Hati-hati di jalaaannn!” Devan melambai-lambaikan tangannya meski dua sahabatnya itu tidak akan melihat. Separah apapun percakapan mereka, untung saja tidak ada yang sampai memendamnya dalam hati. Itulah sebabnya persahabatan mereka terus bertahan sampai sekarang ini.
Kini Devan benar-benar sendirian saat akhirnya dua sahabatnya itu menghilang. Pemuda itu menghela napas sambil berniat mengeluarkan ponsel dari kantung celananya. Mungkin pada dasarnya sejak lahir dia ditakdirkan tidak akan pernah merasa kesepian belama-lama, muncul kekasihnya dari arah belakang yang langsung memeluknya.
“Sayang!”
“Wah, sudah selesai shift-nya?” tanya Devan hangat sambil membalik badan agar mereka bisa berhadap-hadapan. “Bagaimana? Capek tidak?”
Chika langsung menjawab dengan anggukan manja. “Iya. Capek,” jawabnya dengan rengekan.
“Uuuh… Kasihan.” Devan mengelus-elus pipi kekasihnya itu. “Tunggu aku di indekos, ya. Nanti sepulang shift, aku bakal pijetin.” Ujarnya genit. Lalu, mengarahkan diri tepat ke telinga kekasihnya itu. “Pokoknya nanti pijetannya pakai plus-plus!”
Chika sontak heboh sambil memukul-mukul pelan tubuh Devan. “Nakal deh, sayang. Ih!”
[]
“Yakin tidak mau ditemani?” Adelina mengulang sekali lagi yang langsung dijawab oleh anggukan Ai. Gadis yang ditanyainya itu terlihat santai sambil menyimpan kedua tangannya di kantung hoodie. “Tapi, kan… Kamu benci tempat ramai.” Adelina belum berhenti khawatir.
Ai memberengus lucu. “Untuk satu hari ini, aku bakal menahannya.” Ujarnya tenang namun tidak sanggup menatap balik sahabatnya itu. Pandangannya terus lurus menghadap jalan raya yang tidak akan pernah berhenti beroperasi.
“Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku.” Tegas Adelina yang sudah terlanjur paham dengan kondisi sahabatnya ini.
Ai langsung mengangguk-angguk. “Oh itu angkutanmu datang.” Leganya hati gadis itu, akhirnya ada sesuatu yang mampu mengalihkan perhatian Adelina.
“Jangan memaksakan diri kalau tidak kuat.” Rasanya Adelina tidak akan pernah berhenti khawatir.
“Iyaaahhh.”
“Pokoknya kalau ada apa-apa segera hubungi aku, oke?!”
Ai malah jadi mengangguk-angguk asal. Mulai jengah. “Dasar jomblo cerewet. Cepat naiklah.” Cepat-cepat menggiring sahabatnya untuk menaiki transportasi umum itu.
Adelina tetap mengisyaratkan ‘menelpon’ menggunakan jemari tangannya dari balik jendela mobil angkutan yang terbuka. Ai sempat tertawa melihatnya karena sikap sahabatnya itu lumayan imut untuk mewarnai harinya ini. Seiring melajunya angkutan itu pergi, mereka saling melambai-lambaikan tangan perpisahan.
Ai menghela napas dalam karena berpikir kini dia menjadi sendirian lagi.
Sendirian.
Rasanya hidup ini selalu berkaitan dengan kesendiriannya. Mungkin itulah kenapa Ai benci keramaian. Mau di tempat seramai apapun, kalau hatinya kosong selalu diisi kesendirian, dia bisa apa? Meskipun rasanya tidak adil karena dari awal dia sejak dilahirkan, dia tidak pernah mau memilih hidup seperti ini.
“Ekhem.”
Ai terlonjak tiba-tiba mendengar seseorang berdehem tepat di belakangnya. Gadis itu langsung menoleh dan pada akhirnya mendapati Hadi yang sudah berdiri di belakang. Entah sejak kapan.
[]
Selalu merasa sendiri bukan berarti ingin ditemani. Hal-hal seperti ini sering membingungkan Ai sendiri. Kehidupan masa lalu yang membentuk tabiatnya yang seperti ini. Sering disebut anak linglung dan tukang melamun. Makanya sering diremehkan. Semakin menutup sifatnya yang sudah tertutup, klop sudah.
Hadi dan Ai turun bersamaan dari angkutan umum yang membawa mereka ke Rumah Sakit Jiwa Swasta yang terletak di pinggiran kota, di mana selama ini Ibunya Ai dirawat di sana—terdiagnosis sakit demensia.
Yang selalu Hadi tau, Ai sudah tidak punya Ayah. Tidak tau juga meninggal atau pergi, yang jelas dari kecil Ai sudah tinggal berdua saja dengan Ibunya.
Hadi terus menemani Ai yang diam saja sembari melangkah pelan memasuki area rumah sakit. Beberapa perawat menyapanya—kentara sekali kalau Ai sering datang ke sini. Hingga pada akhirnya mereka sampai di depan sebuah pintu kamar, Ai menghela napas dalam.
“Kamu tunggu di luar saja. Kalau terlalu lama, langsung pulang saja. Sejak awal juga, aku tidak minta ditunggu.” Ai mengatakannya tegas setelah itu langsung masuk ke dalam. Meninggalkan Hadi di luar, yang tidak punya kesempatan untuk membalas ucapannya itu.
“Tidak apa-apa lama. Aku selalu nunggu kamu kok, Ai.” Ujarnya lirih. []