Pertemuan Dengan Orang yang Dirindukan

1000 Kata
"Kami menemukan mayat gadis di koper yang ada di selokan, kami mendapatkan informasi bahwa ada yang melaporkan temuan mayat ini menggunakan telepon umum, tetapi dia adalah seorang anak kecil," ujar polisi itu panjang lebar. Sontak mereka terkejut mendengar penuturan polisi itu. "Jasad gadis? Malang sekali nasibnya," ujar Zein. "Apa anak Bapak dan Ibu yang melaporkan? Kami butuh keterangan dari pelapor," tanya polisi itu. "Tidak, Pak. Anak saya selalu berada di dalam rumah dari sore, dan Cassie ...." Zein menatap ke arah Cassie yang tengah menyimak percakapan. Cassie menggeleng pelan berusaha untuk menutupi semuanya, dia tak ingin terlibat dalam masalah penemuan jasad itu, tetapi dia tetap berharap agar pembunuh sang gadis dapat ditemukan dengan bukti jasad di dalam koper itu. "Baiklah, terima kasih, Pak. Saya permisi," pamit sang polisi seraya meninggalkan rumah keluarga Zein. "Ya sudah, ayo masuk kira lanjutkan makan malamnya," pinta Zein seraya memboyong keluarga kecilnya kembali ke dalam rumah untuk menikmati makan malam yang tersisa. Cassie menatap ke arah kerumunan polisi dan petugas di depan bangunan itu ia melihat koper yang ia temukan di angkat ke dalam kantung mayat dan di masukkan ke dalam ambulans, sepertinya mereka akan melakukan autopsi agar penyebab kematian gadis itu bisa terungkap. "Aku harap, kamu bisa tenang dan pelaku bisa di tangkap segera," gumam Cassie sembari berjalan mengikuti langkah zein masyk ke dalam rumah. Malam semakin larut, Cassie mulai terlelap dalam tidurnya, hari ini cukup melelahkan baginya. Hawa dingin berputar mengelilingi tempat tidur gadis itu, sosok gadis bergaun putih lusuh berdiri tepat di samping ranjang, tatapannya terus tertuju pada wajah sang gadis penyelamat. Perlahan, tangan kurus sang gadis membelai pelan wajah Cassie seraya berkata, "Terima kasih, berkat kamu aku bisa kembali dengan tenang." Tirai jendela melambai-lambai akibat angin semilir karena kedatangan sosok gadis itu, aura menjadi nyaman karena dia mengeluarkan aura persahabatan bukan aura dendam seperti arwah kebanyakan. "Semoga Tuhan membalas kebaikanmu," ucap sang arwah sebelum tubuhnya perlahan mulai terurai menghilang bersama dengan udara dingin yang begitu menusuk tulang. Hari-hari berlalu, tak terasa kini Cassie hampir memasuki usia yang ke sebelas tahun. Tepat pada malam satu suro, saat bagi Cassie untuk mendapatkan pemberkatan dari para leluhur Desa Selaras, tetapi kini semuanya berubah. Tak akan ada lagi yang namanya ritual di dalam hidup Cassie. Malam mulai menyapa, Cassie mulai tampak gelisah karena dia merasakan sesuatu yang mengintainya sedari tadi. Bayang-bayang melintas dengan cepat di sekitar Cassie, ketukan di jendelanya seperti tak pernah berhenti terdengar. Semenjak sore tadi, silih berganti arwah-arwah bermunculan di sekitar Cassie. Sepertinya aura gadis itu semakin kuat menjelang pertambahan umurnya. Batin Cassie berkecamuk, dia takut akan penampakan arwah yang terus saja menampakkan dirinya di hadapan Cassie dengan wujud mengerikan. Satu-satunya cara untuk menghentikan aura pemanggil arwah yang ada di dirinya adalah dia harus melakukan ritual malam satu suro di Danau Suro. "Aku harus meminta Om Zein untuk mengantarkan aku ke Mbah Aryo," gumam gadis itu. Cassie melangkah pergi untuk menemui Zein dengan harapan agar dirinya diperbolehkan untuk menjalani ritual satu suro bersama dengan warga Desa Selaras. Detak jantung Cassie berpacu kencang, ia takut dan juga cemas jika berhadapan dengan pamannya. Ruang kerja Zein yang berada di ruang tengah, saat ini Zein tengah bekerja di ruangan. Dengan ragu, Cassie mengetuk pintu ruangan kerja Zain yang tak tertutup. "Maaf, Om. Ada yang ingin Cassie katakan," ujar Cassie lirih. "Ada apa?" tanya Zein tanpa melepaskan tatapan pada layar komputer di hadapannya. "Om, tolong antar saya ke Desa Selaras, Cassie ingin melakukan ritual di Danau Suro," pinta gadis itu. Zein berhenti melakukan aktivitasnya di depan komputer dan kini beralih menatap Cassie. "Dengar, Cassie. Om sekarang sibuk, kamu jangan macam-macam. Ritual itu hanya omong kosong," jawab Zein dengan tegas. "Tapi, Om--" "Sudah, sekarang kamu kembali ke kamar!" perintahnya dengan nada sedikit tinggi. Cassie tak berani untuk meminta lagi, dengan kecewa Cassie kembali ke kamarnya yang penuh dengan arwah penasaran. Cassie segera bersembunyi di bawah selimutnya seraya berharap akan ada keajaiban hingga arwah yang berada di luar jendelanya menghilang. Suara jarum jam terdengar di telinga Cassie, tubuhnya terasa panas hingga gadis itu segera membuka selimutnya dan melihat sekitar. Tidak terlihat satu pun arwah yang tadinya berkumpul di kamar sempit ini, bahkan suara ketukan di jendela tak terdengar lagi. "Ke mana mereka pergi?" batin Cassie bertanya. Tubuhnya terasa semakin panas, dia melirik jam yang menempel dengan tenang di dinding kamar. Waktu menunjukkan pukul dua belas malam, ini tepat malam satu suro. "Apa yang terjadi, kenapa tubuhku terasa panas?" tanya Cassie lirih penuh kebingungan. Kepalanya terasa pusing, tubuhnya bergetar, sedangkan manik mata indah milik Cassie meneliti setiap sudut ruangan. Dia merasakan keanehan yang terjadi. "Apa ini efek karena aku tak mengikuti ritual?" batin Cassie lagi. Napasnya memburu, jendela terbuka dengan sendirinya. Semilir angin memasuki kamar hingga membuat tirai jendela melambai-lambai. Tiba-tiba Cassie merasakan kesejukan dalam dirinya. "Sayang, Mama dan Papa akan selalu bersama kamu." Suara lembut khas Alia sontak membuat Cassie terkejut. "Mama?" Sebuah pelukan hangat Alia berikan pada putrinya, begitu juga dengan Ardian. "Sayang, ini mama," ucap Alia. "Mama, ada di sini?" tanya Cassie seraya melihat ke sana kemari. Perlahan, tubuh Ardian dan Alia mulai terlihat di hadapan Cassie. Setetes bulir bening mengalir dari pipi Cassie, tangis tak bisa dia hentikan saat melihat wajah yang sangat dia rindukan selama ini. Alia mendekat ke arah putri kecilnya, tangan pucat Alia mengusap air mata Arleta dengan lembut. "Jangan nangis, Sayang. Mama selalu ada di samping kamu," ucapnya lagi. "Mama, Papa, aku rindu kalian," tangisnya seraya memeluk erat tubuh kedua orang tuanya. "Papa juga, Sayang." Ardian membelai pelan rambut Cassie. "Kamu jangan takut, ya, Nak. Kita akan selalu menjaga kamu," ucap Alia dengan senyum manisnya. "Janji jangan ningalin aku?" tanyanya dengan penuh harap. "Mama dan Papa tidak akan pernah meninggalkan kamu, Nak. Kami akan selalu menjagamu, percayalah kami ada di sisimu," jelas Ardian berharap putri semata wayangnya dapat mengerti karena alam mereka telah berbeda dan kini Ardian tak bisa meninggalkan dunia fana ini karena dirinya merasa Cassie akan kesulitan menjalani hari-harinya. "Tapi kenapa?" tanya Cassie dengan air mata mengalir dan suara yang serak. Rasa sesak di hatinya membuat ia merasa kesakitan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN