Siapa Dia?

1021 Kata
"Aaarggghh!" pekik Cassie saat tiba-tiba wajah mengerikan muncul dari balik kaca jendela. Wajahnya telah busuk, hingga perlahan kulit mulai terlepas menyisakan daging hitam bercampur dengan cairan kental berwarna kehitaman dan jangan lupakan belatung kecil yang menari di atas setiap luka itu. "Tolong ... aku," pinta arwah dengan wajah tak karuan. Tangan arwah itu menempel di kaca jendela hingga darah serta belatung yang ada di telapak tangannya ikut tertempel di kaca dengan membentuk sebuah telapak tangan. Manik mata Cassie membulat sempurna. Ia terkejut setengah mati karena kemunculan sosok arwah yang membuat jantungnya berpacu dengan sangat kencang, sedangkan napasnya terengah-engah. Peluh menetes dari wajah Cassie, ia tak pernah terbiasa dengan penampakan seram seperti ini. "Aku mohon, tolong aku ...." Arwah gadis itu meminta dengan manik mata berkaca-kaca. Namun, Cassie terlalu takut. Tubuhnya bergetar hebat. Perlahan, Cassie melangkah mundur untuk menjauhkan diri dari jendela kamar. "Tolong aku ...." Lagi dan lagi sosok gadis arwah itu meminta ke pada dirinya. Cessie menggeleng cepat. "Ma-maaf ...." Gadis itu berucap lirih. Ia tak bisa membantu sosok-sosok gaib itu. Tak berapa lama, terdengar langkah kaki mendekat. Pintu pun terbuka. Zein melihat ke dalam kamar dengan cahaya yang suram. "Ada apa, Cassie? Kenapa kamu berteriak?" tanya Zein sembari meneliti. "Ma-maaf, Om. I-itu di jendela ada hantu," jawab Cassie ketakutan. "Hantu?" tanya Zein seraya melangkah mendekat ke arah jendela dan membukanya serta meneliti setiap pepohonan yang tumbuh di halaman rumah. "Om, jangan dibuka, nanti dia masuk," pinta Cassie pada Zein. Zein mengembuskan napas pelan, seraya berkata, "Cassie, om tau kalau baru saja kehilangan kedua orang tua, tapi kamu jangan melakukan hal bodoh seperti ini untuk mencari perhatian. Sekarang kamu tidur, tidak ada lagi cerita hantu, itu cuma cerita omong kosong yang disebarluaskan oleh orang bodoh." Zein melangkah pergi meninggalkan Cassie sendiri di dalam kamar, sedangkan Cassie masih terdiam di tempatnya berpijak seraya menatap jendela kamarnya yang terbuka. Mahluk itu masih ada di sana dengan wajah hancurnya dan hendak masuk ke dalam kamar. Dengan cepat Cassie berlari dan menutup jendela kamarnya, hingga kepala arwah itu pun terjepit lalu hancur seketika dan menghilang dari pandangan Cassie. Dirinya kembali berusaha menenangkan diri, pikiran gadis itu masih tertuju pada arwah yang bergentayangan di sekitar bangunan tua itu. Tok-tok-tok! Kaca jendela berbunyi, Cassie terkejut dan segera bersembunyi di bawah selimutnya. Dia tahu, kalau yang mengetuk itu bukanlah manusia melainkan makhluk tak kasat dengan rupa hancur dan berantakan. Suara ketukan kembali terdengar, Cassie berusaha untuk memejamkan mata agar dirinya segera terlelap dan melupakan sosok arwah itu. Perlahan, Cassie pun terlelap dalam mimpi. *** "Sayang, jangan takut. Mama dan Papa ada di sini." Suara lembut yang sangat dirindukan oleh Cassie terdengar. Mata gadis itu mengerjap dan melihat sekitar. "Mama?" tanya gadis itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. "Ini Mama, Sayang," jawabnya seraya memeluk tubuh mungil putrinya. "Aku kangen, Mama." Tangis Cassie salam dekapan Alia. Sebuah tangan lembut mengelus rambut panjang Cassie, pria dengan wajah tegas itu berkata, "Di mana pun kamu, kita akan selalu berada di sampingmu, Nak." "Papa, aku kangen." Ardian dan Alia memeluk erat tubuh putri manisnya. *** "Mama, Papa ... aku kangen." Sinar matahari mulai memasuki celah jendela kamar. Suara burung mulai berkicau membuat sang gadis kesepian membuka matanya. Setetes air mata mengalir dari pelupuk mata saat tahu bahwa kehadiran orang tuanya hannyalah mimpi belaka. "Ma, Pa. Jika kalian benar-benar berada di sisiku, tolong temui aku. Buat apa aku punya kemampuan melihat makhluk halus, tetapi tidak bisa melihat Mama dan Papa?" Suara gadis itu terdengar lirih. Angin berembus pelan membuat rambutnya sedikit berantakan. Dirinya merasakan kehadiran sesuatu yang berbeda dari biasanya. Manik mata indah gadis itu meneliti keadaan kamar sempit ini, tidak terlihat satu pun makhluk gaib di sini. "Mungkin hanya perasaanku saja," batinnya. "Cassie! Bangun sudah siang!" teriak Ira dari arah dapur. Cassie segera bangkit dari kasur yang tak senyaman kasurnya dulu. Dia bergegas ke arah sumber suara, berusaha untuk merapikan rambut panjang yang kini sudah susah untuk diatur olehnya. "Kamu bantu cuci piring," perintah Ira pada Cassie. Tanpa menjawab, Cassie segera melaksanakan perintah dari Ira. Harinya berlalu penuh dengan penderitaan layaknya Cinderella. Dua bulan berlalu. Cassie di masukkan ke sebuah sekolah dasar bersama dengan Jia. Zein dan Ira membiayai biaya sekolah Cassie dengan uang bulanan dari hasil penjualan rumah di Desa Selaras. Uang yang digunakan untuk kebutuhan Cassie walau sebenarnya yang itu juga di ambil oleh Ira untuk kebutuhan mereka sendiri. Namun, Cassie tak bisa berbuat apa apa, ia hanya bisa menurut saja dan tak ingin protes tentang penjualan rumah tanpa persetujuan darinya. Rumah penuh kenangan bersama dengan orang tua kini resmi berpindah tangan. Gadis itu berupaya ikhlas walau jujur di hati terasa sangat sakit. Setiap malam, gadis itu terisak merindukan kasih sayang kedua orang tuanya yang kini mustahil ia dapatkan. Hari-hari berlalu, kini hidup sang gadis manis bernama Cassie bagaikan Cinderella. Walau tak semenderita dunia dongeng, dia tetap tak nyaman harus tinggal di rumah ini. Perintah demi perintah dia dapatkan dari Ira dan Zein. Namun, kian hari Cassie tumbuh menjadi gadis yang lebih kuat hingga mampu menangani semuanya seorang diri. Suara kicauan burung yang tengah bersiap kembali pulang ke sarangnya terdengar. Cassie masih termenung di depan jendela kamar sembari menatap ke arah langit biru yang dihiasi semburat jingga yang begitu memikat hati. Namun, pandangannya terkalihkan pada sosok gadis di depan gedung terbengkalai di seberang jalan. Cassie menatap sang gadis yang hanya diam terpaku di sana. Rasa penasaran mulai muncul. "Apa yang dilakukan sosok gadis itu?" batin Cassie bertanya. Selama dia tinggal di rumah ini, belum pernah dirinya melihat sosok gadis itu. Perlahan, rasa penasarannya tak bisa dia bendung lagi. Dia memutuskan untuk menemui gadis itu melalui pintu belakang. Cassie berjalan menyeberang jalan agar segera sampai di bangunannya tua tempat gadis itu terdiam. Cassie berjalan perlahan saat jaraknya sudah tidak jauh lagi dengan gadis yang masih terdiam dengan gaun lusuh berwarna putih itu. Gadis itu hanya berdiri, terdiam dengan rambut panjangnya. Dia hanya menangis tersedu-sedu, tetapi ada yang aneh. Terlihat tetes demi tetes darah pun jatuh dari wajahnya. Sontak Cassie terkejut saat dia memperhatikan wajah gadis itu. Kulit wajahnya terkelupas menyisakan daging merah bercampur dengan cairan kental berwarna hitam. Cacing-cacing tergeliat senang, menari di atas luka yang telah membusuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN