“Aku juga menjadi incaran?” tanya Gita dengan wajah tak percaya. “Aku tidak tahu apa-apa soal virus yang melanda negeri ini. Yang ilmuan adalah ayahku. Bukan aku.”
Lucas memandangi Gita lekat. “Pasti ada hal yang membuat mereka tertarik padamu. Kamu dikejar oleh mereka karena memiliki sesuatu.”
“Tapi aku tidak tahu apa yang mereka inginkan dariku. Ayahku tidak memberikanku pesan apa pun selain harus mencari profesor Ismunandar,” jawab Gita dengan wajah polosnya.
“Jadi memang kuncinya ada pada profesor Ismunandar,” kata Lucas menyimpulkan sembari membuka bajunya yang sudah ternoda darahnya sendiri. Melemparnya asal ke sembarang tempat. Memperlihatkan otot perut dan lengannya yang atletis.
Bahkan Gita merasa Lucas tidak seperti seorang ilmuan muda. Tapi dia seperti seorang sniper jitu yang memiliki tubuh kekar dan otot sempurna.
Lucas mengambil satu baju ganti berwarna hijau lumut yang ada di dalam tas ranselnya. Lalu mengenakannya dan kemudian membawa tas ransel di punggung. “Kita harus turun dari sini.”
“Turun dari sini? Dengan melompat?” tanya Gita takut.
“Iya melompat. Kamu kira kita akan turun dengan tangga?” timpal Lucas melengos.
“A-aku ... bagaimana aku melompat?” tanya Gita lagi sambil mengambil tas ransel miliknya dan menaruhnya di punggung. Suaranya gemetar karena membayangkan betapa sulit dan beresikonya melompat dari ketinggian lebih dari sepuluh meter.
Lucas nyaris tersenyum lucu menertawakan wajah Gita yang ketakutan. “Kamu dulu yang melompat.”
Gita menggeleng. “Kamu saja dulu ... Aku belakangan saja. Aku mencari tali tambang untuk turun,” jawabnya sembari memandangi ke seluruh bagian dalam rumah pohon dengan wajah pucat. Namun rupanya Lucas tidak memiliki tali tambang yang akan digunakan untuk turun dari rumah pohon ini.
“Ayo kamu saja dulu ...,” kata Lucas sembari mencengkeram lengan Gita. Mendorongnya hingga dia jatuh ke bawah.
“Aaaa!” teriak Gita ketakutan. “Lucas!”
Tangan Gita menggapai-gapai. Ia tidak menyangka jika Lucas begitu tega mendorongnya begitu cepat. Jatuh dari ketinggian lebih dari sepuluh meter, pasti ia bisa mengalami patah tulang di beberapa bagian.
Lucas menatap wajah Gita yang ketakutan. Ia segera melompat dan kemudian menangkap tubuh Gita layaknya super hero menyelamatkan wanitanya.
“Braaak!” Mereka berdua jatuh berguling di atas tanah dengan posisi Lucas memeluk tubuh Gita dan badannya menjadi hambalan.
Suara tulang patah nyaris terdengar di telinga Gita. Ia menatap wajah Lucas yang tidak terlihat kesakitan. “Apa kamu gila! Kamu pikir semua ini lelucon?”
Lucas tersenyum tipis. “Sudah lama aku tidak mengerjai orang,” jawabnya sambil tertawa pelan. “Apa kamu takut?”
“Hanya orang gila yang tidak takut ketika jatuh dari ketinggian lebih dari sepuluh meter!” seru Gita sembari beranjak dari atas tubuh Lucas. Raut mukanya menjadi tersipu merah karena baru saja berada dalam pelukan seorang pria dan juga menindihnya. “Aku rasa tulangmu patah!”
“Jangan cemaskan aku,” jawab Lucas sambil berdiri setelah Gita tak lagi di atasnya. Ketika ia berdiri, suara tulang-tulang patah itu terdengar kembali. Namun lagi-lagi ia tidak menampilkan sama sekali wajah menahan sakit.
Kedua tangannya direntangkan ke kanan dan ke kiri. Lalu suara tulang gemeretak kembali terdengar nyaring.
Suara gemeretak tulang tersebut membuat jantung di d**a Gita terasa ngilu dan tersayat. “Hei, kamu tidak apa-apa?” tanyanya sembari meringis.
Lucas membalas senyuman tipis Gita dan menarik kedua tangannya yang tadi direntangkan. “Tenang saja. Aku baik-baik saja. Aku manusia super kan.”
“Ya, aku rasa aku akan aman bersama manusia super yang sedang dikejar-kejar orang pemerintah,” jawab Gita sambil tersenyum kecut.
“Setidaknya sekarang kita berdua. Tidak ada yang lebih baik dengan membuat kelompok,” kata Lucas sembari membetulkan tas ranselnya.
Gita melirik Lucas. “Ya, kamu benar. Lebih baik kita bersama ketimbang sendiri,” jawabnya sembari tersenyum. “Apa sekarang kita partner?” tanyanya sambil mengulurkan tangan. Mengajak Lucas bersalaman.
Lucas memandangi tangan Gita yang terulur ke arahnya. Ia tidak langsung menjawab atau pun membalas uluran tangan tersebut.
Terjadi keheningan sesaat. Hanya hembusan angin di hutan yang terasa menerpa mereka.
“Hei, kamu tidak menjabat tanganku?” tanya Gita sembari berdecak kesal. “Astaga sombong sekali kamu. Jadi kita bukan partner? Baiklah ... Kita bukan partner,” sambungnya sembari menarik tangan yang sudah terulur sejak tadi.
Saat Gita akan menarik uluran tangannya, Lucas segera menyalami tangan Gita dengan erat. “Kita partner.”
Gita tersenyum. Senang karena sekarang telah mendapatkan teman seperjuangan dan menemaninya mencari profesor Ismunandar.
***
“Kenapa pasukan elang dua sayap kiri tidak dapat dihubungi?” tanya Ervan pada David. Pria berusia paruh baya dengan kumis tipis dan juga beberapa garis halus di seputar kelopak matanya itu terlihat sangat kecewa dengan berita yang baru saja didengarnya.
Raut muka David berubah menjadi pucat. "Maaf Tuan Ervan. Saya tidak bisa menjalankan tugas dengan baik. Tim saya gugur dalam menjalankan Misi menangkap Lucas," jawabnya sembari menunduk.
Ervan mengerutkan dahinya. Tampak guratan kekecewaan dan kemarahan di wajahnya. Ia menggeleng kepala. "Bagaimana bisa tim terbaikmu bisa kalah dalam melawan satu orang saja?"
"Seperti yang yang anda ketahui sebelumnya. Lucas memang memiliki kekuatan super sehingga dia sangat sulit dikalahkan."
"Aku tidak mau tahu!" seru Ervan kaku. Suara teriakannya menggelegar ke seluruh ruangan. "Mr. Mun pasti marah jika tahu Lucas masih berkeliaran di luaran sana. Dia bisa mengancam bisnis kita!" Ia kembali duduk di kursi besar berwarna hitam sembari memijit keningnya sendiri. "Jika ilmuan seperti dia bisa menghentikan virus ini maka vaksin yang sedang kita produksi dan perbanyak tidak akan dibeli oleh badan kesehatan dalam negeri dan juga dunia!"
David mengatupkan bibirnya. Menerima amarah dan juga letupan kekecewaan dari atasannya.
"Lucas belum juga berhasil kita tangkap dan kini muncul masalah baru, anak dari profesor Rudi berhasil kabur dalam proses eksekusi di rumahnya. Bagaimana aku bisa menjelaskan semua ini pada Mr. Mun? Dia pasti sangat marah dengan kita yang tidak bisa menyelesaikan tugas dengan benar."
"Untuk kasus ini, anda jangan kecewa Tuan," kata David yang bisa mengandahkan mukanya kembali sembari tersenyum simpul.
Kedua alis Ervan bertaut. Ia tidak mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh anak buahnya itu. "Maksudmu bagaimana? Aku jangan kecewa dengan kegagalan rencana kita yang terjadi bertubi-tubi ini?"
"Tuan ... anak buahku yang telah menyerang Lucas dan gugur, sebelumnya telah memberikan informasi. Mereka mengatakan jika putri dari profesor Rudi yang bernama Gita, ternyata bersama Lucas. Sepertinya sekarang mereka bersama-sama. Jika demikian kita bisa menyatukan Tim untuk terus mencari mereka, menangkap dan membawa mereka kepada Mr. Mun," jawab David menjelaskan.
Raut muka Ervan, komandan pasukan Elang sayap kiri yang bertugas untuk melakukan pengejaran, penyergapan dan keamanan organisasi yang dikepalai oleh Mr. Mun itu terlihat terkejut. Namun ekspresi tersebut hanya beberapa saat saja. Setelah itu mimik seriusnya kembali terpampang. "Gita, putri dari Profesor Rudi itu bertemu dengan Lucas dan kini mereka menjadi partner? Maksudmu begitu?!" Ia kembali bersuara lantang.
"Betul Tuan!"
"Astaga, hal itu justru akan mempersulit kita menangkap Gita. Kini putri dari profesor Rudi bersama dengan seseorang yang memiliki kekuatan super! Kita pasti akan semakin sulit untuk menculiknya!"
David tidak berpikir jauh demikian. "Lalu bagaimana setelah ini Tuan? Maaf, saya pikir justru keadaan ini menjadi kabar baik untuk kita."
Ervan menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Ini bukan kabar baik. Tapi ini adalah kabar buruk. Kita harus gunakan rencana lain untuk menangkap mereka. Sebetulnya menculik Gita dan melenyapkan Lucas adalah tujuan utama yang diperintahkan oleh Mr. Mun."
"Karena Lucas telah menjelma menjadi manusia super, bagaimana jika kita gunakan senjata biologis yang sedang kita kembangkan?" David memberi saran.
Ervan menatap David lekat. "Senjata biologis kita mana yang kamu maksud?"
"Manusia harimau, Tuan ...."
Wajah Ervan perlahan-lahan dihiasi seulas senyuman. Ia tidak ingat dengan penelitian mereka yang satu itu. "Ya, kamu benar. Kita bisa gunakan manusia harimau untuk melawan Lucas. Manusia super hanya bisa dilawan oleh manusia yang telah kita buat menjadi luar biasa kuat. Hahahaha ....!" serunya sembari terbahak jahat.
David ikut tertawa. Namun tidak sekencang atasannya. "Aku yakin kali ini Lucas pasti bisa dikalahkan."
"Kalau begitu hubungi tim lab untuk memastikan manusia harimau sudah bisa digunakan dalam senjata biologis kita atau tidak!" seru Ervan memerintahkan.
David menganggukkan kepalanya mengerti. "Baik Tuan," jawabnya sembari berjalan mundur ke belakang dan kemudian berbalik menuju pintu untuk keluar ruangan. Mengerjakan apa yang diperintahkan oleh atasan itu.
"Kali ini kamu tak akan berkutik Lucas. Aku yakin kamu tidak akan bisa melawan dan lepas lagi ...," guman Ervan dengan wajah kejinya.