“Dokter Fahira!” panggil seseorang bersuara lembut dari belakang.
Wanita dengan lesung pipi dan rambut sebahu yang tergerai indah itu menoleh. “Ada apa Dona? Kenapa kamu tergesa-gesa mencariku?”
“David mencarimu,” jawab Dona sembari berlarian kecil mendekat. Nafasnya terengah ketika sudah sampai.
Kedua alis Fahira beradu. “David mencariku?” tanyanya sambil berpikir ada urusan apa David mencarinya setelah mereka memutuskan hubungan asmara tujuh bulan yang lalu.
Bahu Dona terangkat. “Entahlah ... Aku tidak tahu. Yang aku tahu dia mencarimu. Memintamu untuk segera ke ruangannya,” jawabnya sembari menatap tepat di bola mata Fahira. “Dia bilang ... ini penting.”
“Penting?” Dona tersenyum tipis. Pasti ini tentang pekerjaan, batinnya. “Baiklah, aku akan mendatanginya ke ruangannya. Tolong titip Ethan,” sambungnya sembari memberikan buku jurnal tebal yang sejak tadi didekapnya pada Dona.
Dona mengangguk mengerti. Ia menerima buku jurnal tebal itu dan membukanya. “Aku akan melakukan tugas yang sudah dicatat di sini?”
“Tidak,” jawab Fahira cepat. “Tidak usah lakukan apa pun. Tadi aku sudah melakukan semua opsi yang harus dilakukan. Kamu hanya mengawasi Ethan saja.”
Dona kembali mengangguk. “Tenang saja. Aku akan mengawasi penelitianmu,” ucapnya sembari tersenyum.
“Ethan bukan penelitianku,” kata Fahira lugas.
Dona mengatupkan bibirnya. “Maaf, aku lupa ... Kalau ingin semua menganggap Ethan adalah pasienmu.”
Fahira tersenyum tipis. “Perlakukan dia sebagai manusia seperti kita,” katanya lirih.
“Tenang saja. Kamu menitipkan pasienmu pada orang yang tepat. Dia akan aman denganku.”
“Terima kasih.” Fahira menjawab sembari tersenyum simpul dan matanya melirik ke arah ruangan berukuran 6x8 meter persegi dengan kaca tebal sebagai pembatasnya. Di sana, di dalam ruangan kaca tersebut terkurung Ethan. Seorang manusia biasa yang menjadi kelinci percobaan ilegal dari proyek yang diprakasai oleh Mr. Mun.
Ethan bisa melihat dirinya diawasi di dalam penjara kaca ini. Sadar jika dia telah dijadikan kelinci percobaan pembuatan senjata biologis.
Fahira melempar senyuman pada Ethan yang duduk di tepi ranjang dan menatapnya.
Sepasang mata mereka bertemu tatap dan saling melempar senyuman.
“Aku titip dia. Jaga dia dengan baik,” kata Fahira sembari menepuk bahu Dona. Dari bahasa tubuh Fahira, terlihat ia berat hati meninggalkan Ethan dengan orang lain.
“Kau pergilah segera. David pasti menunggumu,” ucap Dona sembari mengibaskan tangan, seolah mengusir.
“Biarkan saja dia menunggu. Jika dia perlu denganku, memang harusnya dia menunggu,” jawab Fahira sembari berlalu pergi. Ia berjalan keluar ruang penelitian. Membuka pintu besar dan lebar dengan cara memutar knop besar seperti kemudi kapal pesiar. Pintu yang berat tersebut pun didorong dan kemudian terbuka.
Fahira berjalan menyusuri koridor panjang dan berbelok. Lalu pada akhirnya ia pun berada di bagian tengah gedung besar yang berkedok sebagai tempat penelitian khusus sumber daya alam yang berada di Kota J.
Ia mengetuk daun pintu beberapa kali hingga suara David terdengar mempersilahkan masuk.
Pintu dibuka oleh Fahira. “Selamat siang,” ucapnya penuh formalitas.
“Selamat siang,” jawab David yang duduk di kursi besar berwarna hitam, di balik meja kerjanya. “Ke mari. Duduk,” katanya tegas.
Fahira melangkah. Berjalan lebih dekat dan kemudian duduk di salah satu kursi yang berada di depan meja kerja David. “Katanya kamu memanggilku?”
David tersenyum. “Bagaimana kabarmu? Setelah terakhir kita bertemu di malam itu, aku memang tidak pernah melihatmu.”
Fahira menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Bagian devisi pekerjaan kita memang berbeda. Pantas saja jika kita tidak pernah bertemu,” jawabnya dengan raut muka datar.
“Apa kamu masih marah denganku?” Suara David terdengar sedikit melunak dari pada sebelumnya.
“Jangan ungkit masa lalu. Kita sudah tidak ada hubungannya,” jawab Fahira ketus. “Jadi kamu memanggilku hanya untuk ini?”
“Iya. Tapi aku juga- .....”
Fahira segera beranjak berdiri. Karena gerakannya yang cepat, hingga membuat kursi yang sedang didudukinya nyaris jatuh ke belakang. “Jika hanya ini yang ingin kamu tanyakan padaku. Rasanya kini kamu tidak menjadi seorang yang profesional. Jangan mengkaitkan hubungan kita di dalam pekerjaan. Jangan membuang waktuku ... Memintaku ke mari hanya untuk menanyakan masalah pribadi ataupun yang aku rasa,” katanya sembari akan membalik badan.
Namun dengan cepat, David segera ikut berdiri dan menarik tangan Fahira. “Tunggu!” serunya.
Langkah Fahira terpaksa berhenti. Tatapannya memandang tangan David yang menarik pergelangan tangannya.
“Tunggu ... Kembalilah duduk,” kata David sekali lagi.
“David ... Tolonglah, jangan buang-buang waktuku,” kata Fahira dingin.
“Fahira, pembicaraan kita belum usai. Aku tidak hanya menanyakan tentang keadaanmu saja. Aku ingin membahas tentang penelitian mu,” ujar David sembari menatap bola mata mantan kekasihnya itu.
“Ada apa dengan Ethan?” tanya Fahira lirih.
“Duduklah kembali,” jawab David sembari melepaskan tangan Fahira.
Fahira menurut. Ia kembali duduk. Raut muka datar tidak berekspresinya itu kini berubah menjadi serius. “Memang ada apa dengan Ethan?”
“Apa penelitianmu sudah selesai? Sudah sepuluh bulan kamu menangani penelitiannya. Bagaimana perkembangannya?”
“Baik-baik saja,” jawab Fahira lugas.
“Bukan hal itu yang ingin aku dengar.” Sepasang mata David mengkilat. “Apa Ethan sudah siap tempur?”
Netra Fahira berbinar. “Kenapa dia digunakan? Ethan adalah senjata biologis yang baru saja kita buat. Lagi pula jika masyarakat dan khalayak ramai mengetahui tentangnya, bisa-bisa kita akan dituntut. Kita telah menyalahi aturan hak asasi manusia dan ekploitasi manusia.”
“Dia yang menawarkan diri untuk dijadikan penelitian? Dan kamu juga senang ketika ide dan pemikiranmu terealisasi.”
Fahira menelan ludah. Kerongkongannya terasa kering. Ya, tidak dipungkiri dia memang senang atas penelitian ini. Ide dan pemikirannya terealisasi, menciptakan senjata biologis berupa manusia super setengah manusia dan setengah harimau. Manusia biasa yang bermutasi menjadi setengah hewan. Tapi hati kecilnya masih merasa Ethan belum siap ke medan pertempuran. “A-aku rasa Ethan masih belum sempurna.”
Kening David berkerut. Ia tampak tidak suka dengan jawaban Fahira. “Belum sempurna?!” serunya dengan suara yang nyaring. “Sudah sepuluh bulan dan kamu masih mengatakan Ethan belum sempurna.”
Fahira terkesiap atas suara David yang membentaknya. Sepasang matanya mengerjap karena terkejut. “Me-memang itu kenyataannya. Ethan belum siap. Ethan masih belum sempurna. Jika dia belum siap dan sudah dijadikan senjata diperintahkan untuk bertempur, kemungkinan Ethan bisa kalah dan mati.”
“Tapi jika kita tidak mencobanya, kita tidak akan tahu Ethan penelitianmu itu bisa bermanfaat atau tidak!” seru David.
“Memang Ethan akan digunakan untuk apa?” Fahira ingin tahu.
“Dia akan digunakan untuk mencari Lucas dan Gita, putri dari profesor Rudi.”
“Lucas, mantan ilmuan yang telah gagal menciptakan ramuannya sendiri dan kini justru menjadi seorang manusia super?” tanya Fahira memastikan.
“Ya. Ethan harus melawannya. Menurut Mr. Mun, Lucas dan Gita adalah dua orang yang membahayakan untuk Organisasi Sayap Kiri. Mereka adalah ancaman untuk kita. Bisnis produksi vaksin dengan keuntungan milyaran dollar bisa berakhir karena mereka.”
Sepasang mata Fahira menyipit. “Memang apa yang bisa mereka lakukan untuk menghancurkan Sayap Kiri?”
“Hanya Mr. Mun yang tahu jawabannya. Apa yang bisa mereka lakukan sehingga dikatakan sebagai sebuah ancaman,” jawab David. “Kita semua yang ada di sini hanya melakukan tugas darinya. Jadi siapkan Ethan. Ethan dan prajurit lainnya akan mengejar Lucas dan Gita. Tidak ada alasan lagi. Ethan sudah sepantasnya kita gunakan sebagai senjata biologis manusia yang berbahaya.”