Lucas juga musuh?

1243 Kata
Di markas besar gedung penelitian sayap kiri milik Mr. Mun yang dipimpin oleh David sedang mempersiapkan rencana kedua dan mengatur strategi untuk menangkap Lucas dan Gita. Namun yang menjadi target terlihat santai berjalan menyusuri jalan setapak di hutan menuju ke timur. Beberapa kali Gita mencuri pandang ke arah Lucas yang berjalan waspada di sisinya. “Ada apa melihatku terus menerus?” tanya Lucas dengan raut muka dingin. “Tidak ada apa-apa,” jawab Gita sambil memalingkan mukanya. “Kalau tidak apa-apa, kenapa kamu melihatku terus? Mencuri pandang begitu. Aku peringatkan ya ... Jangan sampai kamu jatuh cinta padaku,” tegur Lucas ketus. Bibir Gita terbuka lebar mendengarnya. “Ya ampun, kamu enggak usah kepedean begitu ... Aku enggak menyukai kamu! Justru hati-hati kamu yang akan jatuh cinta padaku.” Lucas mencibir. “Tenang saja ... Aku tidak akan jatuh cinta sama kamu. Aku sudah menikah.” Gita terkesiap mendengarnya. Karena saking terkejutnya, hingga membuat langkah kakinya terhenti mendadak. Ia bukan terkejut karena Lucas bukanlah pria single. Namun jika Lucas sudah menikah, lalu di mana istri dan anaknya? “Kenapa malah semakin menatapku begitu?” tanya Lucas dengan dahi yang berkerut. “Ayo jalan! Kita tidak tahu kan kalau musuh akan mengejar kita?” “Kamu sudah menikah?” Gita bertanya sembari masih menatap. Lucas menganggukkan kepalanya pelan. “Iya, aku sudah menikah. Kenapa memangnya?” “Di mana istri dan anakmu?” “Istriku sudah meninggal karena pandemi virus ini. Dan putriku diculik.” Jawaban Lucas membuat Gita semakin terkejut dan juga semakin ingin tahu apa yang terjadi. “Ayo cepat teruskan jalannya. Kita harus segera sampai menuju ke tempat Profesor Ismunandar,” kata Lucas sembari menggerakkan kepalanya agar Gita cepat bergegas. Lucas berjalan lebih dulu, sedangkan Gita mengekor di belakangnya. “Jika para musuh telah membunuh ayahmu, profesor Rudi, dan kemudian mengejar kita untuk ditangkap, dihabisi. Kemungkinan besar profesor Ismunandar juga mengalami hal serupa. Bagaimana jika ketika sampai di sana, ternyata Profesor Ismunadar sudah tidak ada di rumahnya?” “Hal itu juga yang aku takutkan,” jawab Gita dari belakang. “Lucas ...,” panggilnya lirih. “Ada apa?” Lucas menoleh sebentar dan kemudian pandangan matanya kembali ke depan. “Siapa yang menculik putrimu?” tanya Gita ingin tahu. Kini Lucas yang menghentikan langkah kakinya. “Orang yang sama yang telah mengejar kita.” “Astaga ... Ternyata mereka sejahat itu ... Umur putrimu berapa tahun? Siapa namanya?” Gita semakin ingin tahu. Ia tidak bisa membayangkan seorang anak kecil telah menjadi korban penculikan. Dipisahkan dari ayahnya. Pasti dia di sana sedang ketakutan, batinnya. “Namanya Laura, usianya sekitar sembilan tahun. Ketika aku pulang ke rumah, tiba-tiba Laura tidak ada. Tapi di pintu dan jendela tidak terlihat tanda bekas pendobrak paksa masuk rumah. Sepertinya Laura membuka pintu dengan sukarela. Aku merasa jika Laura mengenal orang yang menculiknya.” “Lalu? Kamu tahu siapa yang menculiknya?” Gita menatap tajam. Sirat keingintahuannya sangat kental. Lucas menggeleng, “Sayangnya aku belum tahu siapa yang menculiknya. Walau si penculik pernah mengirimkan ku sebuah pesan singkat dan juga video jika Laura baik-baik saja bersama mereka. Dan menyatakan, aku bisa bertemu dengan Laura, jika bisa mendapatkan data ilmiah yang akan dijadikan obat penawar pandemi ini.” “Kamu memiliki akses internet?!” serunya tak percaya. Ia tidak tahu jika akses internet masih bisa digunakan. Sejak virus yang merajalela dan ternyata dampak efek sampingnya membuat sebagian orang bermutasi menjadi kanibal, sejak saat itu tata dunia dan negara menjadi kacau. Komunikasi yang mudah didapatkan kini menjadi sulit. Bahkan daerah yang aman hanya di beberapa tempat. Lokasi para sumanto, manusia yang bermutasi menjadi kanibal pun diisolasi. Nahasnya, lebih banyak manusia yang bermutasi akibat efek samping vaksin dari pada manusia yang bisa menerima dosis vaksin tersebut. “Terkadang aku mendapatkan akses sinyal internet. Ketika aku mendapatkan akses sinyal internet, beberapa pesan chat dan juga video masuk. Saat itu aku baru bisa membaca apa pun pesan yang dikirimkan para penculik Laura,” jawab Lucas dengan raut muka penuh beban. Gita tahu betapa Lucas sangat mencemaskan putrinya itu. “Memang di mana kamu bisa mendapatkan data ilmiah yang akan dijadikan obat penawar pandemi ini?” tanyanya dengan mimik muka serius dan sepasang mata menyipit. Tiba-tiba jantungnya berdebar dan menjadi takut pada Lucas. Lucas tidak menjawab pertanyaan yang diarahkan padanya itu. Gita menatap Lucas tajam. “Jawab pertanyaanku ... Dari mana kamu akan mendapatkan data ilmiah yang akan dijadikan obat penawar pandemi ini?” Lucas membalas pandangan Gita padanya. Netra Gita menunjukkan ketakutan dan juga rasa ingin tahu yang sangat besar. “Jawab Lucas ... Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?” “Kamu ingin tahu aku mendapatkan data ilmiah obat pandemi virus ini dari mana?” Gita mengangguk pelan. Sepasang matanya menatap penuh waspada. “Aku akan mendapatkannya darimu ... Dari anak profesor Ismunandar,” jawab Lucas dengan ekspresi dingin seperti sebelumnya. Jantung Gita berdebar. Bibirnya segera terkatup rapat. Ia harus berhati-hati pada semua orang yang menginginkan semua informasi penelitian ayahnya. Semua orang berbahaya, kecuali profesor Ismunandar, batinnya. “Kamu juga tahu jika ayahmu memiliki data penelitian penangkal pandemi virus ini?” tanya Gita sembari berjalan mundur ke belakang perlahan. “Ayahmu adalah seorang profesor yang sangat hebat. Namanya sangat terkenal di kalangan ilmuan lain. Ayahmu tidak akan diragukan lagi. Dia adalah orang yang sangat hebat,” jawab Lucas sembari mengamati Gita. “Kamu juga termasuk salah satu dari orang-orang yang menginginkan data ilmiah penelitian ayahku kan?” tanya Gita lirih. Lucas menganggukkan kepalanya. “Demi putriku ....” Gita semakin berjalan mundur ke belakang. Ia menjauh. “A-aku turut prihatin atas apa yang menimpa keluargamu dan juga putrimu. Tapi ... Maaf aku tidak bisa memberikan informasi tersebut, karena semua orang belum tentu baik,” ujarnya sembari membalik badan dan kemudian berlari. Gita berlari cepat menjauhi Lucas. Ia menjadi takut pada Lucas. Bagaimana jika ternyata Lucas adalah salah satu dari penjahatnya? Ayahnya pernah berpesan jika dirinya harus berhati-hati kepada siapa pun juga. Data ilmiah yang diberikan oleh ayahnya itu adalah sebuah benda yang sangat penting. Lucas yang berlari kencang menyusulnya dan tiba-tiba berada tepat di depannya membuat Gita terkesiap. “Kenapa kamu berlari? Kamu pikir aku adalah orang jahat?” Lucas tidak terima dengan perlakuan Gita. “Tap-tapi kamu menginginkan data-data ilmiah ayahku.” “Tapi aku bukan orang jahat yang akan menyakiti kamu. Untuk apa kamu berlari? Apa kamu lupa jika aku sudah menyelamatkan kamu dari pada Sumanto itu?” Gita tidak menjawab. Ia semakin merekatkan tangannya pada tali tas ranselnya. Lucas memicingkan matanya. Menjadi curiga dengan isi dari tas ransel yang dibawa oleh Gita. “Jadi kamu memang membawa data-data ilmiah penting penelitian profesor Rudi?” Gita menggeleng dengan wajah pucat. “Tidak. Aku tidak memilikinya. Semua data itu tertinggal di rumah. Aku segera melarikan diri ketika dua orang menyerang rumahku.” Lucas tidak percaya. Ia yakin ada sesuatu di dalam tas ransel Gita. “Sini, aku lihat tasnya ...!” Gita menggelengkan kepala. “Tidak ada apa-apa di dalam tasku.” “Sini!” teriak Lucas. “Aku ingin lihat. Setidaknya kamu bisa membantuku menyelamatkan putriku.” “Tasku tidak ada apa-apa. Hanya makanan yang aku ambil dari rumah pohon milikmu,” jawab Gita. Namun Lucas tetap tidak percaya. Lucas tetap menarik tas ransel Gita. Merebutnya paksa. Gita mempertahankan tasnya. “Tidak ada apa-apa di dalamnya!” “Ke marikan! Aku ingin lihat isinya! Kamu pasti membawa data ilmiah Profesor Rudi di dalam tas ini!” seru Lucas sembari menarik kencang tas tersebut dan mendorong tubuh Gita hingga tersungkur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN