Sebuah penelitian penting

1121 Kata
Gita mengaduh sembari memegangi keningnya yang terbentur batu. “Astaga, kamu membuatku berdarah,” ujarnya sembari mengusap keningnya yang berdarah. Lucas terkejut atas yang telah dilakukannya. “Maaf, aku tidak sengaja membuatmu terluka,” katanya sembari mendekati Gita dan mengulurkan tangannya. Tapi karena kesal, Gita memalingkan mukanya. Mengabaikan tangan yang terulur ke arahnya. Lucas berjongkok di samping Gita. “Kamu berdarah ....” “Iya, aku berdarah. Karena kamu keningku jadi berdarah kena batu!” seru Gita sembari menatap kesal. “Maaf, aku tidak sengaja,” kata Lucas sekali lagi dan ingin menyentuh kening Gita untuk memastikan lukanya. Namun Gita yang sudah kepalang kesal tidak ingin Lucas mendekat apalagi jarinya menyentuh keningnya. “Kita bukan partner,” ucap Gita sembari berdiri. Keningnya yang sedikit berdarah dibiarkan terbuka. “Kita tidak usah bersama-sama untuk menuju ke kediaman Profesor Ismunandar.” Kening Lucas berkerut. “Bukankah niat dan tujuan kita sama? Lagi pula bersama-sama lebih baik dari pada sendirian.” Gita menggeleng. “Aku tidak tahu kamu orang baik atau bukan. Di dekatmu lebih menakutkan,” jawabnya sembari lebih mencengkeram erat tali ransel yang menggantung di bahunya. “Oh jadi karena tadi aku ingin melihat isi tasmu?” Lucas baru faham. “Aku hanya ingin melihatnya. “Melihatnya?” Gita tertawa mengejek. “Kamu bukan melihatnya. Tapi kamu ingin merebut tasku.” “Jika di dalam tasmu tidak ada benda penting, kamu pasti sudah memperlihatkan isinya padaku.” “Kamu ingin data penelitian ayahku kan? Aku tidak memilikinya.” “Aku hanya ingin melihatnya saja. Kenapa kamu sangat takut begitu? Jika memang di dalam tasmu tidak ada sesuatu yang penting, kenapa sampai sebegitu takut aku melihatnya?” Gita memicingkan matanya. Tetap bersikukuh pada pendiriannya. “Aku tidak mau bekerja sama denganmu,” ucapnya sembari membalik badan. “Kita bukan partner!” “Hei, kamu mau ke mana? Jika ingin menemui profesor Ismunandar kau harus lewat sini,” kata Lucas setengah berteriak. Gita menghentikan langkah kakinya. Sebagian hatinya juga takut jika tersesat. “Kalau kamu tersesat dan tidak ada aku ... Tidak akan ada yang menolong kamu. Belum lagi para sniper yang diutus pemerintah untuk mencari kita. Dan juga ... para kanibal itu.” Lucas mengingatkan. Gita berpikir sebentar. Apa yang dikatakan oleh Lucas benar. Memang riskan dan berbahaya jika ia memutuskan untuk sendirian menemui profesor Ismunandar di Kota B. “Benar kamu ingin sendiri saja? Kita tidak jadi partner?” tanya Lucas sekali lagi sembari memandangi punggung Gita yang berdiri tegap membelakangi. “Ya sudah jika kamu ingin sendirian mencari Profesor Ismunandar. Aku tidak akan memaksa,” sambungnya dan kemudian berjalan menjauh. Gita menoleh. Memandangi Lucas yang sudah pergi. Setelah dipikir-pikir, semisal Lucas adalah orang jahat, tapi dia lebih baik ketimbang para penjahat lainnya. “Aku hanya ingin mengetahui apa isi tasnya, kenapa dia sampai marah seperti itu ...,” gerutu Lucas sembari mulai melangkah lebih cepat dari pada sebelumnya. Gita yang diam-diam berjalan membututi Lucas, mengekor di belakangnya. Mulai kehilangan jejak Lucas yang kini tidak terlihat lagi. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari-cari Lucas. Pria itu sudah tidak terlihat lagi. “Sial!” gerutunya dengan wajah panik. Kini dirinya sungguh hanya seorang diri. *** Para pasukan Elang sayap kiri, segera keluar dari pesawat amfibi yang mendarat di sungai. Ethan dan tiga prajurit segera membuka perahu karet dan menaikinya untuk sampai ke tepian. Sang pilot memang sengaja mendaratkan pesawat di atas air karena tidak bisa mendarat di daratan. Banyak pepohonan tinggi di hutan ini yang menyulitkan pesawatnya untuk landing dengan aman. “Aku akan ikut mereka,” kata Fahira pada David yang masih berada di dalam pesawat. “Apa maksudmu? Batas izinmu hanya sampai di sini saja,” kata David dengan nada tinggi. “Aku adalah pencipta kekuatan Ethan. Setidaknya apa yang dia lakukan di luar gedung penelitian dan seberapa kekuatannya aku bisa mencatatnya.” “Kamu bisa mencatatnya tapi nyawamu taruhannya. Di luar sana, banyak musuh. Apa kamu tidak faham?” David tidak setuju dengan keinginan Fahira. Walau hubungan mereka kini hanya berstatus sebagai mantan kekasih. Namun David masih peduli padanya. Ethan melirik ke arah Fahira yang sejak tadi menatapnya. “Ethan,” panggil Fahira. Ethan terpaksa menoleh karena namanya dipanggil. “Jika aku ikut kalian apa kamu akan melindungiku?” tanya Fahira penuh harap. “Tentu,” jawab Ethan tanpa pikir panjang. Fahira tersenyum. “Lihat, dia bilang akan melindungi ku. Tidak ada yang aku ragukan lagi. Aku akan ikut mereka.” “Tapi ini tidak seperti prosedur,” ujar David masih pada pemikirannya. Fahira tersenyum sinis. “Ya, prosedur. Lagi-lagi ... kamu selalu mementingkan prosedur di atas segalanya. Hubungan kita kandas pun semuanya karena prosedur. Tidak ada yang menjalin hubungan spesial di antara rekan kerja,” jawabnya lirih dan dengan mimik muka mengejak. David mencengkeram lengan Fahira. “Jika kamu mendengarkan aku. Bersabar ... hubungan kita tidak akan berakhir. Kita hanya putus sementara. Setelah semua masalah terselesaikan, kita bisa memulai hubungan kita kembali,” ujarnya lirih tepat di sisi wajah bagian kiri Fahira. Fahira mengatupkan bibirnya. “Aku tidak bisa sesabar itu ...,” timpalnya dengan manik mata bersorot tajam. “Tuan, kami akan menuju ke seberang!” seru salah satu prajurit bernama Jae. David menoleh ke arah perahu karet yang telah siap untuk menyeberang ke tepi sungai. “Aku harus ikut mereka,” kata Fahira bersikukuh. Netranya masih memandang tajam David, seolah permintaannya itu tak bisa ditolak. “Bukannya kamu ingin aku menciptakan senjata biologis lainnya? Aku harus lebih seksama meneliti Ethan agar bisa menciptakan senjata biologis lainnya.” David terdiam. Netranya membalas tatapan Fahira. Raut mukanya seraya berpikir keputusan apa yang harus diambilnya. “Baiklah, kamu bisa ikut, tapi dengan syarat kamu tidak boleh pergi jauh-jauh dari kami. Dan setelah ini kamu harus menciptakan senjata biologis baru yang lebih baik dari Ethan.” Fahira mengangguk mantap. “Jangan khawatir, aku akan terus berusaha menciptakan senjata biologis terbaru yang tidak tertandingi,” jawabnya sembari keluar dari pintu pesawat sembari membawa satu tas ransel berukuran sedang berisi benda-benda penting untuk penelitiannya. Ethan segera menyambut tangan Fahira agar berjalan seimbang ketika melangkah masuk ke dalam perahu karet. Fahira tersenyum ketika Ethan secara spontan peduli membantunya. Kepala David melongok dari pintu pesawat. “Fahira, hati-hati ... dan jangan lupa selalu kabari aku.” “Tentu,” jawab Fahira yang sudah duduk rapi di perahu karet bersama Ethan dan ketiga prajurit lainnya. Pintu pesawat amfibi itu kembali tertutup. Ethan dan ketiga prajurit lainnya segera mendayung agar parahu karet ke tepi. Pesawat berwarna putih tersebut kini kembali terbang menggantung di langit biru. Di dalam pesawat amfibi, David memandang ke bawah. Netranya masih mengamati Fahira yang berada di dalam perahu karet. “Semua orang mengandalkan mu Fahira, Ethan ... Kalian harus mendapatkan Gita dan Lucas hidup-hidup untuk penelitian lanjutan Mr. Mun," ujarnya lirih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN