“Yakin mereka yang menjadi target lari ke arah hutan ini, Nyonya?” tanya Ethan pada Fahira.
“Jangan panggil aku dengan sebutan Nyonya. Aku merasa seperti sudah sangat tua. Panggil saja aku Hira.”
Ethan menatap Fahira.
Fahira tersenyum simpul. “Dahulu mantan kekasihku kerap memanggil aku Hira,” ujarnya sembari memasang raut muka melucu.
Ethan terlihat tidak peduli. Ia melangkah menuruni perahu karet yang sudah berada di tepi, lalu disusul oleh ketiga prajurit lainnya.
Fahira tertinggal di paling belakang. “Tunggu! Kalian harus menungguku. Bukankah kalian juga harus menjagaku?”
“Karena itu harusnya anda tidak ikut,” timpal Ethan ketus. "Pekerjaan dan beban kami menjadi bertambah."
“Hei, jangan lupakan aku masih menelitimu!”
Ethan tidak menghiraukan peringatan Fahira. Ia hanya diam.
Sebetulnya Ethan merasa aneh tiba-tiba bergabung di dalam misi yang dipimpin oleh Tuan David. Tidak satu pun kenangan di masa silam diingatnya. Bahkan nama Ethan yang disandangnya saat ini adalah pemberian Fahira.
Yang ia tahu hanya dirinya diciptakan di dalam sebuah penelitian untuk menyelamatkan dunia. Otaknya terus menerus dicuci oleh pemikiran demikian.
Sedangkan di bagian lain hutan yang sama, Gita dan Lucas sungguh terpisah.
Gita mengeluarkan kompas dan mengikuti arah jarum merah yang menuju ke arah timur. Setiap ada suara daun yang berisik tertiup angin, telinganya menjadi waspada. Langkah kakinya terhenti. Netranya memandang ke sekeliling.
“Hanya angin,” katanya pada diri sendiri agar tidak merasa ketakutan.
Tapi sugesti yang diberikan pada diri sendiri itu tidak berlaku saat ini. Telinganya jelas mendengar suara seorang wanita yang sedang berbicara.
Sepasang mata Gita mendelik. Ia menoleh ke belakang, melihat ke sumber suara. Namun belum terlihat siapa yang ada di sana.
*
“Jangan berisik ...,” desis Ethan sembari menghentikan langkah kakinya dan mengangkat tangan kanannya ke atas.
Tiga prajurit yang bersamanya juga menghentikan langkah.
Fahira segera menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. “Ada apa?” tanyanya lirih nyaris berbisik.
Ethan menoleh dan menatap Fahira lekat. “Jangan berisik. Suaramu bisa terdengar musuh, dan mereka akan tahu jika kita ada di sini.”
“Maaf,” jawab Fahira cepat. “Karena terlalu senang bisa bersama-sama denganmu aku jadi lupa jika kita sedang menjalankan misi.”
Kedua alis Ethan bertaut. “Kenapa kamu merasa sangat senang bersamaku? Aku adalah ciptan kamu kan ....”
“Karena kamu adalah hasil penelitianku yang paling luar biasa, aku senang. Ternyata aku bisa menghidupkan orang yang nyaris mati. Menjadi hidup kembali dan kuat seperti ini,” jawab Fahira sembari menekan-nekan otot lengan Ethan yang kekar dengan jarinya.
Ethan memandangi jari Fahira yang menekan-nekan ototnya. Lalu dengan cepat ia menarik tangannya dan menyembunyikan ke belakang punggung. “Jika kamu ingin ikut kami, tolong fokuslah. Jangan membuat misi ini gagal.”
Fahira mencibir. Merasa aneh Ethan memarahinya.
“Aku serius,” kata Ethan tegas. “Kita harus menangkap Lucas dan Gita secepatnya. Kalau bisa aku tidak ingin sampai berhari-hari mendapatkan mereka. Aku ingin saat ini mendapatkan mereka! Mengerti?”
Bibir Fahira terbuka lebar. Ia merasa posisinya dan Ethan terbalik. “Hei, kenapa sejak tadi kamu mengaturku? Aku adalah penciptamu. Harusnya kamu yang mendengarkan aku,” ucapnya memprotes.
Sebelah sudut bibir Ethan tertarik ke atas. “Di sini hutan. Bukan wilayah kekuasaan kamu. Maka sekarang, kamu harus mendengarkan aku jika ingin misi yang kita emban cepat selesai dan segera kembali ke markas besar.”
*
Jantung Gita berdebar hebat. Netranya segera berpendar mengelilingi hutan. “Tidak ada siapa-siapa. Tapi ada suara wanita bicara tadi ...,” pekiknya lirih. “Dan aku kini sendirian. Lucas sudah pergi,” sambungnya sembari menahan tangis.
Perasaan sedih segera menembus relung hatinya. Merasa sendirian, sebatangkara di hutan tropis yang ditumbuhi pepohonan lebat dan juga semak belukar. Belum lagi kemungkinan bertemu dengan para Sumanto yang kelaparan. Di tambah saat ini ada orang asing yang berjalan mendekat.
“Tapi suara wanita tadi terdengar renyah dan riang. Sepertinya dia orang baik,” kata Gita pada diri sendiri sembari berjalan menghampiri sumber suara. Kepolosannya membawanya untuk mendekat, walau belum tahu siapa yang berada di balik semak-semak lebat delapan meter di depannya.
“Hei, jangan sembarangan!” Suara Lucas bersuara lirih tepat di samping telinga, membuat Gita terkesiap, nyaris berlonjak. Terkejut tiba-tiba Lucas berdiri tepat di sisinya.
“Lucas, kamu membuatku kaget saja!” seru Gita dengan mata mendelik bulat, melotot.
“Stt ... Jangan berisik. Kita tidak tahu siapa yang mendekat,” kata Lucas dengan mimik muka penuh waspada.
“Kamu juga mendengar suara wanita yang berbicara?” Gita memastikan.
Lucas menganggukkan kepalanya. “Iya, aku juga mendengarnya. Jelas sekali. Suaranya juga familiar.”
“Apa mungkin dia salah satu kenalanmu? Kerabatmu atau keluargamu?” Gita sudah terlihat senang. “Seperti yang kamu katakan, banyak orang lebih baik dari pada sendirian. Kita bisa membentuk kelompok bertahan hidup.”
“Jangan berpikiran aneh-aneh. Orang yang seperti kita sudah langka, nyaris tidak ada lagi. Jika pun ada manusia yang bisa menerima vaksin untuk menangkal pandemi virus Orthovirinae-18 mereka tidak akan berada di hutan ini,” Lucas memperjelas.
Mendadak raut muka Gita menjadi pucat dan kembali serius. “Maksudmu kemungkinan mereka yang ada di sana adalah musuh?”
Lucas mengangguk mantap. “Kita harus mengamati mereka dulu sembari bersembunyi,” katanya sembari mengenggam tangan Gita. “Ayo ikut aku ....”
*
Semak belukar yang sangat tinggi diterjang oleh prajurit yang berada di paling depan. Setelan seragam prajurit berwana hitam membuat tiga orang berbadan kekar itu tampak gagah dan menyeramkan.
“Setelah kita menangkap Lucas dan Gita, sebetulnya mereka akan kita apakan?” Salah satu prajurit mulai ingin tahu. Karena tugas mereka hanya untuk melindungi, mengawal, dan juga membunuh target yang diminta, jadi sebetulnya mereka tidak tahu apa-apa.
“Intinya mereka sangat diinginkan oleh Mr. Mun,” jawab Fahira sembari berjalan mengekor di belakang.
“Setelah misi ini berhasil. Kita berhasil membawa Lucas dan Gita ke markas, apa kamu bersedia untuk menceritakan kepingan masa lalu hidupku yang tidak aku ingat lagi?” tanya Ethan penuh harap.
Manik mata Fahira memandangi Ethan. Entah kenapa tiba-tiba ia menjadi iba. Kenangan masa lalu Ethan terhapus karena efek serum obat-obatan yang sering diberikannya.
“Hei, kenapa anda tidak menjawab? Apa setelah misi ini selesai, aku bisa mendapatkan informasi tentang masa laluku? Siapa keluargaku dan di mana aku pernah tinggal. Aku ingin mengingatnya," kata Ethan sekali lagi.
Fahira menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Mulutnya sudah terbuka untuk menjawab pertanyaan Ethan. Tapi salah satu prajurit memanggil.
“Hei kawan, lihat ini ... Aku menemukan jejak!"
Ethan segera melangkah cepat mendekat dan meninggalkan Fahira jauh di belakang. Netranya menatap jejak sepatu yang ada di atas tanah. Lalu netranya melihat ke arah depan. Jejak langkah dua orang manusia itu tiba-tiba menghilang.
“Mereka ada di dekat sini,” kata Ethan lirih.
“Siapa?” tanya Fahira ingin tahu. “Yakin, jejak itu adalah milik Lucas dan Gita?”
Ethan tidak menjawab. Ia justru memandang ke sekeliling untuk memastikan. “Mereka masih ada di sini ... Jejak kaki itu menghilang begitu saja.”
Tiga prajurit juga ikut memandangi ke sekeliling.
“Mereka masih ada di sini?” tanya Fahira lirih. “Di mana mereka?”
*
Di sebuah pohon yang paling besar, Lucas dan Gita duduk di dahannya yang kekar. Mereka bertatapan setelah mendengar suara Ethan yang memastikan jika orang yang dicari masih ada di sini.
Lucas menaruh telunjuk tangan kirinya ke depan bibir. “Stt ....” Isyarat agar Gita jangan mengeluarkan sepatah katapun. Sedangkan tangan kanannya memegangi pinggang Gita agar merapat padanya dan tidak jatuh dari ketinggian lebih dari sepuluh meter. “Mereka pasti pasukan yang diperintahkan oleh pemerintah untuk menangkap kita,” bisiknya pada Gita penuh keyakinan. “Jika kita tertangkap, kita tidak akan bisa mencari profesor Ismunandar.”