Gita sangat merapat pada Lucas. Hingga ia bisa melihat dengan jelas bentuk wajah Lucas yang tampan. Hidung mancung dan sepasang alis lebat berjajar rapi membingkai sepasang netranya yang maskulin.
Selama ini ia tidak biasa sedekat ini dengan pria. Tapi kali ini, ia begitu dekat dengan seorang laki-laki.
Berada dekat seperti ini membuatnya jengah, hingga Gita sedikit salah tingkah dan salah memijakkan kakinya di dahan pohon. “Kraak!”
Nyaris saja Gita terjatuh jika Lucas tidak spontan memeganginya.
Sepasang mata Lucas mendelik karena sebetulnya ia pun terkejut Gita akan terjatuh. Cengkeraman tangan kirinya di lengan Gita semakin kuat dan tangan kanannya semakin merapatkan tubuhnya pada pinggang Gita. “Hati-hati,” bisiknya lirih.
Gita menurut. Membetulkan langkah kakinya berpijak.
Namun kulit pohon kering yang rapuh, serbuknya sedikit jatuh ke bawah.
Pengamatan Ethan yang kuat membuatnya bisa merasakan gerakan angin dan juga serbuk batang pohon kering yang jatuh tepat di sisinya. Sontak ia menoleh. Menatap serbuk dahan tersebut yang terhembus angin seperti gerakan lambat.
Tiga prajurit yang tidak merasakan apa pun, segera melanjutkan langkah mereka diikuti Fahira di belakang.
“Tunggu!” seru Ethan.
Semua langkah kaki terhenti.
Fahira dan tiga prajurit yang mengenakan pakaian berwarna sama itu menatap Ethan. “Ada apa?”
“Ada yang aneh,” jawab Ethan lirih.
Sepasang mata Lucas memicing melihat ke bawah. Ia tidak mendengar perbincangan orang-orang yang ada di bawah mereka.
“Kenapa mereka berhenti?” tanya Gita berbisik sangat pelan. “Mereka tidak meneruskan perjalanan.”
“Stt ... Jangan berisik,” tegur Lucas. “Sepertinya orang yang paling tinggi dan gagah di antara mereka berempat itu memiliki kekuatan tidak biasa,” sambungnya dengan sepasang mata masih mengamati.
Cuping daun telinga Ethan bergerak. Indera pendengarannya menangkap gelombang suara yang tidak bisa ditangkap oleh orang lain. Ia menoleh ke atas. Memandangi pohon yang rimbun dedaunan.
“Ada apa Ethan?” tanya Fahira mulai ingin tahu. Ia merasakan ada keganjilan yang membuat Ethan bersikap demikian.
Ethan tidak membalas pertanyaan Fahira. Ia menunjuk ke atas dan sebelah tangannya menaruh telunjuk ke depan bibir, isyarat agar Fahira dan yang lainnya tidak bersuara.
Seketika hening. Lucas merasa ada yang janggal. Sepertinya mereka tahu dia dan Gita bersembunyi di sini, batinnya.
Ethan mengandah ke atas. Sepasang matanya memicing mengamati daun rimbun yang menutup setengah tinggi pohon.
Lucas semakin erat memegangi Gita.
Sudut mata Gita menangkap sesuatu yang melingkar dan suara desis semakin jelas. Ia pun menoleh. Sepasang matanya mendelik, dilihatnya ular yang sedang bersantai di salah satu dahan pohon di dekat mereka. Kepala ular tersebut semakin berdiri. Seolah terganggu dengan kehadiran Gita dan Lucas.
Wajah Gita pucat pasi. Jantungnya berdegup cepat. “Lucas ...,” panggilnya lirih.
“Jangan berisik. Sudah aku bilang, diamlah sebentar,” jawab Lucas tanpa menoleh.
Nafas Gita memburu karena menahan takut. Ia terpaksa mengubur rasa takutnya dan merapatkan bibirnya karena diperintahkan untuk tidak berisik. Tapi ular yang tadi hanya diam melingkar pada dahan di seberang itu kini mulai merayap dan mendekat.
Tangan Gita gemetar. “Lucas ...,” panggilnya lirih.
Lucas risih. Ia menoleh, “Ada apa sih?”
“Ada ular ... Itu, lihat,” jawab Gita sembari menunjuk ke arah sisi kanannya.
Ular berukuran sedang dan panjang berwarna hijau dengan garis loreng putih itu bergerak merambat dengan cepat. “Kita harus apa?”
“Itu hanya ular daun,” jawab Lucas menenangkan. “Tunggu sampai mereka pergi, kita akan turun dari sini.”
“Hah, hanya ular daun?” pekik Gita lirih. “Ular berukuran sedang seperti itu, kau bilang hanya ular daun?”
“Nanti juga ular tersebut akan pergi sendiri,” sahut Lucas enteng. “Jangan berisik. Kita sedang diawasi.”
Fahira mengikuti mata Ethan memandang. Ia pun ikut melihat ke atas pohon besar dengan daun yang amat lebat.
Ethan mengambil sebuah batu yang ada di atas tanah. Ia menggenggamnya. Melempar-lempar sebentar di tangan seraya bermain. Lalu ia mulai melempar batu tersebut dengan serius menuju target di atas pohon yang rimbun.
Batu berukuran sedang yang dilempar Ethan nyaris mengenai Gita. Untung saja Lucas menarik kepala Gita. Batu tersebut seperti menyalip cepat tepat di sebelah pipi Gita, lalu mengenai ular yang sedang merayap mendekat.
“Braak!”
Seekor ular hijau dengan corak putih jatuh ke atas tanah.
Ethan, Fahira dan tiga prajurit itu memandangi ular yang bergerak menjauh.
Salah satu prajurit akan mendekat dan membunuh ular hijau itu.
“Jangan bergerak. Dia tidak akan mengganggu!” seru Ethan membiarkan ular hijau tersebut menjauh. Ia menghela nafas panjang dan dalam.
“Jadi dari tadi kamu melihat ke atas pohon itu karena ada ular? Aku kira karena ada apa ...,” kata Fahira sembari melipat tangannya di depan d**a.
“Tadinya aku pikir di atas pohon itu ada seseorang yang bersembunyi. Tapi ternyata hanya ular. Hanya perasaanku saja tadi,” jawab Ethan dan kemudian melangkahkan kakinya.
Fahira memandang ke atas. Menatap pohon yang rimbun. “Mana ada orang yang berani naik ke atas pohon setinggi itu?”
“Jangan lupakan jika salah satu target kita memiliki kekuatan super,” sahut Ethan dan kemudian berjalan lebih dulu di depan.
Lucas dan Gita memandangi rombongan Ethan dan Fahira. Mereka menunggu Ethan dan Fahira sudah berjalan sangat jauh dari mereka baru turun ke bawah.
Dari atas pohon, Lucas bisa melihat dengan jelas jika Ethan, Fahira dan tiga orang yang mengenakan seragam hitam itu menuju ke arah timur. Lalu ia menarik Gita tanpa permisi dan membopongnya. Sekali lompat, kaki Lucas langsung menapak ke atas tanah dengan gagah.
“Aku mulai terbiasa dengan kehidupan ala Tarzan,” kata Gita menyindir.
Lucas menurunkan Gita dengan kasar. “Jika bukan karena aku menolongmu, pasti kamu sudah tertangkap. Lihat orang-orang tadi, mereka mengejar kita!” serunya memperingatkan.
Gita mengatupkan bibirnya sebentar. Mengusap bibir bawahnya dengan lidahnya sendiri. Terlihat gestur salah tingkah. “Hm ... Terima kasih. Kamu sudah menolongku dua kali.”
Lucas menaikkan kedua alisnya ke atas dan kemudian berjalan ke arah utara.
“Hei, bukankah kita harusnya berjalan ke sana. Ke arah timur. Jika matahari bersinar di sebelah barat dan akan tenggelam, harusnya kita berjalan ke arah berlawanan kan?”
“Orang-orang yang tadi menuju ke arah timur. Jika tidak ingin bertemu dengan mereka di hutan ini, maka kita harus berjalan memutar,” jawab Lucas menjelaskan.
Gita mengangguk pelan. Mulai mengerti. Ia mengekor di belakang Lucas sembari memegangi tali tas ranselnya. “Hm ... Terima kasih tadi kamu mau kembali untuk menolongku.”
“Hm, iya. Tidak usah dibahas lagi." Lucas hanya menjawab singkat.
“Karena kamu sudah menolongku dua kali ... Aku ....”
“Kenapa?” Lucas menyela. “Kamu mau berterima kasih lagi? Aku sudah mendengarnya tadi. Jadi tidak usah mengulang-ngulang.”
“Kok kamu jadi ketus begitu sih? Sudah bagus aku mengucapkan terima kasih. Kok mau malah ngegas?” sahut Gita kesal. “Kamu gak iklas nolongin aku?”
“Kan kamu tadi yang kabur dari aku. Lari dari aku, seolah aku penjahatnya. Jika aku tidak ingat kamu adalah anak dari Profesor Rudi, malas sekali untuk nolongin kamu,” jawab Lucas sembari terus berjalan.
“Jadi karena aku anak dari profesor Rudi kamu mau nolongin aku? Jadi ada yang ingin kamu dapatkan dari penelitian ayahku?” tanya Gita menebak.
Lucas menarik nafas panjang dan dalam. Ia tidak ingin menjawab kata-kata Gita. Lebih baik bocil ini diabaikan saja, pikirnya membuang waktu.
“Lucas, tunggu! Jalannya jangan cepat-cepat!” seru Gita dari belakang.
Lucas mengerjapkan matanya sebentar sembari menarik nafas panjang dan dalam. Kini ia seperti seorang pengasuh. Pengasuh yang harus menjaga Gita dan berdamai dengan sikapnya yang menjengkelkannya.
“Lucas ... Lucas!” Gita masih memanggil. “Tunggu aku. Jalan kamu terlalu cepat. Padahal kamu bisa menggendong aku kan.”
Lucas menghentikan langkah kakinya. “Sudah aku bilang jangan berisik. Salah satu dari empat orang yang mencari kita itu sepertinya memiliki kekuatan yang tak biasa. Mungkin saja dia bisa mendengar suaramu.”
“Tapi kayanya dia sudah jauh dari kita,” jawab Gita bersikeras.
“Jika kamu ingin kita bersama-sama. Maka kamu harus menuruti semua kata-kataku. Mengerti?!”