“Hei,” panggil Gita dari belakang. Sejak tadi ia diabaikan oleh Lucas. Ia tidak suka seperti ini. Diabaikan dan di sepanjang perjalanan tidak ada perbincangan. Membuatnya bosan.
“Hei!” panggil Gita sekali lagi.
Lucas menoleh. “Apa?” tanyanya dengan muka masam. “Sejak tadi kamu memanggilku. Berisik tau enggak!”
“Kita partner. Tapi kek orang asing begini. Gak sekali pun kamu ajak ngobrol.”
Lucas mendengus kesal. “Memang kamu ingin ngobrol apa? Obrolan gak penting itu enggak guna. Lagi pula kita kan sedang kabur dari para pengejar yang tadi.”
“Kita udah lebih jauh dari mereka,” sahut Gita santai. “Mereka gak akan dengar suara kita. Mereka sudah jauh. Apa lagi kita kan udah menyerong ngambil jalannya.”
Lucas diam. “Kamu benar. Kita memang ambil jalan yang berbeda dari mereka. Tapi kemungkinan juga kita tersesat,” jawabnya sembari memandang ke atas. “Lihat, langit sudah berwarna keemasan. Sebentar lagi malam. Tapi kita tidak kunjung keluar dari hutan.”
Kening Gita berkerut. Ia tidak terima jika mereka tersesat. “Apa? Kita tersesat? Yang benar saja ...,” sahutnya sembari berdecak pelan. “Hei, hei bukannya kamu sering keluar masuk hutan ini. Rumahmu saja ada di atas pohon,” sambungnya mengingatkan.
“Gubuk milikku yang aku buat di atas pohon itu berada di pinggir hutan. Sedangkan kita benar masuk ke hutan.”
“Maksudmu kamu belum pernah masuk hutan ini?” Gita tidak percaya.
Lucas menggelengkan kepalanya. “Aku tidak ke mana-mana. Tidak ada tujuan.”
“Bukannya kamu ingin menemui profesor Ismunandar?” Gita kembali mengingatkan Lucas ketika ia berbicara dengannya.
“Aku memang ingin bertemu degannya. Kesohorannya sangat berdengung di telinga para ilmuan lainnya. Aku ingin meminta bantuannya. Tapi aku tidak tahu di mana rumahnya.”
“Ya ampun ...,” guman Gita kecewa. Ia duduk di atas tanah kering tanpa menghiraukan celana jeansnya kotor. “Jadi kamu tidak faham medan jalanan hutan ini?”
“Sayangnya aku tidak faham. Maaf membuatmu kecewa,” jawab Lucas sembari ikut duduk di atas tanah dengan daun-daun kering berserakan di atasnya. Ia melirik ke arah Gita yang berwajah murung. “Tapi kamu tenang saja, kita akan baik-baik saja ... Jika kita berjalan menuju ke timur, kemungkinan kita tidak akan tersesat karena arahnya bertolak belakang dengan matahari tenggelam.”
“Terus kita gimana? Langit sudah mulai malam ...,” kata Gita lirih sembari mengandahkan mukanya memandang langit dengan bintang yang bertaburan dan bulan purnama yang menggantung.
“Kita istirahat dulu di sini,” kata Lucas sambil berdiri dan kemudian memungut ranting-ranting pohon yang berserakan di sekitar mereka.
Gita mengamati Lucas yang memunguti ranting-ranting tersebut. “Kamu mau apa?”
“Buat api unggun. Kita akan bermalam di sini. Untung saja sepertinya cuacanya cerah,” jawab Lucas sembari membungkuk untuk mengambil beberapa ranting kering berukuran kecil dan sedang. Setelah ranting-ranting tersebut terkumpul, ia mengambil korek gas dari saku celananya dan menyalakan tumpukan ranting di depannya.
Tidak lama rasa hangat yang ditimbulkan oleh nyala api unggun pun terasa di tubuh Gita. Ia menatap kobaran api tersebut dengan tatapan menerawang. Ingatan tentang kematian ayahnya kembali muncul di benaknya. ‘Temui Profesor Ismunandar. Dia teman ayah yang bisa membantumu. Dia akan melindungi mu,’ kalimat ayahnya itu teringiang-ngiang di telinganya.
“Hei, ini makanlah ....” Lucas mengulurkan sebungkus roti lapis dan sekotak s**u.
Gita menoleh sekilas. “Tidak usah. Aku juga bawa,” jawabnya sembari mengambil tas ranselnya.
“Jadi isi tasmu juga makanan?” tanya Lucas sembari tersenyum simpul.
“Saat malam kita bertemu ... kamu menolongku itu aku sedang mencari persediaan makanan. Aku selalu menyimpan makanan di tas. Karena aku tahu dunia sedang kacau,” kata Gita dengan tatapan menerawang. “Kadang aku rindu suasana rumah yang hangat. Walau aku sudah tidak punya ibu sejak kecil, ayahku selalu memperhatikan aku dan beliau pintar memasak ...,” sambungnya sembari tersenyum.
“Pasti ayahmu menyayangimu ...,” kata Lucas yang juga sedang mengingat putrinya.
“Kamu juga pasti merindukan putrimu,” ujar Gita yang bisa merasakan kerinduan Lucas. “Sebentar lagi kamu pasti bertemu dengannya.”
“Bagaimana caranya aku bertemu dengannya? Sedangkan si penculik memintaku untuk membawa laporan penelitian dari ayahmu. Dan kemungkinan dia akan mencampur penelitian ayahmu dengan penelitianku.”
Hening.
Gita memandang Lucas dari arah sisi. “Memang apa yang terjadi jika dua penelitian digabungkan?”
“Sebuah penemuan baru,” jawab Lucas cepat.
“Aku tidak perah membayangkan ada di posisi ini ...,” kata Gita lirih. “Bisa menjadi incaran orang-orang jahat di pemerintahan ...,” lanjutnya sembari menghela nafas berat dan dalam. “Menurutmu Presiden tahu tentang negaranya yang kacau?”
“Presiden lebih percaya pada partai politik yang mengusungnya. Sayangnya Presiden tidak pernah mau turun untuk melihat fakta yang ada di lapangan,” jawab Lucas dengan raut muka kecewa.
“Katanya di Kota Parut, masih aman. Mungkin setelah kita bertemu dengan Profesor Ismunandar, kita bisa ke Kota Parut." Gita berharap. "Hm ... tentu saja dengan putrimu.”
“Semoga aku bisa secepatnya bertemu dengan Laura ...,” kata Lucas berdoa. Ia merentangkan tangannya ke atas dan ke samping. “Lebih baik kita tidur dan beristirahat.”
Gita mengangguk. “Kamu duluan saja,” jawabnya sembari mengambil biskuit dari dalam tas ranselnya. “Aku ingin makan ini.”
“Setelah keluar dari hutan ini, kita pasti akan makan nasi,” kata Lucas.
Gita tertawa pelan. “Tau saja kamu ... Kalau aku merindukan makan nasi.”
Lucas mengambil posisi menghadap api unggun dan kemudian memutuskan untuk tidur lebih dahulu. “Selamat malam.”
“Selamat malam,” jawab Gita sembari tersenyum hangat.
***
“Hari sudah malam, tapi kita tidak kunjung menemukan Gita dan Lucas!” seru Fahira sudah kelelahan. “Kita harus beristirahat,” sambungnya sembari terengah-engah. “Hei, kalian tolong buat api unggun,” pintanya kepada tiga prajurit.
Karena Fahira adalah satu-satunya atasan yang memiliki jabatan di antara mereka berlima, maka tiga prajurit itu segera menuruti keinginan Fahira.
“Kenapa kita tidak kunjung menemukan anak profesor Ismunandar dan Lucas?” tanya Fahira setengah menggerutu.
“Mereka mungkin sudah keluar hutan ini,” jawab Ethan singkat.
“Apa? Jadi sia-sia kita menjelajahi hutan?!” Fahira terlihat kecewa dan tidak terima.
“Harusnya kamu tidak usah ikut kami. Tidak ada yang mengajakmu kan. Kamu yang menginginkan untuk ikut.”
Fahira menatap Ethan. “Aku ikut sekalian untuk menelitimu. Ini buktinya jika ternyata kekuatanmu tidak terlalu hebat. Kamu tidak bisa menemukan mereka. Sepertinya aku harus memberikan serum suntikan lagi. Mungkin kamu harus memiliki kekuatan mata Elang.”
Ethan membalas tatapan mata Fahira. “Aku tidak mau mendapatkan suntikan lagi. Rasanya perih dan terbakar ketika serum itu menjalar di darah dan nadiku. Lagi pula kekuatan harimau dan Serigala sudah percampuran kekuatan yang bagus.”
Fahira memandang langit di atas mereka. Langit malam dengan hiasan bintang-bintang dan juga bulan yang penuh dan bulat. Sepasang matanya berbinar melihat hal tersebut. “Malam ini bulan purnama ...,” desisnya lirih. “Ethan bisa berubah malam ini. Kekuatannya akan lima kali bertambah. Semua inderanya semakin tajam,” lanjutnya pelan. “Ethan, malam ini kamu bisa mencium keberadaan Lucas dan Gita. Kita bisa menemukannya setelah kamu berubah menjadi manusia serigala ketika bulan purnama menggantung tepat di waktu tengah malam.”
Seulas senyuman kemenangan di wajah Fahira terhias. Ia sangat senang bisa menyaksikan secara langsung dan nyata kekuatan ciptaannya malam ini.