Tertangkap

1106 Kata
Tepat ketika jam dua belas malam, Ethan merasakan tubuhnya keras dan tertarik. Rasanya seluruh tubuh sangat gatal dan tiba-tiba lapisan kulit epidermisnya mengelupas. Ia berdesis menahan sakit. Suara gaduh dari balik semak-semak membuat indera pendengaran Fahira terusik. Ia membuka sepasang matanya dan memandangi ke sekeliling. Tiga orang prajurit yang sejak awal bersamanya, terlihat terlelap dengan nyenyak. Tapi di sekeliling api unggun yang mereka buat tidak ada Ethan. “Ethan ...?” panggil Fahira lirih. Tidak ada jawaban. Hanya suara sedikit gaduh dari balik semak-semak. Fahira beranjak dari tidurnya yang hanya beralaskan satu lembar selimut, dan mulai mendekati semak-semak yang tidak jauh dari tempatnya beristirahat. Kakinya perlahan melangkah dan mendekati semak belukar dedaunan yang tingginya sekitar satu meter. Dengan gerakan pelan, ia menyibak rimbunan dedaunan itu. Terkejut melihat Ethan yang meringkuk seperti posisi seekor kucing tanpa mengenakan baju. Fahira tidak bertanya atau memanggil nama Ethan kembali. Ia mengandahkan muka ke atas dan melihat bulan purnama yang bulat bersinar terang. “Dia akan berubah ...,” gumannya lirih. Tidak lama setelah Fahira berguman sembari memandang ke atas. Ethan tiba-tiba kembali berteriak. Tubuhnya mengejang. Bulu-bulu lebat berwarna kuning keemasan mendadak secara misterius muncul dari pori-pori kulitnya. Ia berteriak keras dan seketika bulu-bulu lebat yang sudah muncul dari kulitnya mendadak berubah dengan warna abu-abu. Netra Fahira membulat melihat pemandangan yang ada di depannya. Walau ia sudah pernah melihat perubahan Ethan sebelum-sebelumnya di ruang penelitian, tapi tetap saja setiap Ethan berubah menjadi mahluk lain, ia selalu terkesima. Setelah semua tubuhnya tertutupi bulu lebat berwarna abu-abu, Ethan yang sudah menjadi serigala besar itu setengah berdiri dan melolong kencang, memekakan telinga untuk siapa pun yang mendengarnya termasuk Gita dan Lucas yang berada sangat jauh. “Hei, Lucas ...,” panggil Gita dengan suara serak karena baru saja terbangun dari tidur. Lucas tidak merespon. Ia terlihat seolah masih tertidur. Gita memandangi punggung Lucas sembari memungut batu kerikil yang berserakan di dekatnya. “Pluk!” Ia melempari punggung Lucas dengan batu kerikil hitam yang dipegangnya. “Jangan melempari aku,” tegur Lucas tanpa menoleh. “Kamu sudah bangun?” Lucas membalik badannya. “Iya, aku sudah bangun. Ada apa?” “Apa kamu tidak mendengar suara teriakan seseorang yang disusul oleh lolongan serigala? Apa ada orang yang dimangsa serigala ya?” tanya Gita sembari membetulkan posisi rebahan menjadi duduk. “Mungkin orang yang mengejar kita sedang dimangsa serigala,” jawab Lucas menebak. Gita bergidik ngeri. “Ya ampun, ngeri sekali. Aku enggak bisa membayangkannya. Kulit dan daging yang tercabik.” “Tapi bukannya harusnya kita bersyukur kalau mereka di makan serigala, setidaknya tidak ada yang mencari kita kan?” Lucas terkekeh. Gita merasa hal ini tidak patut ditertawakan. “Memang sih mereka jadi tidak bisa mengejar kita. Tapi bagaimana jika serigala itu ke mari? Kita juga masih berada di tengah hutan.” Lucas mengusap mukanya dengan tangan dengan raut muka lelah dan kantuk. “Tenang saja. Aku membawa pistol. Sekali tembak serigalanya juga lumpuh,” jawabnya enteng. “Ya sudah, lanjut tidur saja.” “Tidur? Mana bisa aku tidur setelah habis mendengar suara jeritan orang yang dimakan serigala,” protes Gita. Lucas tidak mendengarkan keluhan Gita. Ia membalik badan dan menghadap ke arah berlawanan. Lagi-lagi memunggungi Gita. Gita menggerutu. Bisa-bisanya Lucas setenang ini, pikirnya. Ia segera beranjak dari tempatnya dan melipat alas selimut lebar yang digunakannya untuk tidur. Lalu memutari api unggun dan kemudian tidur di belakang Lucas. Lucas merasa ada seseorang di belakang punggungnya. Ia menoleh, “Hei sedang apa kamu di sini? Kenapa tidur di sini?” “Aku takut. Bagaimana jika serigala tadi menerkam ku saat aku tidur?” Gita bergidik ngeri. “Kalau tidur di dekatmu kan pasti kamu sadar semisal aku kenapa-kenapa.” Lucas hanya mengatupkan bibirnya. Tidak sedikit pun ia menjawab. Seolah membiarkan Gita untuk tidur di sisinya. Suara perbincangan Lucas dan Gita mampu didengar oleh Ethan yang kini sudah berubah menjadi manusia serigala. Ethan terdiam sebentar dan sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk seulas senyuman tajam. Membuat Fahira yang berada di depannya bertanya, “Ada apa? Apa yang kamu dengar?” Fahira tahu jika Ethan pasti mendengar sesuatu karena daun telinganya yang sudah dipenuhi bulu berwarna abu-abu itu bergerak-gerak. “Aku tahu mereka ada di sana ...,” katanya sembari menunjuk ke arah barat daya. Fahira mengikuti arah tangan Ethan menunjuk. Ia tidak bisa melihat apa pun karena tingginya pepohonan. “Maksudmu Lucas dan Gita?” Ethan mengangguk. “Iya, sepertinya itu pasti mereka. Aku mendengar suara pria dan wanita sedang berbicara,” jawabnya yang ketika malam purnama memiliki kekuatan super serigala hingga dua kali lipat dari kekuatan sebelumnya. “Aku akan ke sana!” “Ethan, aku ikut!” Ethan yang hendak berlari menghentikan langkahnya. Menoleh dan memandangi Fahira. “Kamu tunggu di sini. Lebih cepat jika aku sendirian mendatangi mereka. Tunggu di sini bersama tiga prajurit itu.” Fahira menggeleng. Netranya membalas pandang. Menatap wajah Ethan yang kini sudah penuh bulu-bulu lebat ala serigala. “Jangan melawan. Di sini aku yang berkuasa!” seru Ethan mengingatkan. “Tunggu di sini. Aku akan kembali,” sambungnya sembari berlari kencang ke arah barat daya dan menembus rimbunnya semak-semak. Dalam sekejap, seperti cepatnya hembusan angin menerpa, Fahira tidak bisa melihat Ethan lagi. Ethan seraya sudah menghilang ditelan cahaya bulan. Ia segera mendekati para prajurit yang masih tidur. Membangunkan mereka dengan kasar. “Hei, hei! Bangun!” Untung saja tidak butuh waktu lama, ketiga prajurit tersebut sudah membuka mata dan tanggap merespon. “Ada apa Nyonya?” “Ethan sudah lebih dulu mengejar Lucas dan Gita. Kita harus menyusulnya. Mungkin saja dia membutuhkan bantuan kalian.” *** Hanya dalam hitungan menit, dan dibantu dengan indera pendengaran yang sangat tajam. Ethan sudah sampai di tempat Lucas dan Gita beristirahat. Keempat kakinya menapak gagah di atas tanah yang sama. Netranya yang berwarna merah mengamati tajam. Gita mendengar suara sayup-sayup eraman hewan dan aroma khas binatang buas yang tak biasa. Netranya yang sudah kembali terpejam dan lengket itu berusaha dibuka. Pupil matanya dilebarkan. Lalu betapa terkesiapnya ia ketika melihat seekor serigala berdiri mengawasi. Mulut Gita terbuka lebar. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Lucas yang ada di sampingnya. Lucas merasa terganggu. Ia mengibaskan tangan Gita. “Lucas ... bangun ...,” panggil Gita lirih. “Hm ... Ada apa lagi sih?” tanya Lucas dengan suara seraknya. “Lucas ... bangun ...,” panggil Gita sekali lagi. Ia tidak berani berteriak karena takut justru memancing serigala yang ada di depannya ini mengamuk. Ethan yang dipikir Gita memang serigala sungguhan berjalan mendekat. Gita gemetar. Tangannya terus menggoyang-goyangkan tubuh Lucas agar secepatnya bangun dari tidur dan melawan serigala besar ini. “Lucas ... lihat yang ada di depan kita ... Serigalanya besar sekali ...,” ucapnya lirih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN