Lucas yang badannya diguncang-guncangkan oleh Gita segera terbangun dari tidurnya. “Ada apa?”
“Lihat di depan,” kata Gita menunjuk.
Seekor serigala besar berdiri dengan empat kakinya, bulu-bulunya berwarna abu-abu keperakan. Sebelumnya Lucas tidak pernah melihat serigala sebesar ini.
Mereka berdua tercengang melihat binatang buas yang siap menyantap mereka.
Ethan yang kini menjelma sebagai serigala melangkah semakin mendekat pada Gita dan Lucas. Ia seperti pernah bertemu dengan Gita, tapi entah di mana.
“Tolong jangan makan aku,” ucap Gita memohon dengan wajah takut dan pucat.
Lucas yang menyadari bahaya akan segera menyergap mereka. Segera mengambil pistol yang selalu berada di dekatnya.
Senjata laras panjang itu pun segera diarahkan ke serigala yang besarnya tidak lazim. Sepasang matanya memicing dan menatap tajam ke arah Ethan.
Jari telunjuk Lucas berada di tengah pemantik pistol dan akan melepasnya. Seketika timah panas meluncur cepat ke arah target.
“Dor!”
Peluru itu pun tembus mengenai daging di tubuh serigala berbulu abu-abu keperakan. Cipratan darah tersembur dari badannya seketika.
Suara letusan senjata api memekakan telinga. Jantung Gita seraya berhenti berdetak ketika mendengar kerasnya peluru yang menembus tubuh besar serigala tersebut.
Suara letusan pistol itu pun sampai di indra pendengaran Fahira. “Hei, apakah kalian mendengar suara itu?!” serunya bertanya kepada tiga prajurit yang mengawalnya.
“Ya aku mendengarnya jawab salah satu prajurit.”
“Astaga jangan-jangan itu adalah Ethan!” seru Fahira cemas.
“Kenapa anda cemas nyonya bukankah Ethan memiliki kekuatan lebih daripada manusia biasa?”
“Kau benar tentang Ethan telah kekuatan lebih dari manusia biasa, tapi lawannya juga memiliki kekuatan super. Lucas tak bisa kita remehkan,” jawabnya sembari berjalan lebih cepat dari pada sebelumnya menuju ke arah sumber suara yang diperkirakan di sanalah Ethan sedang menyerang Lucas dan Gita.
Mendapatkan tembakan dan badannya tertembus peluru namun hal itu tidak membuat Ethan lumpuh dan mati. Tubuhnya tetap kuat berdiri gagah sembari melangkah mendekat ke arah Gita dan lucas.
Lucas dan Gita terkejut melihat ada seekor serigala yang tidak tumbang walau tertembak.
Lucas pun berusaha melesatkan timah panah kembali ke arah Ethan.
Peluru dari laras panjang pun mengenai di badan Ethan untuk kedua kalinya. Tapi seperti sebelumnya Ethan pun tidak kunjung tumbang. Iya tetap berdiri tegak, sembari menatap tajam dan melangkah semakin dekat.
Gita semakin gemetaran ketika mengetahui serigala besar itu tidak mudah dilumpuhkan.
Lukas mengajak untuk berdiri dan kemudian menarik lengan Gita untuk bersembunyi di belakangnya.
“Jangan dekati kami wahai serigala! Jika tidak kamu akan mati di tanganku!” ancam Lucas dan kembali menembakkan pistol ke arah Ethan.
Tapi seperti sebelum-sebelumnya, timah panas yang sudah menembus tubuh terbalut bulu lebat berwarna abu-abu keperakan tidak berpengaruh sama sekali.
Ini untuk yang keempat kali Lucas ingin melesatkan timah panas dari senjata laras panjang yang dipegangnya.
“Sudah jangan coba-coba kamu untuk menembakku lagi! Aku tidak akan mudah dilumpuhkan!”
Tentu saja Lucas dan Gita amat terkejut ketika mendengar suara tegas dan berat yang keluar dari mulut serigala besar yang ada di depan mereka.
“Serigala itu bisa berbicara,” ucap Gita dengan terbata-bata.
Sama seperti halnya dengan Gita, Lucas pun terkejut dengan hal yang tidak lazim ini. “Ka-kamu bukan serigala biasa,” ucapnya gugup.
Ethan melompat dan akan menerkam. Ia tidak akan menyakiti Gita dan Lucas karena memang diperintahkan untuk menangkap mereka hidup-hidup.
Ethan meraum seperti harimau ketika melompat dan menerkam. Ia akan mengunci Gita dan Lucas di bawah terkamannya.
Sekali lompat, Lucas dan Gita tertindih oleh tubuh berat Ethan. Mereka tidak bisa berkutik.
Gita dan Lucas mendorong tubuh Ethan untuk menyingkir. Tapi mereka sama sekali tidak kuat untuk menendang atau menyingkirkan tubuh berat serigala besar ini.
Mereka mulai sesak nafas karena ditimpa.
“Lu ... Lucas ... Apa kamu tidak bisa membuat serigala ini menyingkir dari atas kita? Ayo keluarkan kekuatan supermu!” Gita mengingatkan.
“Serigala ini bukanlah serigala biasa. Dia serigala jadi-jadian. Apa kamu tidak dengar suara raumannya? Itu adalah suara harimau. Bukan suara serigala.”
Raut muka Gita semakin pucat karena apa yang mereka alami pasti hal buruk.
Di bawah tubuh Ethan yang masih menjelma sebagai serigala besar. Indra pendengaran Gita dan Lucas menangkap suara beberapa derap kaki yang mendekat.
Mereka bertatapan. Seolah memperingatkan satu sama lain Jika ada yang datang.
Kerja yang bagus Ethan, puji Fahira sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah karena kelelahan berlari dari kejauhan.
Ethan segera menyingkir dari atas tubuh Lucas dan Gita. Ia mempersilahkan tiga prajurit berseragam hitam mengambil alih tugasnya.
Akhirnya Gita dan Lucas bisa bernafas bebas, tak sesak lagi setelah Ethan menyingkir dari atas tubuh mereka.
Masih dalam keadaan lemas dan mencari-cari oksigen, kedua tangan Lucas dan Gita ditarik oleh para prajurit dan kemudian mengikat mereka dengan tali seperti kabel.
“Hebat kamu Ethan. Ciptaanku memang luar biasa,” kata Fahira memuji.
“Jadi benar serigala besar itu adalah jadi-jadian? Kamu yang menciptanya secara genetik?” Lucas bertanya dengan tatapan tak percaya. Kedua tangannya kini sudah terikat sama seperti Gita.
Fahira menoleh ke arah Lucas. Menatap Lucas lekat sembari tersenyum. “Hai, kamu ilmuan bernama Lucas bukan?”
Lucas tidak menjawab. Karena ia tahu, tak menjawab pun sama saja. Wanita dengan rambut cokelat kemerahan dan dikuncir kuda ini pasti sudah tahu jawabannya.
“Salam kenal,” lanjut Fahira menyapa sembari tersenyum ramah. Wajah cantik Fahira bisa menipu semua orang. Pasti banyak orang yang mengira jika dia adalah wanita cerdas yang baik hati dan berada di jalan kebenaran. “Aku mendengar semua kisah hebatmu. Aku akui ... Aku kagum denganmu. Walau penelitian terakhir kamu gagal total. Tapi menurut aku, sebetulnya kamu sangat hebat. Kegagalan kamu saja bisa menciptakan sebuah inovasi yang luar biasa. Sebuah kekuatan ....”
Hening.
Semua mata menatap ke arah Fahira dan Lucas yang saling memandang satu sama lain.
Seolah setelah ini akan terjadi sebuah perkelahian kembali dengan perang dingin di antara dua kubu.
“Tapi ternyata inovasi mu, tidak lebih baik dari ku. Lihat, sekarang ... Kamu kalah. Kamu tidak mampu melawan Ethan. Ciptaanku ....”
“Kamu menciptakan monster,” kata Lucas dengan sepasang mata mendelik.
Fahira tersenyum tipis. “Aku tidak menciptakan monster.”
“Serigala besar dengan kekuatan super? Binatang tidak memiliki hati. Suatu saat dia akan memangsamu.”
Kembali hening sebentar. Hingga suara tawa Fahira menggelegar. “Oh jadi kamu pikir begitu? Aku menciptakan sebuah kekuatan dari sampel dasar seekor hewan? Hahaha ... Kamu salah Lucas ....”
Kening Lucas berkerut. Ujung kedua alisnya beradu.
“Ethan ...,” panggil Fahira lirih. Ia berjalan mendekati dan mengusap bulu lembut lebat di atas kepala Ethan. Lalu kepalanya mengandah dan memandang langit malam. Bulan purnama yang menggantung itu kini akan tertutup awan gelap.
Fahira sadar jika sebentar lagi Ethan akan berubah kembali menjadi manusia setengah harimau. Mahluk yang lebih manis dan sedikit manusiawi dari pada menjadi manusia serigala.
Tepat ketika bulan seutuhnya tertutup oleh langit malam. Ethan melolong dan kemudian berlari ke arah semak-semak tinggi.
Lucas dan Gita menatap heran. Apa lagi semak-semak belukar dengan rumput tinggi itu bergoyang hebat. Seolah telah terjadi sesuatu di sana.
Ketika rumput tinggi di semak-semak tidak bergoyang lagi, Fahira melemparkan satu celana ke sana.
Lucas dan Gita semakin aneh melihatnya.
Tidak lama kemudian Ethan muncul dari balik semak-semak belukar dengan wujud manusia biasa dan mengenakan celana hitam yang tadi dilemparkan Fahira. Bagian atas tubuhnya bertelanjang dadaa.
“Serigala besar tadi sebetulnya adalah manusia, Lucas ....” Fahira memberitahu dengan bangga. Seolah penemuannya adalah hal paling luar biasa yang pernah ada di sepanjang sejarah para ilmuan cerdas.
“Jadi, serigala tadi ... Dia manusia?” tanya Lucas lirih.
Fahira tersenyum puas.
Netra Gita membulat, memandang terkesiap pria yang berdiri di depannya. Ia sangat kenal dengan pria itu. Dia adalah guru IPA di sekolahnya dahulu. “Pak Jonas? Ba-bagaimana bisa anda berkomplot dengan penjahat?!” serunya tak percaya.