Semua orang terkejut mendengar kata-kata Gita. Siapa yang menyangka jika ternyata dia mengenal sosok Ethan yang dahulu.
“Kamu mengenalku?” tanya Ethan pada Gita.
Gita menganggukkan kepalanya. “Iya, saya mengenal Bapak. Bapak guru Biologi saya ketika saya masih SMA,” jawabnya pada pria berusia dua puluh sembilan tahun itu.
“Jangan dengarkan dia Ethan!” sentak Fahira. “Dia berbohong!”
“Aku tidak berbohong!” Gita tidak kalah bersuara nyaring.
“Kamu salah. Dia adalah ciptaanku? Dia bukan guru mu! Semua orang yang tinggal di kota sudah binasa!” Fahira mengingatkan lagi.
“Mungkin aku salah orang tapi wajah teman satu kloni mu ini memang mirip guruku.” Gita bersikukuh.
Ethan memandangi Gita dengan tatapan menerawang. Bagaimana jika apa yang dikatakan oleh gadis di depannya ini memang benar? Bagaimana jika masa lalu yang tak pernah diingat olehnya itu ternyata memang seorang guru di sebuah sekolah swasta. Pasti Gita bisa membantunya mengetahui siapa saja keluarganya.
Kerongkongan Fahira terasa kering. Ia tidak menyangka jika dunia yang amat luas ini ternyata sempit. Bisa-bisanya Gita mengenal sosok Ethan di masa lalu? batinnya.
Satu tahun yang lalu, seorang pria datang ke rumah sakit. Mengeluhkan bekas suntikan vaksin yang ada di bagian lengan atasnya melepuh hingga mengeluarkan nanah. Tubuhnya kejang dan kaku setelah mendapatkan pertolongan pertama di IGD.
Dia mati suri selama tiga belas hari dan terbangun dalam keadaan lebih kuat sebelumnya. Mengamuk dan merusak fasilitas kamar ruang inap yang ditempatinya.
Dokter Doni yang menangani pria tersebut dan tak lain adalah teman Fahira. Dia segera menghubungi Fahira untuk menolong dan bertanggung jawab atas efek samping vaksin yang dibuat oleh dia dan teman satu teamnya.
Akhirnya Fahira dan lima orang yang tergabung dalam team dalam pembuatan vaksin bernama cusson tersebut, datang ke rumah sakit memenuhi panggilan dari dokter Doni. Bukannya menolong di rumah sakit, Fahira dan komplotannya justru membawa pria malang itu menuju markas besar penelitian rahasia milik Mr. Mun.
Fahira menoleh ke samping, memandangi Ethan lekat sambil mengenang masa lalu kelam yang pernah dialami Ethan dahulu.
Dan semua itu adalah salahnya.
Mr. Mun meminta pria yang mengalami efek samping dan menjadi kuat itu diteliti lebih lanjut. Karena dia bisa dijadikan senjata biologis.
Ilmuan dari perusahaan Umberella Orzya, yang membuat vaksin Azatea sengaja membuat kesalahan di dalam vaksin milik mereka agar pada penduduk di negara ini punah.
Mengetahui desas desus yang memang ternyata fakta, Mr. Mun mengambil kesempatan untuk mempergunakan para ilmuan hebat untuk bergabung dan melawan perusahaan Umberella Oryza yang dibiayai oleh negara P.
Jika seluruh penduduk di negara ini mati, tanpa perang yang berarti. Maka seluruh isi dan kekayaan hayati yang terkandung di dalamnya bisa segera dieksploitasi oleh negara P.
“Apa yang dia katakan benar?” Suara Ethan yang bertanya mengejutkan Fahira dan membuyarkan lamunannya. Ia kembali fokus.
“Ti-tidak. Apa yang dikatakan Gita tidak benar.” Fahira tidak mau mengakui karena takut Ethan membencinya.
“Kamu tahu namaku?!” Sepasang mata Gita terbelalak. Ia terkesiap ternyata Fahira mengetahui namanya.
Melihat kepanikan yang diperlihatkan oleh Gita. Fahira mendekat, “Kamu takut pada kami? Jangan salah faham. Kami tidak akan menyakiti kamu,” tuturnya. "Aku tahu riwayat kehidupan dan silsilah keluarga mu."
“Bagaimana aku tidak takut padamu? Orang-orang kamu menembaki kami kemarin pagi. Seolah menginginkan kami mati.”
Fahira menatap Gita dan Lucas bergantian. “Menembaki kalian?” tanyanya tidak mengerti. Karena setahunya, Mr. Mun menginginkan Gita dan Lucas ditangkap hidup-hidup untuk dijadikan objek penelitian. Mempelajari mekanisme tubuh Lucas dan memaksanya memberitahu campuran bahan-bahan kimia dan obat-obatan apa saja yang bisa membuatnya menjadi kuat tak tak tertandingi. Tubuhnya terlihat biasa saja seperti manusia pada umumnya. Tapi kekuatannya sangat luar biasa.
“Kami memang ditembaki oleh kloni kalian!” seru Lucas menambahi. “Kenapa kamu menjadi terkejut begitu?!”
Fahira tidak ingin berdebat. Mereka sudah melaksanakan perintah dengan benar dan membawa target yang diinginkan. Waktunya mereka pulang segera. “Kalian jaga mereka!” perintahnya kepada ketiga prajurit yang tampak setia.
Ketiga prajurit tersebut menganggukkan kepala mantap. “Siaaap!” serunya dan kemudian segera bersiaga di dekat Lucas dan Gita.
“Kita langsung berangkat pulang?” Ethan bertanya.
Fahira menoleh. Ia menggeleng. “Besok pagi saja. Kita juga lelah kan. Lebih baik malam ini kita beristirahat. Yang penting mereka di jaga baik-baik. Jangan sampai kabur,” jawabnya dan kemudian menatap ke arah api unggun yang masih menyala. Ranting-ranting kering itu dilalap api dengan rakusnya dan perlahan-lahan menyisakan abu. Membuat pikirannya sejenak melayang kembali ke masa silam.
Fahira memunguti ranting-ranting dan dedaunan kering yang berserakan tak jauh dari mereka untuk menutupi kegelisahannya. Sembari menunduk, ia memikirkan tentang Ethan. Ia tidak ingin Ethan mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Bagaimana jika Ethan tahu tentang fakta jika dia ikut andil dalam memudarkan jati diri pria itu di masa lalu? Pasti Ethan membencinya, pikirnya resah.
Ethan duduk di atas tanah tanpa alas. Ia memandangi Gita.
Gita yang merasa jengah ditatap lama, merasa tidak nyaman. “Kenapa kamu melihat ku terus menerus? Memang kamu tidak pernah melihat wanita cantik?” tanyanya ketus.
Lucas nyaris tertawa mendengarnya. Suasana genting seperti ini bisa terasa lucu dengan hadirnya Gita bersamanya. “Sepertinya serigala jadi-jadian setengah harimau itu menyukai kamu,” bisik Ethan menggoda.
Gita mengerutkan dahinya. Tentu saja ia tidak suka dengan apa yang diucapkan Lucas walau hal itu hanya sebuah candaan. “Apa yang kamu katakan tidak lucu!” pekiknya lirih. Lalu pandangan matanya kembali lagi pada Ethan yang sudah lima menit memandanginya tanpa berkedip. “Hei, jangan melihatku seperti itu! Enggak sopan.”
“Apa kamu memang mengenalku?” tanya Ethan ingin mengorek keterangan Gita yang mungkin saja memang mengenalnya di masa lalu.
Hening sesaat.
Gita membalas menatap lekat Ethan. Memperhatikan bentuk wajahnya yang tampan. Berkulit mancung dan berkulit sawo matang, tampak macho dan maskulin. Ya pria di depannya ini memang mirip dengan guru Biologinya di masa SMA.
Saat SMA dulu, bahkan ia pernah menyukai guru biologinya itu.
“Hei, kenapa tidak menjawab pertanyaanku?” tanya Ethan dengan nada suara lebih tinggi dari pada sebelumnya.
Lucas menatap tajam Ethan. Ia tidak suka mendengar suara tinggi membentak Gita.
“Guru biologi aku memang mirip dengan kamu. Tapi entah memang mirip atau memang ... Itu kamu?” jawab Gita sembari menatap. “Memangnya kamu tidak ingat tentang dirimu sendiri? Siapa kamu dan jati dirimu?”
Ethan diam sesaat. Tidak langsung menjawab. Menggeleng pelan. “Aku tidak ingat apa-apa.”
Lucas dan Gita ikut diam. Mereka terkejut.
Terjadi keheningan kembali. Mereka hanya saling menatap satu sama lain.
Gita melirik ke arah Fahira yang berada sedikit jauh dari mereka. Dia sedang memunguti ranting-ranting dan dedaunan. ‘Apa perempuan itu telah membohongi Ethan? Dia menutupi sesuatu fakta dari orang yang telah diubahnya menjadi monster,” ucapnya di dalam hati.
“Jadi kamu tidak ingat apa pun tentang kehidupan kamu sebelumnya?” tanya Lucas memastikan. “Biasanya ada prosedur yang harus dijalani sebelum penelitian bila inangnya adalah manusia. Maka harus ada persetujuan kesadaran diri sendiri untuk diteliti dan dieksploitasi. Jika tidak, penelitian itu telah melanggar hak asasi manusia,” sambungnya menjelaskan.
Ethan diam. Bibirnya terkatup rapat dan netranya beralih memandang ke arah Fahira yang kini telah mendekap beberapa ranting pohon.