Fahira terlihat sibuk dengan ranting-ranting yang ada di dalam dekapannya. Netranya menangkap mata Ethan, Gita dan Lucas yang melihat ke arahnya berdiri.
Jantungnya sedikit berdetak lebih cepat karena merasa pernah melakukan salah. “Kenapa kalian kompak melihatku seperti itu?” tanyanya sambil berjalan mendekat. Lalu menaruh ranting-ranting yang telah dikumpulkannya tadi ke dalam api unggun yang sudah berkobar.
Tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan Fahira.
Fahira memandangi satu persatu wajah-wajah yang masih memandanginya tajam. Lalu duduk santai di dekat Ethan seakan tanpa beban. “Kini aku seperti orang asing dan kalian bertiga satu grup. Kenapa cara memandang kalian kepadaku sama?” protesnya tak suka. “Terutama kamu Ethan. Aku tidak rela jika kamu memandangiku seolah aku ini penjahat. Kita di posisi yang sama,” sambungnya pada Ethan.
“Aku juga seperti mengenal dia,” kata Ethan sembari menunjuk Gita dengan dagunya..
Fahira mengatupkan bibirnya dan menelan ludah. Kerongkongannya terasa kering karena rasa ketakutan Ethan akan mulai ingat.
“Itu hanya perasaanmu saja,” jawab Fahira sembari membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajah, berbisik pada Ethan. “Bisa saja semua yang dikatakannya hanya kebohongan. Jangan percaya dia.”
Ethan yang semula sedikit mulai percaya kembali merasa ragu karena pengaruh Fahira. Satu-satunya orang yang dipercayainya di markas penelitian.
“Kita istirahat saja. Besok kita lanjutkan perjalanan pulang. Aku tahu hari ini kamu pasti lelah,” kata Fahira sembari menepuk bahu Ethan.
Lagi-lagi Ethan menurut. Ia mulai merebahkan diri di atas selembar selimut tipis, bekas tempat yang dipakai Lucas tidur sebelumnya. Sedangkan Gita dan Lucas tidur bersama berdampingan dengan tangan terikat tak jauh dari Ethan dan Fahira.
“Manusia serigala yang mirip guruku itu tampaknya seperti seekor sapi yang dicucuk hidungnya oleh ilmuwan wanita itu,” ujar Gita berpendapat. "Menurut dan percaya saja."
“Namanya Ethan, dan yang wanita bernama Fahira.” Lucas yang berbaring berhadapan-hadapan dengan Gita menimpali. “Aku pun merasa begitu. Kasian, manusia serigala dan setengah harimau itu seperti mainan.”
“Hei, aku mendengar apa pun yang kalian bicarakan. Bisa kalian menghargai aku?” tegur Fahira sembari melipat kedua tangannya di depan d**a.
Lucas dan Gita menoleh. Menatap sepasang kaki yang berdiri di ujung kaki mereka. Lalu pandangan mata mereka merambat ke atas. “Kamu mendengar kami?”
Lucas seolah menggoda Fahira agar dia merasa kesal.
“Sangat jelas aku mendengarnya. Kalian pikir aku tuli?”
“Ya mungkin saja begitu,” timpal Lucas kembali. “Lihatlah Ethan peliharaan mu itu tidak mendengar apa pun selain suara dengkurannya sendiri.”
Fahira menghela nafas panjang. Seolah menahan kekesalan. “Dari pada tenaga kalian digunakan untuk membicarakan orang lain. Lebih baik kalian berisitirahat. Hal tersebut lebih berguna untuk kalian. Karena setelah sampai di markas besar Mr. Mun kalian akan diteliti. Mungkin tubuh kalian akan dibagi-bagi menjadi beberapa bagian,” ucapnya sembari tertawa.
“Lebih baik memang kita tidur, Lucas. Terjaga seperti ini akan membuat kita kurang tidur dan kondisi kita akan kurang segar,” kata Gita yang mulai memikirkan rencana melarikan diri. Tali yang mengikat tangannya dan tangan Lucas terlihat tidak kuat dan erat. Ia memiliki pisau lipat kecil di bagian dalam pinggir sepatunya.
Pisau lipat itu memang senjata yang selalu dibawanya untuk membela diri ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“Baiklah, kamu tidur duluan saja,” kata Lucas pada Gita.
“Selamat malam,” ujar Gita dan kemudian terpejam.
Satu jam kemudian telah terlewati bersama keheningan malam yang menenangkan.
Lucas tidak bisa terlelap. Ia menggesekkan kedua tangannya agar tali yang mengikat pergelangan tangannya itu terlepas. Namun ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Netranya melirik ke arah sekitar. Tiga prajurit duduk di tiga titik sembari memejamkan mata. Perlahan tapi pasti suara nafas teratur terdengar. Menunjukan mereka telah terbang ke alam mimpi.
Lalu pandangan mata Lucas memandang ke arah belakang punggungnya. Ethan lebih parah terlelapnya. Dia tampak seperti orang mati. Sedangkan Fahira seperti seorang putri tidur cantik yang berposisi miring sembari menghadap ke arah Ethan yang terbaring terlentang.
“Hei, aku punya pisau lipat kecil di dalam sepatuku,” kata Gita memberitahu. Suaranya sangat lirih nyaris berbisik.
Lucas kembali menatap Gita. Ia terkejut ternyata Gita hanya pura-pura terpejam. “Aku kira kamu sungguhan sudah tidur,” katanya dengan suara tak kalah pelan dengan suara yang keluar dari mulut Gita.
“Kamu pikir, aku bodoh hanya diam saja? Dan pasrah besok pagi kita akan dibawa ke markas besarnya mereka? Menjadi objek penelitian?” sungut Gita sembari menarik kedua kakinya. Melipat lututnya di depan perutnya. “Cepat ambil pisau lipat ku yang ada di dalam sepatu.”
Lucas menggerakkan kedua tangannya yang terikat mendekati sepasang kaki Gita. Kedua kaki Gita kondisinya juga sama-sama diikat. Lucas meraba sepatu boots dengan tinggi di atas mata kaki. Sepatu tersebut berbahan kulit sapi dan tampak kotor.
Jari Lucas mengorek bagian dalam sepatu. Lalu, ketika kulit jarinya merasakan ada sesuatu yang keras, ia mulai menariknya.
Seulas senyuman puas terhias di wajah Lucas. Ia menjepit pisau lipat tersebut. Mendekatkan pisau tersebut ke arah tali yang mengikat kedua pergelangan tangan Gita.
Gita merasa lega ketika melihat tangan Lucas memotong tali yang mengikat pergelangan tangannya.
Sedikit membutuhkan waktu untuk melepaskan tali tersebut karena pisau lipat yang digunakan tidak besar. Tapi dengan kesabaran dan kesungguhan akhirnya tali tersebut dapat dipotong dan terurai.
Gita merampas pisau yang masih dipegang oleh Lucas. Memotong tali yang mengikat kedua kakinya dan kemudian memotong ikatan tali di pergelangan tangan dan kaki Lucas.
Kini mereka sudah bebas.
Lucas segera beranjak berdiri. Mengulurkan tangan pada Gita untuk membantunya berdiri.
Lucas mengambil tas miliknya. Begitu pula dengan Gita. Mereka bersiap-siap pergi. Tapi sayangnya senjata laras panjang milik Lucas tak bisa dibawa.
Lucas menatap senjata laras panjangnya tersebut, berada tak jauh dari kepala Fahira dan Ethan. Jika ia mengambilnya, kemungkinan Ethan dan Fahira akan terbangun.
“Hei, ayo ...,” ajak Gita dengan suara lirihnya. Bahkan suaranya itu seperti sebuah angin cepat yang segera menghilang.
Lucas berdecak kesal karena harus merelakan satu-satunya senjata api yang dimiliknya. Satu-satunya senjata api untuk membela diri.
Lucas membalik badan. Ia menggenggam tangan Gita dan mereka berlari bersama.
“Kenapa aku tidak kamu gendong saja?” tanya Gita sembari berlari cepat. “Kan kalau aku kamu gendong, kita akan lebih cepat.”
Lucas menghentikan langkah lebarnya. Gita pun demikian.
Lucas sedikit berjongkok dan menepuk bahunya. “Sini, aku gendong,” katanya sembari menawarkan punggungnya yang tampak lebar dan hangat.
Melihat Lucas menuruti keinginannya, Gita manahan senyum dan mulai memeluk punggung Lucas. Melingkarkan kedua tangannya di leher pria tampan tersebut.
“Pegangan yang erat,” ucap Lucas pada Gita dan kemudian mulai berlari bak angin.
Namun ketika mereka melewati semak-semak tinggi, lengan atas Gita tidak sengaja mengenai satu tanaman berjenis pakis yang berukuran besar. Tanaman tersebut memiliki dedaunan bergerigi. Membuat lengan Gita tergores, terluka dan mengeluarkan darah.
Darah yang menetes dari lengan Gita perlahan tapi pasti jatuh dan membasahi tanah.
“Tes!”
Suara tetesannya itu terdengar hingga ke telinga Ethan. Indera penciumannya pun mengendus aroma anyir darah Gita. Hanya sedikit darah saja, hidung Ethan mampu menciumnya.
Sepasang mata Ethan terbelalak dengan gerakan cepat. Seperti dia baru saja bermimpi buruk.
Ia langsung menoleh ke arah sisi. Terkejut melihat Lucas dan Gita tak ada di tempatnya. “Mereka kabur!” teriaknya menggelegar.