Suara Ethan menggelegar hingga membangunkan seluruh orang yang ada di sekitar api unggun.
Fahira segera membuka matanya dan beranjak berdiri saat melihat memang kita dan Lucas tidak ada di tempatnya. “Bagaimana mereka bisa kabur?” teriaknya dengan suara yang sangat nyaring.
Tiga orang prajurit yang bertugas menjaga di tiga titik pun mulai panik dan takut dipersalahkan atas kelalaian mereka.
“Cepat cari mereka!” teriak Fahira sekali lagi.
Ethan yang bisa mengendus aroma tetesan darah dari lengan Gita yang terluka menunjukkan arah sebelah timur. “Mereka berada di sebelah sana!” ucapnya lugas dan dengan raut muka tegas. “Dia berdarah ...,” lanjutnya memberitahu.
Fahira memasang wajah muram dan dengan tetapan datar, juga bibir yang terkatup rapat. Sejenak meresapi ekspresi Ethan yang sangat serius.
Namun setelah itu ia justru berteriak kepada tiga prajurit yang di rasanya sangat lamban dan bodoh. “Hai kenapa kalian diam saja? Apa kalian tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Ethan jika Lucas dan Gita ada di sebelah sana?”
Setelah Fahira marah besar barulah prajurit-prajurit tersebut berlari ke arah yang ditunjuk oleh Ethan. Lalu Fahira mengekor di belakang mereka. Sedangkan Ethan yang masih berada di ujung hanya diam dan memejamkan mata. Indra pendengarannya digunakan untuk mendengar secara seksama derap kaki Gita dan Lucas mengarah ke arah sebelah mana.
Dengan kekuatan super yang dimiliki olehnya Ethan berlari kencang seperti angin menuju ke tempat Gita dan Lucas berada.
***
Lucas yang berlari seperti angin sembari menggendong Gita, akhirnya sudah keluar dari hutan sebelah timur. Jalan raya lebar yang sangat sunyi dan gelap terpampang lebar di depan mata.
Gita sedikit senang melihat jalan raya itu. Mereka telah keluar dari hutan. “Kita sudah berada di perbatasan kota B,” ujarnya dengan wajah sumringah.
Lucas tidak menjawab pertanyaan Gita. Ia fokus memandang ke arah depan, dan masih ingin lari sejauh mungkin karena ia tahu jika Ethan, Fahira dan tiga prajurit berseragam hitam-hitam tersebut pasti akan mengejarnya cepat atau lambat.
Lukas tidak memilih berlari menyusuri jalan raya yang sunyi. Tapi ia justru menyebrang ke arah hutan yang ada di seberang mereka.
“Kenapa kita lewat sini?” Gita memprotes
“Jika kita melewati jalan raya pasti Ethan, Fahira dan tiga prajurit yang tadi, akan menemukan kita dengan mudah.”
“Oh ya kamu benar baiklah aku ikut saran kamu saja,” jawab Gita pasrah
Tepat ketika Lucas dan Gita sudah tenggelam ke dalam tengah hutan. Ethan keluar dari tepi hutan yang sebelumnya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Memastikan jika Lucas dan Gita memang tidak ada di sana. Tapi ia tidak begitu mudah menyerah, ketika menemukan fakta dua orang yang dicarinya memang sudah lenyap bagai ditelan kegelapan malam.
Etan menghela nafas dalam-dalam untuk menghirup aroma darah Gita, karena aroma anyir darah tersebut sudah mulai tercium samar-samar.
*
Lucas merasakan lengan bajunya sedikit basah. Ia melirik ke arah lengan bajunya tersebut dan melihat ada noda darah bebercak di sana. “Gita, Apa ada yang berdarah dari kamu?”
Gita menyadari jika lengannya terasa perih. “Sepertinya tanganku berdarah.”
Lucas segera menghentikan langkah lebarnya. Ia menurunkan Gita yang sejak tadi digendongnya. “Coba aku lihat!” serunya sembari menarik tangan Gita.
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Kamu tidak usah cemas. Hanya luka sedikit.”
Lucas segera merobek ujung kaos bajunya, dan kemudian melilitkan ke bagian lengan atas Gita. “Bukan masalahnya luka kamu ini hanya sedikit. Lukamu berdarah. Ethan memiliki kekuatan super. Kemungkinan dia bisa mengendus aroma anyir darah yang lenganmu yang terluka ini,” jawabnya sembari membuat simpul pita setelah selesai membalut luka tersebut.
“Hah? Maksudmu Ethan bisa mengendus aroma darah seperti seorang vampire?” tanya Gita dengan raut muka terkesiap.
“Ini hanya dugaanku saja. Karena biasanya jika ilmuan meneliti, maka dia akan mencampurkan semua kekuatan. Termasuk kemungkinan Ethan bisa mengendus aroma anyir darah. Jika musuhnya kabur, dia bisa mencarinya.”
Hening. Gita mendengar seksama penjelasan Lucas. “Jadi Ethan bisa mengejar kita?”
Lukas mengganggu kepala dengan mantap. Iya pasti dia bisa mengejar kita karena mengendus aroma anyir dari lukamu itu. Tapi tenang saja sekarang kamu sudah aman. Kita harus segera sampai di jantung Kota B untuk menemukan profesor Ismunandar.
Ia kembali berjongkok dan menawarkan punggungnya untuk dinaiki oleh Gita.
Gita tersenyum simpul tersembunyi melihat kebaikan Lucas padanya. Tanpa ragu, ia kembali memeluk punggung Lucas dan melingkarkan lengannya di pundak Lucas agar tak terjatuh ketika Lucas berlari.
*
Ethan hampir mengendus kembali aroma anyir darah Gita. Namun aroma itu tiba-tiba semakin samar dan kemudian menghilang.
Ia menarik nafas panjang dan kecewa. Mencoba mengendus kembali dan berusaha menemukan aroma anyir darah yang tadi sudah didapatkannya. Tapi sayang ia tidak bisa menemukan aroma anyir itu lagi.
“Bagaimana?!” Suara Fahira yang bertanya terdengar keluar dari hutan. Derap langkah kakinya mendekati Ethan yang berdiri kebingungan di tepian seberang hutan.
“Kita kehilangan mereka,” jawab Ethan dengan raut muka datar dan netranya melihat lurus ke arah depan.
Fahira langsung lemas mendengarnya. Selangkah lagi mereka akan kembali ke markas membawa berita baik dan penelitian yang sudah direncanakan berminggu-minggu yang lalu akan segera dilaksanakan. Tapi sayangnya inang yang akan diteliti sudah kabur lebih dahulu.
Kedua tangan Fahira menggenggam. Menarik nafas kesal dan kemudian membalikkan badan. Ia memarahi tiga prajurit berpakaian serba hitam-hitam tersebut untuk meluapkan emosinya. “Ini semua karena kalian!”
Tiga prajurit langsung menunduk. Ada rasa malu karena bersikap teledor.
“Bagaimana aku dan Ethan akan menjelaskan pada David jika Gita dan Lucas kabur? Ini semua karena kalian lalai! Tidak becus!” seru Fahira yang melimpahkan kesalahan pada tiga prajurit tersebut.
“Tapi kesalahan ini bukan karena kami saja, Nyonya. Anda dan Ethan pun ikut andil dalam kaburnya Gita dan Lucas,” sahut salah satu prajurit yang memiliki tato bintang di pergelangan tangannya.
Sepasang mata Fahira membulat. Marah dan tidak terima dipersalahkan. “Apa? Kalian berani menyalahkan aku dan Ethan?!” bentaknya.
“Mereka benar Fahira. Kita juga ikut andil dalam kaburnya Gita dan Lucas. Kita semua lalai,” ujar Ethan merelai perselisihan. “Lebih baik kita kembali dari awal. Kita cari kembali mereka. Aku rasa Gita dan Lucas menyelusuri hutan yang ada di depan ini. Mereka tidak melewati jalan raya,” sambungnya sembari menunjuk ke arah depan.
Fahira mengatupkan bibirnya. Raut muka marah, kecewa dan kesal, terpampang menjadi satu. “Pokoknya kita harus menemukan mereka sebelum tiga hari berlalu. Perbekalan makanan yang kita bawa hanya cukup untuk tiga hari,” jelasnya sembari berjalan mengikuti Ethan yang lebih dulu masuk kembali ke dalam hutan Pinus.
Tiga prajurit berseragam hitam lagi-lagi berjalan mengekor, berjaga di urutan paling belakang.
Ethan menjadi penunjuk jalan, dia berposisi di urutan terdepan. Menatap tajam ke arah depan, mengoptimalkan semua inderanya, menyimak segala sesuatu yang bergerak di sekitarnya, walau itu hanya kepakan seekor burung yang akan terbang dari sarangnya.
‘Aku akan menemukan kamu Gita, karena kamu adalah satu-satunya kunci jawaban atas ingatan masa laluku yang hilang. Apa benar diriku yang sekarang dan Pak Jonas, guru biologi di SMA kamu adalah orang yang sama?’ Ethan berbicara di dalam hatinya. Ia mengharapkan menemukan Gita, tapi kali ini dengan niatan yang berbeda. Kali ini, untuk kepentingannya sendiri. Jawaban atas masa lalunya yang hilang dan tak bersisa.