Lucas membawa Gita menyeberang hutan Pinus secepat kilat. Ia begitu pintar mengecoh lawan agar tidak bisa mengejarnya. Berlari zig zag dan kemudian menyerong. Lalu dalam beberapa menit sudah keluar dari hutan karena gerakannya menyerong ke samping.
“Kita sudah keluar dari hutan?” tanya Gita terkesiap.
“Belum. Tapi kita sudah berada di sisi hutan. Aku yakin mereka tidak akan bisa mengejar kita sekarang. Mereka akan kehilangan kita. Karena mereka pikir kita berada di dalam hutan pinusnya.” Lucas begitu percaya diri jika ia mampu menipu Ethan. “Ethan tidak akan tahu jika kita telah keluar lagi dari hutan,” sambungnya tersenyum tipis.
Lucas menurunkan Gita dari belakang punggungnya. “Hei, turun. Jangan keenakan digendong terus. Di sini Ethan, Fahira dan tiga prajuritnya tidak akan bisa menemukan kita,” ujarnya sembari menarik sesuatu yang tertutupi tanah. Tak lama kemudian sebuah pintu rahasia yang menempel pada permukaan tanah terbuka.
Mulut Gita terbuka lebar melihat pemandangan yang sangat tak biasa. Ia belum pernah melihat hal ini sebelumnya.
“Wow, keren sekali Lucas. Tempat apa ini?” tanyanya takjub.
“Bertanya nanti dahulu saja. Kita harus segera bersembunyi di dalam benteng ini,” jawabnya sembari menarik lengan Gita dan mendorongnya masuk. Lalu kemudian ia pun menyusul dari belakang.
Gita menyusuri anak-anak tangga yang meliuk ke bawah. Tangga yang terbuat dari besi ini tampak kokoh namun berdebu.
Belum usai terkagum-kagum atas ruang rahasia bawah tanah yang sangat estetik. Kini Gita disuguhkan dengan ruangan lebar dan besar dengan dinding batu bata.
Gelapnya ruangan dengan cahaya samar-samar dari korek api yang dinyalakan oleh Lucas membuat jarak pandang terbatas.
“Aku akan menyalakan lampunya,” ucap Lucas sembari berjalan ke arah kanan di dekat bawah tangga.
Gita sedikit menyingkir untuk memberikan jalan pada Lucas.
Lucas segera menarik tuas sebuah generator berwarna hitam, tak lama kemudian lampu-lampu yang menggantung dan berwarna kuning menyala.
Ruangan ini ternyata lebih besar dari yang dilihat Gita sebelumnya. “Wow, ini keren sekali,” katanya sembari memandangi ke sekeliling.
Sebuah lemari baja berpintu dua berada di sebelah kiri ruangan. Entah apa isinya, Gita sengat penasaran untuk melihatnya. Lalu satu ranjang tingkat berada di ujung. Sebuah sofa panjang, dapur mini dan alat-alat penelitian di sisi lainnya.
Tak lupa terlihat sebuah pintu kecil di ujung kanan. Sepertinya tempat itu adalah kamar mandi.
“Sekarang kita bisa tenang dan merasa aman di sini,” kata Lucas sembari tersenyum lega dan duduk di sofa panjang dengan kaki diselonjorkan. “Asal jangan terlalu berisik, orang-orang yang berpijak pada tanah di atas kita ini tidak akan mendengar,” sambungnya mengingatkan.
“Tempat apa ini?” tanya Gita masih penasaran. Ia pun melirik ke arah generator yang tadi tuasnya ditarik oleh Lucas. Lalu seketika lampu-lampu langsung menyala. “Kenapa bisa sebuah generator kecil menopang seluruh beban listrik di ruangan ini? Ada sebuah kulkas besar ....” Ia mendekat ke arah lemari besi dan membuka kedua pintunya. Lalu terlihat di dalamnya beberapa makanan beku dan juga minuman yang dibekukan.”
“Itu bukan generator. Tapi itu hanya alat untuk menyambungkan listrik saja. Tak jauh dari sini ada air terjun. Jadi aku membuat pembangkit tenaga listrik buatan,” jawab Lucas menjabarkan. “Dan yang kamu pegang itu memang lemari es. Jadi selama kita di sini, jangan cemas kekurangan makanan. Kita akan aman di sini.”
Gita terkagum-kagum dengan semua yang ada di dalam ruangan ini. Entah dahulu tempat ini dibuat untuk apa. Karena sepertinya ruangan rahasia bawah tanah ini sudah sangat lama tidak dikunjungi.
Beberapa bagian terlihat debu yang menumpuk. “Aku kira jika ruang bawah tanah, debu tidak akan hadir karena ruangannya tersembunyi.”
“Laba-laba bisa masuk ke mana saja. Dia bisa membuat rumah di mana pun sesukanya. Tapi ini hanya debu,” jawab Lucas sembari menunjuk sebuah lap yang ada di dalam lemari kecil tergantung di atas kompor dan washtafel. “Di sana ada lap. Kamu bisa membersihkan seluruh ruangan ini. Kita bisa beristirahat sampai besok siang dan makan kenyang di sini tanpa khawatir Ethan, si ilmuan gila dan tiga prajurit berseragam hitam-hitam itu menemukan kita.”
Gita mendengus kesal. “Kenapa harus aku yang membersihkan ruangan ini?” tanyanya sembari menggerutu.
“Karena kamu kan menumpang di sini,” jawab Lucas sembari menyeringai. “Ini benteng rahasia yang aku punya. Kamu menumpang di sini. Jadi jangan macam-macam. Mengerti?”
Sudut bibir Gita terangkat ke atas. Ia tampak kesal, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Mengalah untuk membersihkan seluruh debu yang ada di dalam ruangan ini.
Ketika ia berjalan melewati sebuah meja kerja yang ada di samping ranjang tidur bertingkat. Sudut mata Gita menemukan dia bingkai foto bergambar kebahagiaan sebuah keluarga.
Foto tersebut membuat langkah kakinya terhenti. Penasaran untuk melihat lebih seksama foto keluarga kecil Lucas yang bahagia.
Gita berdiri di depan meja dan mengambil dua bingkai foto tersebut. Satu bingkai foto terlihat Lucas bersama seorang anak kecil berusia kurang lebih sembilan tahun dan seorang wanita berparas cantik dan rupawan.
Lalu satu bingkai foto lagi bergambar wanita cantik tadi menggendong seorang balita. Sepertinya foto yang satu ini adalah foto lawas.
“Apa mereka adalah anak istri kamu, Lucas?” tanya Gita penasaran.
Lucas menoleh. Ia menatap tangan Gita yang memegangi dua bingkai foto, lalu menaruhnya kembali dengan hati-hati.
“Ya, mereka adalah anak dan istriku,” jawab Lucas dengan sorot mata sedih dan suara yang sedikit parau.
Gita sadar betapa Lucas pasti merindukan mereka. Apa lagi dengan putrinya yang bernama Laura.
“Pasti istrimu sudah menjadi bidadari di surga. Kamu tak perlu cemas dan bersedih tentangnya,” ucap Gita menghibur.
Lucas tersenyum kecut. “Hm ... Soal itu memang benar. Aku tak perlu mencemaskan dia. Tapi aku khawatir tentang Laura, putriku.”
“Kita pasti menemukannya. Aku yakin ...,” ucap Gita menyemangati. “Laura memiliki seorang ayah super hero. Kamu pasti bisa menemukannya dan menyelamatkannya.”
“Aku harap begitu. Jangan lupakan jika musuh kita memiliki orang berkekuatan super juga seperti Ethan. Dan kita tidak tahu ada beberapa manusia yang telah diubahnya.”
Gita yang semula ingin mengambil lap di dalam lemari gantung di atas kompor dan washtafel berjalan kembali mendekati Lucas dan duduk di sampingnya. “Lucas, apa orang yang mengincar kita hanya mereka saja? Bagaimana jika bukan mereka saja yang mengejar dan menginginkan kita? Entah apa yang ditulis ayahku dalam file itu, sehingga semua orang menginginkannya,” ucapnya lirih. Netranya melirik ke arah Lucas. “Bahkan termasuk kamu. Kamu menginginkan file penelitian ayahku juga kan.”
Lucas menatap Gita lekat. Ia mengatupkan bibirnya sebentar sebelum berbicara, “Apa aku bisa melihat isi file dari penelitian ayahmu? Aku mohon ... Aku ingin melihatnya.”