Gita dan Lucas bertatapan sesaat. Bola mata mereka seolah tenggelam ke dalam netra masing-masing.
Lucas menunggu Gita untuk menyerahkan file penelitian Profesor Rudi. Ia tidak akan memaksa jika Gita tidak mau memberikan file penelitian itu padanya. Melihat raut muka Gita, ia pun mengira Gita tidak akan mau memperlihatkan.
“Lupakan saja,” ucap Lucas sembari memalingkan mukanya. “Cepat ambil lap di lemari dan bersihkan semua debu yang ada di sini!”
Gita tidak bergegas menuruti apa yang diperintahkan oleh Lucas. Ia berdiri mematung sembari memandangi Lucas lebih lama.
Lucas melirik ke arah Gita yang berdiri di dekatnya. “Ada apa? Lakukan saja untuk mengambil lap dan membersihkan ruangan ini. Sampai nanti siang kita baru keluar dari benteng rahasia ini. Tidak mungkin kan kita beristirahat dengan debu-debu begini.”
Gita melepaskan tas ransel yang selalu dibawanya itu. Lalu ia mengeluarkan sebuah tab pad dan memberikannya pada Lucas.
Lucas terkejut dan memandangi tangan Gita yang terulur ke arahnya.
“Ini cepat ambilah,” ujar Gita sembari menggoyang-goyangkan tab pad miliknya. “Di sini ada data-data penelitian ayahku. Aku sedang berbaik hati dan akan memperlihatkannya padamu.”
Bola mata Lucas bersinar mendengar kata-kata Gita. “Kamu serius? Aku boleh melihatnya?”
Gita tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya. “Aku pikir, kita berada di sisi yang sama. Ini adalah kali pertama aku memperlihatkannya pada orang lain.”
Lucas senang. Ia mengambil tab pad itu.
Gita duduk di samping Lucas dan menemaninya melihat file penelitian ayahnya.
Lucas mengusap layar tab dengan jarinya. “Membutuhkan password,” ujarnya lirih.
Gita mengambil tab pad itu sebentar dan mengisi password yang diminta. Di layar tab hanya terlihat sederet bintang-bintang berjajar di kolom kata sandi. Ia memberikan tab tersebut kembali pada Lucas setelah layar terbuka dan bisa masuk ke dalam bagian folder.
Lucas terlihat antusias. Profesor Rudi, adalah seorang ilmuan dan peneliti teladannya. Siapa yang tidak mengenal Profesor Rudi? Semua orang mengenalnya. Bahkan sebetulnya sudah sangat lama Lucas ingin berkerja sama dengannya. Namun sayangnya, pandemi virus global ini sudah meraja lela dan menyebabkan tata negara di seluruh dunia menjadi tidak stabil dan nyaris lumpuh.
“Kamu mengerti dengan semua lambang dan tulisan ayahku?” tanya Gita yang sama sekali tidak suka dengan pelajaran fisika, biologi dan matematika di masa ketika sekolah.
“Jadi kamu tidak tahu apa hasil penelitian ayahmu sendiri?” Lucas bertanya dengan raut muka terkejut.
Gita mengangguk pelan. “Aku memang tidak tahu. Aku tidak mengerti lambang-lambang DNA itu ...,” jawabnya sembari menunjuk ke layar Tab. “Astaga ... ini sungguh memusingkan. Lambang DNA dan alogaritma yang menyambung itu akan membuat kepalaku pecah.”
Lucas memandang sekilas. Lalu netranya kembali fokus ke arah layar Tab. Sekitar lima menit Lucas mengamati hasil penelitian Profesor Rudi. Lalu setelahnya, ia menghela nafas panjang dan dalam. “Astaga ... aku tidak menyangka. Jika begini pasti keadaanya akan lebih bahaya,” ucapnya lirih.
Kening Gita berkerut dan kedua alisnya bertaut ketika mendengar kesimpulan Lucas setelah melihat data penelitian ayahnya. “Ada masalah apa? Apa segenting itu hingga kamu menjadi cemas? Apa yang dituliskan ayahku di sana? Pesannya hanya berupa video dan lambang-lambang DNA.”
“Dia menyebutkan namamu, di salah satu videonya,” kata Lucas memberitahunya.
Gita mengatupkan bibirnya DNA menganggukkan kepalanya. “Hm ... Pasti dia tahu suatu saat akan meninggalkan aku sendirian. Makanya ayah menyebutkan namaku di salah satu videonya.”
“Bukan itu Gita. Tapi ....” Kata-kata Lucas mengambang. Ia memandang wajah Gita yang polos. Bola mata indah itu memandang ragu ke arahnya.
“Ada apa? Jangan membuatku penasaran,” tanya Gita mendesak. “Tolong beritahu aku apa yang terjadi. Jangan membuatku takut.”
“Ayahmu menaruh serum obat pandemi virus global ini di dalam darahmu,” jawab Lucas dengan netra tajam dan mimik serius.
Seketika suasana berubah menjadi tegang.
“A ... Apa? Di darahku mengalir ... serum obat pandemi virus Orthovirinae-18 ini?” Gita sungguh tidak percaya. Ayahnya begitu sangat pintar hingga menyembunyikan obat tersebut di dalam darahnya.
“Pantas saja kamu tidak pernah terinfeksi virus tersebut walau sama sekali tidak di vaksin,” ujar Lucas sembari berdecak kagum. “Orang-orang yang terinfeksi akan sakit parah dan meninggal. Sebagian orang yang mendapatkan vaksin namun tubuhnya menolak, kemudian bermutasi. Menjadikan orang-orang tersebut pemangsa aktif sesamanya. Dan kamu adalah satu-satunya orang yang hidup dan aman tanpa takut terinfeksi dan tanpa vaksin.”
Mulut Gita ternganga. “Aku bukan satu-satunya. Kamu juga manusia yang tidak melakukan vaksin dan tidak terinfeksi,” katanya mengingatkan.
“Tapi aku gagal. Efek samping dari obat pandemi virus Orthovirinae-18 yang aku temukan ini membuatku hidup menjadi manusia super. Berbeda dengan obat serum yang ditemukan ayahmu. Ayahmu sempurna meracik penemuan dan menciptakan obatnya. Saat masih kecil kamu sering sakit-sakitan kan?” tanya Lucas masih menatap Gita lekat hingga menembus bola matanya yang berwarna cokelat gelap.
Gita mengangguk. “Ayahmu menuliskannya juga di penelitiannya? Kamu pasti tahu dari sana.”
“Ya pasti aku tahu dari penelitian ayah kamu. Tapi ini adalah hal yang sangat luar biasa. Ayahmu menyimpan serum obat pandemi virus Orthovirinae-18 di dalam darahmu saat kamu masih kecil. Membuat tubuhmu yang sering sakit-sakitan menjadi kuat. Beliau pun mempersiapkan obat dan juga kamu untuk melawan virus yang akan datang di tahun 2020. Bagaimana ayahmu bisa meramalkan yang akan terjadi di masa depan?” tanya Lucas terkagum-kagum.
“Ya, karena ayahku memang bisa melihat masa depan.”
Jawaban Gita membuat Lucas terkesiap. “Jadi ayahmu seperti seorang cenayang begitu?”
“Hm ... Anak indigo,” timpal Gita. “Seperti itulah ... Ayahku bisa melihat apa yang terjadi di masa depan. Makanya dia mempersiapkan segalanya tanpa memberitahu siapa pun. Karena memang tak satu pun yang tahu jika ayahku mampu melihat apa yang terjadi di masa yang akan datang,” sambungnya menjelaskan. “Tapi sayangnya penglihatan ayahku hanya batas sampai kematiannya. Ia tidak bisa melihat apa yang terjadi setelah kematiannya. Jadi aku tidak tahu apa pandemi virus global ini akan berakhir atau tidak ....”
Wajah lesu Gita membuat Lucas ikut lemah. Namun segera setelahnya ia langsung menepuk punggung tangan Gita dan menyemangatinya. “Tidak. Kita pasti bisa melewati ini semua. Dunia indah yang kita pijak tidak akan menjadi gelap dan menakutkan. Kehidupan yang baik pasti akan kita dapatkan. Percayalah ....”
Raut muka masam kini berangsur berubah riang. Gita kembali tersenyum. “Dengan penelitian ayahku ini, memangnya ingin kau buat apa?”
“Aku akan ....” Belum juga Lucas menjawab dan menjelaskan. Suara beberapa derap kaki di atas mereka terdengar gaduh.
Lucas dan Gita saling menatap satu sama lain. Sorot mata mereka sangat tegang. Bibir mereka terkunci rapat.
“Ethan dan ilmuan gila itu sudah ada di atas kita,” ucap Lucas lirih.
Gita mengandahkan mukanya menatap langit-langit ruangan.
“Derap kakinya semakin benyak ...,” kata Lucas menambahi. Cuping telinganya bergerak-gerak. Ia bisa mendengar dengan jelas dan seksama apa yang terjadi di atas sana. “Tidak ... bukan hanya Ethan, Fahira dan tiga prajurit itu saja yang ada di atas kita sekarang. Sekitar sepuluh orang sedang mencari kita ....”
“Apa mereka meminta bantuan ke tim markas?” Gita sedikit panik.