Bersembunyi

1163 Kata
“Di mana mereka?” tanya Fahira mendesak. Ia sudah tidak sabar ingin segera menemukan kembali Lucas dan Gita agar semua ini cepat berakhir dan bisa kembali ke markas. “Tadi aku jelas mendengar suara mereka,” jawab Ethan. Lucas yang bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Ethan, menaruh ujung jarinya di depan wajah. Memberikan isyarat pada Gita agar tidak sedikitpun suara yang dikeluarkan. Gita mengangguk mengerti. “Yang benar kamu mencium aroma badan mereka menuju ke arah sini? Juga suaranya?” David menyela. “Iya, aku sangat yakin,” jawab Ethan mantap. Tadi agar masalah cepat selesai,Fahira menghubungi David dengan alat komunikasi khusus yang biasa digunakan oleh anggota mereka. Setelah itu, David membawa empat prajurit ke mari untuk membantu Ethan menangkap Lucas dan Gita. “Bagaimana kalian bisa kehilangan Lucas dan Gita?” sungut David mulai marah. Kesabarannya mulai mengikis. Tiga prajurit di bawah pimpinan Ethan menunduk. Mereka merasa bersalah. “Kamu adalah satu-satunya manusia yang memiliki kekuatan super!” seru David sembari menunjuk ke arah Ethan. “Kenapa bisa kalah? Kenapa bisa kehilangan target?! Sungguh memalukan.” Dimaki David, tidak membuat Ethan menunduk dan mengalah. Ia justru menatap David tajam. “Jika bicara memang mudah, kenapa tidak kau saja yang mencari mereka? Aku bukan budakmu. Kata Fahira, aku setara di sini. Aku adalah seseorang rekan kerja. Jadi kamu tidak berhak memaki aku dan tiga prajurit di bawahku.” Kening David berkerut. Ia tidak habis pikir, jika Ethan memiliki keberanian untuk melawannya. Bibirnya terkatup rapat dan giginya menggemeretak. “Kamu, berani-beraninya berbicara seperti padaku!” Melihat keadaan mulai memanas, Fahira segera berdiri di depan Ethan. Seolah merelai dan menjaga agar tidak terjadi perkelahian. “Dia tidak bersalah. Mungkin aku saja yang sebagai mentor dan pencipta kekuatannya kurang efektif.” Netra David yang semula menatap tajam Ethan, kini beralih memandang Fahira. “Kamu tidak ada hubungannya dengan ini. Dia saja yang tidak becus! Semua orang berharap besar padanya!” Ia kembali menunjuk Ethan dengan wajah beringas. “Kenapa aku yang disalahkan?!” sahut Ethan. “Kau adalah pimpinan Elang. Harusnya kamu yang membuat strategi. Bukannya memerintah dengan rencana mentahan dan jika gagal begini kamu tidak terima!” “Kamu ...,” pekik David dengan tatapan tajam dan muka antagonisnya. “Harusnya kamu tidak usah memancing keributan, Tuan David yang terhormat. Kamu telah membuat fokus ku buyar. Aku tidak bisa mencium aroma badan target dan mendengar suara mereka lagi. Kamu yang sebetulnya pengacau di sini!” Fahira berpikir ia harus segera melakukan sesuatu. Ia mulai mendorong tubuh David menjauh. “Sudah cukup. Kita bisa mencari mereka lagi atau kembali ke markas dahulu,” ucapnya dengan suara keras. “Tapi kita sudah setengah jalan Fahira! Tidak mungkin kita kembali ke markas dengan tangan kosong. Bagaimana jika kapten Ervan tahu dengan semua ini? Aku sudah ke mari membawa prajurit bantuan. Namun hasilnya masih nihil? Sungguh memalukan!” seru David sembari terpaksa melangkah menuju ke arah yang lain karena Fahira mendorongnya. Fahira menoleh ke belakang dan memerintahkan semuanya untuk bubar dari formasi. “Semuanya, kita batalkan misi dan lanjutkan nanti!” Kedelapan prajurit menurut dan mengekor di belakang Fahira dan David. Kini tinggal Ethan yang berada di atas tanah yang merupakan pintu rahasia ruang bawah tanah benteng Lucas. Ia masih menatap sekeliling. Firasat tajamnya mengatakan jika Lucas dan Gita berada di sekitar sini. Namun netranya tidak melihat apa pun. Indera pendengarannya juga tidak menangkap apa pun. Fahira kembali menoleh ke belakang. Memastikan. Ethan tidak ada di belakang. “Kamu duluan saja,” ucapnya pada David. David segera menatap Fahira. “Hei, kamu mau ke mana?” “Aku akan menyusul. Ethan masih di tempat semula!” jawabnya berseru sembari berlari. “Makhluk jadi-jadian itu harusnya tidak usah mendapatkan perhatian lebih. Dia pasti akan besar kepala. b***k harusnya berada di bawah kaki. Bukan di kursi yang sama dengan majikan,” guman David menghina. Ia selalu menganggap Ethan adalah seorang b***k. Karena sebetulnya Ethan sudah dianggap mati oleh keluarga dan masyarakat. Dia adalah satu-satunya orang yang memiliki DNA aneh. Gen dan DNA di dalam tubuh Ethan menolak serum vaksin yang masuk ke dalam tubuhnya dan kemudian bermutasi menjadi manusia super. Lalu ditambah dengan penelitian yang sedang dikembangkan oleh Fahira, akhirnya DNA Ethan di gabungkan dengan DNA harimau dan juga serigala. Fahira terengah-engah ketika sampai di tempat mereka sebelumnya berkumpul. “Hei, ayo kita bergegas. Di sini tidak ada apa-apa. Lebih baik kita mempergunakan waktu yang lebih berguna atau pulang ke markas.” “Tidak. Aku tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Memalukan jika manusia super seperti aku seperti ini tidak bisa menemukan Lucas dan Gita. Membawa mereka ke markas dan mendapatkan pujian dari Mr. Mun,” jawab Ethan sembari berjongkok. Ia melihat ke sekeliling. Masih memastikan firasatnya kalau Lucas dan Ethan memang ada di sekitar lokasi ini. “Kamu memikirkan apa yang dikatakan oleh David?” tanya Fahira lirih. “Jangan dengarkan dia. Dia memang seperti itu. Jangan mendengarkannya.” “Tapi apa yang dikatakan David memang ada benarnya. Aku manusia super di sini. Tapi aku tidak bisa menangkap mereka. Sungguh memalukan,” sahut Ethan dengan mimik muka kecewa. “Aku yakin Gita dan Lucas ada di sekitar sini. Namun anehnya kenapa mereka tidak ada ya ...?” Fahira menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia pikir Ethan salah mengendus atau firasat tajam serigalanya itu sedang kacau. Seperti sebuah frekuensi yang membentur. Ia mengulurkan tangan pada Ethan. “Ayo, kita pergi dari sini,” ajaknya. “Aku tidak menyalahkan kamu. Kegagalan kita ... adalah kegagalan bersama.” Senyuman yang merekah di bibir Fahira seketika membuat hati Ethan merasa tenang. Mereka saling melempar senyuman. “Ayo, kita pergi dari sini ...,” ajak Fahira sekali lagi. Kali ini Ethan mendengarkan saran Fahira. Ia menyambut tangan yang terulur ke arahnya itu. Telapak tangan Fahira yang lembut terasa menenangkan. Mereka bergandengan tangan dan berjalan menjauhi lokasi di mana sebetulnya Lucas dan Gita berada di benteng rahasia di bawah tanah. *** Beberapa menit setelah Ethan dan Fahira pergi. Lucas baru berani berbicara, “Sekarang kita aman ... Mereka semua sudah pergi.” Gita menghela nafas lega dan kembali duduk di sofa. Menyandarkan punggungnya yang kaku karena ketegangan yang tadi dirasakan. “Semoga saja mereka pergi yang jauh. Bagus-bagus mereka kembali ke markas mereka itu!” Lucas tersenyum kecut. “Semoga saja ...,” ucapnya lirih. Raut muka Lucas kembali serius memandangi Gita. Membuat Gita curiga. “Ada apa? Kenapa menatapku begitu? Pandangan matamu membuat bulu kudukku merinding ....” “Aku ingin mengatakan sesuatu,” kata Lucas serius. “Tentang apa?” Gita berbalik bertanya. “Tentang dirimu ....” Gita mulai kembali tegang. Telinganya dipersiapkan menyimak kata-kata Lucas. “Ada apa tentang diriku?” “Jika orang-orang yang berseberangan dengan kita tahu, obat pandemi virus global Orthovirinae-18 ini ada di dalam darahmu. Maka nyawamu benar-benar sangat terancam!” Sorot tajam netra Lucas membuat bulu kuduk Gita semakin meremang. Kerongkongannya kering dan jantungnya berdetak lebih cepat dari pada sebelumnya. “Jadi dengan kata lain ... Mereka mengincar darahku?” tanyanya dengan wajah tercengang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN