Darahku

1174 Kata
Lucas berpikir jika sebetulnya mereka akan aman jika bertahan tinggal di benteng rahasia. Terutama Gita. Jika ada orang lain yang tau tentang penelitian profesor Rudi, maka darah Gita akan menjadi incaran. Darahnya akan menjadi sampel contoh yang akan dibuat penawar pandemi. “Git, kita tinggal di sini saja. Sekitar tiga hari.” Gita melongo. Netranya membulat. “Hah, diam di sini selama tiga hari?” tanyanya tidak percaya. “Yang benar saja, kita di sini selama tiga hari! Apa yang akan kita lakukan di tempat seperti ini?” “Bersembunyi,” jawab Lucas cepat. “Tapi aku tidak mau terlalu lama di sini Lucas. Aku ingin segera bertemu dengan Profesor Ismunandar. Aku ingin menyampaikan amanat dari ayahku. Ayahku bilang hanya Profesor Ismunandar yang bisa dipercaya. Dia yang akan membantuku.” “Tapi di luar sana kemungkinan Ethan, Fahira, David serta para prajuritnya pasti masih berkeliling selama tiga hari ini,” jawab Lucas sembari menghela nafas panjang dan dalam. “Ya, kau benar Lucas. Pasti mereka masih ada di sekitar sini. Jadi menurutmu kita harus tinggal di tempat ini selama tiga hari?” tanya Gita dengan kedua alis bertaut. Lucas menganggukkan kepalanya. “Ya, sepertinya kita memang harus tinggal di sini sementara. Minimal selama dua hari,” jawabnya sembari melirik ke arah arloji mewah di pergelangan tangannya. “Aku juga membawa jam. Kita tahu waktu. Lalu kita memiliki makanan beku di dalam kulkas. Minuman beku dan juga air.” “Air? Kita dapat dari mana? Lalu makanan dan minuman bekunya apa enggak kadaluarsa? Kamu kan sudah lama sekali tidak ke benteng rahasia ini.” Gita yakin jika Lucas sudah sangat lama tidak ke benteng rahasia ini jika dilihat dari debu-debu yang ada di perabotan dan juga sudut langit-langit. “Tenang saja. Ada lorong yang terhubung ke gua dan menembus air terjun. Makanan dan minuman beku itu juga tidak akan kadaluarsa. Karena aku membuatnya agar selalu awet.” “Kamu memberikan obat pengawet pada makanan dan minuman itu?” Gita semakin ngeri untuk memakan dan meminumnya. Lucas langsung tertawa. “Tidak. Aku tidak memberikan obat pengawet pada makanan dan minuman itu. Aku hanya membuat lemari pendingin yang berbeda dari yang lain. Jika aku memasukan makanan dan minuman di dalam lemari es ini, maka semuanya akan menjadi awet secara alami jika dipanaskan.” Gita takjub mendengarnya. Ia menatap ke lemari es yang berbentuk seperti lemari besi. Mengusap bagian depan lemari es itu. “Ini bagus sekali ....” “Ya, memang,” jawab Lucas bangga. “Ini adalah salah satu penemuanku yang menurutku luar biasa. Jika kamu masuk ke dalam lemari es itu, dibekukan. Dan nanti kamu bisa hidup kembali di masa depan jika dipanaskan kembali.” Mulut Gita ternganga mendengar penjelasan Lucas. “Apa aku tidak akan mengalami hiportemia?” “Tidak, jika sebelumnya kau disuntik obat tidur.” “Jadi seperti putri tidur?” Gita takjub dengan netra yang berbinar. Lucas mengangguk. “Ya, seperti putri tidur,” jawabnya lugas. “Kamu akan awet hingga di masa depan,” sambungnya sembari tertawa pelan. Lalu tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Memunculkan sebuah ide fantastis. “Oh iya, bagaimana jika beberapa cc darahmu di simpan di dalam lemari es ini?” “Darahku?” Gita mengerutkan dahinya. “Darahmu adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Darah itu bisa menyembuhkan pandemi ini digabungkan dengan campuran obat-obatan lain.” Gita sejenak diam. Namun beberapa menit setelahnya ia mengulurkan tangannya ke arah depan. “Kau benar ... Jika terjadi sesuatu padaku. Setidaknya kita memiliki cadangan sampel. Orang-orang yang mengejar kita tidak ingin dunia ini bangkit melawan virus ini. Mereka justru menginginkan virus global Othovirinae-18 ini tetap ada.” Lucas tersenyum pahit. “Semua itu tidak lepas dari bisnis, kekuasaan dan keuntungan. Mereka memproduksi vaksin. Jadi tanpa menjual vaksin mereka tidak akan mendapatkan keuntungan yang besar. Dan aku dengar ....” Kalimatnya terhenti. Raut muka Lucas datar dan sorot matanya menerawang. “Kamu dengar apa, Lucas?” tanya Gita mendesak. “Aku pernah mendengar desas desus yang mengatakan jika apa yang terjadi pada kita ini adalah sebuah serangan biologi. Dari virus yang mematikan, hingga vaksin yang terkadang bermutasi di tubuh setiap individunya berbeda-beda.” “Memang siapa yang ingin menguasai negara kita?” tanya Gita penuh selidik. “Negara P.” Gita mendesah. Sebetulnya ia tidak faham soal politik, matematik, biologi atau ilmuan begini. Walau ayahnya adalah seseorang yang sangat cerdas. Seseorang yang memiliki gelar Profesor. Namun Gita tidak terlalu pintar di akademis. Tubuhnya memang sering sakit ketika masih kecil. Ayahnya lebih fokus pada kesehatan Gita dari pada pembelajarannya di sekolah. “Kamu tidak mengerti ya?” Lucas mulai sadar. Gita menggeleng. “Tidak. Jadi jelaskan saja padaku intinya.” “Intinya adalah Negara P ingin menguasai negara kita. Ya seperti itu. Negara P ingin menguasai kita dengan mencari sekutu pribumi yang berkhianat. Membuat negara kita kacau. Tanpa peperangan dan merusak isinya. Tanpa merusak hasil alam negara kita, Negara P ingin memusnahkan seluruh warganya.” Kini Gita baru mengerti. “Apa menurutmu desas desus itu benar?” “Entahlah ... aku tidak mau berspekulasi. Aku takut salah,” jawab Lucas. “Hm ... dan aku juga mendengar jika sebetulnya ada dua negara yang memperebutkan negara kita,” sambungnya lirih. “Dan yang Negara lainnya itu, siapa?” Lucas mengendikan bahunya. “Aku tidak tahu.” “Jadi ini masih kabar burung ....” “Ya namanya juga desas desus,” timpal Lucas sembari beranjak berdiri dan mengambil alat-alat medisnya yang ditaruh di dalam laci meja kerja. Ia mengambil satu tas persegi empat berukuran sedang, berwarna hitam. Lalu menaruhnya di atas meja dan mengeluarkan isinya. Gita yang melihat beberapa spuit suntik, botol kaca kecil dan juga alat tensi darah segera berjalan mendekat dan kemudian duduk di sisi Lucas. Ia mengulurkan lengannya. “Ambil saja semau mu.” Lucas tersenyum simpul. “Tidak. Aku hanya mengambil sedikit saja. Aku akan meneliti darahmu selama kita tinggal di sini,” jawab Lucas sembari memasukan jarum suntik menembus bagian epidermis kulit Gita dan mencari nadinya. Gita meringis menahan sakit, ketika jarum suntik itu menembus ke urat nadinya dan mengambil darahnya. Tidak lama kemudian, terlihat spuit terisi dengan darah segar, darah Gita. Ketika darah Gita tertarik keluar dan memenuhi spuit suntik. Lalu Lucas memindahkan darah tersebut ke botol kaca yang sudah disterilkan sebelumnya. Indera penciuman Ethan kembali mengendus. “Aroma darah ...,” pekiknya lirih. Fahira yang berjalan di sisi Ethan menoleh. Menatap Ethan dengan cuping hidung sedikit bermekaran. “Ada apa Ethan?” “Aroma anyir darah yang lezat. Ini seperti aroma darah Gita. Aku pernah mencium aroma darah ini sebelumnya,” jawab Ethan dan kemudian menghentikan langkah kakinya. “Aku yakin, mereka masih di sini!” “Stop!” Fahira berteriak. Para prajurit spontan berhenti berjalan. David juga menghentikan langkah kakinya karena mendengar teriakan Fahira. Ia menoleh. “Ada apa?” “Ethan bilang, ia mencium aroma darah Gita yang sangat kuat!” Fahira menjawab. “Ya ... mereka masih ada di sini ... Darah yang sangat banyak. Suara darah yang mengalir memenuhi botol kaca ....” Ethan mampu mengendus dan merasakan aliran darah itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN