“Kenapa jalannya berhenti?” tanya David dengan wajah menggerutnya.
“Ethan mencium aroma darah lagi,” jawab Fahira memberitahu.
Namun kali ini David tidak percaya. Dipikirnya indera penciuman Ethan sudah rusak.
“Yakin tidak kalau Ethan memang mencium aroma darah Gita?” tanya David ragu.
Ethan membalikkan badan. Ia tidak peduli David percaya atau tidak dengannya. Yang penting langkah kakinya mengikuti ke mana nalurinya berbicara.
David merasa apa yang dilakukan Ethan ini akan membuang waktu mereka. Tadi saja, karena mengikuti Ethan, akhirnya waktu terbuang sia-sia.
“Hei, Fahira! Prajurit!” teriak David.
Sontak langkah kaki Fahira terhenti. Begitu pula dengan para prajurit yang mengikuti.
“Ada apa David? Ethan mengendus aroma darah Gita!” Fahira kembali memberitahu.
David menghela nafas kesal. “Aku tidak yakin penciuman Ethan berfungsi benar. Bagaimana jika seperti tadi? Ternyata di sekelilingnya tidak ada siapa-siapa? Kita sungguh membuang waktu,” jawab David masih kesal. “Aku jauh-jauh ke mari, menyusul kamu. Aku kira kalian memang sudah berhasil menemukan Gita dan Lucas. Tapi mana? Kalian sungguh para idiott justru membuang waktuku.”
“Kenapa kamu berbicara begitu David? Kau sungguh keterlaluan. Kasar sekali kau ini ....” Fahira tidak terima.
“Tapi kenyataannya begitu kan? Lihat Ethan tidak bisa menemukan Lucas dan Gita. Padahal harusnya tugas seperti itu sangatlah mudah untuknya!”
“Kamu!” Gigi Fahira menggemeretak menahan amarah. Dia sungguh kesal dengan David yang menyepelekan Ethan. Susah payah dia menciptakan manusia dengan indera yang melebihi manusia normal pada umumnya. Dan juga manusia yang memiliki kekuatan lebih hebat dari pada manusia lainnya. Tapi David justru memandang sebelah mata. “Kita harus memastikan kembali apa yang diketahui oleh Ethan!”
“Mereka seperti tersembunyi ...,” kata Ethan lirih. Ia meringkuk di atas tanah. Tubuhnya meringkuk dan menempelkan daun telinganya. “Aku tidak terlalu jelas mengendus aroma mereka karena lapisan yang menghalangi.” Sejenak ia diam. Memfokuskan dengan apa yang diendus dan didengarnya.
Semua orang menatap Ethan. Tak terkecuali David. Sembari berkacak pinggang dan memicingkan matanya, ia memandang Ethan tajam. “Sudahlah, omong kosong mereka ada di balik tanah! Mana bisa mereka bersembunyi di bawah tanah? Kalau berbicara jangan mengada-ada.”
“Mungkin mereka melewati suatu tempat untuk masuk ke dalam tanah,” jawab Fahira berpendapat.
David tertawa menghina. “Hah, menurut kamu begitu? Ya ampun, sungguh membuatku tergelitik. Jadi mereka menembus masuk ke dalam tanah?”
Tawa David kemudian diikuti oleh para prajurit lainnya.
Ethan tidak mengapa ditertawakan. Ia tidak memaksa orang lain percaya akan kata-katanya. Namun Fahira lah yang justru tersinggung, “Kalian bisa-bisanya tertawa ya? Kalian pikir ini hal lucu?”
Tujuh prajurit diam. Sedangkan David masih tertawa. Ia tidak peduli Fahira marah.
Ethan tidak menghiraukan David yang mencemoohnya. Ia semakin menempelkan daun telinganya pada permukaan tanah. Seperti sebuah gelombang suara yang merambat di udara lalu mengambang ke atas permukaan tanah, suara Lucas dan Fahira yang sedang berbicara terdengar.
“Apa sakit?” tanya Lucas pada Gita ketika melihat gadis itu meringis menahan nyeri.
Gita menggeleng. “Sedikit.”
Seulas senyuman terhias di wajah Lucas. Membuat pria itu semakin tampan. Dan entah mengapa jantung di d**a Gita berdebar-debar. Seraut muka tersipu malu berona merah tiba-tiba menghias di kedua pipinya. Gita segera memalingkan mukanya. Tak ingin Lucas melihat hal yang aneh darinya.
Lucas mengusap kapas kecil di atas luka titik bekas jarum suntik di tangan Gita. “Kau akan baik-baik saja ....”
“Ya, aku tahu. Aku sudah biasa berkutat dengan jarum suntik.”
Jawaban Gita itu membuat Lucas terkejut. “Ayahmu yang melakukannya?” tanyanya dengan wajah serius. Ia tidak bisa membayangkan berapa jarum suntik yang diterima oleh Gita untuk penelitian ayahnya. Walau dirinya juga seorang ilmuan, tapi ia tidak pernah menggunakan Laura, putrinya itu untuk sebuah penelitian.
Sadar dengan tatapan Lucas, Gita segera menjelaskan, “Saat aku masih kecil, aku memang sakit-sakitan. Aku kan sudah menceritakan padamu. Aku sakit-sakitan. Maka ayahku selalu mencari penelitian agar aku bisa bertahan.”
“Bukankah ayahmu bisa melihat masa depan? Harusnya ayahmu bisa mengetahui kamu dapat bertahan atau tidak dengan tubuhmu yang lemah itu.”
Gita menatap Lucas lekat. “Ayahku mengatakan ... Kita harus selalu berusaha. Jika kita tidak kerja keras, maka masa depan yang tadinya terlihat indah juga bisa berubah menjadi buruk. Begitu pula sebaliknya. Karena itu ayahku berusaha menemukan serum obat untuk membuat daya tahan tubuhku lebih kuat lagi. Dan ternyata serum yang memompa daya tahan tubuhku itu mampu melawan virus Orthovirinae-18.”
“Aku yakin, ayahmu sudah mempersiapkan semua. Dia membuat serum obat untuk membuatmu bertahan dengan virus yang mematikan.” Lucas menepuk-nepuk punggung tangan Gita.
Gita tersenyum. “Ya, ayahku selalu mencemaskan aku.”
***
“Mereka tepat ada di bawah sini!” teriak Ethan yang sejak tadi berusaha mendapatkan gelombang suara Lucas dan Gita.
Fahira dan David yang saling beradu argumen segera menoleh ke tempat yang ditunjuk oleh Ethan.
Lucas pun sama. Ia mendengar suara Ethan yang berteriak nyaring. Ia mengandahkan muka ke atas. “Mereka tahu kita di sini!” pekiknya lirih dengan netra membulat bak telur.
Gita yang semula santai, kini mulai terperanjat dan spontan merapat pada Lucas. “Kita harus bagaimana? Kita lari ke mana Lucas?”
Di atas kepala Gita dan Lucas yang merupakan tanah pijakan. Ethan meraba permukaan tanah tersebut. Mencari sesuatu. Otaknya yang cerdas langsung menyimpulkan jika target ada di bawah tanah.
“Mereka ada di bawah!” Suara Ethan sangat nyaring menggelegar.
Fahira tersenyum lebar. Ia melirik ke arah David dengan sinis. “Lihat kan Ethan sangat bisa diandalkan.”
David bergegas menghampiri Ethan tanpa mendengar kembali kata-kata Fahira padanya. “Kamu yakin mereka ada di sana?”
Ethan menganggukan kepalanya. “Iya, aku sangat yakin. Di bawah terdapat ruang bawah tanah.”
David memandang tertegun permukaan tanah merah di bawah kakinya. Ia segera memerintahkan pada prajurit-prajuritnya, “Gali tanah di bawah ini!”
“Baik Tuan! Tapi dengan apa ya?” Salah satu prajurit bertanya. “Kita kan tidak membawa alat untuk menggali!”
“Bodoh! Pakai apa pun yang ada di sekitar kita!” David naik pitam.
Mereka semua segera berhamburan mencari alat menggali. Ada yang menemukan batu besar dengan ujung runcing dan menggunakannya untuk menggali.
Beberapa prajurit lain menggunakan batang pohon besar untuk menggali tanah keras itu. Dan akhirnya batang pohon yang dipakai patah.
David segera melirik tajam prajurit bodohnya. “Hei, gunakan alat yang lebih keras! Senapan yang kau pegang sejak tadi itu kan bisa juga digunakan menggali dari pada memakai batang pohon yang gampang patah!”
Mendengar bentakan David, mereka semua takut dan dengan cepat menggali menggunakan ujung senapan walau hasilnya tidak akan maksimal.
Ethan mengeluarkan kuku panjangnya yang tiba-tiba muncul ketika ia menginginkannya. Lalu mencakar-cakar tanah seperti seekor harimau.
Gita merapat dan meremat tangan Lucas. Ia sungguh takut persembunyian mereka lagi-lagi ditemukan. “Lucas, bagaimana jika benteng rahasia mu ini ditemukan oleh mereka? Mereka berhasil masuk ke mari?” tanyanya gemetar.