David, Ethan dan tujuh prajurit menggali dengan sekuat tenaga.
Jantung di dalam d**a Gita berdebar kencang sangat ketakutan. “Kita pasti akan tertangkap!” serunya dengan suara nyaring.
“Sst ...,” desis Lucas. “Jangan berisik. Telinga Ethan pasti mendengar apa yang kau katakan ini.”
Gita segera merapatkan bibirnya. Ia langsung diam karena tidak mau Ethan biasa mendengar suaranya.
“Mereka tidak akan bisa masuk ke mari,” kata Lucas berbisik lirih tepat di telinga Gita. “Terdapat lapisan beton, pondasi dari ruang bawah tanah ini.”
Gita menoleh. Namun ia tidak berkata apa pun. Hanya mengangguk pelan.
Di atas mereka,
David, Ethan dan prajurit yang menggali sudah kelelahan.
“Tanahnya sungguh amat keras! Seperti ada batu besar!” seru salah seorang prajurit memberitahu.
Ethan diam meresapi yang ada di atas permukaan tanahnya. Ia meraba pelan. “Apa yang kamu katakan benar. Ada batu besar di atas permukaan tanah ini.”
“Tapi mana batunya? Kenapa tidak terlihat?” tanya David mendesak.
Ethan memegangi tanah yang sudah berlubang. “Sebuah beton,” jawabnya dengan raut muka serius. “Ruang bawah tanah ini, dibangun dengan sangat apik,” sambungnya sedikit kagum atas pekerjaan yang dilakukan oleh Lucas.
“Kenapa kita tidak mencari pintu masuknya saja?” David memberi saran.
“Sejauh ini kita tidak tau di mana letak pintu masuknya. Semuanya sama seperti tanah yang sama,” jawab Ethan yang masih berjongkok di atas tanah.
Fahira menatap permukaan tanah yang sudah berlubang. Sama sekali tidak terlihat ada beton-beton besar yang berjajar di dalam tanah itu. Semuanya tampak alami. Di dalam hati, Fahira sungguh kagum atas apa yang dibuat oleh Lucas. Dia bukan saja seorang ilmuan. Tapi pemikiran tentang struktur bangunan pun sangat cerdas.
“Kita tidak akan bisa menggali tanah sampai membongkar betonnya. Jika ingin masuk kita harus melewati pintunya,” kata Ethan memberitahu.
“Dan kamu tau di mana pintunya?” tanya David mendesak.
Ethan tersenyum simpul. “Jika aku tahu, aku pasti sudah masuk ke dalam ruang bawah tanah milik Lucas ini,” sahutnya dan kemudian berdiri tegap. “Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah tetap di sini sampai mereka keluar dari ruang bawah tanah. Atau kita kembali pulang ke markas.” Ia memberikan dua pilihan yang bisa dipilih.
Fahira melempar pandangan ke arah David. “Bagaimana menurutmu? Apa kita pulang ke markas saja atau menunggu di sini?”
“Kita kembali ke markas dengan tangan kosong. Ervan pasti akan mencaciku!” jawab David sembari mengusap kening mengarah ke atas hingga ke belakang rambut cepaknya.
“Ya sudah, kita tunggu di sini saja,” ujar Fahira enteng.
***
“Menunggulah sampai kalian lumutan,” guman Lucas lirih.
Kedua alis Gita beradu. “Ada apa?” tanyanya penasaran dan juga suara yang tak kalah lirih degan Lucas.
Kini mereka berdua harus berbicara pelan seperti orang yang berbisik-bisik. Indera pendengaran Ethan tajam. Dia bisa mendengar percakapan. Jadi mereka harus lebih hati-hati lagi.
Lucas menunjuk ke arah atas. “Mereka menunggu di atas. Berpikir, kita pasti akan keluar dari sini lewat pintu yang sama.”
“Jadi saat kita keluar, kita akan disergap!” seru Gita lirih. “Ya Tuhan, kenapa mereka ngotot sekali untuk menangkap kita ya? Memang kita salah apa?”
“Mereka akan bersikeras seperti itu, untuk menangkap kita,” ucap Lucas menjabarkan. “Karena kita adalah sasaran utama. Terlebih lagi, kamu. Sepertinya desas desus tentang solusi berakhirnya pandemi ini ada pada putri Profesor Rudi sudah menyebar ke kalangan ilmuan. Termasuk para ilmuan jahat yang ingin memanfaatkan bencana pandemi virus Othovirinae-18 ini. Dengan menjual vaksin mereka untung besar.”
Gita merinding mendengarnya. Ilmu teknologi dan kecerdasan digunakan untuk kejahatan. Hal itu lebih mengerikan dari pada sebuah peperangan yang menghancurkan sebuah negara. “Jadi kita terjebak di sini, Lucas?” tanyanya lesu.
Lucas menahan senyumnya. Membuat Gita kesal. “Kok kamu kenapa senyum? Bukankan kita akan kesulitan jika begini? Sampai kapan mereka menunggu di atas? Jika mereka kekurangan makanan, mereka akan meminta bantuan. Dari markas besar, koloni mereka akan mengirimkan makanan lewat helikopter. Lalu kita terjebak di sini sampai kapan? Justru kita yang akan mati lumutan di sini ....”
Lucas menepuk kedua bahu Gita. “Hei, hei ... tidak usah panik. Aku pastikan kita baik-baik saja. Jangan lupa jika kita memiliki kulkas ajaib,” jawabnya sembari tersenyum lebar. “Kita juga tidak akan kekurangan makanan di sini.”
Gita menatap bola mata Lucas yang penuh percaya diri, dan juga penuh perlindungan. Menyesal sempat meragukan kebaikannya dan nyaris pergi meninggalkannya. Bagaimana ceritanya jika semisal dia harus berjuang sendiri menuju kota B untuk menemui Profesor Ismunandar? ‘Aku pasti tidak akan bisa sendirian,’ batinnya.
Kini Gita mulai ketergantungan dengan Lucas. Ia percaya semua kata-katanya.
“Duduk saja di sini. Aku akan membuatkan makanan,” ucap Lucas sembari mengambil beberapa makanan beku di dalam lemari es super dan kemudian menghangatkannya di microwave mini yang juga sudah dimodifikasi olehnya.
Aroma harum daging dengan keju juga setangkup roti gandum mulai memenuhi ruang bawah tanah. Perut Gita mulai keroncongan karena mencium aroma lezat itu.
Tidak lama kemudian, Lucas kembali lagi dan menaruh dua tangkup daging besar dengan roti gandum, lelehan keju. Juga dua gelas s**u cokelat hangat. “Habiskan ini. Kita harus banyak makan agar tidak gampang sakit dan kuat menghadapi hari. Tampaknya hari-hari yang akan kita lalui tidak akan mudah. Mumpung masih di sini, makanlah sebanyak mungkin,” ucapnya sambil menatap Gita yang tampak akan meneteskan air liur.
“Tidak usah kamu suruh pun aku akan menghabiskan makanan ini,” jawab Gita dan secepat kilat mengambil satu tangkup besar roti gandum dan mengunyahnya sebentar dan kemudian menelannya.
“Jangan buru-buru, kamu akan tersedak.” Barusan Lucas menegur, dan benar saja, Gita kemudian terbatuk-batuk.
Lucas mengambilkan s**u cokelat hangat untuk Gita. “Minum ini ....”
Gita minum perlahan. Tenggorokannya yang tersangkut makanan kini sudah turun dan menuju ke lambungnya. “Terima kasih,” jawabnya pelan.
Hening sesaat ketika mereka sama-sama menikmati makanan lezat yang tersaji. “Oh iya, Ethan itu ...,” Lucas mulai membuka pembicaraan kembali dengan suara lirih.
Gita mengigit roti gandum bersamaan dengan daging ham besar dan keju sambil menatap Lucas. Dari sorot matanya memandang seolah bertanya, ‘Ada apa dengan Ethan?’
“Dia benar gurumu ketika di jaman sekolah?” sambung Lucas bertanya.
Gita mengangguk. “Aku tidak yakin. Tapi sepertinya sih memang iya. Karena wajah Ethan dan Pak Jonas itu sangat mirip. Bahkan seperti pinang dibelah dua.”
Lucas terdiam. Sambil mengunyah dan menelan makanannya, pandangan matanya menerawang. Seolah memikirkan sesuatu. Ethan ... dia bertanya padamu tentang masa laluya sebagai Jonas. Dia sama sekali tidak ingat tentang identitasnya di masa silam dan ingin mengetahuinya. Fahira menyembunyikan masa silam Ethan. Ada apa?
Satu persatu pertanyaan muncul di dalam hati Lucas dan kemudian sebuah ide muncul di kepalanya. “Aku memiliki rencana,” ujarnya tiba-tiba. Membuat Gita yang duduk di dekatnya terkesiap.
“Kamu membuatku kaget saja.” Gita mengusap dadanya.
“Ya ampun, suaraku kan pelan sekali,” sahut Lucas.
“Ada apa? Rencana apa?” tanya Gita masih dengan suara yang amat lirih.
“Aku bisa mempergunakan keingintahuan Ethan tentang jati dirinya di masa silam agar dia berada di pihak kita,” jawab Lucas tak kalah pelannya. Lalu tersenyum lebar.
Kedua alis Gita beradu. Menyimak dan menelaah kata-kata Lucas padanya.
“Ethan memiliki kekuatan super. Bagaimana jika dia membelot dari koloni musuh dan bersekutu dengan kita? Bukankah itu bagus?” lanjutnya sambil berbisik di telinga Gita.
Gita menoleh dan menatap wajah Lucas yang hanya beberapa senti dari mukanya. “Kau ingin dia bergabung dengan kita?” Ia tidak percaya dengan ide Lucas itu.