“Sst ... Pelankan suaramu!” pekik Lucas lirih. “Dia bisa mendengarkan kita.”
Gita segera menutup mulutnya. “Suaraku sudah pelan ini ....”
“Pelankan lagi.”
Wajah Gita sedikit masam. “Ya, ya ... Aku akan bersuara lebih pelan lagi hingga cicak pun tidak mendengar.”
“Aku serius Gita,” kata Lucas. “Ethan itu bisa mendengar lebih seksama dari pada manusia biasa.”
“Lalu kita akan membahas tentangnya sekarang di sini? Bukankah resiko jika didengar?”
Lucas mengandah ke atas. Menatap langit-langit yang dicor oleh beton. “Ya, nanti saja. Kita akan membahasnya jika sudah keluar dari sini, atau mereka sudah pergi.”
“Tapi tampaknya mereka tidak akan pergi. Mereka pasti akan menunggu kita sampai lumutan,” sahut Gita.
“Biarkan saja mereka begitu. Itu urusan mereka. Biarkan mereka menunggu kita sampai bosan atau sampai lumutan sekali pun.” Lucas terlihat tidak peduli. “Toh kita memiliki makanan yang melimpah untuk bertahan.”
***
Tepat di atas benteng rahasia, David, Ethan, Fahira dan kloni-kloninya membangun tenda darurat. Tiga prajurit yang baru datang bersama David memang membawa atas multifungsi. Jika di bagian sisinya di tarik tali yang sedikit menjuntai, maka parasut lebar mengembang dan segera membentuk tenda besar.
Dua tenda berwarna merah dan hijau sudah terbentuk. David memerintahkan para prajurit untuk berteduh di tenda hijau sedangkan ia, Fahira berada di tenda merah. Sedangkan Ethan diminta untuk menunggu di luar di dekat tenda.
Mendengar keputusan yang tak adil, dan terkesan menjadikan Ethan seperti anjing penjaga dan pengintai membuat Fahira kesal. “David, kenapa kamu memutuskan hal yang tak adil? Memang Ethan seperti anjing penjaga? Dia juga merasa kepanasan dengan teriknya matahari,” ucapnya sembari dengan sepasang mata yang menyipit.
“Bukankah Ethan memiliki kekuatan super?”
Fahira mengangguk dengan raut muka yang masih masam.
“Lalu? Apa salahku? Benar kesimpulan ku kan jika Ethan memang tidak sama seperti manusia pada umumnya. Dia memiliki kelebihan. Maka duduk di bawah sinar matahari terik pun dia tidak akan apa-apa.” David acuh dan kemudian memalingkan mukanya lalu berjalan masuk ke dalam tenda berwarna merah.
Fahira mendengus kesal. Ia mendekati Ethan yang berdiri di satu titik. “Ethan ....”
Ethan menatap lurus tanah yang dipijaknya. Mimik mukanya sangat serius. “Sst ... Aku sedang berusaha menguping pembicaraan Lucas dan Gita. Mereka berada tepat di bawah sini. Mereka tidak akan keluar dan membiarkan kita menunggu sampai lumutan,” jawabnya tanpa menoleh. “Apa itu membiarkan kita menunggu sampai lumutan. Maksud mereka apa?” sambungnya bertanya.
Ethan yang tidak ingat sama sekali tentang masa silamnya. Dan hidup dengan indentitas baru, minim kosakata karena tidak banyak yang dia ingat dan dipelajarinya. Hanya kekuatan gabungan harimau dan serigala, juga insting yang kuat yang diketahuinya.
Fahira mendesah kesal sembari mengerutkan keningnya. “Mereka membiarkan kita menunggu sampai letih dan terbakar matahari di sini.”
“Oh, jadi begitu rupanya. Mereka begitu karena memiliki persediaan makanan yang melimpah. Aku dapat mencium aroma makanan.”
Fahira tertegun takjub. “Jadi di bawah tanah sini, benar-benar sebuah benteng bawah tanah yang luar biasa? Sepertinya Ethan membangun benteng bawah tanahnya secara detail dan juga luar biasa hebat.”
“Entah sehebat apa ruangan bawah tanah itu, aku tidak bisa melihatnya. Netraku tidak sehebat itu ... tidak bisa menembus benda benda untuk melihatnya.”
“Tanah yang kau pijak ini ... Apa pintu masuk dan keluarnya?” Fahira ingin tahu.
“Entahlah ... Aku tidak yakin. Tapi memang di atas permukaan ini terasa berbeda.”
“Kenapa tidak kita bom saja pintu masuknya. Pintu akan terbuka.”
“Kemungkinan bentengnya akan runtuh.”
“Biarkan saja bentengnya runtuh. Kita bisa masuk dan segera kita cari Lucas dan Gita di dalam puing-puing reruntuhan. Lalu kita bisa kembali ke markas. Tidak memakan banyak waktu,” kata Fahira memberi saran.
Ethan menoleh dan menatap Fahira tajam. Terlihat raut muka tak suka dengan saran Fahira. “Kita memasang bom di hutan. Maka sama saja kita akan merusak habitat hewan lain.”
Fahira merapatkan bibirnya. Ia lupa jika Ethan memiliki jiwa kepedulian tinggi terhadap binatang dan tumbuhan. “Maaf. Aku berpikir ceroboh,” jawabnya menyesal. “Jadi kita menunggu mereka di sini saja?”
“Mereka pasti akan keluar. Apa lagi jika berita Profesor Ismunandar mengalami kesulitan,” jawab Ethan dengan seulas senyuman lebar.
“Profesor Ismunandar?” tanya Fahira terkesiap. ‘Bukankah dia rival Mr. Mun?’ sambungnya di dalam hati.
“Beberapa kali aku mendengar nama Profesor Ismunandar diucapkan oleh Lucas dan Gita. Lama-lama aku mengerti ....” Kalimat Ethan terhenti. Seolah mengambang karena ia memikirkan sesuatu.
“Seolah apa?”
“Seolah mereka memiliki satu tujuan yang sama. Bertemu dengan profesor Ismunandar,” jawab Ethan. “Jadi menurutku ... jika kita bisa memancing mereka Gita dan Lucas keluar, maka kita bisa menangkap mereka. Tidak perlu membuang waktu.”
“Ide yang bagus. Apa kita lakukan sekarang? Biar aku bicarakan pada David.” Fahira hendak membalik badan dan berjalan menghampiri tenda merah.
Ethan menarik tangan Fahira. “Hei, tunggu ... Jangan dulu. Kita laksanakan rencana itu malam hari saja,” katanya sembari mendongak ke atas. Menatap langit biru yang cerah dan matahari yang tinggi dengan sinarnya yang amat terik. “Jika siang hari kekuatanku melemah. Malam hari kekuatanku lebih baik. Bahkan kekuatanku bisa sampai tiga kali lipat dari pada sebelumnya jika bulan purnama sempurna.”
Fahira terdiam sebentar. Membalas tatapan Ethan padanya. “Oke ... Kita tunggu hingga malam hari.”
***
“Apa ini sudah malam?” tanya Gita yang tak bisa membedakan antara siang dan malam karena di dalam benteng rahasia suasana sama saja.
Lucas melirik ke arah arloji di tangannya. “Ya, ini sudah malam.”
“Jam berapa sekarang?”
“Sembilan malam.”
Gita turun dari ranjang tidur sembari merentangkan kedua tangannya ke samping. Setelah makan tadi, ia tidur sampai saat ini. Dan saat terbangun, lagi-lagi perutnya bersuara. “Aku makan ya ...,” ucapnya pada Lucas.
“Makan saja yang banyak. Aku kan sudah bilang, mumpung kita di sini, makanlah yang banyak.”
“Oke.” Gita segera mendekat ke arah lemari es. Membuka kedua pintu besi itu. Kabut dingin segera menghembus wajahnya. Udara dingin dari dalam lemari es itu lebih dingin dari pada di kutub utara. Dengan cepat ia mengambil nasi dan lauk ayam beku. Makanan ini tinggal dipanaskan di dalam microwave beku, dan setelah itu siap di santap.
Sudut matanya menangkap botol kaca kecil yang ditaruh Lucas di bagian dalam dan paling ujung di dalam lemari es. Darahnya disimpan Lucas secara hati-hati.
Kerongkongannya menjadi kering ketika membayangkan ternyata keselamatan dunia berada di dalam darahnya.
“Jika sudah menemukan apa menu yang akan dimakan, segera tutup kembali lemari esnya,” tegur Lucas.
Gita segera menutup pintu lemari es dan segera menaruh makanan yang tadi sudah dipilihnya ke dalam microwave. Dan dua menit kemudian, dengan lahap ia menyantapnya. “Kamu tidak makan?”
“Aku sudah makan lagi tadi saat kau tidur,” jawab Lucas sambil tetap sibuk mencari sinyal pada radio yang dipegangnya.
“Kau sedang apa?”
“Mencari informasi. Apa yang terjadi di Kota B? Sebelum kita menuju ke sana, lebih baik kita harus mencari tahu apa yang telah terjadi di sana. Menyusun rencana terlebih dahulu sebelum pergi adalah pilihan yang tepat."