Berita tipuan

1146 Kata
Fahira sudah memberitahukan pada David atas rencana Ethan yang memancing Gita dan Lucas untuk keluar dari dalam benteng rahasia. Mereka harus membuat berita bohong yang menyatakan p*********n pada Profersor Ismunadar. Jika Lucas dan Gita mendengar berita palsu itu, pasti mereka akan segera keluar dari benteng dan segera menuju ke kediaman Profesor Ismunadar. David terdiam sesaat ketika mendengarkan rencana yang disarankan oleh Fahira. Dagunya sedikit ke atas dan garis rahangnya mengeras. “Ya, benar ... Mereka pasti akan keluar jika mendengar berita palsu itu.” “Briliant kan ide dari Ethan? Dia benar ciptaanku yang paling luar biasa.” Fahira tersenyum bangga. “Tapi bagaimana kita menyampaikan berita palsu itu kepada Ethan dan Gita?” “Dengan melalui siaran radio,” jawab Ethan menyela. “Kau bisa meminta pada bagian markas untuk membuat berita bohong tentang p*********n Profesor Ismunandar di rumahnya.” “Apa kau yakin Lucas dan Gita di bawah sana memiliki radio?” David sedikit ragu. “Mereka pasti memiliki radio untuk mengetahui keadaan dunia luar. Lucas bukan orang bodoh. Dia pasti seorang pengamat dan sebelum melakukan apa-apa dipikirkan secara masak,” jawab Ethan. “Betul apa yang dikatakan Ethan, David. Lucas pasti memiliki radio di dalam bentengnya. Dia pasti mendapatkan informasi yang terjadi di luaran sana melalui jaringan udara.” David terdiam sebentar dan berpikir sejenak. “Jangan terlalu lama berpikir. Kita harus mengambil keputusan secara cepat dan tepat,” kata Fahira mendesak. “Jika tim siaran melakukan berita bohong, maka bukan mereka saja yang akan dikenakan saksi oleh negara. Tapi semuanya akan ditindak. Termasuk kita. Karena kita sama-sama bekerja di bawah naungan Mr. Mun. Dan pastinya Mr. Mun akan marah besar kepadaku yang memerintahkan untuk menyiarkan berita bohong,” ucap David tidak setuju dengan saran Ethan. “Setelah tiga puluh menit berita bohong itu mengudara, kau bisa segera meminta maaf pada publik. Bilang saja jika informasi yang didapatkan tidak kredibel.” Fahira menambahi. “Ini adalah cara satu-satunya agar Lucas dan Gita keluar dari bentengnya. Aku juga ingin melihat apa saja isi dari benteng kokoh yang dibangun oleh Lucas ini. Apa kamu tidak penasaran seperti aku?” sambungnya. “Lihat David ... Benteng bawah tanah. Kuat dan tidak terlihat. Bahkan kita tidak tahu di mana pintu masuknya. Semua permukaan rata dan sama. Terlihat seperti memang tanah merah pada umumnya.” Hening. David tidak langsung menjawab. “David cepat. Hari sudah malam,” kata Fahira sembari duduk melipat kedua kakinya. "Kekuatan Ethan berlipat ganda ketika mendapatkan cahaya bulan." David memandangi Fahira dan Ethan bergantian. “Sepertinya memang itu adalah satu-satunya rencana yang bisa diambil.” “Maksudmu? Membuat berita bohong melalui siaran radio yang akan disuarakan oleh tim komunikasi kita yang ada di markas?” Fahira ingin penjelasan. David mengambil alat komunikasi miliknya yang langsung terhubung dengan markas besar. Ia menekan angka 9 yang artinya, panggilannya segera dihubungkan ke bagian tim komunikasi dan informasi. *** “Memang strategi apa yang harus kita susun setelah mengetahui keadaan Kota B?” tanya Gita. “Sejak awal kita selalu memasang strategi. Tapi kenapa kita tetap tidak bisa lancar pergi menemui Profesor Ismunandar. Padahal kata ayahku, hanya dia yang tahu bagaimana mengolah obat pandemi ini untuk manusia seluruh dunia.” “Profesor Ismunandar dan ayahmu memang bersahabat. Tidak diragukan lagi mereka pernah melakukan penelitian bersama. Jadi bisa dipastikan memang Profesor Ismunandar memang bisa mengolah darahmu menjadi obat pandemi ini,” jawab Lucas sambil masih tetap mencari-cari sinyal radio yang pas. Beberapa gelombang siaran radio yang tertangkap hanya memutar lagu-lagu yang membuat mereka ingin tidur lagi dan lagi. “Kamu mencari apa sih? Sejak tadi putaran gelombang radio di puter-puter terus ...,” ujar Gita berkomentar. “Sudah aku bilang, aku sedang menangkap siaran yang menunjukkan keadaan di luar sana. Tepatnya di Kota B tempat Profesor Ismunandar tinggal.” Akhirnya Lucas menemukan siaran radio yang diinginkan. Seorang narasumber menjelaskan tentang keadaan yang terjadi di Kota B. Di sana masih aman. Orang-orang yang divaksin dan bermutasi menjadi kanibal telah diasingkan. Namun sayangnya beberapa orang misterius telah menyerang seorang profesor yang tinggal di sana. Gita terkesiap mendengarnya. Lucas pun demikian. “Jangan-jangan yang dimaksud oleh narasumber itu adalah profesor Ismunandar!” seru Gita menebak. Lucas tidak menimpali apa yang dikatakan oleh Gita. Ia tetap menyimak sampai narasumber menjelaskan kejadian secara rinci. “Sekitar lima orang menyerang seorang profesor Ismunandar. Entah apa yang diinginkan oleh para penjahat itu. Mereka menyerang dan menganiaya Profesor Ismunandar hingga beliau mengalami luka-luka. Namun sayangnya kelima bandit itu pergi melarikan diri dan belum ditangkap hingga detik ini.” Begitulah yang dijelaskan oleh narasumber yang berbicara di radio. “Astaga! Mungkin mereka akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan kepada ayahku,” kata Gita cemas. “Pelankan suaramu, Gita!” seru Lucas lirih. “Sudah aku bilang berulang kali, telinga Ethan itu sangat tajam. Bisa saja dia menguping apa yang kita bicarakan di sini.” Gita segera menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Lalu bersandar di sandaran kursi dengan raut muka sayu dan lesu. “Aku hanya mencemaskan Profesor Ismunandar,” katanya lemas. Kini suaranya pelan seperti berbisik-bisik. “Orang-orang itu siapa ya ... Mereka pasti orang-orang yang mengincar data yang dimiliki profesor Ismunandar,” ujar Lucas lirih. Gita mengendikkan bahunya. “Entahlah ... Aku juga tidak tahu. Tapi aku selalu berpikir, orang yang ingin menangkapmu, menculik Laura, putrimu, membunuh ayahku adalah orang-orang yang sama. Dalangnya sama.” “Mungkin yang menganiaya profesor Ismunandar juga orang yang sama, Gita ...,” timpal Lucas. “Kan tadi aku bilang apa? Aku bilang, dalangnya sama.” “Tapi bagaimana jika musuh kita ternyata bukan hanya satu orang? Ternyata banyak orang yang ingin memanfaatkan kondisi pandemi ini untuk kepentingan semata?” Gita menggaruk kepalanya. Kepalanya semakin pusing memikirkan hal berat. “Sekarang yang penting kita harus keluar dari sini dan menuju ke rumah Profesor Ismunandar. Jangan sampai kita terlambat menyelamatkannya.” Lucas mengatupkan bibirnya. Termenung sesaat. Ia setuju dengan saran dari Gita. “Ya, kita harus keluar dari sini. Rencana untuk tetap tinggal di benteng selama tiga atau empat hari kita batalkan,” ucapnya sembari berdiri dan memasukan beberapa barang-barang penting ke dalam tas. Seperti senjata tajam, pisau lipat, bekal makanan, senter dan radio. “Kau juga rapikan barang-barangmu, Gita. Kita akan pergi sekarang.” Gita menuruti perintah. Ia memasukkan barang-barangnya kembali ke dalam tas. “Kita keluar sekarang? Bukannya Ethan, dan pasukan musuh sedang berjaga di atas kita, menunggu kita keluar?” Lucas mengambil satu bola berwarna hitam. Seperti granat namun bentuknya tidak bergerigi seperti nanas. Benda yang dipegang Lucas itu seperti bola tenis. “Saat aku membuka pintu, aku akan melempar granat asap air mata ini ke arah mereka. Sementara pandangan mereka terbatas karena kabut asap dan mata mereka pasti merasakan perih yang luar biasa. Lalu kita bisa mempergunakan kesempatan itu untuk kabur. Kita harus menuju Kota B malam ini juga,” jawabnya tegas penuh keyakinan. “Kau benar, jangan sampai kita terlambat menyelamatkan profesor Ismunandar.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN