Ingatlah aku

1173 Kata
“Apa kamu sudah siap?” tanya Lucas pada Gita. Gita menganggukkan kepalanya. “Aku siap!” serunya. Mereka berdua sudah memasang wajah serius. “Satu ... dua ... tiga!” Lucas memberi aba-aba pada Gita dan kemudian dengan penuh keyakinan segera melangkah menaiki anak-anak tangga, lalu mendorong pintu yang menyerupai tanah. Dengan gerakan secepat kilat, ia melempar tiga bola asap. Bola asap yang seperti granat itu menggelinding cepat ke arah berlawanan. Lalu seketika dalam hitungan beberapa detik, bola asap tersebut segera mengeluarkan asap. Ethan, David dan tujuh orang prajurit yang berdiri berjaga di empat sudut kini tak bisa berkutik. Kabut asap membumbung tinggi dan membuat mata mereka terasa perih. Sebelumnya Ethan sadar, jika Lucas dan Gita pasti akan keluar dari benteng rahasia bawah tanah. Namun ia tidak menyangka jika Lucas membuat rencana seperti melempar bola asal dan membuat jarak pandang mereka terganggu. Ia sungguh terkesiap dengan perlawanan yang mendadak ini. Tidak memperhitungkan jika Lucas memiliki beberapa senjata pembelaan diri untuk mempertahankan diri. Asap mulai mengepul menjadi kabut yang amat perih. Lucas dan Gita yang sudah mengenakan alat perlindungan diri seperti masker penutup wajah dengan oksigen agar mereka tidak menghirup asap yang menyengat, berlari meninggalkan benteng menuju ke sisi jalan. Lucas sudah memperhitungkan hal ini sebelumnya. Mereka harus berlari secepat kilat karena kabut asap kemungkinan akan cepat mereda, “Semuanya berjaga!” teriakan David menggelegar. “Jangan sampai Lucas dan Gita kabur!” Suara teriakan David itu terdengar hingga ke telinga Lucas. Ia tersenyum sinis sembari berlari. Orang-orang itu sudah kehilanganku, batinnya. Karena terlalu fokus berlari seorang diri, Lucas sampai melupakan jika Gita masih tertinggal di belakang. Ia menoleh. Namun Gita tak lagi terlihat. “Astaga di mana dia!” Seketika langkah kaki Lucas terhenti. Ia kembali lagi ke belakang dan mencari. ** Gita terengah-engah. Larinya sudah sangat kencang. Namun ia masih tertinggal oleh Lucas yang sudah sangat jauh di depan. Sedangkan beberapa meter di belakangnya, Ethan yang jika malam hari memiliki kekuatan yang amat besar, mulai menyadari Lucas dan Gita sudah melarikan diri, segera berlari ke arah hidungnya mengendus aroma badan Gita dan darahnya. Seulas senyuman tipis terhias di wajahnya. Ia pun segera berlari mengejar. Gita mendengar derap kaki seseorang yang menuju kencang ke arahnya. Jantungnya berdebar hebat. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang mengejarnya. Dan ternyata benar saja kan, Ethan mengejarnya. “Aaaa!” Teriakan Gita membuat Lucas panik. Ia semakin berlari berbalik arah dari pada sebelumnya. Hinga akhirnya netranya melihat bayangan Gita yang berlari menuju ke arahnya sembari melambaikan tangan. “Lucas! Di belakangku!” teriak Gita. Lucas sadar, pasti ada yang mengejar di belakang mereka. Lucas mengambil batu yang ada di pinggir jalan. Ia akan melempar batu berukuran sedang itu ke arah Ethan. Gita berada di tengah-tengah, antara Ethan dan Gita. Ethan berlari menggapai Gita. Tangan kanannya terjulur ke depan dan akan menarik kerah baju Gita. Namun untung saja Gita yang tak berhenti berlari dan berputus asa semakin melebarkan langkahnya. “Aaaa!” teriak Gita sekali lagi ketika tangan Ethan akan menarik bajunya dari belakang. Ethan semakin mempercepat larinya. Ia merasa harus menang. Apa lagi hanya menangkap Gita tanpa perlindungan Lucas. Tangan kanan Ethan nyaris menarik kerah baju Ethan. Namun ia tergelincir. Lucas segera menarik tangan kiri Gita yang menggapai-gapai ke arahnya. Gita meraih tangan Lucas. Ia menggenggamnya erat dan kemudian menariknya hingga kini posisi Gita berada di belakangnya. Sembari membiarkan dirinya menjadi temeng, Lucas mengarahkan tendangan kakinya ke d**a Ethan. “Braaaak!” Ethan tersungkur. Mereka sama-sama kuat. Melihat Ethan tersungkur, Lucas justru tidak mau membalasnya. Ia memilih melarikan diri. “Gita, naik ke punggungku!” serunya sembari berjongkok dan menawarkan punggung lebarnya pada Gita. Tak banyak bicara lagi, Gita segera mendekap punggung Lucas yang selalu terasa hangat. Ia melingkarkan tangannya di bahu Lucas. Ethan mengepalkan kedua tangannya ketika melihat Lucas berlari kencang dan meninggalkannya. “Siaaal!” pekiknya kesal dan kemudian mengejar. “Untung saja kekuatanku malam ini dua kali lipat seperti sebelum-sebelumnya,” katanya pada diri sendiri. “Lucas ... aku akan mengalahkan mu!” ** “Lari yang kencang!” teriak Gita pada Lucas. “Ethan masih ada di belakang kita.” “Apa?” Lucas tidak percaya. Ia merasa larinya sudah amat sangat cepat. Tapi kenapa Ethan masih bisa mengejar. “Dia ada di mana?” “Pokoknya tidak jauh di belakang kita!” teriak Gita memberitahu. “Siaaal!” Lucas semakin geram. “Lucas! Lucas! Ethan semakin dekat!” Gita mulai panik ketika jarak Ethan hanya tiga meter di belakang mereka. “Larinya yang cepat!” “Aku sudah cepat! Bahkan aku sudah berlari sangat kencang. Kenapa dia bisa mengejar kita ya?” tanya Lucas merasa aneh. Gita juga heran. Biasanya cepatnya Lucas berlari tidak tertandingi oleh siapa pun. Tapi kini Ethan jelas-jelas ada di belakangnya. Tangan Ethan sudah bisa meraih rambut Gita yang dikuncir kuda. Karena tarikan tangan Ethan pada rambutnya. Membuatnya jatuh terguling dan terjerembab. Kepalanya membentur tanah dan bebatuan. Pelipisnya langsung lebam. Lucas tahu jika Gita jatuh dari gendongannya. Ia menghentikan langkah kakinya dan siap melawan Ethan demi menyelamatkan Gita. Padahal Ethan menginginkan Gita dan juga Lucas. Misi yang diemban olehnya adalah menangkap Gita dan Lucas hidup-hidup dan akan dijadikan penelitian. Lucas menendang Ethan. Tubuhnya seraya memutar seperti angin topan. Menendang dadaa Ethan berkali-kali hingga dia tersungkur tak jauh dari Gita. Lucas mengulurkan tangan pada Gita. Gita akan meraih tangan itu dan akan melanjutkan pelarian diri. Tapi ternyata Ethan belum juga menyerah. Ia kembali menendang Lucas di bagian perut. Lalu menghantam mukanya dengan kepalan tangan. Darah mengucur dari hidung Lucas. Ia bisa merasakan jika malam ini Ethan memiliki tenaga yang sangat besar sehingga bisa memukulnya hingga berdarah. Melihat Lucas berdarah. Gita segera membantu. Ia mencari batu berukuran besar dan mengarahkannya ke kepala Ethan. “Baaak!” Gita sudah memukul kepala Ethan dengan batu. Tapi anehnya, Ethan masih tetap kuat dan berdiri tegap. Seakan tidak merasakan sakit sama sekali. Ethan memutar badan. Sepasang matanya tajam mengkilat menatap Gita. Gita takut. Ia berjalan mundur. Ethan sudah diliputi amarah. Kesabarannya telah habis. Ia tidak berniat untuk menyakiti Gita maupun Lucas. Ia hanya ingin menjalankan tugas. Tapi yang didapatkan olehnya justru penganiayaan. Gita menggelengkan kepalanya pelan. Ia tahu apa yang dipikirkan oleh Ethan. Pasti Ethan akan membalas tindakan kasarnya barusan. Netranya melirik ke arah Lucas. Namun Lucas terlihat kesakitan karena dipukuli oleh Ethan. “Kenapa kamu memukulku? Apa aku menyakitimu? Apa aku melukaimu dengan tanganku sendiri?” Ethan bertanya dengan raut muka geram. Kerongkongan Gita terasa kering. Ia sampai menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya. Langkah Ethan mendekat bagai bayangan. Kedua tangannya langsung terjulur dan mencekik Gita. “Kalian ... sungguh menyebalkan ...!” pekiknya lirih, tegas dan dengan raut muka bringas. Diiringi kekuatannya yang berlipat ganda, emosi Ethan pun semakin besar. Kekuatan sinar rembulan yang menyorot ke arahnya, melipat gandakan energi dan kekuatan Ethan. Namun juga membuat emosinya tidak stabil. Nafsuu liar binatang buasnya semakin liar. “Pa-pak ... Jo-Jonas ....” Gita memanggil nama asli Ethan dengan susah payah. Cengkeraman kedua tangan Ethan di batang lehernya membuatnya kesulitan menghirup oksigen dan juga susah bicara. “Pa-Pak ... ini aku ....”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN