“Pak Jonas ... Ini aku Gita ....”
Netra Gita yang mulai bersinar sayu karena kekurangan oksigen itu membuat hati Ethan bimbang. Seketika sekelebat ingatan masa silam membayanginya. Sebuah gedung sekolah SMA Swasta yang sangat besar dan megah.
Lalu ruangan-ruangan besar dan juga siswa-siswi yang menyapanya ramah. Dan juga seorang wanita yang memberikan bekal makan siang padanya. Selembar sapu tangan berwarna pink yang membuatnya tertawa di kala itu.
Gita sudah tidak bisa bertahan karena tak mendapatkan oksigen untuk bernafas.
Untung saja Lucas mulai bangkit dari tumbangnya. Ia segera berdiri. “Ethan!” teriaknya sembari akan membanting tubuh gagah itu seperti gerakan smack down.
Namun belum juga Lucas melakukannya, Ethan sudah melepaskan kedua tangannya yang mencekik leher Gita.
Gita segera batuk-batuk. Ia pun segera di peluk oleh Lucas.
“Pak Jonas ... Siapa?” Ethan bertanya lirih. “Kenapa familiar ...? Aku melihat bayangan siswa-siswi dan juga gedung sekolah yang tinggi. Gedung dengan cat berwarna cream muda dan juga ....” Ia ingin memberitahu Gita tentang penglihatannya yang melihat seorang wanita memberikan bekal padanya.
Namun kalimatnya itu segera terpenggal karena Gita buru-buru menyahut, “Apa yang kamu lihat di benakmu itu pasti sekolahku. Kau pasti Pak Jonas, guru Biologi di masa sekolah SMA,” ujarnya lugas.
Ethan berjalan mundur. Kini fokusnya terpecah. “Aku memiliki masa lalu? Apa kau tahu siapa keluargaku? Tolong beritahu aku ....” Sikap liar dan beringasnya kini berubah menjadi lembut. Sinar bola matanya menampakkan keputusasaan. “Tolong aku ... Aku mohon ... beritahu siapa aku? Aku kehilangan identitas diri.”
“Yang aku tahu namamu adalah Jonas. Kau adalah guru Biologi favorit di sekolah,” jawab Gita.
“Apa kau bisa membantuku?”
“Membantumu?” Kedua alis Gita bertaut.
“Tolong bantu aku mencari keluargaku. Tolong bantu ingatkan aku tentang masa laluku. Siapa aku ... Nama panjangku, keluargaku, teman-temanku. Semua orang yang berkaitan denganku ....”
“Ethaaan!” Suara teriakan Fahira terdengar nyaring dari kejauhan.
Lucas menggenggam tangan Gita dan menyuruhnya untuk melingkarkan kedua tangannya di bahu. “Lebih baik kau tanyakan pada kawan-kawan barumu saja, Ethan .... Maaf, kita harus pergi.”
“Hei, tunggu!” Ethan memegangi lengan Gita.
“Biarkan kami pergi,” pinta Gita lirih. “Jika kami tertangkap, kau tidak akan bisa menanyakan apa pun padaku. Aku juga tidak bisa membantumu menguak siapa dirimu sebenarnya.”
Ethan melepaskan cengkeraman tangannya di lengan Gita.
“Aku akan membantumu untuk mendapatkan jati dirimu sendiri jika kita bertemu lagi. Namun tidak dalam keadaan seperti ini,” kata Gita sekali lagi.
“Kamu harus membantuku ...,” pinta Ethan lagi. Kini tatapan matanya seperti rengekan anak kecil.
“Tanyakan saja kepada temab-temanmu itu, Ethan. Fahira dan juga pria bermata biru yang terlihat angkuh itu,” ucap Lucas menyela.
“Namamu Jonas, dan kamu adalah seorang guru yang mengajar di salah satu SMA Swasta yang ada di kota J,” ujar Gita untuk kesekian kalinya. Netranya menangkap tanda lahir yang ada di leher Ethan. Tanda lahir itu sama dengan tanda lahir yang dimiliki pak Jonas.
Pak Jonas adalah idola siswi-siswi. Dia adalah guru muda terfavorit. Karena itu ketika jam pelajaran, Gita kerap memperhatikan penampilan Pak Jonas.
“Tanda lahir bewarna kecokelatan di lehermu itu ... Sama persis dengan milik Pak Jonas. Aku sangat yakin kamu adalah Pak Jonas, mantan guru Biologiku saat SMA.”
Ethan meraba lehernya. Tanda yang menempel di lehernya itu adalah satu-satunya jati diri dan identitas yang menghubungkannya dengan masa silam.
“Ethan!”
“Ethan! Apa kau sudah menangkapnya?” Suara David dan Fahira terdegar. Bahkan derap-derap kaki orang-orang yang berlari mendekat juga semakin jelas tertangkap indera pendengaran. Namun mereka tidak melihat Ethan sedang berbicara dengan Lucas dan Gita karena kabut tebal yang menghalangi. Dinginnya udara malam dan embun kabut waktu yang mulai mendekati dini hari membuat jarak pandang terbatas dan tubuh mulai merasakan dingin.
“Apa kau ingin bergabung dengan kami?” Lucas menawarkan. “Kau bisa meninggalkan mereka, Ethan ... Orang-orang itu membohongimu, menyembunyikan identitasmu. Mereka hanya memanfaatkanmu saja! Kamu bagai binatang peliharaan.”
Ethan terdiam. Ia ingin bergabung dan mengikuti Lucas dan Gita karena ingin tahu lebih jelas tentang jati dirinya, tapi masih ragu.
“Bagaimana?” tanya Lucas. “Apa kamu mau bergabung dengan kami? Kami menawarkan persahabatan dan kerja sama. Bukannya sebagai tawanan,” sambungnya sembari menoleh ke belakang. Memastikan apa Fahira, David dan para prajurit itu sudah semakin dekat.
Ethan masih ragu dan lambat menjawab. Membuat Lucas tidak bisa menunggu jawabannya lebih lama lagi.
“Kami harus pergi,” ujar Lucas.
“Sampai jumpa Pak Jonas.” Gita mengucapkan kalimat perpisahan. Ia melambaikan tangan sambil digendong Lucas di belakang punggungnya. Tangannya melambai-lambai.
Ethan hanya memandangi kepergian Lucas dan Gita yang semakin lama semakin menjauh dan tidak terlihat.
“Ethan!” pekik Fahira yang baru tiba. Ia mengatur nafasnya. “Di mana Lucas dan Gita? Apa kau menangkapnya?”
Ethan diam. Ia seperti seseorang yang sedang dilanda kebimbangan dan rasa gamang.
“Hei Ethan! Di mana Lucas dan Gita?! Di mana mereka?” Kini David yang bersuara dengan nada bicara lebih tinggi. Tangan kanannya terayun ke atas dan menepak bahu Ethan sangat keras.
Untung saja Ethan tegap dan gagah. Hentakan tangan keras menepuk bahunya itu tidak membuatnya terhuyung jatuh. “Mereka pergi,” jawabnya tanpa dosa.
“Apa?!” David dan Fahira berteriak nyaris bersamaan.
“Mereka pergi?” tanya David. “Kau kalah dari mereka?”
“Bukannya kalah. Tapi aku melepaskan mereka,” jawab Ethan santai.
Sepasang mata Fahira membulat. “Maksudmu?” Ia tidak mengerti kenapa Ethan melepaskan Gita dan Lucas padahal tinggal selangkah lagi dua target yang sejak beberapa pekan ini di cari akan tertangkap.
Melihat Ethan hanya diam saja, membuat kesabaran David terkikis. Ia yang memang mudah tersulut emosi, menarik ujung kerah baju Ethan. “Hei, jawab! Kenapa kau melepaskan mereka? Kenapa?!”
“Karena tiba-tiba ingatan masa laluku tiba-tiba muncul begitu saja!” jawab Ethan dengan suara yang tak kalah nyaring. “Aku tiba-tiba merasa mengenal Gita. Sebuah gedung sekolah. Murid-murid yang memanggilku Pak Guru,” sambungnya sembari menatap Fahira dan David. “Aku merasa apa yang dikatakan oleh Gita benar. Aku adalah Jonas, seorang guru Biologi yang pernah mengajar di sekolah SMA-nya.”
“Karena ingatan yang tiba-tiba muncul itu, lalu kau melepaskannya?” tanya David geram.
“Iya!”
“Kenapa?! Kenapa kamu melepaskan mereka? Misi kita hanya satu. Menangkap Lucas dan Gita hidup-hidup. Jika berhasil, kita segera pulang dari hutan sialan ini!”
“Karena aku mulai gamang siapa musuhku sebenarnya! Mereka atau kalian!”
Tatapan tajam Ethan seraya menusuk relung hati Fahira.
David menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia menepuk bahu Fahira pelan. “Ini urusanmu, kau bisa jelaskan pada Ethan. Dan juga jelaskan kepada Tuan Ervan dan juga Mr. Mun kenapa ciptaanmu, Ethan ... tiba-tiba bisa mengingat masa lalunya dan kemudian gagal dalam mengemban tugas,” ujarnya berbisik dan kemudian pergi. “Para prajurit! Ayo kita pergi dari sini! Misi benar-benar gagal!”
Kini hanya tinggal Fahira dan Ethan saja di dalam keheningan malam dan juga kabut tebal yang terasa dingin. Mereka saling menatap satu sama lain.
“Apa kamu mau mengatakan sesuatu padaku? Fahira, kau adalah satu-satunya orang yang aku percayai di Markas. Jangan sampai ternyata jika kau juga menipu dan memanipulasi aku,” ujar Ethan tegas.