Sampai ke Kota tempat tinggal Profesor Ismunandar

1105 Kata
Akhirnya Lucas dan Gita bisa melarikan diri hingga masuk ke dalam perbatasan kota. Namun anehnya kota B yang mereka masuki tidak seperti yang mereka bayangkan. Tidak seperti apa yang mereka dengar seperti yang ada di radio. Ternyata masuk ke dalam kota B sangat ketat. Beberapa orang berseragam loreng hijau berjaga di depan perbatasan kota dengan karung-karung tanah bertumpuk dan juga kawat besi berduri. “Kenapa mereka berjaga di sana ya?” tanya Gita yang masih sambil digendong di punggung Lucas. Lucas hanya diam karena tidak bisa menjawab pertanyaan Gita. Karena dirinya pun tidak tahu kenapa para pasukan militer menjaga di perbatasan antara kota B dan kota Jayca, atau yang biasa disingkat dengan sebutan Kota J. Padahal informasi yang mereka dengar, beberapa kota sudah aman dan bisa dikunjungi kapan pun. Sebelumnya di siaran berita radio hanya kota J yang paling parah memiliki orang-orang yang bermutasi terhadap vaksin, lalu menjadi para kanibal. Tapi nyatanya di kota B juga sama pengamanannya seperti kota-kota sebelumnya. Sangat ketat. “Hai Lucas Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Kenapa mereka berjaga di perbatasan kota? Apa mereka takut diserang oleh orang-orang yang bermutasi menjadi kanibal?” tanya Gita sekali lagi. “Mungkin mereka berjaga untuk mensterilkan kota agar tidak terkontaminasi oleh orang-orang yang terkena virus baru,” jawab Lucas sembari menurunkan Gita dari punggungnya. Ia berjalan lebih dulu ke depan mendekat. Jarak antara para penjaga berseragam militer itu masih sepuluh meter jauhnya. “Lucas, apa kau yakin kita datangi mereka?” tanya Gita cemas. “Mungkin saja mereka menganggap kita ini musuh.” Lukas menggerakkan tangannya ke belakang. Memberi isyarat pada kita agar berdiri di belakangnya. Salah satu anggota militer yang melihat kedatangan Lucas dan Gita segera melaporkan kepada kapten. Kenyang lainnya mengarahkan senapan laras panjang pada Lukas dan Gita. Mereka berpikir jika kemungkinan Lucas dan Gita terinfeksi virus Orthovirinae-18. Atau mungkin telah bermutasi menjadi kanibal. “Angkat tangan kalian ke atas!” seru para anggota militer dengan wajah garang. Lucas dan Gita segera mengangkat kedua tangan mereka seperti yang diperintahkan. “Kalian dari mana?!” “Kami dari Kota Jayca. Kami dua orang manusia sehat yang tidak terinfeksi. Juga tidak bermutasi menjadi kanibal!” jawab Lucas dengan suara nyaring. Para anggota militer, saling bertatapan. Seolah ragu apa yang dikatakan oleh Lucas. “Kapten, bagaimana ini? Apa kami membiarkan mereka masuk?” tanya salah seorang anggota militer pada kaptennya dengan menggunakan alat penghubung suara gelombang radio. “Bagaimana tampilan mereka?” tanya Kapten Randi dari markasnya. “Mereka tampak lusuh.” Kapten Zein diam. Belum bisa memastikan secara jelas. Karena kemungkinan besar dua orang tersebut terinfeksi. Virus Orthovirinae-18 tidak terlihat oleh kasat mata. Para manusia yang bermutasi menjadi kanibal pun tidak mencirikan perbedaan yang khas jika dari penampakan luar. “Tadi katamu, mereka dari Kota J?” tanya Zein memastikan. “Betul Kapten. Jadi bagaimana? Apa kita persilahkan mereka masuk ke Kota. Membuka palang perbatasan. Atau mereka kita tembak?” “Menurut informasi yang didapatkan, di Kota J semua orang sudah terinfeksi saat ini. Sebelumnya hanya dua orang yang masih bisa bertahan dan akan dievakuasi dari sana. Tapi profesor Rudi sudah keburu meninggal dan putrinya tidak ada di tempat.” “Jadi apa kami harus menembak mereka? Tapi tampaknya mereka tidak berbahaya.” “Target lima meter dalam jangkauan!” teriak salah satu personil anggota militer. “Bagaimana Kapten? Apa kami harus menembak?” tanya brigadir Randi sekali lagi. Ia masih menunggu keputusan apa yang diperintahkan. “Dua target sudah semakin dekat.” “Tanyakan nama mereka!” seru Zein. Gelitik hatinya memerintahkan untuk memastikan terlebih dahulu. “Hei sebutkan nama kalian!” teriak Randi segera. “Kami Lucas dan Gita! Biarkan kami masuk. Kami ingin bertemu profesor Ismunandar yang ada di Kota ini. Apa mereka baik-baik saja?” Lucas memberitahu dengan lantang. “Mereka Gita dan Lucas, Kapten!” Zein terkesiap. “Biarkan mereka masuk!” jawabnya cepat. “Siapkan mobil dan antarkan mereka ke markas.” Randi memberitahukan pada seluruh kawan anggotanya yang berjaga untuk menurunkan senjata. Serempak senjata yang dipegang dan diarahkan kepada Lucas dan Gita diturunkan. Lucas lega melihatnya. “Sudah aman Gita,” katanya dengan wajah cerah. Palang pintu perbatasan di angkat. Kawat berduri disingkirkan. Mereka disambut dengan baik. Gita dan Lucas melangkah melewati tumpukan karung-karung tanah dan melangkah ke dalam kota B. “Anda Gita?” Salah seorang prajurit segera bertanya. Gita menganggukkan kepalanya. “Ya, saya Gita.” “Sebutkan nama ayah anda!” “Ayahku Profesor Rudi dan kami ke mari untuk mencari profesor Ismunandar,” jawab Gita lantang. Randi menatap Gita dan Lucas bergantian. Lalu ia mulai bersuara kembali, “Ayo ikut kami!” Gita melirik ke arah Lucas. Seolah bertanya apa yakin mereka ikut dengan prajurit dengan tapi bulat berbahan seng dan berwarna loreng hijau lumut. Lucas mengangguk. “Kita ikuti saja mereka.” Sebuah mobil Jeep berwarna hijau seperti warna seragam yang prajurit kenakan sebelumnya telah berhenti untuk menjemput mereka. “Silahkan masuk. Anggota yang lain akan mengantarkan kalian,” ucap Rendi ramah namun tegas. Lucas menganggukkan kepalanya. Gita pun demikian. “Terima kasih.” “Apa kami akan diantarkan kepada Profesor Ismunandar?” tanya Gita ingin tahu dan memastikan. “Kapten kami ingin bertemu dengan kalian. Kalian akan diantarkan ke markas besar.” Gita dan Lucas saling menatap. Mendengar kata ‘markas’ seketika membuat bulu kuduk mereka meremang. Ethan, Fahira, David dan para kloninya kerap mengatakan akan membawa mereka ke markas. Hal tersebut membuat trauma tersendiri bagi mereka. “Silahkan naik ke mobil,” kata Rendi sekali lagi. “Tenang aja kalian aman.” Akhirnya Gita dan Lucas naik ke mobil Jeep tersebut. Seorang anggota yang mengenakan seragam hijau lumut loreng duduk di kursi pengemudi dan akan mengantarkan mereka ke markas yang tadi disebutkan oleh brigadir Randi. Lucas dan Gita duduk di kursi penumpang bagian belakang. Mereka saling menatap satu sama lain ketika mobil Jeep itu mulai melaju. Gita terlihat takut. Dari sinar matanya tampak keraguan dan kegelisahan. Lucas menggenggam tangan Gita erat. Bahasa tubuh Lucas membuat Gita merasa tenang. Gita menoleh dan menatap Lucas lekat. Seulas senyuman terbit di wajahnya. Tidak lama setelah itu, dalam waktu lima belas menit mereka sudah sampai di markas besar. Sebuah gedung besar tinggi yang besarnya seperti rumah sakit internasional dengan pilar kokoh berdiameter besar dan berwarna putih tulang membuat Gita dan Lucas terperangah takjub. “Silahkan turun,” ujar anggota militer yang mengemudikan Jeep. Lucas dan Gita turun. “Saya adalah kopral Arda. Saya akan mengantarkan anda pada kapten Zein! Silahkan ikut saya!” Kopral Arda membalik badan dan kemudian mengawal dan juga mengantarkan. Gita kembali melirik Lucas sambil bersuara lirih nyaris berbisik, “Siapa kapten Zein? Apa dia ada di pihak kita?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN