“Siapa Kapten Zein?”
Lucas menggeleng dan sedikit mencibirkan bibirnya ke depan, menjawab pertanyaan Gita.
“Kenapa kau terlihat santai sekali,” kata Gita dengan raut muka kesal.
“Memang apa yang harus aku lakukan? Panik? Menurutmu panik akan membantu kita keluar dari masalah?” tanya Lucas tanpa menatap Gita.
Kopral Arda yang berjalan di depan Lucas menoleh sesaat karena mendengar perbincangan antara Gita dan Lucas.
Gita segera mengatupkan bibirnya karena tidak mau terlihat banyak bicara.
“Di sini adalah ruangan Kapten Zein,” kata kopral Arda sembari membuka pintu. Ia merentangkan sebelah tangannya untuk mempersilahkan Lucas dan Gita masuk ke dalam.
Gita dan Lucas pun masuk melangkahkan kakinya ke dalam dan segera disambut oleh Kapten Zein. “Selamat datang.”
Lucas dan Gita berdiri mematung. Mereka memandangi seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun. Tubuh tinggi, tegap dan gagah. Gesper yang diikatkan di pinggangnya sangat pas dan perut ratanya itu tampak menawan. Seragam loreng hijau seperti seragam anggota lainnya membalutnya penuh wibawa.
Setelah melakukan tugasnya mengantarkan Gita dan Lucas, Arda pun segera menutup pintu dan keluar dari ruangan kembali dengan sebelumnya izin hormat pada kapten Zein.
Gita dan Lucas memandangi Kopral Arda dan Kapten Zein yang saling memberi hormat.
“Apa kau mengenal si Kapten Zein ini?” tanya Gita sekali lagi sambil berbisik. “Apa familiar mukanya?”
“Tidak,” jawab Lucas cepat. “Bagaimana denganmu. Apa kau kenal dengannya?”
Gita menggelengkan kepalanya. “Aku juga tidak.”
“Silahkan duduk,” ujar Kapten Zein mempersilahkan.
Gita dan Lucas melihat ke arah sofa dengan empat buah steater yang terbagi dua dan saling berhadap-hadapan.
“Ayo, silahkan duduk.”
Lucas dan Gita mengikuti permintaan Kapten Zein mereka duduk di sofa yang berdampingan. Lalu tidak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam. Lagi-lagi seorang pria. Namun kali ini pria bertubuh tidak terlalu tinggi ini tidak mengenakan seragam khas anggota militer dan membawa satu nampan makanan. Dua buah roti bakar dengan empat tumpuk yang tinggi dan dua gelas s**u.
“Terima kasih Nardi,” ucap Kapten Zein kepada pria yang membawakan makanan tersebut.
Pria yang dipanggil Nardi tersebut mengangguk dan tersenyum. Lalu mundur ke belakang dan kemudian keluar dari ruangan.
Netra Gita dan Lucas sama-sama mengikuti pergerakan mobilitas orang-orang yang ada di ruangan ini.
“Jadi kalian datang dari Kota Jayca?” tanya Kapten Zein meminta penjelasan.
Lucas menegakkan duduknya. Ia membalas tatapan Kapten Zein tegas ke arahnya. “Betul. Apa anda adalah anggota militer yang dikerahkan dari pemerintah?”
Kapten tidak langsung menjawab. Ia justru diam dan tersenyum simpul.
Seulas senyuman simpul yang terlihat misterius itu memunculkan pertanyaan lain di hati Lucas dan Gita.
“Kalian ingin bertemu dengan Professor Ismunandar?” tanya Kapten Zein lagi.
“Betul. Jadi tolong izinkan kami pergi dari sini,” pinta Lucas.
“Kenapa pergi dari sini? Di luar keadaannya belum tentu aman. Kalian tahu jika beberapa oknum pejabat tinggi mengkudeta pemerintah?”
Kening Lucas berkerut. Ia tidak tahu. Selama ini ia memilih tinggal di hutan. Di gubug rumah pohon yang jauh dari keramaian. “Aku tidak tahu. Yang aku tahu adalah tentang pemberian vaksin yang memakan korban jiwa,” jawabnya lirih.
“Masalah negera kita semakin rumit. Beberapa oknum pemerintah membentuk persatuan sekutu dan menentang pemerintah. Mereka berencana mengkudeta. Dengan bantuan dari negara lain, mereka justru akan memusnahkan rakyat di negaranya sendiri demi kepentingan pribadi.”
“Kenapa memusnahkan saudara-saudaranya sendiri bisa membuat mereka untung?” tanya Lucas tidak mengerti.
“Mereka ... akan menjual negara kita. Apa kau tidak sadar jika orang-orang normal hanya tersisa sedikit? Sebagian mati dan karena terserang virus Othovirinae-18. Lalu yang tidak mati bermutasi menjadi mayat hidup dan mengganggu manusia lainnya,” jawab Kapten Zein menjelaskan. “Belum lagi manusia yang sistem jaringan di dalam tubuhnya tidak dapat menerima vaksin, bermutasi menjadi kanibal. Negara kita sudah mulai hancur karena hanya sebagian sedikit saja yang masih bisa bertahan. Keadaan seperti itu digunakan oleh negara lain untuk merampas negara kita.”
“Maksud anda, bisa-bisa kita akan dijajah?” tanya Gita menyela.
Kapten Zein menganggukkan kepalanya. “Ya, bisa dibilang seperti itu. Negara kita akan dijajah perlahan. Oleh karenanya kita harus menyelamatkan sisa kekuatan yang kita miliki.”
“Dengan cara?” tanya Lucas.
“Dengan membuat ramuan obat kekebalan tubuh yang bisa menangkal segala virus dan penyakit. Penelitian obat yang selama ini telah diteliti oleh Profesor Rudi.”
Gita melirik ke arah Lucas. Ia mengerti ke arah mana perbincangan ini. Tanpa sadar, kedua tangannya mendekap erat tas ransel yang ada di atas pangkuannya.
Lucas yang lebih dewasa dan lebih berpengalaman tidak akan mudah percaya. “Anda juga menginginkan data penelitian profesor Rudi?”
“Juga?” Kapten Zein berbalik bertanya. “Ada orang lain yang juga menginginkannya?”
“Ya, kami nyaris diculik,” jawab Gita lugas.
Tangan Kapten Zein mengepal. “Pasti ini adalah ulah Mr. Mun, dia ingin mendahului.”
“Anda kenal dengan dia?”
“Tidak kenal secara dekat. Namanya menyeruak karena telah membuat vaksin yang gagal dan membuat sebagian besar penduduk bermutasi menjadi kanibal,” jawab Kapten menjelaskan.
“Tapi mereka juga menginginkan data penelitian profesor Mun. Juga mereka menginginkan aku dan Gita. Seolah mereka ingin meneliti kami.”
“Karena memang penelitian Profesor Rudi sangat luar biasa. Obat yang diciptakannya, akan menjadi obat ampuh. Kami akan memproduksi obat yang diteliti profesor Rudi. Serum tersebut bisa kita bagikan kepada semua orang. Kita semua bisa hidup normal kembali. Tanpa rasa takut pada virus Othovirinae-18 dan juga takut akan efek samping vaksin yang mungkin saja mengubah menjadi kanibal,” ujar Kapten Zein. “Bukti dari keberhasilan penelitian profesor Rudi adalah dirimu, Gita. Dahulu kau sering sakit-sakitan, nyaris mati karena kekebalan imun tubuhmu rendah. Tapi lihat sekarang kau tumbuh menjadi gadis yang sehat. Kita harus segera membuat solusi karena masalah di negara ini sudah semakin menumpuk.”
“Ya, kita memang sudah dilanda banyak masalah,” tutur Gita lirih.
Lucas yang menyimak kata-kata Kapten Zein dengan hati-hati, kini mulai menangkap sesuatu yang ganjil. “Tunggu, tunggu ... Dari mana anda kenal tahu jika saat kecil Gita sering sakit-sakitan? Dia memiliki daya tahan tubuh lemah?” tanyanya dengan sepasang mata memicing.
“Oh iya ya ....” Gita baru tersadar. “Dari mana anda tahu itu semua? Padahal saya tidak mengenal anda ....”
Seulas senyuman penuh arti terbit di sudut bibir Kapten Zein. “Saya tahu semua tentang kamu, Gita ....”
Kalimat Kapten Zein membuat bulu kuduk Gita meremang. Kerongkongannya terasa kering. Jantungnya berdegup lebih cepat.
“Bagaimana anda tahu, Kapten Zein? Jelaskan pada kami,” ucap Lucas tegas. Ia meremas ujung tas ransel yang tersandar di pinggir sofa. Jika ternyata kapten Zein berniat jahat, maka ia akan bersiap untuk mengeluarkan pisau yang ada di dalam tasnya.