“Dari mana anda mengenal Mr. Mun Kapten Zein?” tanya Lucas dengan tatapan tajam.
“Kami adalah tim.” Jawaban Kapten Zein membuat Lucas melenturkan genggaman tangannya pada ujung tas. Dan kewaspadaan yang sebelumnya sudah dipersiapkan kini sedikit memudar.
“Anda dan Mr Mun adalah tim?” tanya Zara dengan wajah terkesiapnya.
“Betul sekali,” jawab Kapten Zein lantang.
“Bisa tidak anda meminta anak buah anda untuk mengantarkan kami ke kediaman Profesor Ismunandar? Terakhir kali, aku dan ayahku mengunjunginya sekitar lima tahun yang lalu. Aku sudah tidak ingat lagi.”
“Anda menyelamatkan Profesor Ismunandar dari para penjahat yang menginginkan data-data penelitian yang dimilikinya?” tanya Lucas dengan mata membulat tegas bercampur kagum.
“Profesor Ismunandar memang sudah berada di markas ini. Di gedung besar ini juga tempat penelitiannya,” jawab Kapten Zein.
“Tapi di radio telah menyiarkan berita tentang penganiayaan yang diterima oleh Profesor Ismunandar.”
“Jangan seratus persen percaya pada berita-berita di luar sana. Karena marak berita palsu yang mungkin akan menyesatkan kalian.”
Apa yang dikatakan oleh Kapten Zein memang ada benarnya. Bisa saja memang banyak berita palsu yang beredar. Keadaan memang kacau dan semua ini digunakan untuk oknum-oknum yang tak bertanggung jawab untuk menghancurkan sebuah negara.
“Jika benar memang profesor Ismunandar ada di gedung yang sama dengan kami, apa bisa anda meminta anak buah anda untuk mengantarkan kami ke tempatnya?” tanya Gita lagi. Ia sudah tidak sabar menyerahkan amanat yang diberikan oleh ayahandanya kepada Profesor Ismunandar.
“Tentu ... Bahkan saya sendiri yang akan mengantarkan kalian,” jawab Kapten Zein dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.
Kerutan halus di sekitar mata Kapten Zein sedikit lebih jelas dari pada sebelumnya. Dan sorot matanya berbinar senang, seolah bahagia dengan hal yang ditunggu-tunggunya telah terwujud. Ia beranjak berdiri. “Ayo, saya antarkan ....”
Gita segera beranjak dari duduk. Lalu menoleh ke arah Lucas yang duduk di sampingnya. “Ayo kita ke tempat Profesor Mun,” ujarnya bahagia.
Lucas tidak banyak bicara. Ia berdiri dari duduknya mengikuti Gita.
Senyuman di wajah Kapten Zein tidak kunjung menghilang. Entah mengapa senyuman menyeringai dengan jajaran gigi terpampang putih seperti itu membuat Lucas merasa aneh dan tak nyaman.
“Senyumnya menyeramkan,” bisik Gita pelan.
“Baru aku mau bilang,” timpal Lucas.
Mereka berjalan mengekor di belakang Kapten Zein.
Menyusuri koridor-koridor panjang tanpa berbelok. Mereka menaiki sebuah lift yang segera mengantarkan mereka ke lantai lima.
Getaran di dalam lift membuat Gita merasa seperti sedang gempa. Ia mengandah ke atas. Menatap langit-lngit lift. Lampu LED lift tampak bersilau terang. Firasatnya tiba-tiba tidak nyaman.
Pintu lift terbuka.
Kapten Zein melangkah keluar lebih dahulu. Lalu Gita dan kemudian Lucas.
Lucas menoleh ke belakang, seorang wanita yang mengenakan blezer berwarna putih seperti yang dikenakan oleh para dokter dan ilmuan menarik perhatiannya.
Rambut pirang dan kulit putih. Tinggi semampai yang dimiliki wanita tersebut membuat Lucas teringat tentang Sandra, istrinya yang meninggal. Siluet tubuh yang terlihat dari belakang punggung itu membuat langkah kaki Lucas terhenti. “Sandra ...,” gumannya lirih.
Ia merasa sangat familiar. Menerka jika perempuan yang berjalan menuju ke arah yang bertolak belakang dengannya itu adalah istrinya. Tapi perkiraan itu segera disingkirkannya. Karena tidak mungkin Sandra masih hidup. Jelas-jelas Sandra terinfeksi virus Orthovirinae-18 dan kemudian meninggal. Walau jasadnya tidak bisa dilihat karena seseorang yang wafat karena virus Orthovirinae-18 harus dimakamkan dengan protokol kesehatan yang rumit. Termasuk jasadnya akan dikuburkan secara masal dan pihak keluarga dan kerabat sama sekali tidak boleh mendatangi upacara pemakaman dan mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya.
Gita yang sudah berjalan beberapa meter lebih dulu di depan mulai menyadari jika Lucas tidak mengikuti mereka. Ia menghentikan langkah kakinya dan mulai mencari-cari di mana Lucas.
“Lucas!” serunya memanggil.
Lamunan Lucas sekejap segera menghilang karena suara Gita mengejutkannya.
“Lucas sedang apa kau di sana?”
Karena suara Gita memanggil Lucas, Kapten Zein juga menghentikan langkah kakinya. Ia pun menoleh ke belakang dan memandangi Lucas yang berdiri sangat jauh.
“Sedang apa kamu di sana? Cepat ke mari!”
“Tadi aku seperti melihat seseorang yang aku kenal,” jawab Lucas sembari berjalan menghampiri. Suaranya menggema di sepanjang koridor yang sepi.
“Siapa?” Gita bertanya ingin tahu ketika Lucas sudah kembali berdiri sejajar dengannya.
Lucas tidak langsung menjawab. Ia menatap kepada Kapten Zein yang memandanginya. “Maaf Kapten Zein, bisa kita lanjutkan? Tadi aku hanya seperti melihat seseorang yang aku kenal.”
“Siapa?” Rupanya Kapten Zein juga ingin tahu.
“Tidak penting Kapten,” jawab Lucas sembari tersenyum pahit. “Bisa kita lanjutkan tujuan kita ke ruangan Profesor Ismunandar?”
“Baik,” jawab Kapten Zein singkat. Ia melangkahkan kakinya kembali.
Gita dan Lucas memandangi punggung Kapten Zein yang tampak dingin.
Gita menyenggol lengan Lucas. “Hei, tadi ... Siapa yang kamu lihat?” tanyanya penasaran.
Lucas menoleh. Menatap Gita sesaat. “Aku seperti melihat Sandra. Siluet dan perawakan tubuhnya sangat mirip Sandra. Rambut panjang pirang yang dikuncir kuda ketika mengenakan blezer laboratorium berwarna putih.
Gita memandang Lucas iba. ‘Dia pasti sedang merindukan istri dan juga putrinya,” ujarnya di dalam hati. Ketika setelah ini mereka sudah bertemu dengan Profesor Ismunandar, ia akan memberi syarat kepada Profesor Ismunandar. Jika ingin mendapatkan data-data penelitian ayahnya, maka Profesor Ismunandar harus meminta Kapten Zein untuk membantu Lucas dalam menemukan putrinya yang sedang diculik.
“Oh ya, apa penculik Laura, sudah menghubungimu lagi?”
Lucas menggelengkan kepalanya. “Belum. Terakhir mereka menghubungiku ketika jaringan internet masih bisa digunakan. Sekarang jaringan internet sering terganggu dan tidak stabil. Tapi firasat aku mengatakan Laura baik-baik saja dan aman. Karena si penculik berjanji tidak akan menyakitinya, asal aku secepatnya mendapatkan data-data dari profesor Rudi ayahmu.”
“Daraku yang kau simpan di lemari es super di benteng rahasia bisa kau gunakan. Kau bisa membawanya untuk menukarnya dengan Laura. Katakan saja, jika di dalam darah itu sama saja dengan hasil penelitian profesor Rudi,” kata Gita memberi saran. Suara mereka berdua sangat lirih. Perbincangan di antara mereka seperti dua orang yang sedang berbisik-bisik.
“Tapi aku belum yakin niat mereka apa ingin mendapatkan data penelitian ayahmu? Bagaimana jika niat mereka jahat? Mereka ingin mempergunakan data-data penelitian ayahmu untuk kepentingan pribadi. Di masa ini, penelitian ayahmu itu seperti harta karun yang paling berharga,” jawab Lucas. “Berbeda dengan Profesor Ismunandar, kita memang yakin jika dia adalah orang yang baik. Seseorang yang diamanatkan oleh ayahmu.”
“Di sini ruangannya,” kata Kapten Zein sembari merentangkan tangannya. Menunjuk satu pintu berwarna biru gelap. “Di sini ruangan Profesor Ismunandar. Beliau juga mencari kamu sejak lama Gita.”
Gita segera menatap Kapten Zein yang berada tiga meter di depannya. Berdiri di depan pintu berwarna biru gelap. Raut mukanya sudah amat bahagia. Seolah perjalanan panjangnya sudah berakhir.
Kapten Zein membuka pintu lab tersebut.
Gita segera melangkah lebar. Tergesa-gesa untuk masuk ke dalam.
Lucas mengikuti di belakang Gita dengan langkah yang santai.
Derap kaki seseorang yang terburu-buru menghampiri. “Kapten Zein, kapten Zein, kami mendapatkan informasi jika prajurit dari pasukan Mr. Mun menyerang. Mereka menginginkan dua orang bernama Gita dan Lucas!”
“Apa? Beraninya mereka! Kota ini sudah termasuk kawasan kita. Berani-beraninya dia mengusik perbatasan!” Kapten Zein murka.
Di dalam kemarahan Kapten Zein, Lucas merasa aneh dengan sebutan perbatasan.
Apa yang dimaksud dengan perbatasan? Sedangkan yang diketahuinya adalah ini adalah Kota Bandungan atau yang biasa disebut dengan Kota B. Sedangkan di bagian barat adalah Kota Jayca atau yang biasa disebut Kota J.
Kota B dan kota J, sama-sama masih di dalam satu negara yang sama. Tapi kenapa mereka mengklaim daerah kekuasaan masing-masing?, tanya Lucas di dalam hati.
Kapten berjalan tergesa. Namun ia masih menyempatkan untuk berbicara dengan Lucas, “Aku akan menangani masalah genting. Kau dan Gita masuklah ke dalam ruangan Profesor Ismunandar.”
Lucas hanya diam dan mengangguk.
Kapten Zein melangkah pergi.
“Tunggu Kapten Zein!” panggil Lucas.
Kapten Zein terpaksa menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh.
“Kenapa anda mengklaim jika Kota Bandungan adalah daerah kekuasaan anda?” tanya Lucas heran. "Bukankah baik Kota J dan Kota B, masih di dalam kedaulatan negara yang sama?"
Kapten Zein menatap Lucas sebentar. “Akan aku jelaskan nanti. Maaf, sekarang tidak ada waktu,” jawabnya dan segera berlalu pergi.