Musuh sesungguhnya

1418 Kata
“Halo Gita ...,” sapa profesor Ismunandar ketika Gita masuk ke dalam ruangan kerjanya. “Profesor Ismunandar ...,” panggil Gita lirih. “Akhirnya kita bertemu juga.” Profesor Ismunandar tersenyum lebar. Kerutan halus di wajahnya semakin terlihat dalam dan tegas. “Maaf ... Kita baru bertemu sekarang. Aku mendengar kabar jika ayahmu sudah meninggal. Aku turut berduka cita.” Gita mengangguk. Seulas senyuman terhias di wajah cantiknya. “Tidak apa-apa profesor ... Aku mengerti,” jawabnya. “Jarak kita terlampau jauh. Anda di sini dan aku di kota lain.” Profesor Ismunandar berjalan mendekat. Seulas senyuman simpul tidak lekang dan menghilang dari wajah wibawanya. “Perjalananmu hingga bisa sampai ke mari pasti tidak mudah.” “Memang,” jawab Gita mendesah. “Beberapa para Sumanto nyaris menjadikanku makam malam. Jika aku tidak bertemu dengan Lucas.” “Aku mendengar dari Zein jika kau memang datang ke mari bersama seorang pria.” “Betul, profesor,” jawab Gita lirih. “Untung saja aku bertemu dengan dia. Jika tidak ... entah apa yang terjadi denganku. Aku pasti tidak sanggup datang ke mari, menemui mu.” Profesor Ismunandar mengusap bahu putri sahabatnya itu. “Tapi sekarang kau sudah aman di sini.” “Untung saja, anda ada di sini Prof ... Tadinya aku dan Lucas akan mendatangi rumah anda. Kami juga mendengar berita tentang p*********n yang menyerang Profesor,” ujar Gita memberitahu. “Sekarang kau boleh tenang. Kita akan aman di sini. Berita-berita p*********n terhadapku, itu semua tidak benar. Aku baik-baik saja.” Lucas baru masuk ke dalam ruangan profesor Ismunandar. Netranya memandang ke sekeliling perabotan yang dimiliki profesor Ismunandar. Ruangan ini sangat luas, dengan lemari-lemari besi pendingin. Lemari tersebut pasti penyimpanan serum-serum penelitian yang belum rampung. Lalu meja-meja panjang dan botol kaca yang berjajar, membuat tampilan ruang pribadi Ismunandar seperti sebuah lab. “Pasti kau yang bernama Lucas?” Profesor Ismunandar langsung menebak. Lucas menganggukkan kepalanya. Bibirnya membentuk ulasan senyuman ramah. “Ya, benar profesor, saya Lucas ... Senang bertemu dengan anda.” “Saya juga senang bertemu dengan profesor hebat seperti anda. Anda luar biasa. Nama anda sudah tersohor. Bahkan anda adalah panutan saya.” Profesor Ismunandar tertawa terbahak. “Aku panutan mu? Memang kau juga seorang ilmuan?” Lucas mengangguk pelan. “Betul. Tapi saya hanya ilmuan yang tidak hebat. Bahkan pernah mengalami kegagalan dalam percobaan.” “Kegagalan adalah hal wajar. Kamu tidak perlu berkecil hati atau pun bersedih.” “Saya tidak bersedih Prof ... Hanya saja, kecewa. Sempat mencoba menciptakan serum obat untuk pandemi justru saya malah menciptakan serum monster,” ucap Lucas dengan raut muka sedih. “Serum monster?” Profesor Ismunandar mulai tertarik. “Lucas menciptakan kekuatan baru, Prof ...,” timpal Gita. “Kekuatan baru?” Sepasang mata Gita berbinar terang. “Luar biasa ... Apa yang kau ciptakan?” “Sesuatu hal yang harusnya tidak aku ciptakan,” jawab Lucas lirih. “Boleh aku tahu apa?” tanya Profesor Ismunandar tertarik. Lucas menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Seolah ragu memberitahukan kepada profesor Ismunandar jika dia telah gagal menciptakan ramuan serum obat untuk pandemi virus Orthovirinae-18 dan justru malah membuatnya bermutasi menjadi seseorang yang memiliki kekuatan super. Jika serum ini dikonsumsi oleh orang yang memiliki sifat jahat, maka dunia bukannya semakin baik. Tapi justru akan semakin bahaya karena orang jahat tak bisa terkalahkan. “Boleh aku tahu ... Serum dan kekuatan apa yang kau ciptakan?” tanya Profesor Ismunandar penasaran. Lucas membalas tatapan profesor Ismunandar kepadanya. “Aku telah menciptakan sesuatu yang bisa membuat DNA seseorang bermutasi melebihi- ....” Belum juga kalimat Lucas selesai, suara telepon yang ada di dalam ruangan profesor Ismunandar berdering. Suara deringnya mengejutkan Lucas dan Gita. “Di sini telepon berfungsi?” tanya Lucas sembari netranya menatap telepon bergagang putih yang menempel di dinding. “Itu hanya telepon yang antar gedung saja. Jaringan telepon dan internet belum pulih benar semenjak serangan bom yang membakar gedung telekomunikasi,” jawab Profesor Ismunandar sembari berjalan mendekati telepon yang bergantung dan menempel di dinding. Ia mengangkat gagang telepon. “Halo? Di sini profesor Ismunandar.” Profesor Ismunandar terlihat fokus mendengarkan lawan bicaranya. Ia menganggukkan kepalanya mengerti. “Kelompok anak buah Mr. Mun mulai menyerang. Sepertinya mereka menginginkan Gita dan Lucas,” ujar Kapten Zein memberitahu. “Kita harus mempercepat proses pengambilan bahan baku untuk pembuatan serum obatnya. Jika tidak, bisa saja anggota Mr Mun akan menculik Gita dan Lucas.” “Dari mana mereka tahu jika Gita memiliki serum obat untuk pandemi ini?” tanya Profesor Ismunandar. “Sepertinya Mr. Mun tidak tahu tentang bahan baku serum obat yang ada di dalam darah Gita. Mereka hanya tahu jika Gita adalah putri Profesor Rudi dan memiliki data penelitiannya.” Profesor Ismunandar mengatupkan bibirnya. “Hm ... Aku mengerti. Aku akan segera membicarakan ini pada Gita. Apa dia mau berkorban demi kebaikan dan keutuhan dunia dan keutuhan berlangsungnya mahkluk hidup di dunia ...?” “Urusan di sana, aku serahkan padamu profesor Ismunandar,” ujar Zain mengakhiri percakapannya. Gagang telepon kembali disangkutkan ke kotak telepon yang tergantung di dinding. Lucas menangkap perbincangan Profesor Ismunandar yang tidak biasa. Kata-kata tentang, ‘Apa dia mau berkorban demi kebaikan dan keutuhan keberlangsungan makhluk hidup di dunia’ Terdengar aneh. Profesor Ismunandar membalik badan dan kemudian berjalan menuju ke sofa panjang. “Ke mari ... Kita bisa duduk di sini.” Gita segera mendekat dan duduk di salah satu sofa. Lucas pun demikian. “Prof, aku mau bertanya ... Apa Kota Jayca dan Bandungan sudah terpisah? Dua Kota memiliki kedaulatan masing-masing?” tanya Lucas ingin tahu. “Selama lebih dari enam bulan aku tinggal di hutan. Setelah mengalami kegagalan percobaan dalam penemuan, aku memutuskan untuk mengungsi di hutan untuk sementara waktu. Selama ini aku tidak tahu ternyata putriku yang aku titipkan kepada pengasuh yang biasa merawatnya telah diculik. Dan aku juga tidak tahu perkembangan situasi politik dalam negeri setelahnya. Karena aku berjuang untuk beradaptasi dengan diriku sendiri.” “Memang apa yang terjadi padamu? Kegagalan dalam eksperimen mu itu telah mengubahmu menjadi apa? Hingga kau harus beradaptasi dan mengucilkan diri di hutan?” tanya Profesor Ismunandar penuh selidik. “Jaringan DNA-ku bermutasi menjadi makhluk liar. Jika aku tidak bisa mengendalikan kekuatan dan mengelola emosi maka aku bisa menjadi orang yang sangat jahat. Bahkan lebih jahat dari monster dan golongan para Sumanto yang gemar menyantap daging manusia.” Profesor Ismunandar menatap takjub. “Luar biasa ... Sungguh hebat. Penemuan kau ini sungguh luar biasa ...,” ujarnya memuji. Netranya berkilau dan memandang Lucas dan Gita satu persatu. “Kalian adalah wujud dari kesuksesan para penelitian dan pasti bisa dikembangkan.” Tawa menggelegar Profesor Ismunandar membuat bulu kuduk Gita meremang. Ia mengusap punduknya. Mengusir rasa tak nyaman. “Apa beberapa daerah di negara kita sudah terpecah?” tanya Lucas sekali lagi. Alur topik pembicaraan sudah melenceng. Ia belum mendapatkan jawaban tapi profesor Ismunandar sudah membicarakan hal lainnya. Profesor Ismunandar meredakan tawanya. “Sebetulnya dua Kota masih berada di dalam kedaulatan yang sama. Tapi dalam keadaan yang kacau seperti ini, pemerintah tidka bisa mengendalikan seluruh Kota dan daerah. Maka banyak tokoh dan orang yang berpengaruh membuat kloni dan komunitas persatuan di tiap Kota.” “Seperti Kota Jayca yang dikuasi oleh Mr. Mun dan Kota Bandungan ini yang dipimpin oleh anda? Seperti itu?” tanya Lucas memastikan. “Betul,” jawab Profesor Ismunandar sembari tersenyum lebar. Lalu ia mulai berdeham dan raut mukanya berubah menjadi lebih serius. “Keadaan di luar ... sekarang lebih genting. Aku pikir lebih cepat kita melakukan prosesnya, maka akan lebih baik.” “Proses apa Prof?” Lucas dan Gita bertanya nyaris bersamaan. “Proses pengembangan serum obat yang telah diciptakan oleh profesor Rudi, ayahmu,” jawab Profesor Ismunandar lugas. “Di mana datanya?” “Ada bersamaku,” jawab Gita dan akan mengambil TAB yang ada di dalam tasnya. Namun tangan Gita yang itu segera di cengkeram oleh Lucas. Gita terkesiap. Ia menoleh dan menatap Lucas. Tangan Lucas yang mencengkeram lengannya, seolah meminta Gita agar tidak memberikan data penelitian kepada Profesor Ismunandar. Kata-kata profesor Ismunandar di telepon tadi terngiang di telinga Lucas, ‘Aku akan segera membicarakan pada Gita. Apa dia akan mau berkorban demi kebaikan dan keutuhan dunia. Demi keberlangsungan makhluk hidup’. Jangan-jangan Profesor Ismunandar akan menggunakan semua darah Gita untuk pengembangan obat?, batin Lucas berfirasat buruk. “Lucas ada apa?” tanya Gita lirih dengan kedua alis bertaut. Profesor Ismunandar juga menatap Lucas dengan tatapan menuntut jawab. “Kenapa kau menghalangi, Lucas? Bukankah kalian ke mari untuk memberikan data-data dari penelitian profesor Rudi, ayah Gita? Berikan semua datanya sekarang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN