Ditampung

1715 Kata
“Berikan semuanya datanya sekarang ....” Profesor Rudi sudah mengandahkan tangan. Raut mukanya serius. “Hei, Lucas, singkirkan tanganmu,” tegur Gita. “Profesor Ismunandar, tadi anda mengatakan tentang pengorbanan di telepon. Maksud anda apa ya?” tanya Lucas sembari menatap tajam lawan bicaranya. “Hm ...?” Profesor Ismunandar berguman. Seolah bertanya apa maksud pertanyaan Lucas kepadanya itu. “Aku tidak mengerti ....” “Jangan pura-pura tidak mengerti,” jawab Lucas dengan nada bicara tegas. “Aku tadi mencuri dengar, anda mengatakan Gita harus mengorbankan dirinya demi kebaikan seluruh umat manusia.” Profesor Ismunandar tidak langsung menjawab. Ia sejenak diam sesaat. Tidak menyangka jika pendengaran Lucas bisa sampai setajam itu. “Tolong jelaskan Profesor Ismunandar, apa maksud anda dengan Gita harus mengorbankan diri untuk kebaikan seluruh umat manusia di dunia?” “Apa? Profesor Ismunandar mengatakan hal seperti itu tadi di telepon?” tanya Gita tidak percaya. “Anda ingin mengorbankan aku, Prof? Aku tidak faham dengan ini ....” Setelah terjadi keheningan sesaat dan mulut Profesor Ismunandar terkunci rapat, akhirnya ia menjawab, “Pengorbanan yang aku maksud itu?” tanyanya sembari tertawa lirih. “Kalian pasti salah faham ....” “Memangnya kami salah faham apa?” Lucas tidak mau dikira salah mendengar. Indera pendengarannya masih berfungsi sangat baik dan ia begitu jelas menangkap percakapan Profesor Ismunandar tentang ‘Gita yang harus mengorbankan diri demi kebaikan umat manusia dan keutuhan makhluk hidup.’ “Aku memang mengucapkan kata-kata seperti itu ....” Akhirnya Profesor Ismunandar mengaku. “Tapi bukan begitu maksudnya. Jadi maksudnya Gita harus mengorbankan diri adalah dia harus tinggal di markas ini sampai situasi aman dan tentram kembali seperti sedia kala,” jawabnya sembari tersenyum simpul. Kening Lucas berkerut. “Bukannya memang harusnya begitu ya, Prof? Mengingat Gita memang putri tunggal sahabat anda, Profesor Rudi yang telah wafat. Gita tidak memiliki sanak saudara, kerabat ataupun teman dekat. Dia hanya memiliki kamu. Bukannya memang sudah sepantasnya anda bertindak menggantikan ayahnya?” “Memang,” jawab Profesor Ismunandar segera. “Memang aku harus bersikap demikian. Namun apa Gita mau tinggal di sini? Dia kan bisa memilih untuk tinggal bersama kamu. Hidup bebas, berpetualang, bukannya hal itu merupakan kesenangan untuk anak muda untuk kalian?” Sanggahan dan alasan yang diucapkan Profesor Ismunandar memang masuk akal. Lucas tidak bertanya lagi, tapi entah kenapa hati kecilnya tetap merasa ada yang aneh dan ganjil. Ia merasa sorot mata Profesor Ismunandar seperti lautan misteri. “Aku akan tinggal di sini,” jawab Gita menyela. “Tapi aku ingin tinggal di sini bersama Lucas. Apa anda bisa mempertimbangkannya?” Profesor Ismunandar memandang Gita dan kemudian berganti menatap Lucas. Sejenak diam seolah menimbang-nimbang keputusannya. “Baik. Tidak masalah Lucas tinggal di markas ini. Bagaimana Lucas, apa kamu mau tinggal di sini?” Kini berganti Lucas yang membisu. Ia masih duduk tegap dengan mulut yang terkunci. Gita menyikut pelan perut Lucas agar menjawab tawaran Profesor Ismunandar. Ia memang tidak ingin Lucas pergi meninggalkannya di sini. Kebersamaan beberapa hari yang singkat, terasa seperti sudah berbulan-bulan. Gita sadar jika ia membutuhkan Lucas untuk membantunya. Banyak manusia-manusia yang tidak bisa dipercaya. “Aku bisa tinggal di sini, jika anda mengizinkan aku ikut bergabung dalam pengembangan penelitian. Bagaimana? Apa anda mau mengizinkannya?” Profesor Ismunandar sebetulnya tidak menyukai tawaran yang diajukan oleh Gita dan Lucas. Tapi mau dibilang apa, ia harus membuat Gita agar tetap tinggal di markas ini untuk kepentingan harkat hidup orang banyak. Lebih tepatnya, harkat hidup dirinya sendiri agar menjadi semakin makmur dan kaya raya karena darah Gita bisa diproduksi sebagai vaksin yang sangat ampuh. Dan vaksin tersebut bisa dijual ke penjuru negeri dan juga diekspor ke luar negeri. Dan tentunya dengan harga yang sangat tinggi. “Bagaimana Prof? Apa anda setuju dengan syarat yang aku ajukan? Aku bisa tinggal di sini dengan syarat Lucas pun tinggal di sini,” tanya Gita sekali lagi. Profesor Ismunandar menghela nafas panjang dan dalam. “Baiklah aku setuju,” jawabnya sembari kembali mengulurkan tangan dengan telapak tangan yang terbuka. “Mana data-data penelitian ayahmu? Aku harus segera memeriksanya,” sambungnya dengan mimik muka tidak sabar. Lucas melepaskan tangan Gita agar bisa memberikan tablet miliknya kepada Profesor Ismunandar. “Ini ....” Raut muka Profesor Ismunandar berbinar bahagia menerima tablet dengan seluruh isi data penelitian tersebut. Ia seperti menerima harta karun yang sangat berharga. Diam-diam Lucas mengamati gerak gerik Profesor Ismunandar yang terlihat sangat senang. “Kalian akan diantarkan oleh Nardi, menuju kamar yang akan kalian tempati,” kata Profesor Ismunandar tanpa mengandahkan mukanya. Netranya tetap berfokus kepada tablet yang diberikan oleh Gita. Di layar tablet tersebut, Profesor Ismunandar mengamati pergerakan garis gambar logo DNA yang memutar dengan tulisan alogaritma. Setelah lima menit seperti itu, ia baru tersadar jika mengabaikan Lucas dan Gita. “Sebentar, aku akan memanggil Nardi untuk ke mari,” katanya sembari beranjak berdiri. Lalu berjalan menuju gagang telepon yang tergantung di dinding. “Oia, di sepanjang markas ini, kalian jangan sampai ke selatan markas ya ... Juga jangan ke luar tanpa izin.” “Baik,” jawab Gita santun. Profesor Ismunandar hanya menekan angka lima dan tidak lama kemudian ia terhubung dengan bagian tim di divisi lain yang masih berada di dalam satu markas. “Panggilkan Nardi.” “Baik Profesor.” Seseorang yang mengangkat panggilan telepon Profesor Ismunandar segera menjalankan perintah. Profesor Ismunandar mengaitkan gagang telepon kembali ke kotak telepon yang menempel di dinding. Lalu ia membalik badan dan berjalan mendekat ke sofa. Tab milik Gita masih tetap dipegang olehnya. “Profesor Ismunandar,” panggil Gita lirih. “Ada apa Gita?” tanya Profesor Ismunandar dengan raut muka tegas dan siap menyimak. “Apa aku boleh meminta bantuan kepada anda? Sepertinya anda mengenal banyak orang penting.” “Silahkan ... Katakan saja. Apa yang bisa aku bantu untukmu?” tanya Profesor Ismunandar dengan seulas senyuman khasnya. “Lebih tepatnya, bukan untuk aku,” jawab Gita. “Tapi untuk Lucas ....” Lucas dan Profesor Ismunandar sama-sama menatap Gita. Lucas terkejut Gita meminta bantuan kepada Profesor Ismunandar untuk membantunya. “Ada apa?” tanya Profesor Ismunandar sekali lagi. “Lucas kehilangan putrinya. Putri Lucas hilang diculik seseorang yang menginginkan data-data penelitian ayahku. Semua ilmuan dan orang-orang berpengaruh menginginkan data penelitian ayahku. Dan orang jahat yang menculik Laura, anak Lucas, memanfaatkan hal tersebut. Ia ingin Lucas mencariku dan mengambil data penelitian milik ayahku. Tapi setelah tanpa sengaja bertemu denganku, Lucas tidak menyerahkan aku kepada penculik putrinya. Padahal aku yakin Lucas pasti memikirkan putrinya.” Hening. Profesor Ismunandar menyimak. Netranya kembali memandang Gita dan Lucas bergantian. Ia menghela nafas panjang dan dalam. “Kita akan bicarakan ini kepada Kapten Zein. Dia bisa membantu kita. Karena di zona luar, dialah yang memegang kendali.” Suara ketukan pintu terdengar. “Tok ... tok ... Tok ....” “Masuk,” ujar Profesor Ismunandar mempersilahkan. Pintu ruangan Profesor Ismunandar dibuka. Nardi masuk ke dalam dengan santun. “Ada apa, Prof?” “Antarkan dua tamu terhormat kita ini ke ruangan mereka. Berikan kamar di sebelah barat. Jangan sampai biarkan mereka ke markas sebelah selatan,” jawab Profesor Ismunandar. Nardi menganggukkan kepalanya. “Baik Prof ...,” jawabnya sembari setengah membungkukkan badan, tanda hormat dan pengabdiannya. “Silahkan Gita ... Lucas ... Kalian bisa ikut Nardi yang akan mengantarkan kalian,” ucap Profesor Ismunandar sembari menggerakkan tangan kanannya mengarah ke pintu. Gita dan Lucas beranjak berdiri. “Terima kasih Profesor Ismunandar,” ucap Gita sembari tersenyum. Profesor Ismunandar membalas senyuman Gita yang sangat berterima kasih itu. Begitu pula dengan Lucas. Ia tersenyum. Namun di dalam hati, ia masih bertanya, ‘Ada apa di bagian markas sebelah selatan? Kenapa mereka sama sekali tidak boleh ke sana?’ “Ke mari Tuan ....” Nardi berjalan lebih dulu meninggalkan ruangan Profesor Ismunandar. Ia seolah menjadi pemandu Lucas dan Gita untuk menjelaskan letak sudut markas besar ini. Lucas menoleh kembali ke belakang, menatap pintu ruangan Profesor Ismunandar yang sudah tertutup. “Ada apa?” tanya Gita kepada Lucas. “Kenapa raut mukamu seperti cemas dan khawatir begitu?” Lucas kembali memalingkan mukanya dari pintu ruangan Profesor Ismunandar yang tertutup rapat. “Tidak apa-apa ... Entah kenapa firasat ku tidak enak saja. Aku merasa ada yang aneh. Ada yang ganjil, tapi tidak tahu itu apa ....” “Hm ... Seseorang yang memiliki kekuatan super memang condong mempunya indera keenam dan firasat yang tajam,” ucap Gita. “Kamu membuatku takut dan kembali cemas walau sudah berada di tempat yang aman.” Lucas menghela nafas panjang dan dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. “Tidak usah dipikirkan. Ini hanya firasat,” ucapnya sembari kembali fokus melihat ke depan. “Tidak usah cemas dan khawatir berlebihan. Tapi kita harus tetap waspada,” sambungnya lirih. “Di markas ini ... aku juga seolah merasakan sesuatu yang tidak asing. Tadi saat keluar dari lift aku melihat bayangan siluet seorang ilmuan wanita yang sangat mirip dengan mendiang Sandra, istriku. Lalu sekilas aku seolah mendengar suara tawa Laura ....” Gita menatap Lucas iba. Dari bagian sisi wajahnya, Lucas terlihat sangat tampan dan macho. Rahang tegas dan hidung mancung. Penampilan yang maskulin itu tertutupi aura kesedihan dan kesepian. ‘Andai aku bisa membalut rasa sedih dan rindu kepada keluargamu, aku pasti akan lakukan,’ ucapnya di dalam hati. “Kita mau ke mana?” Suara Lucas yang bertanya kepada Nardi dengan suara nyaring dan bernada tinggi, membuat Gita terkesiap dan segera menatap ke depan. Melihat apa yang dilihat oleh Lucas. Gita dan Lucas segera menghentikan langkah kakinya. Mereka terkesiap dengan arah jalan yang ditunjukkan oleh Nardi. “Kita akan ke ruangan anda, Tuan dan Nyonya ....” Kening Gita berkerut. “Lucas, bukankah di depan itu seperti jalan masuk ke penjara bawah tanah? Apa kita akan dipenjara?” Lucas terdiam dan menatap Nardi tajam. “Ruang apa itu? Apa penjara bawah tanah?” tanyanya penuh selidik. Mimik mukanya berubah murka. “Apa-apaan ini ... Kenapa kami dibawa ke ruang bawah tanah yang gelap seperti itu?” "Perintah Profesor Ismunandar kan mengatakan jika kalian berdua ditempatkan di markas bagian barat. Ya ini, tempat teraman kalian," jawab Nardi menjelaskan. "Itu adalah penjara bawah tanah. Apa kalian menjebak kami? Setelah kami memberikan data penelitian yang diinginkan maka kami ditahan di penjara bawah tanah?" tanya Lucas curiga. Nardi segera menggelengkan kepalanya. "Anda salah faham Tuan. Anda bisa masuk ke dalam dahulu untuk memastikannya. Apa ruangan ini adalah penjara bawah tanah atau seperti sebuah bunker."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN