Menemukan gadis kecil

1297 Kata
“Anda bisa memastikannya terlebih dahulu masuk ke dalam,” ujar Nardi sembari menggerakkan sebelah tangannya di depan. “Silahkan Tuan memastikannya,” ucapnya. Lucas dan Gita saling memandang satu sama lain. Lucas akan melangkah ke depan untuk mamastikan. Ia akan masuk ke dalam bunker gelap yang menjorok ke bawah itu. Gita segera memegangi lengan Lucas. Ia menggelengkan kepalanya. Lucas mengerti bahasa isyarat yang dikatakan oleh Gita. Ia pasti takut terjadi sesuatu padanya. “Jangan Lucas ... Kita tidak tahu ada apa di sana,” ujar Gita mulai takut. “Tapi kenapa profesor Ismunandar menempatkan kita kepada ruangan yang mirip bawah tanah seperti itu ...?” “Karena itu, aku harus memastikannya,” kata Lucas dengan suara lirih. “Aku harus mamastikannya, Gita ....” “Bagaimana jika saat kita masuk ke bawah sana, justru tiba-tiba Nardi mengunci kita pintunya?” Gita ragu atas keputusan Lucas. “Aku tidak akan melakukannya, Nyonya ... Aku melakukan perintah Profesor Ismunandar untuk mengantarkan tamu. Aku justru akan membuat kalian nyaman.” Nardi yang mendengar sekilas segera menyahut dengan cepat. “Kamu jangan ikut ke dalam,” ujar Lucas. “Tunggulah di sini. Jika ada apa-apa kamu tidak akan terkunci di dalam kan?” “Tap-tapi ... Tetap saja aku sendirian,” jawab Gita yang sudah mulai ketergantungan dengan Lucas. Ia tidak bisa lagi sendirian. Keberadaan Lucas membuatnya nyaman dan aman. Bahkan ditinggal sebentar pun membuatnya takut. “Sudah, tunggu di sini saja,” kata Lucas dengan nada bicara yang tegas. Lalu segera melangkah mendekat ruangan yang disebut bunker oleh Nardi itu. Sebelum masuk ke dalam bunker, Lucas menatap lekat Nardi. “Silahkan masuk Tuan ...,” ujar Nardi yang masih mempertahankan sikap ramahnya, padahal telah mendapatkan curiga. Gita tetap tinggal menunggu di luar seperti yang diperintahkan oleh Lucas. Jantungnya berdebar kencang, takut terjadi sesuatu kepada Lucas yang sedang memeriksa bunker untuk mereka. Lucas menuruni anak-anak tangga. Tangga yang terbuat dari besi itu langsung menjorok ke bawah begitu saja. Nardi mengikuti Lucas dari belakang. Gelap. Tidak ada cahaya. Nardi menarik tuas hitam yang ada di dinding dan seketika cahaya terang merambat dan kemudian seketika menjadi benderang. Lucas menggerakan telapak tangannya yang terbalik menutupi muka. Dari gelap dan seketika berubah menjadi terang, membuatnya matanya silau. Ia mengerjapkan matanya. Mencoba menyingkirkan silau yang terasa di netranya. Lalu setelah sekitar satu menit memejamkan mata, dan kemudian kembali membuka netra, Lucas melihat jika ruangan yang sebelumnya dipikirnya adalah ruang penjara bawah tanah dan dikiranya menakutkan karena gelap yang amat pekat, ternyata sebuah bunker dengan fasilitas komplit. Apa yang dikatakan oleh Nardi memang benar. Ini adalah bunker. Di kiri kanan ruangan terdapat dua kamar yang hanya berukuran cukup seukuran ranjang sigle. Ranjang tersebut bertingkat. Lalu di depan ruangan terdapat sebuah dapur mini dengan meja dan kursi. Di dekatnya terlihat seperti sebuah ruangan kecil untuk kamar mandi. “Kalian bisa tinggal di sini,” kata Nardi sekali lagi. “Ini adalah bunker yang dipersiapkan untuk tempat tinggal jika terjadi bencana alam atau peperangan. Kapten Zein mengusulkan untuk membuat bunker-bunker tempat tinggal di dalam markas. Jikalau markas besar mendapatkan serangan, kita akan masih bisa bertahan dengan berada di dalam bunker pertahanan ini.” Lucas mengerti. “Jadi semua orang yang ada di markas ini, tinggal di dalam bunker-bunker?” “Betul, Tuan ... Kita semua tinggal di dalam bunker. Karena bunker tersebut melindungi kita dari serangan musuh, termasuk bom yang mungkin saja di arahkan kepada kami.” Lucas baru menyadari peperangan antara dua Kota yang sama-sama merasa kuat ini tidak dapat dianggap remeh. Dan kenapa pemerintah terlihat membiarkannya? Apa karena pemerintah sudah terlalu banyak masalah hingga tidak mengurus peperangan di antara dua Kota ini? Terlalu lama tinggal di hutan membuatnya tidak tahu apa-apa. Sedangkan Gita yang memang hanya gadis polos tidak tahu apa-apapun tentang rumitnya politik yang sedang menjerat negara ini. “Jangan ragukan kebaikan Profesor Ismunandar, Tuan ... Dia akan menolong kita semua. Bersama Kapten Zein, semua akan baik-baik saja,” kata Nardi sembari tersenyum lebar. Lucas membalas senyuman Nardi. “Maafkan aku ... Aku sempat mencurigai mu membawa kami ke ruang penjara bawah tanah,” katanya sembari mengulurkan tangan. Nardi menyambut tangan Lucas yang terulur. Ia semakin memantapkan senyumannya. Jabatan tangan mereka terasa kuat. “Sama-sama Tuan. Silahkan beristirahat. Saya tahu, perjalanan kalian ke mari pasti tidak mudah.” “Terima kasih,” ucap Lucas sekali lagi. Nardi keluar bunker dan naik ke atas untuk keluar. Lucas berada di belakangnya untuk menjemput Gita dan memberitahunya jika ternyata di ruangan yang mereka kira adalah ruang bawah tanah, memang sebuah bunker yang nyaman dengan fasilitas lengkap. Namun ketika Lucas dan Nardi sudah keluar bunker dan berdiri di pintu masuk dengan atap bulat besar seperti topi dengan tinggi tidak lebih dari seratus dua puluh sentimeter. Lucas tidak melihat Gita berada di tempatnya semula. Gita menghilang! “Gita ...?” panggil Lucas lirih. Netranya memandang ke sekeliling. Ruangan luas dengan beberapa bunker dengan atap yang sama ternyata ada di berbagai sudut. “Nardi, ke mana Gita pergi?” tanya Lucas dengan suara gemetar sedikit panik. “Tidak tahu Tuan, mungkin dia sedang berjalan-jalan keliling untuk melihat keadaan sekitar,” jawab Nardi menebak. “Astaga ... Dia seperti anak kecil saja! Sudah aku bilang tunggu di sini! Menunggu sebentar saja sudah membuatnya bosan.” Lucas mengomel dengan kening berkerut. *** Gita menunggu di depan bunker seperti yang diperintahkan. Namun suara anak kecil yang sedang bernyanyi membuatnya tergelitik ingin tahu. “Ada anak kecil di tempat ini?” tanyanya pada diri sendiri. Karena rasa keingintahuan yang sangat tinggi, Gita mengikuti suara merdu yang bernyanyi lagu legendaris yang berjudul Heal The Word. Gita mengikuti instingnya. Ia mengikuti suara itu. Ia berjalan menuju bagian selatan yang dilarang oleh Profesor Ismunandar untuk Gita dan Lucas ke sana. Menyusuri koridor panjang dan sepi. Hanya ada satu dan dua orang yang mengenakan blezer putih melintas dan tidak peduli dengan kehadiran Gita. Mereka sibuk dengan sesuatu hal yang tidak diketahui oleh Gita. Ia berjalan semakin cepat agar cepat sampai menuju ke sumber suara tersebut. Lama kelamaan sayup-sayup suara anak kecil yang bernyanyi itu mulai terdengar jelas. Gita berdiri di balik pintu. Kepalanya melongok ke dalam ruangan yang sebelumnya diperkirakannya adalah ruangan pribadi. Ternyata yang dilihatnya adalah ruangan taman bermain buatan dengan beberapa pot tanaman hijau di beberapa sudut ruangan. Gadis kecil itu berhenti bernyanyi ketika menangkap bayangan Gita terlihat dari cermin panjang dan lebar yang ada di depannya. Ia terkesiap dan langsung menoleh ke belakang. Kini Gita dan gadis kecil tersebut saling menatap satu sama lain. Gita tersenyum sembari melambaikan tangannya pelan. “Hai ....” Gadis kecil berusia sekitar sembilan tahunan itu tidak membalas sapaan Gita. Bola mata birunya memandang lurus. “Suaramu sangat merdu. Mengundangku untuk ke mari,” kata Gita ramah. Lagi-lagi gadis bermata biru itu tidak menjawab. Ia justru berlari menuju ke belakang dan membuka pintu lemari. Ia segera masuk ke dalam sana. “Hei, hei ... Apa kau takut padaku?” tanya Gita baru tersadar. “Ah ... pasti dia takut padaku. Bagaimana pun aku adalah orang asing. Dia pasti terkejut dan takut,” lanjutnya berbicara pada diri sendiri. Gita menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapa pun sepi. Dengan nekat, ia berjalan masuk ke dalam ruangan taman bermain itu. Langkah kakinya mendekat ke lemari dua pintu. Ia berdiri mematung di depannya. “Hei, gadis kecil, keluarlah ... Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Hm ... aku bukan orang asing jahat. Sungguh ... aku terpukau dengan suara merdumu. Kita bisa menjadi teman. Oh ya, kenapa anak kecil sepertimu bisa ada di sini?” Tidak ada jawaban. Namun Gita tetap penasaran dengan gadis kecil tersebut. Merasa aneh, sedang apa gadis kecil yang cantik, berkulit bersih bermata biru dan rambut ikal sedikit pirang, berada di markas ini? Hanya sendirian .... Ia kembali bertanya, “Hei, gadis kecil ... Kita bisa berteman kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN