Rahasia

1348 Kata
“Hei, kamu masih ada di dalam kan?” tegur Gita sekali lagi. Tidak ada jawaban. Gita menjadi khawatir dengan yang terjadi kepada gadis kecil itu. “Hei, aku bukan orang jahat. Kamu tidak pengap berada di dalam lemari? Ibumu di mana? Kamu sendirian di sini?” Rentetan pertanyaan keluar dari bibirnya karena keingintahuan yang terus mendesak. Kembali tidak ada jawaban. Membuat Gita semakin penasaran dan kemudian menarik pintu lemari. Pintu lemari terbuka perlahan. Namun ketika pintu lemari benar-benar terbuka lebar, suara derap kaki terdengar mendekat. Suara dua orang pria dan wanita tertangkap indera pendengaran. Jantung Gita berdebar kencang. Firasatnya mengatakan jika dua orang itu akan masuk ke dalam ruangan ini. Ia segera membalikkan badan dan bersembunyi di belakang sofa panjang yang hanya ada satu-satunya di dalam ruangan. Suara wanita dan pria terdengar berbincang akrab. Di selingi tawa canda. “Sebentar lagi vaksin yang kita butuhkan akan segera tercipta.” Suara seorang wanita terdengar senang. “Semoga saja vaksin yang akan kita buat bersama ini tidak gagal seperti yang dibuat suamiku yang bodoh itu ... Kita akan meraih untung yang sangat banyak. Dan seperti yang sudah dijanjikan oleh Profesor Ismunandar, penemuan ini ... vaksin yang akan kita buat ini akan membuat kita kaya raya!” “Hahahaha ....” Gelak tawa suara pria bernada bariton menggema. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan sembari saling merangkul. Si tangan pria mengait di pinggang wanita. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan menerka jika mereka adalah sepasang kekasih. “Tentu saja vaksin ciptaan kita pasti akan tercipta sempurna. Tidak seperti Lucas, dia sangat bodoh. Ilmuan apa seperti itu.” “Deg!” Jantung Gita seakan berhenti berdetak kala nama Lucas disebut. Ia ingin mengintip dan melihat pria dan wanita yang sedang menggunjing Lucas itu. Tapi karena dengan mengintip dari balik sofa panjang ini, kemungkinan ia akan ketahuan sangat besar, maka diurungkanlah niat tersebut. “Lucas benar-benar mencari Gita , putri Profesor Rudi. Untuk menukarnya dengan Laura, putrinya. Lucas benar-benar sosok ayah yang sangat baik. Tapi sayangnya dia bukan suami yang ideal." Suara si wanita kembali terdengar. Gita kembali terkejut namanya disebut. Tadi mereka membicarakan Lucas. Kini mereka kembali menyebut namanya. Semua itu membuat Gita semakin penasaran dan memutuskan untuk mengintip. Namun ketika ia akan menyembulkan kepalanya. Kedua orang tersebut bergerak. Membuat Gita terkesiap dan segera menunduk kembali. Belum sempat ia melihat wajah dua orang ini. Ia sudah kembali bersembunyi. Tetap meringkuk di balik sofa. “Di mana Laura?” Suara wanita terdengar cemas. “Bukannya tadi ia ada di sini ...?” jawab si pria yang juga terdengar ikut sedikit panik. “Biasanya dia bermain di sini ....” Nada bicara si wanita terkesan panik. “Laura! Laura! Kamu ada di mana?!” “Dia pasti tidak jauh. Mungkin sedang memberi makan angsa di taman belakang.” ‘Laura?!’ pekik Gita di dalam hati. ‘Kenapa mereka menyebut nama Lucas, namaku dan juga Laura?’ “Aku akan menyusulnya,” ujar Sandra yang akan segera membalikkan badan. “Jangan sampai Lucas melihatnya.” “Tenang Sandra ... Tenanglah ... Lucas tidak akan melintasi markas di bagian selatan ini,” kata Tomi. Gita yang menguping dari balik sofa kebingungan mendengarnya. “Sandra?!” serunya spontan, lalu segera menutup mulut dengan telapak tangan. Jangan sampai desis suaranya itu terdengar. “Kamu mendengar suara seseorang?” tanya Tomi yang menangkap suara pekikan Gita barusan. “Suara apa? Aku tidak mendengarnya,” jawab Sandra yang akan melangkah keluar dari pintu kamar. “Suara seseorang. Tadi aku seakan mendengarnya.” “Apa mungkin itu suara Laura? Dia bersembunyi? Sengaja mempermainkan kita?” tanya Sandra kepada Tomi dan juga kepada dirinya sendiri. “Dasar anak-anak ... Dia pasti ingin kita mencarinya. Laura ... Mama akan menangkap kamu! Awas ya jika tertangkap ...!” Ia mulai mencari-cari Laura di sudut ruangan berukuran enam kali tujuh meter persegi ini. “Mama akan menangkapmu ....” Jantung Gita semakin berdebar karena kemungkinan besar yang ditemukan dan ditangkap oleh Sandra bukanlah Laura. Tapi dirinya! Hal aneh yang mengganjal di hati Gita adalah wanita ini. Dia mencari Laura. Menyebutnya anak, dan menyebut dirinya sendiri Mama. Lalu membahas Lucas dan juga dirinya. Jangan-jangan wanita ini adalah istri Lucas? Tapi kata Lucas, istrinya sudah meninggal. Segudang pertanyaan memenuhi benaknya. Sandra mencari Laura ke balik lemari yang berisi mainan. Bukan lemari yang tadi dimasuki oleh Laura. Sedangkan Tomi sejak tadi tertarik untuk memeriksa di balik sofa. Ia menatap lekat sofa panjang berwarna abu-abu itu. Ia melangkah perlahan. Derap kaki Tomi semakin dekat. Gita bisa melihat sepasang sepatu pantofel berwarna cokelat gelap dari tempatnya bersembunyi. Tomi berdiri mematung di depan sofa. Jantung di dalam dadanya berdebar seperti lonceng. Ia sangat takut jika ditemukan. Namun ketika Tomi akan melongokkan kepalanya ke balik sofa, tiba-tiba suara telepon yang tergantung di dinding ruangan terdengar. Fokus Tomi segera terpecah dan memilih untuk mengangkat telepon itu. Sedangkan Sandra yang sejak tadi memanggil-manggil nama putrinya, sudah mulai menuju ke lemari di mana Laura bersembunyi. “Braak!” Pintu lemari terbuka lebar. Netranya membulat dan kedua tangannya berkacak pinggang. “Kamu ... bersembunyi di sini rupanya?!” Laura yang bersembunyi di dalam lemari terkekeh pelan. Kedua tangannya menutup mulutnya. “Mama ketemu juga mencari aku ....” “Kenapa kamu bersembunyi?” Sandra sedikit marah. “Kalau mama sakit jantungan karena kamu enggak ada bagaimana? Ini bukan waktunya main petak umpat sayang ....” “Tadi ada seseorang yang berdiri di depan pintu. Dia melihatku dan kemudian masuk ke dalam,” jawab Laura. Sandra terkejut. “Siapa dia yang kamu maksud? Dianya wanita apa laki-laki?” tanyanya memastikan. “Wanita, Mah ....” “Pakai blazer seperti yang mama dan Om Tomi kenakan?” tanya Sandra sekali lagi. "Blezer berwarna putih?" Laura menggelengkan kepalanya. “Tidak ... Dia tidak menggunakan blezer seperti itu ... Hanya mengenakan t-shirt dan celana panjang. Kumal.” Sandra diam. Menatap lekat putrinya dan kemudian netranya berpendar memandang ke sekeliling. Namun di sekelilingnya ia tidak melihat apa pun. Sandra hendak memberitahukan apa yang diceritakan oleh Laura kepadanya. Tapi Tomi sudah keburu berbicara, “Kita harus kembali ke lab ....” “Untuk?” tanya Sandra. Mereka baru saja kembali dari ruang laboratorium dan kini mereka harus ke sana lagi. “Memang ada apa?” “Profesor Ismunandar menelepon barusan. Ia mengatakan jika rencana awal telah diubah. Proses pembuatan vaksin tidak akan dikerjakan esok hari. Sepertinya Lucas curiga dan kita semua harus main cantik.” Sandra mengangguk pelan. “Baiklah jika begitu. Aku kira ada serangan dari anggota Mr. Mun ... Bukannya tadi aku dengar, prajurit yang diperintahkan Mr. Mun ke mari untuk menculik Gita dan Lucas? Ternyata mereka berdua sangat berharga. Harusnya aku tidak meninggalkan Lucas dan berpura-pura mati. Berpura-pura dikremasi dan petugas yang sudah aku suap memberikannya abu kremasi hewan,” sambungnya sembari tertawa lirih. Seolah menertawakan kebodohan Lucas, suami yang sudah tidak dicintainya itu dan lebih memilih untuk berselingkuh dengan Tomi, teman sejawatnya. “Saat ini Gita dan Lucas sangat berharga untuk kepentingan penelitian dan trobosan penemuan baru,” jawab Tomi. “Ayo cepat, kita kembali ke laboratorium lima. Profesor Ismunandar sudah menunggu kita di sana.” “Oke,” jawab Sandra santai. “Ayo, Laura, kamu ikut saja ....” Ia menggandeng tangan Laura erat. Netra Tomi menatap gandengan tangan Sandra kepada Laura. “Kenapa kamu mengajaknya? Biar saja dia menunggu di sini. Laura pasti bosan jika ikut kita di laboratorium.” “Tadi Laura bilang, ada seorang wanita yang berdiri di ambang pintu lalu masuk ke dalam.” “Siapa?” Tomi menjadi ingin tahu. Sandra mengendikkan bahunya. “Entahlah ... Aku tidak tahu. Laura hanya melihat penampilannya. Ia tidak tahu siapa ... Laura kan tidak mengenalnya.” “Apa jangan-jangan Gita? Dia ke mari?” Tomi menyimpulkan. Hening sesaat. Tomi dan Sandra saling menatap satu sama lain. Indra pendengaran Gita yang menangkap jelas perbincangan ini semakin ketakutan. Ia menutup mulutnya. ‘Ya Tuhan, mereka sudah bisa menebakku. Jika aku ketahuan ada di sini. Bersembunyi di sini, apa aku akan aman? Apa aku baik-baik saja? Sedangkan aku sudah mendengarkan seluruh perbincangan mereka. Dia Sandra, istri Lucas. Istri Lucas tidak meninggal. Dia malah kabur bersama selingkuhannya ...,’ batinnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN