“Mungkinkah Gita sampai ke mari?” tanya Tomi dengan sepasang mata terbelalak.
“Tidak mungkin,” jawab Sandra. “Dia pasti sedang bersama Profesor Ismunandar sekarang.
“Bersama Profesor Ismunandar bagaimana? Profesor Ismunandar tadi menelepon.”
“Semisalkan Gita sampai ke mari, aku yakin dia tidak akan masuk. Dia pasti sudah kembali ke tempatnya. Sepertinya tadi dia tersesat. Kamu tahu sendiri kan jika markas ini sangat besar,” kata Sandra sembari berjalan lebih dahulu sembari mengajak Laura.
“Hm, mungkin ... Dan semoga dia tidak akan ke mari. Bukankah seharusnya Profesor Ismunandar melarang Gita dan Lucas untuk ke markas di bagian selatan? Kenapa Gita bisa senekat itu dengan ke mari ..,” jawab Tomi sembari mengekor di belakang Sandra.
“Namanya juga nyasar. Pasti dia tidak tahu markas di sini adalah markas bagian selatan,” ucap Sandra menimpali.
“Gadis yang cukup bodoh yang buta arah. Padahal dia putri profesor Ismunandar. Harusnya dia cerdas.” Tomi tertawa mengejek.
Suara Sandra dan Tomi lambat laun tidak terdengar. Diiringi dengan derap langkah kaki dua pasang kaki yang berjalan menjauh dan menghilang di ujung koridor.
Jantung Gita yang berdebar kencang sejak tadi, perlahan mulai mereda. Ia menghela nafas panjang dan menghembuskan nafas lega. “Untung saja ...,” pekiknya lirih. “Aku harus keluar dari sini ...,” ujarnya pada diri sendiri dan segera keluar ruangan. Ia berjalan cepat melintasi koridor. Karena jika ia berlari maka dirinya akan tampak mencurigakan.
Di tempat lain, Lucas mencari-cari Gita. Pandangan matanya berpendar. Ia tidak melihat apa pun selain bunker-buker yang ada di ruangan besar ini. “Jika ternyata kita tidak menemukan Gita, maka kamu yang aku salahkan!”
“Loh kok saya yang disalahkan Tuan?” Nardi terkesiap.
Lucas kembali berburuk sangka. Ia mulai berpikir jika hal ini termasuk siasat. Bagaimana jika ternyata ketika memeriksa keadaan bunker tadi memang telah direncanakan? Ketika ia memeriksa bunker, maka seseorang menculik Gita.”
“Apa kamu bersiasat dengan seseorang agar bisa menculik Gita?” tanya Lucas dengan raut muka sangar penuh amarah.
Nardi mengatupkan bibirnya. Kedua alisnya bertaut dan keningnya berkerut. “Maksud anda saya bersekongkol dengan seseorang untuk menculik Nyonya Gita? Untuk apa? Kalian sudah ke mari, dan Profesor Ismunandar memerintahkan aku untuk mengantarkan kalian ke tempat peristirahatan. Aku hanya menjalankan perintah Profesor Ismunandar saja .....”
Lucas memejamkan matanya sesaat dan menghela nafas panjang. “Gita, saat ini ... begitu banyak ilmuan yang menginginkannya. Dia seolah harta karun. Bisa saja kamu bersekongkol dengan orang lain. Misalnya kamu bekerja sama dengan sekutu Mr. Mun. Mungkin saja di markas besar Profesor Ismunandar juga terselip pengkhianat. Kamu mungkin dibayar untuk membantu Mr. Mun.”
Perkataan Lucas membuat Nardi tersinggung. “Tuan, kata-kata anda keterlaluan. Aku tidak sedikit pun memiliki niat mengkhianati Profesor Ismunandar. Bagiku kebaikan, kebajikan dan kejujuran adalah nomer satu. Aku dididik oleh orang tuaku seperti itu. Kenapa anda menilai aku begitu? Apa karena aku adalah seorang pegawai rendahan? Atau aku hanya seseorang dengan status pelayan di sini?”
Lucas ingin menjawab kata-kata Nardi. Tapi suara Gita terdengar memanggilnya, diiringi derap langkah kaki.
Lucas menoleh.
Bayangan Gita belum terlihat. Tapi ia sudah mendengar suara derap kaki Gita, dan gumanan suaranya yang memanggil namanya.
Netra Lucas menunggu bayangan Gita muncul dari balik koridor. Dan satu menit kemudian, Gita muncul dari arah koridor sebelah kiri.
“Lucas, Lucas ...!” Kini Gita mulai berlari menghampiri. Ia terengah-engah ketika sampai.
“Lihat kan, teman anda masih sehat. Dan tidak ada yang menculiknya,” ujar Nardi.
Lucas menoleh dan menatap Nardi sekilas. “Aku ... aku minta maaf. Tadi aku hanya cemas.”
“Hm ... Seseorang yang memiliki kepintaran dan jabatan tinggi memang sudah bisa menghina pelayan rendah sepertiku ini ...,” gerutu Nardi.
“Bukan begitu Nardi. Sungguh maafkan aku ...,” kata Lucas dengan raut muka penyesalan.
“Sudahlah ....” Nardi terlihat masih kesal dan tersinggung atas segala yang dikatakan oleh Lucas. Ia berjalan pergi meninggalkan Lucas dan Gita yang hendak menghampiri.
“Nardi, maafkan aku!” Lucas kembali memohon.
Namun kali ini memang dia sudah menyakiti perasaan orang lain. Nardi tidak bergeming. Ia segera pergi dari ruangan yang luasnya tiga kali stadion olahraga.
“Astaga Lucas ....” Gita terengah-engah. Jantungnya berdegup kencang sejak tadi ketika mengetahui istri Lucas masih hidup dan justru tinggal bersama putrinya.
“Hei, kamu dari mana saja? Sudah aku bilang tunggu aku di sini!” Lucas mulai mengomel. “Karena kamu hilang tiba-tiba begitu aku sampai menyalahkan orang lain. Lihat ... Nardi tersinggung dengan kata-kataku.”
Netra Gita mengikuti langkah Nardi. “Kenapa dia? Kenapa dia marah? Memang kamu berkata apa padanya?”
“Aku pikir dia bersekongkol dengan seseorang untuk menculik kamu. Dia mengalihkan perhatianku dan orang lain menculikmu.”
“Lagian kenapa kamu langsung menuduh orang lain?” Gita justru berbalik memarahi.
“Kamu tahu kan jika sekarang, hampir semua orang jahat. Semua orang yang tahu betapa istimewanya kamu, pasti akan menginginkanmu,” jawab Lucas. “Apa lagi darahmu ...,” sambungnya lirih. Berusaha agar tidak ada orang lain yang mendengarkannya. “Aku cemas. Mangkanya itu aku marah kepada Nardi.”
“Tapi kamu sudah minta maaf kan?” tanya Gita yang kembali melihat bayangan Nardi pergi. Ia menjadi iba.
“Sudah. Tapi sepertinya dia tidak terima.”
“Astaga, berati dia amat tersinggung. Kamu harus minta maaf lagi.”
“Iya, aku tahu,” jawab Lucas lugas dan menatap Gita tajam. “Sekarang aku tanya lagi, kamu dari mana?”
Raut muka Gita kembali tegang. “Kamu tahu aku dari sana ....” Ia menunjuk koridor sebelah kiri.
“Iya, aku tahu. Tadi kan kamu kembali, muncul dari sana,” jawab Lucas. “Kenapa bisa kamu ke sana?”
Gita kembali menarik nafas panjang dan dalam. “Jadi ... tadi aku mendengar sayup-sayup suara anak kecil yang bernyanyi.”
“Anak kecil?” Lucas menyela. “Kenapa aku tidak mendengarnya ya?”
“Karena kamu ada di dalam bunker. Bunker itu kan kedap suara. Kamu pasti tidak mendengar suara-suara dari luar,” jawab Gita menyimpulkan. “Lalu aku mengikuti suara merdu tersebut hingga ke sumbernya. Sampai aku tidak sengaja berjalan ke dalam markas bagian selatan.”
“Apa?!” Lucas terkesiap. “Ada apa saja di sana?” tanyanya penasaran.
Gita menatap bola mata Lucas yang berwarna biru itu. Bola mata Lucas sama persis seperti manik mata si gadis kecil cantik berambut pirang itu. Gadis kecil tercantik yang pernah dilihatnya.
Lucas membalas tatapan Gita. Netranya seolah menembus bola mata Gita yang berwarna cokelat gelap. “Ada apa di sana?” tanyanya kembali.
Gita menghela nafas panjang dan dalam, lalu menghembuskannya perlahan sebelum menjawab.
Dari gelagat Gita yang seolah melihat sesuatu yang sangat penting membuat Lucas semakin penasaran.
“Ada apa? Katakan ... Jangan membuatku bertanya-tanya,” sungut Lucas. “Ada apa di bagian markas selatan yang tidak boleh kita masuki?”
“Putrimu, Laura ....”
“Apa?!”