“Putrimu Lucas ....” Suara Gita terbata-bata.
“Iya, apa?” Lucas berbalik bertanya dengan raut muka panik. “Ada apa dengan putriku?”
“Putrimu ... Bernama Laura kan?” Gita memastikan terlebih dahulu. Ia takut salah berasumsi. “Dan nama istrimu Sandra?”
Lucas mengangguk sembari menatap Gita tidak mengerti. “Ada apa sebenarnya Gita?” tanyanya dengan sepasang mata terbelalak. “Ada apa sih ...? Kenapa kamu seperti melihat hantu?”
“Aku memang melihat hantu,” jawab Gita terbata.
“Hantu?” Kening Lucas berkerut. Ia semakin tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Gita.
“Bisa kamu memperjelas apa yang kamu katakan?”
“Tadi, aku melihat Sandra istrimu dan putrimu,” jawab Gita nyaris tergugu.
“Apa?” Lucas terkesiap bukan main. “Kamu melihat istriku?” tanyanya tidak percaya. “Mana mungkin. Istriku sudah meninggal. Kamu yakin yang kamu lihat adalah istrimu? Kamu tidak salah lihat?”
“Sebetulnya aku tidak melihatnya. Tapi aku mendengar mereka menyebut nama kamu dan aku. Dari situ aku sangat yakin mereka mengenal kita.”
“Mereka?” Lucas langsung menebak jika terdapat lebih dari satu orang. “Siapa saja?”
Gita terdiam sejenak. Ia mengingat-ngingat Sandra memanggil pria yang bersamanya dengan nama ... “Tomi! Ya pria yang bersamanya adalah Tomi!”
“Tomi?!” seru Lucas dengan kedua alis bertaut. Lipatan dahinya terlihat berkerut dalam.
Gita mengangguk yakin dengan nama yang didengarnya. “Ya, Tomi. Aku yakin dengan yang aku dengar. Memang kenapa? Kamu kenal dengan seseorang yang bernama Tomi?”
“Tentu saja kenal. Aku memiliki teman bernama Tomi. Dia adalah temanku ketika di pekerjaan Kimia Farmasi kala bekerja dahulu.”
Gita segera bisa menebak benang merahnya. Semua terikat.
“Tapi tidak mungkin jika Sandra masih hidup. Dia sudah meninggal. Dia salah satu korban keganasan virus Orthovirinae-18 yang melanda negeri ini dan juga dunia.”
“Apa kamu melihat jasadnya sendiri?” tanya Gita dengan bola mata membulat.
Lucas membisu sesaat. Lalu menggeleng pelan. “Tidak ... Karena seseorang yang terkena virus harus melewati kremasi yang tidak biasa. Pihak keluarga dan kerabat dilarang menemani hingga tiang lahat. Bahkan jasadnya, dibakar. Abunya aku simpan di dalam basemen rumah kami.”
“Bisa dipastikan abu yang kamu terima bukanlah, abu istrimu,” ujar Gita menyimpulkan dengan air muka sangat yakin.
“Jadi maksudmu aku dibohongi?” Lucas bertanya lesu.
“Hm ... Maaf ...." Gita merasa tidak enak hati memberitahukan kebenaran menyakitkan ini. "Sepertinya demikian. Kamu sepertinya dibohongi.”
“Tidak mungkin Sandra berbohong sebegini hebatnya. Sehingga dia pura-pura mati.” Lucas menyangkal. Ia sungguh tidak suka dengan kenyataan yang diterimanya ini.
“Bisa saja. Karena mungkin dia sudah tidak cinta lagi kepadamu. Tujuannya sudah berbeda denganmu. Jika kamu ingin menciptakan vaksin pandemi demi rasa kemanusiaan. Tapi istrimu demi keuntungan semata. Dan tadi ... aku juga melihat Laura. Sandra mencari Laura yang bersembunyi karena kedatanganku.”
“Jadi Laura tidak diculik? Dia bersama Sandra?”
Gita mengangguk. “Ya ... dan juga bersama Tomi.”
“Pantas saja si penculik itu mengatakan Laura dijamin akan berada dalam pengawasan. Laura akan baik-baik saja. Dia tidak akan dilukai jika aku membantu mereka menciptakan ramuan serupa. Makhluk super seperi diriku dan juga membawa putri Profesor Rudi ke sebuah markas laboratorium di Kota Bandungan.”
Seketika hening.
Mereka baru tersadar justru masuk ke dalam perangkap dengan suka rela.
Gita dan Lucas saling menatap satu sama lain.
“Jangan-jangan markas laboratorium yang ada di Kota Bandungan adalah markas ini ...?” tanya Gita sembari memendarkan padangan.
Lucas mengatupkan bibirnya. Ia baru tersadar jika masuk dalam perangkap tanpa sebuah perangkap. Mereka ke mari dengan suka rela karena mencari profesor Ismunandar. “Jadi ... menurutmu, Profesor Ismunandar juga sudah membelot? Dia sudah tidak lagi seorang ilmuan yang baik hati?”
Gita tidak bisa menyimpulkan apa pun. Ia pun sama seperti Lucas. Ia kebingungan. "Entahlah ... aku belum tahu."
"Tapi firastaku tidak enak kepadanya sejak Profesor Ismunandar menerima telepon dan mulai membahas soal pengorbanan yang harus kamu lakukan demi kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi ini."
"Kamu membuatku merinding," ujar Gita sembari bergidik ngeri melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Oia, gadis cilik yang kamu bilang bernama Laura itu ... dia baik-baik saja?” tanya Lucas ingin tahu.
“Iya, dia baik-baik saja.”
“Dia ada di markas di bagian sayap selatan?”
Gita menganggukkan kepalanya kembali.
“Aku ingin menemuinya ...,” ujar Lucas yang tidak berpikir panjang karena rindu yang sudah teramat berat dipikulnya kepada sang buah hati.
“Hei, hei tunggu ...!” Gita mengejar. Untung saja Lucas hanya berjalan tiga langkah. Ia menarik lengan Lucas. “Tunggu Lucas!”
“Ada apa? Aku ingin menemui Laura,” jawab Lucas cepat. Ia kembali akan melangkahkan kaki menuju markas di bagian selatan.
“Hei, hei Lucas tunggu!” teriak Gita. Suaranya yang nyaring menggema di ruangan besar ini.
Lucas menghentikan langkah kakinya. Menoleh ke belakang. “Tidak usah berteriak-teriak ... Kita kan tidak tahu jika ada orang-orang yang berada di di dalam bunker? Lihat betapa banyaknya bunker di dalam ruangan ini.”
Gita segera mengendalikan suara dan juga emosinya. “Mangkanya dengarkan aku dulu!” pekiknya lirih.
Kini Lucas benar-benar menghentikan langkah kakinya dan menyimak apa yang akan dikatakan oleh Gita. “Ya, ya ... kamu mau bilang apa?”
“Jangan ke sana ...,” jawab Gita dengan tatapan tajam. “Jangan ke bagian sisi sayap selatan markas ini. Jangan menghantarkan nyawamu sia-sia ....”
Sejenak mereka terdiam. Saling memandang satu sama lain. Hingga Lucas tertawa renyah. “Aku mengantarkan nyawa? Apa kamu lupa jika aku memiliki kekuatan super?”
“Jadi kamu mulai sombong Lucas? Justru keangkuhan yang akan mengalahkan orang-orang hebat.”
“Maksudmu bagaimana?” tanya Lucas menuntut penjelasan.
“Kamu harus sadar, di bagian selatan itu ... Istrimu yang pura-pura mati berada. Dia tidak ingin ditemukan olehmu. Dia ingin kamu menganggapnya sudah mati.” Gita menjelaskan. “Lalu tiba-tiba kamu ke sana dan mencarinya.”
“Aku tidak mencari Sandra. Tapi aku mencari Laura,” jawab Lucas menjabarkan.
“Tapi Laura bersama Sandra!” Gita sedikit bernada tinggi agar Lucas mengerti. “Jika mereka ingin kamu tidak mau mengetahui fakta sesungguhnya, maka biarlah tetap begitu. Yang terpenting kamu sudah tahu jika Laura berada di tangan yang aman. Bagaimana pun Sandra ibunya, pasti Laura aman.”
Lucas menatap Gita. Hatinya sedikit terbakar amarah kekecewaan dan juga cemburu mengetahui Sandra membodohinya dengan pura-pura mati. Juga ternyata selama ini Sandra bersama Tomi untuk menipunya. “Apa tadi mereka terlihat akrab dan mesra?” tanyanya lirih.
“Mereka? Maksud kamu Tomi dan Sandra?”
Lucas menganggukkan kepalanya pelan. “Hm ... Mereka mesra?”
Gita tidak langsung menjawab. Sebetulnya dari indera pendengarannya yang menguping pembicaraan Sandra dan Tomi, lalu dengan sebutan panggilan ‘sayang’ di antara mereka sudah menunjukkan hubungan kedekatan mereka. Tapi ia tidak sampai hati memberitahukan semua itu kepada Lucas.
“Gita ... Apa kamu melihat Sandra dan Tomi akrab dan mesra?” tanya Lucas sekali lagi.
Gita menelan salivanya. Membasahi kerongkongannya yang kering. “Hm ... aku kan posisinya bersembunyi. Jadi aku tidak melihat mereka. Aku hanya menguping.”
Lucas menghela nafas berat. Raut mukanya tersirat kekecewaan yang luar biasa.
Tanpa sadar Gita meraih tangan Lucas. Ia menggenggam telapak tangan lebar dan kekar itu. “Lebih baik kamu tahu fakta ini kan, dari pada terus menerus menganggap jika Sandra, istrimu itu memang benar-benar sudah meninggal. Dia telah membodohi kamu. Dia harus mendapatkan balasannya ....”
“Aku hanya ingin tahu alasan apa dia sampai berbuat seperti ini padaku? Apa untungnya bagi dia membuat skenario kematian begini?” Lucas tidak habis pikir. “Aku harus mengetahui alasan Sandra berbuat begini kepadaku.”