“Aku hanya ingin tahu, apa alasannya Sandra melakukan ini padaku,” ujar Lucas kepada Gita.
“Kamu pasti akan tahu apa jawabnya.” Gita sangat yakin. “Tapi sepertinya kamu jangan begini. Kita tidak perlu ke tempat itu untuk mamastikan alasan apa Sandra melakukan semua kebohongan ini kepadamu.”
“Lalu aku harus bagaimana? Aku akan mati penasaran?” Lucas gelisah.
Gita menggenggam tangan Lucas dan mengajaknya ke dalam bunker. “Lebih baik kita beristirahat dulu. Kita bicarakan di dalam bunker. Pasti pikiran kita akan kembali segar setelah beristirahat dan melepas penat."
Tanpa sadar mereka bergandengan tangan melangkah bersama menuju ke bunker bawah tanah dengan atap bercor bulat yang sedikit menyembul ke atas permukaan tanah datar.
Ketika Gita melangkah masuk ke dalam bunker, netranya berpendar dan langsung mengagumi arsitektur juga fasilitas perabotan yang mendukung di dalam sini. “Wow ... ini sih keren. Ini bukan bunker namanya. Tapi ini adalah penginapan mahal.”
“Tetap saja kita harus harti-hati, karena kita bukan sedang liburan,” ujar Lucas menimpali.
“Kamu mau tidur di kamar sebelah mana? Yang di kiri atau kanan?” tanya Gita segera.
“Kamu atur saja. Aku mengikut.”
“Jika begitu, aku di bagian kiri saja ya. Dan kamu di sebelah kanan,” jawab Gita. Dan dengan bahagia ia segera masuk ke dalam kamar berukuran sangat kecil. Kamar tersebut hanya cukup satu ranjang dan juga lemari sorong yang multifungsi di kolong ranjangnya. “Ini sungguh fantastis. Entah siapa yang merancang bunker dan juga markas ini,” sambungnya memuji.
Lucas menarik kursi dan membukanya. Dalam hitungan lima detik kursi lipat tersebut terbentang dan ia segera duduk. “Siapa pun yang merancang bangunan markas ini berserta bunker-bunker kecil di dalamnya, aku yakin dia sangat hebat,” ucapnya sembari melipat kedua tangan di depan d**a.
**
“Siaaal!” teriak Ervan dengan suara lantang. Ia melampiaskan amarahnya dengan melempar semua perlengkapan yang ada di atas meja. Bahkan sebuah tab yang terlempar dari atas meja, layarnya retak karena terbentur kerasnya lantai.
David menundukkan muka. Ia tidak berani memperlihatkan wajahnya yang telah gagal memimpin pasukan untuk menangkap Gita dan Lucas. Ditambah p*********n mereka ke markas musuh juga gagal. Yang ada justru prajurit-prajurit yang mereka miliki tumbang karena kalah melawan pasukan Profesor Ismunandar.
“Kenapa kamu bisa kehilangan Gita dan Lucas?” Suara Ervan sangat terdengar emosi. “Kenapa bisa mereka justru menuju ke Kota Bandungan? Kota yang bukan kekuasaan kita?”
“Sebelumnya anda harus tahu, Tuan ... Jika Gita memang mencari Profesor Ismunandar. Dan Lucas mengantarkan gadis itu,” jawab David memberitahu.
“Kalian lambat!” Ervan memicingkan sepasang matanya dengan raut muka menilai sebelah mata.
“Lambat apanya, Tuan? Kami sudah berusaha secepatnya menangkap mereka. Tapi memang tujuan awal Gita adalah ke Kota Bandungan, itulah yang didengar oleh Ethan. Indera pendengaran Ethan memang sangat tajam. Dia ....”
“Jika Ethan memiliki indera pendengaran yang sangat tajam dan berbeda dengan manusia pada umumnya, harusnya kalian bisa segera menangkap target! Tapi mana? Apa yang kalian dapatkan? Hanya kegagalan dan kegagalan yang kita terima,” sahut Ervan dengan raut muka ditekuk.
David kembali menunduk. “Kali ini aku akan pastikan untuk berhasil, Tuan Ervan. Agar Mr. Mun tidak- ....”
“Tidak apa?!” Suara Ervan menggelegar menyela kalimat yang akan diucapkan David. “Tidak apa? Mr. Mun sudah sangat merah. Dia sungguh kecewa luar biasa. Bagaimana bisa kamu gagal dalam menjalankan perintah? Sudah dua kali kegagalan yang kita dapatkan. Lalu target sudah berada di tangan musuh. Bagaimana jika Profesor Ismunandar dan sekutunya membuat vaksin yang ciptaan profesor Rudi? Pasti mereka akan menguasai pasar. Mereka akan menjual vaksin yang luar biasa hebat sebelum kita. Dan pasti mereka akan mematok harga vaksin tersebut sangat mahal untuk memperkaya diri. Mr. Mun pasti akan marah jika mengetahui ini semua.”
“Kali ini, menurut anda apa rencana yang harus kita usung, Tuan? Aku akan menjalankan sesuai perintah,” ucap David sembari menunduk.
Ervan diam. Ia belum memiliki rencana lagi setelah dua rencana yang digadang-gadang akan berhasil menghantarkan mereka kepada kemenangan ternyata gagal total. Bahkan terakhir p*********n mereka ke Kota Bandungan gagal total di perbatasan. Yang ada justru mereka harus kehilangan prajurit-prajurit.
Kehilangan prajurit dalam kematian berarti sama saja dengan memperlemah kekuatan kloni yang mereka miliki.
Ervan menghela nafas panjang dan dalam. Ia mulai memikirkan rencana apa yang harus disusun agar mereka tidak gagal kembali. Sepertinya strategi kali ini harus sangat dipikirkan sangat matang agar tidak gagal kembali.
Ervan melipat kedua tangannya di depan d**a sambil menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Sepertinya kita harus mencari titik lemah musuh.”
“Misalnya?” David bertanya.
“Kita harus memancing Gita dan Lucas keluar dari markas Profesor Ismunandar.”
**
Di ujung koridor panjang, netra Fahira mampu melihat mimik muka Ethan yang tampak sedih berjongkok di ambang pintu keluar yang terbuka. Langkahnya segera dipercepat agar cepat sampai.
Sepasang kaki jenjang indah dibalut dengan celana jeans skiny hitam berdiri tepat di depan Ethan.
Ethan menatap ujung kaki terbalut sepatu sport.
“Kamu kenapa?” tegur Fahira.
“Tidak kenapa-kenapa ...,” jawab Ethan dan kemudian berdiri. “Aku hanya mencari udara segar.” Ia mencoba menutupi keresahan yang dipikirkannya.
“Oh ya?” Fahira tidak percaya. “Jangan berusaha membohongi aku. Aku adalah penciptamu. Aku tahu jika kamu dilanda kegelisahan dan juga dilema.”
Ethan mulai tidak suka dengan kata-kata ‘Aku adalah penciptamu’. Kalimat tersebut membuatnya seraya terkukung dan menjadi milik Fahira.
“Kamu adalah penciptaku? Dan aku adalah kepunyaan kamu? Begitu?” Ethan mulai memperlihatkan isi hatinya. Ketidaksukaannya.
“Apa kamu marah? Aku benar kan ... Pada faktanya, aku adalah penciptamu. Aku mengerti apa pun tentangmu,” tukas Fahira.
“Tapi aku bukan milikmu,” jawab Ethan menimpali. “Dan penciptaku bukan kamu. Tapi Tuhan.”
Hening.
Fahira tidak menyangka jika Ethan mampu berbicara demikian. ‘Dia teringat akan Tuhan? Bukannya dia masih amnesia?’ tanyanya di dalam hati.
Ethan memandangi wajah Fahira. Terlihat guratan rasa terkejut yang tak terkira. “Aku mulai menangkap kepingan-kepingan masa laluku. Apa yang dikatakan oleh Gita memang benar. Aku adalah mantan guru ketika di SMA-nya. Dia mengenalku ... Terkadang aku melihat para siswa dan siswi yang menyapaku. Gedung besar sekolah tempatku mengajar. Kenapa kamu membohongiku, Fahira? Kamu bilang jika kita adalah teman. Kamu bilang aku bisa mempercayaimu. Tapi kamu telah menyembunyikan identitasku. Kamu hanya menganggap ku tidak lebih sebagai anjing peliharaan.”
Kerongkongan Fahira langsung terasa kering. Lidahnya kelu. Ia tidak menyangka Ethan mengingat sebagian masa lalunya. Kenapa bisa kepingan memorinya kembali muncul ke permukaan. Padahal ketika melakukan penelitian dan pembuatan senjata biologis manusia super ke dalam DNA Ethan, ia dan timnya sudah memusnahkan ingatan masa silam Ethan. Hingga ia melupakan jati dirinya.
Ethan menatap Fahira tajam. “Kamu telah membohongiku Fahira. Kamu hanya menganggap ku sebagai anjing peliharaan,” ujarnya lirih.
“Tidak begitu Ethan, kamu salah faham ...,” jawab Fahira mengelak.
“Salah faham apa? Benar kan jika di sini aku hanya seperti anjing peliharaan? Tidak lebih.” Ethan mulai semakin emosional.
“Itu tidak benar Ethan. Kita keluarga ....”
“Keluarga? Bukankah David tidak pernah menghargai ku? Dia tidak pernah menganggap ku sebagai manusia yang juga memiliki perasaan. Dia hanya menganggap aku seolah anjing penjaga yang tidak memiliki hati. Seolah hatiku beku mendengar kalimat-kalimat kasarnya dan juga perintahnya.”
Fahira mengatupkan bibirnya. “Bukan begitu Ethan ....” Ia berusaha menjelaskan. Namun Ethan sudah tidak mau mendengarkan.
Ethan membalikkan badan. Berlari keluar dan melintasi halaman. Lalu dengan mudahnya ia melompati benteng kokoh dan tinggi dengan kawat berduri di atasnya.
“Ethan! Kamu mau ke mana?!” teriak Fahira berlari mengejar. Namun ia tidak bisa mengejar Ethan yang memiliki kekuatan super.
Langkah Fahira berhenti di halaman samping. Netranya memandang dinding besar dan kokoh benteng yang menjulang tinggi. “Ethan! Kembali!” teriaknya kencang. “Kamu salah faham!”
“Ada apa?” tegur David dari belakang punggung Fahira.
Fahira membalikkan badan. Menatap David yang berdiri di ambang pintu. “Ethan pergi ... Dia melompati tingginya benteng dengan mudahnya,” jawabnya dengan tatapan menerawang. Seolah kehilangan harta benda yang sangat berharga.
“Kenapa kamu diam saja? Cepat laporkan kepada penjaga! Mereka harus menghentikan Ethan dan membujuknya kembali ke mari!” seru David sembari menuju ke arah koridor dan mengangkat gagang telepon yang tergantung di dalam box telepon. Ia menekan angka tiga yang berarti langsung tersambung ke pos jaga.
Tidak lama berselang, hanya hitungan tiga puluh detik, seseorang mengangkat panggilan telepon Ethan.
Telepon yang berfungsi hanya di sekitar markas ini sangat berguna agar segala informasi dan tindakan dilakukan lebih cepat.
“Tim jaga pos depan dan sayap kiri,” ujar David memberi kode.
“Ya, siap! Ada apa?”
“Ini David. Informasi jika Ethan pergi melintasi dinding yang berjajar di bagian sayap kiri markas besar. Segera bujuk dia untuk kembali! Jika dia menolak, gunakan cara kekerasan.”
“Baik Tuan! Laksanakan!”
Panggilan telepon kembali dimatikan dan David menaruh kembali gagang telepon di tempatnya.
Fahira yang mendengarkan langsung perintah David ke bagian pos tidak setuju. “David, kenapa kamu memerintahkan kepada mereka jika Ethan menolak maka gunakan saja cara kekerasan?! Astaga, kamu ini ... Pantas saja jika Ethan menganggap dirinya hanya anjing peliharaan dan penjaga di sini!”
“Kenapa kamu marah? Bukankah itu benar? Kamu menciptakan makhluk aneh seperti Ethan untuk sebuah senjata biologis. Senjata yang artinya sebuah benda untuk menjaga diri kita dari marabahaya. Tidak lebih dari seekor anjing peliharaan yang diperintahkan untuk menjaga Tuannya,” ucap David sinis.
Tangan Fahira mengepal. “Dasar kamu ...,” pekiknya lirih dan sangat kesal. “Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Bahkan seekor anjing pun memiliki perasaan karena dia adalah makhluk hidup! Aku bersyukur karena telah mengakhiri hubungan kita. Karena kamu tidak lebih dari seorang pria kejam yang sama sekali tidak memiliki empati,” sambungnya sembari melangkah pergi. Menyusuri halaman samping untuk menuju ke depan. Ia akan mencari Ethan.
Para prajurit yang diperintahkan David mencari tidak bisa diharapkan dan dipercaya. Bagaimana jika mereka bukannya membujuk Ethan kembali, tapi justru membawa Ethan pulang dengan paksa? Dengan cara kekerasan? Fahira sungguh cemas.
David menggemeretakkan giginya karena mendengar kata-kata Fahira. “Jadi kamu bersyukur karena telah mengakhiri hubungan kita dan berpisah dariku?” Ia sangat tidak terima dengan pernyataan Fahira tersebut.
Karena di dalam hati David, masih ada sebersit rasa cinta untuk Fahira. Ia hanya ingin merelaksasikan hubungan mereka. Ia hanya ingin mereka beristirahat dan fokus dengan pekerjaan masing-masing. Bukannya putus sungguhan.
**
Di luar markas, Ethan berlari sangat kencang. Memori masa silam kembali merasuki benaknya. Suara tawa murid-muridnya. Salam menyapa dari siswa siswinya. Sebuah kelas yang tertata rapi dan bersih.
‘Pak Jonas, ini bekal makan siangnya. Aku yang membuatnya sendiri ....’ Suara seorang gadis terngiang di telinganya. Lalu perlahan bayangan gadis tersebut muncul dalam ingatannya. Kedua tangan yang menyodorkan bekal makan siang dengan tas bekal berwarna pink.
Perlahan tapi pasti wajah si gadis mulai terbayang dan teringat lagi.
Langkah Ethan yang berlari cepat kini terhenti. Sontak terkesiap ketika wajah si gadis pemberi bekal tersebut mulai benar-benar jelas teringat.
Gadis manis berambut panjang. Sedikit ikal. Tersenyum ke arahnya.
“Gita!” pekik Ethan. “Gadis yang memberiku bekal adalah Gita?!” serunya pada diri sendiri. “Jadi sebetulnya Gita sangat mengenal siapa aku di masa silam! Dia sangat mengetahui jati diriku sebelumnya! Tapi kenapa dia juga pura-pura tidak terlalu mengenalku?”