Ethan berteriak-teriak memanggil nama Gita dan ingin menyusulnya ke dalam markas besar Profesor Ismunandar. Padahal tidak akan mungkin dia bisa masuk ke dalam markas tersebut.
Markas yang dijaga oleh para prajurit handal. Bahkan menurut Ethan kehandalannya melebihi kekuatan pasukan kloninya.
Seolah memiliki batin yang kuat, Gita yang berada jauh dari Ethan dan duduk di kursi dalam bungker tempat tinggalnya dan Lucas. Terduduk lesu, menunduk dan berwajah murung.
“Kau kenapa?” tanya Lucas dengan dengan dahi berkerut dalam. “Tiba-tiba murung begitu?”
“Aku ingin memberitahu sesuatu padamu. Namun takut kau marah,” jawab Gita lirih.
Lucas semakin penasaran dan ingin tahu. “Memangnya apa yang kamu sembunyikan?”
“Yakin kamu tidak akan marah?”
Lucas terdiam dan menatap Gita lekat-lekat. “Tergantung,” jawabnya cepat.
“Tuh kan ... Kalau begitu, aku gak jadi untuk kasih tau kamu. Lebih baik aku diam.”
“Sudahlah Gita ... Jangan bermain-main denganku. Cepat katakan ada apa?” tanyanya dengan sepasang mata membulat.
Gita tidak membalas tatapan Lucas ke arahnya.
“Hei, jawab ... Apa yang kamu sembunyikan?” tanya Lucas cepat.
“Tidak ada,” jawab Gita gelisah dan resah.
“Tadi kamu bilang ada yang kamu sembunyikan. Kini kamu bilang tidak ada. Gimana sih? Kamu plin plan,” tutur Lucas kesal.
“Aku takut kamu sebut aku orang jahat,” jawab Gita sambil mendongakkan wajahnya dan menatap tajam Lucas.
“Aku mendengarkan. Memang ada apa? Cepat katakan ... Jangan membuat permainan yang menjadikan orang penasaran!” seru Lucas mulai gerah dan kesal.
“Tapi serius ya, kamu jangan menghakimi aku.”
“Aku tidak lagi bekerja di pemerintahan. Apa lagi aku bukan seorang hakim,” tutur Lucas kesal. “Cepat katakan padaku. Ada apa? Apa yang ingin kamu sampaikan!”
Gita menarik nafas panjang dan dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. Netranya menatap Lucas dalam-dalam. “Tadinya aku tidak akan menceritakan ini padamu. Karena aku pikir ini bukanlah masalah besar. Tapi aku pikir-pikir lagi ... Kita adalah partner. Kita sudah bersama-sama dalam melewati rintangan. Dan aku juga sudah tahu masalah pribadi kamu itu apa. Sandra dan Laura, istri dan anakmu.”
“Memangnya kamu memiliki masalah pribadi apa?” tanya Lucas yang rasa penasarannya semakin menjadi.
“Sebetulnya bukan masalah pribadi. Tapi aku pernah berbohong kepadamu,” jawab Gita jujur.
“Kami berbohong kepadaku?” Lucas terkesiap. “Kamu berbohong apa kepadaku? Jangan-jangan kamu membohongi soal data penelitian ayahmu ya?!” serunya dengan mata mendelik.
“Bukan!” Gita menyanggah cepat. “Bukan, seperti itu! Ekstrim sekali kebohonganku. Jika dikategorikan ekstrim atau tidak kebohongan ku ini tidak terlalu berat.”
Lucas mulai geram karena Gita terlalu berbelit-belit. “Cepat ceritakan. Aku sudah kesal mendengarkan kalimat kamu yang ke sana ke mari.” Ia beranjak berdiri dan akan keluar bungker.
“Hei, hai kamu mau ke mana?” tanya Gita ketika melihat Lucas beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu keluar bungker.
“Mau cari angin,” jawab Lucas asal.
“Kan di luar tidak ada angin. Kita kan masih berada di dalam markas. Kecuali bunker kita berada di hutan alam.”
“Tapi setidaknya aku terhindar dari sakit kepala mendengarkan kata-katamu yang berbelit-belit,” jawab Lucas. “Sebetulnya kamu mau bilang apa sih? Kalau cuma mempermainkan orang lain, jangan begini.”
“Aku tidak mempermainkan kamu Lucas,” ujar Gita. “Aku sungguh akan memberitahukan kamu sesuatu.”
Lucas menghentikan langkah kakinya dan kembali berbalik badan. “Ya sudah ceritakan,” jawabnya tegas. “Jangan berbelit-belit lagi bicaranya. Jika kamu seperti itu lagi, maka aku akan keluar. Lebih baik duduk di depan bungker walau tidak mendapatkan hembusan angin segar. Mungkin saja aku akan bertemu dengan putriku.”
“Ya, ya aku akan memberitahu kamu. Bicaraku tidak akan berbelit,” ujar Gita berjanji.
“Hm ... Oke kalau begitu cepat katakan, apa yang ingin kamu ceritakan.”
“Sebetulnya aku sangat mengenal Ethan. Tanda lahir di leher Ethan sangat meyakinkan aku jika dia adalah Pak Jonas,” jawab Gita dengan suara gemetar.
“Bukankah kamu sudah memberitahukannya juga, jika dia kemungkinan Pak Jonas? Mantan guru SMA dahulu?” Lucas mengingatkan.
“Tapi cerita aku ini belum lengkap.”
Lucas terdiam dan menatap Gita lekat. “Cerita belum lengkap? Maksudnya?”
“Aku dan Pak Jonas pernah memiliki hubungan spesial,” jawab Gita pelan.
“Apa?” Lucas terkesiap. “Jadi kamu dan Ethan pernah pacaran?”
Gita menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terlihat kikuk. Gestur tubuhnya tidak nyaman. “Sebetulnya hubungan kami tidak serius itu. Disebut pacaran juga sebetulnya tidak ada yang menyatakan cinta. Mungkin kala di jaman sekolah saat itu, aku saja yang kebaperan.”
Lucas masih menatap lekat Gita. “Maksud kamu hubungan tanpa status?” tanyanya penuh selidik.
“Hm ... Bisa dibilang seperti itu sih,” jawab Gita dengan seulas senyuman pahit. Bahkan wajahnya yang biasa riang dan berseri-seri, kini terlihat gelap.
“Tapi kenapa saat kita bertemu Ethan, kamu bilang, ‘Mungkin aku mengenal kamu’. Kamu tidak menjabarkan jika kalian sedekat itu. Ya walau tidak pacaran ... Tapi setidaknya hubungan kalian pasti dekat kan?”
Gita merapatkan bibirnya. Kerongkongannya terasa kering. “Aku takut ...,” ucapnya lirih.
“Takut apa?” tanya Lucas dengan sepasang mata yang memicing dan menusuk.
“Sebetulnya Ethan mengalami mutasi gen bukan karena setelah divaksin. Itu karena aku ...,” jawab Gita lirih dan raut muka penuh penyesalan. “Aku seorang pengecut. Aku ketakutan dan aku lari. Aku juga baru menyadari perasaan ku kepada pak Jonas hanya rasa kagum murid kepada gurunya. Tidak lebih ....”
Kelopak mata Lucas terbelalak. Netranya membulat bak bola pingpong. “Kamu sama sekali tidak pernah pacaran dengan Ethan. Tapi kamu mengaku dekat dengannya?”
Gita mengangguk pelan. “Seperti pada pecinta biologi dan kimia ... Seperti kamu, Fahira, David dan Profesor Ismunandar, Pak Jonas pun tertarik denganku karena aku adalah putri dari Profesor Rudi. Seorang ilmuan yang digadang-gadang sangat cerdas,” jawabnya lirih. Netra indahnya menatap Lucas dan kemudian kembali bercerita. “Ketika akan diadakan vaksin masal di sekolah, kami justru sibuk menciptakan vaksin sendiri di laboratorium biologi dan kimia. Kebetulan laboratorium di sekolah kami besar dan menjadi satu.”
Lucas menyimak. Cerita Gita membuatnya bergairaah untuk mendengarkan hingga selesai. Ia kembali berjalan menuju kursi dan duduk tegap di sana. Kedua tangannya terlipat di depan d**a, lalu punggungnya disandarkan kepada sandaran kursi.
Dipandang Lucas dengan tajam karena dia menyimak, membuat Gita salah tingkah dan tidak nyaman. Ia akan melanjutkan ceritanya. Namun lidahnya berhenti bergerak.
“Ayo lanjutkan Gita. Aku ingin dengar ... Jadi sebetulnya DNA Ethan bermutasi itu bukan karena vaksin dan juga penelitian Fahira?”
Gita menggelengkan kepalanya. “Bukan. Sepertinya. Fahira hanya membuat pak Jonas amnesia. Seperti mencuci otaknya. Membuatnya melupakan masa lalu dan juga jati dirinya.”
Lucas faham. “Lanjutkan ceritamu tadi,” pintanya penasaran. “Kamu dan Pak Jonas, alias Ethan, membuat eksperimen di laboratorium, lalu bagaimana? Apa yang terjadi?”