Ethan bukan orang lain

1187 Kata
“Seperti kamu ... Eksperimen yang aku buat gagal. Aku telah mengacaukan segalanya,” jawab Gita dengan raut muka datar. Tatapannya menerawang. Benaknya mengingat kembali kejadian dua tahun yang lalu. “Aku telah salah memasukkan zat yang harusnya tidak aku campurkan ke dalam serum.” “Memang tanpa inang penelitian seperti tikus, Ethan langsung menyuntikkan serum buatan ke tubuhnya?” tanya Lucas ingin tahu. “Serum yang kami buat tidak berpengaruh terhadap tikus. Tikusnya baik-baik saja. Maka kami mencoba menggunakan serum tersebut mengalir langsung di darah dan DNA manusia. Tapi sayangnya gagal,” kata Gita lirih. “Tiba-tiba pak Jonas mengalami kejang-kejang. Dia berteriak kesakitan. Karena ketakutan, bukannya menolong ... Aku malah kabur,” lanjutnya dengan suara gemetar. Hening. Lucas yang duduk sembari bersedekap menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Indera pendengarannya menyimak setiap kata dan cerita yang keluar dari bibir Gita. “Kamu pasti menganggap aku orang jahat. Begitu tega meninggalkan temannya ketika sedang membutuhkan pertolongan,” ujar Gita dengan tatapan sendu. “Saat itu aku hanya seorang anak kecil. Aku seorang gadis pengecut dan rentan mengalami rasa ketakutan yang luar biasa. Aku panik dan melarikan diri. Meninggalkan Pak Jonas. Sepertinya karena di sekolahan sedang diadakan vaksin masal, maka orang-orang mengira Pak Jonas mengalami kejang-kejang dan komplikasi karena efek samping dari vaksin.” “Kenapa kamu pura-pura hanya mengenal sekilas tentang masa lalu Ethan?” tanya Lucas lirih. “Harusnya kamu memberitahu Ethan yang sebenarnya.” “Ya, harusnya begitu. Tapi aku takut ...,” jawab Gita. “Aku takut mengakui kesalahan ....” Suaranya gemetar. “Sekarang kamu pasti menganggap aku buruk. Jahat, dan ... pasti kamu tidak percaya lagi kepadaku ....” Lucas tidak menjawab. Ia hanya menatap sendu Gita yang kini mengakui semua kesalahannya. “Aku takut dipersalahkan. Sedangkan Fahira senang karena dikira telah menciptakan manusia super seperti Ethan. Jadi, aku pikir ... Lebih baik biar begitu saja ....” Kembali hening. Kali ini kesunyian yang terjadi terasa lebih lama dari pada sebelumnya. “Hei, Lucas ... Kenapa kamu diam saja? Apa kamu menganggap aku begitu buruk, hingga tidak sepatah katapun kata yang keluar dari bibir mu?” Gita sungguh takut ditinggalkan oleh Lucas. Ia takut Lucas menganggapnya calon mitra yang memiliki bibit pengkhianat. Lucas menghela nafas panjang kembali. Lalu menghembuskannya perlahan. “Jadi menurutku, sebetulnya kamu yang bertanggung jawab atas Pak Jonas yang kini menjadi Ethan. Kita harus menyelamatkannya,” kata Lucas lirih. “Menyelamatkannya bagaimana? Dia sudah menjadi bagian dari sekutu Mr. Mun,” kata Gita mengingatkan. Lucas mencondongkan punggungnya. Menatap Gita dengan sangat lekat. “Tapi asal muasal tragedi yang menimpa Ethan adalah karena kamu. Kamu harus bertanggung jawab untuk memperbaiki kesalahan.” Gita mengatupkan bibirnya. Sepertinya yang dikatakan Lucas memang ada benarnya, pikirnya. “Lagi pula dahulu kamu pernah ada rasa kan kepada Ethan. Bisa-bisanya semudah itu kamu lupakan dia,” sambung Lucas. “Perasaanku dahulu itu hanya perasaan kekaguman saja,” kata Gita menimpali. “Aku tidak mencintai Pak Jonas. Aku hanya kagum kepada guru yang cerdas sekaligus tampan.” “Apa pun alasannya kamu harus membantu Ethan untuk kembali mengenali dirinya sendiri. Kita harus membantunya. Karena kehilangan jati diri itu seperti kehilangan pegangan hidup. Kita tidak tahu harus percaya kepada siapa jika kita tidak bisa percaya kepada diri sendiri.” “Iya, iya ... Aku tahu Lucas. Aku akan membantu Ethan. Tenang saja. Tapi bagaimana kita akan membantunya jika kita berada di dalam sini sedangkan dia di sana. Ethan bersama sekutu Mr. Mun sedangkan kita bersama Profesor Ismunandar.” “Selebihnya kita serahkan saja kepada takdir. Biarkan takdir yang membantu kita untuk menolong Ethan,” jawab Lucas lugas. “Dan ... Semoga petunjuk Tuhan terlihat oleh kita siapa yang sungguh-sungguh berhati tulus dan baik. Walau menurut aku, tidak ada yang berhati tulus dan baik.” “Maksud kamu?” tanya Gita tidak mengerti. “Setelah aku mengetahui Sandra masih hidup dan dia justru bersembunyi di sini bersama Tomi dan menyembunyikan putri kami, aku mulai memikirkan hal terburuknya ....” Kening Gita semakin berkerut. Banyak pertanyaan mulai muncul di dalam hatinya. Dan benaknya mulai lalu lalang tanda tanya yang tak terjawab. “Hal terburuk yang kamu pikirkan apa?” tanya Gita lirih. Bola matanya memandang tajam Lucas. Keingintahuannya sangat dalam. “Profesor Ismunandar tidak sebaik yang kita pikirkan.” Hening mencekam. Jantung Gita seraya terhunus pisau ketika mendengar jawaban dari pemikiran Lucas. “Tidak mungkin ...,” gumannya lirih. Lucas bisa membaca gerak bibir Gita yang telah mengatakan sesuatu dengan suara yang pelan. “Tidak ada yang tidak mungkin saat ini, Gita. Semua orang memikirkan diri sendiri dan keuntungan pribadi. Kita tidak tahu mana yang harus dipercaya. Bagaimana jika ternyata profesor Ismunandar tidak sebaik yang kita kira? Ternyata dia hanya menginginkan seluruh darahmu untuk dijadikan sampel pembuatan antibodi vaksin yang kelak akan dijualnya dengan harga tinggi untuk memperkaya diri?” Lucas menerka-nerka. Walau tidak ingin pemikirannya ini menjadi nyata, tapi setidaknya mereka harus berhati-hati untuk mengantisipasi akhir yang tidak diinginkan. Gita mengatupkan bibirnya. Ia menjilat bibir bawahnya yang terasa kering. “Lalu bagaimana setelahnya? Apa yang kita lakukan?” tanyanya serius. Sorot matanya yang semula tak fokus kini lurus tajam. “Kita hanya bisa diam dan berhati-hati. Aku akan mencari tahu dalam kesenyapan.” “Setelah itu, apa?” tanya Gita sekali lagi. “Jika ternyata profesor Ismunandar tidak sebaik yang kita kira dan dia berniat jahat. Maka kita harus pergi dari sini,” jawab Lucas memelankan suaranya. Walau bungkernya terlihat kedap suara, tapi ia tetap harus berhati-hati. “Aku akan mencari Laura dan membawanya pergi. Kita akan pergi dari markas ini. Itu kalau ternyata profesor Ismunandar tidak sebaik yang kita kira.” Gita mengangguk mengerti. “Baiklah ... Aku mengikuti rencana kamu saja ...,” jawabnya pasrah. *** ‘Selebihnya biar takdir yang menunjukan jalan dan mengulurkan tangan Tuhan.’ Kalimat familiar tersebut terngiang di telinganya. Sayup-sayup kembali terdengar suara bariton berat yang berbicara demikian kepadanya. Lalu suara renyah tawa dan bayangan seorang pria berusia paruh baya sekitar lima puluh tahunan lebih berdiri. Mengenakan blezer warna putih dan mengaduk kopi di cangkir porselen. 'Kita seorang ilmuwan. Kita berusaha sebaik mungkin untuk menciptakan sesuatu. Mengubah dunia. Namun walau begitu biarkan selebihnya takdir yang menunjukan jalannya. Biarkan takdir mengulurkan tangannya ....’ Langkah Ethan semakin lebar dan lebih cepat dari pada sebelumnya melintasi hutan belantara. Ia berlarian tanpa arah. Walau ia tahu tujuannya adalah kepada Gita. Tapi dengan suara-suara misterius di dalam kepalanya membuatnya seperti orang gila. Nafas Ethan terengah-engah. Suara bariton pria paruh baya dengan kalimat serupa terngiang-ngiang di telinganya. ‘Aku akan melakukan yang terbaik profesor Rudi.’ Ethan bisa mendengar suaranya sendiri yang berbicara dengan pria yang sedang mengaduk kopi di cangkirnya. ‘Kita memang harus melakukan yang terbaik untuk negeri ini dan selebihnya biar takdir yang menunjukkan jalan. Oh iya, aku juga titip putriku jika sesuatu terjadi padaku secara tiba-tiba.’ “Brak!” Ethan terjatuh tersandung batu yang tak terlihat di depannya tepat ketika kalimat terakhir profesor Rudi terngiang di telinganya. Mendayu-dayu bagai sirine yang terus mengingatkan. Ethan yang terjerembap di tanah, membiarkan tubuhnya tertelungkup dan terkapar seakan tak berdaya. Pandangan matanya menerawang. “Jadi, aku juga mengenal dekat dengan profesor Rudi?” tanyanya lirih pada diri sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN