Menyelinap

1086 Kata
“Apa kamu menganggapku buruk?” tanya Gita kepada Lucas. Ia sungguh takut jika Lucas menganggapnya tidak punya hati. “Kenapa kamu menceritakan semua ini? Padahal jika kamu tidak bercerita aku tidak akan tahu hubungan kamu dan Ethan di masa lalu sangat dekat. Dan kamu meninggalkannya.” “Karena aku tidak mau memiliki rahasia denganmu,” jawab Gita jujur. Lucas terhenyak mendengar pengakuan Gita. Ia menatap gadis itu. “Jadi kamu ingin kita menjalin kemitraan yang sehat?” Gita menganggukkan kepalanya. “Begitulah ... Aku tidak ingin ada rahasia di antara kita. Karena itu aku memberitahumu hal ini.” “Bagus kalau begitu,” ujar Lucas. “Aku menghargai sikapmu yang telah berbicara jujur.” “Terima kasih.” Lucas menahan tawanya mendengar kata terima kasih yang diucapkan oleh Gita. “Terima kasih untuk apa?” “Terima kasih karena tidak menganggap ku jahat. Aku tahu, jika sikapku ini sangat jahat. Aku meninggalkan Pak Jonas yang nyaris mati karena hasil penelitian kami.” “Semua itu bukan murni kesalahan kamu,” jawab Lucas. “Yang membuat percobaan serum vaksin tersebut adalah kamu dan Jonas. Maka dia juga melakukan kesalahan. Hanya saja, harusnya kamu tidak meninggalkan Pak Jonas dan meninggalkannya sendiri di lab biologi.” Kerongkongan Gita terasa kering ketika benaknya mulai mengingat kembali kejadian yang menimpanya. “Saat itu, sungguh aku sangat ketakutan. Aku takut aku dipersalahkan. Apa lagi statusku kala itu sudah bukan muridnya lagi.” “Jadi kala itu kamu sudah lulus?” Gita mengangguk. “Iya, aku baru saja lulus. Tapi karena aku dan Pak Jonas di luar sekolah berteman, aku sering diundangnya ke sekolah untuk melakukan beberapa eksperimen. Saat itu aku takut dipersalahkan. Didakwa hukuman karena kelalaian yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.” Hening sejenak. Ia menatap Gita yang masih muda. Usianya baru awal menginjak dua puluh tahunan. Ia pasti sangat ketakutan ketika dua tahun lalu. Melihat mantan guru biologinya yang mengalami kejang-kejang beberapa menit setelah disuntikkan serum olehnya. “Aku akan menebus semua kesalahanku. Jika aku bertemu dengan Ethan, aku akan mengatakan kejujuran dan semuanya padanya.” “Harus,” jawab Lucas tegas. Kembali hening sejenak, hingga suasana menjadi kikuk dan Gita beranjak berdiri untuk mengambil sesuatu di lemari es. “Mungkin di kulkas mereka sudah menyiapkan makanan beku yang tinggal dihangatkan,” ujarnya sambil akan menggeser kursi ke belakang. “Gita,” panggil Lucas tiba-tiba. Gita yang akan menggeser kursinya ke belakang, mengurungkan niatnya. Ia kembali duduk. “Ada apa?” “Malam ini, bisa tidak kita menyelinap ke markas sebelah selatan? Aku sungguh merindukan Laura. Aku ingin memeluk putriku,” kata Lucas dengan air muka bersedih. Gita tidak langsung menjawab. Mereka bertatapan sebentar. “Tapi pasti di sana akan mendapatkan penjagaan. Bagaimana kita melewatinya?” “Tapi kamu ke sana dan kembali baik-baik saja,” jawab Lucas mengingatkan. “Apa di sana terdapat penjagaan ketat?” Gita mengingat kembali. Satu menit kemudian ia menggelengkan kepalanya. “Tidak. Sama sekali tidak ada penjagaan. Sepi. Seolah markas bagian selatan itu tidak berbahaya.” “Bagus. Kita bisa ke sana!” seru Lucas semangat. *** Lucas tidak sabar menunggu jarum jam di arloji tangannya beralih menuju ke angka dua belas malam. Tengah malam ini, dia dan Gita akan menuju ke markas bagian selatan. Ia menghitung jarum kecil yang bergerak searah jarum jam pada arloji tangannya. “Satu, dua, tiga, empat ....” Menghitungnya hingga tepat enam puluh menit. Tepat jarum panjang dan jarum pendek bertumpuk di arloji tangannya, raut muka Lucas yang semula datar dan tenang berubah lebih semangat. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Gita yang sudah nyenyak terlelap. Gita merenggut. Kedua alisnya bertaut. Tangannya menggosok-gosok sepasang matanya. “Gita, aku pergi dulu ya,” kata Lucas memberitahu. “Setelah aku pikir-pikir lebih baik kamu berjaga di sini saja. Biar aku sendirian saja ke sana. Tapi jika aku tidak kembali dalam satu jam, berarti aku mungkin dalam masalah. Aku harap kamu jangan diam saja. Tolong aku.” “Hah, aku tinggal di sini?” tanya Gita dengan suara serak karena baru bangun tidur. “Iya, kamu diam saja di bungker. Di sini lebih aman. Lagi pula aku hanya sebentar. Aku hanya ingin melihat Laura baik-baik saja,” jawab Lucas. Gita menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku ikut kamu saja. Ngapain aku tinggal di bungker? Membosankan.” “Dengarkan kataku ... Tunggu di sini saja. Kamu pasti akan mengganggu.” “Tidak Lucas. Justru aku akan membantumu. Dua orang lebih baik dari pada seorang saja,” jawab Gita memaksa. Lucas terdiam. Sejenak menatap Gita. “Baiklah, ayo ikut,” ucapnya. “Ikat rambut panjang mu.” Gita mengambil karet rambut yang selalu dilingkarkan pada pergelangan tangannya. “Aku juga tidak akan beraksi tanpa mengikat rambut. Setelah keadaan aman dan aku menemukan salon, maka aku akan memotong rambutku.” “Jangan potong rambutmu,” kata Lucas melarang “Kamu lebih cantik jika rambutmu panjang.” Ia berucap sambil lalu. Mengambil sebuah pisau karena ia tidak memiliki senjata api lagi. Terakhir senjata apinya tertinggal ketika kejar-kejaran dengan kloni Mr. Mun. Gita terkesima dengan suara bariton Lucas yang melarangnya untuk memangkas rambutnya. “Ayo!” seru Lucas lirih. Ia berjalan di depan Gita. Tidak menyadari jika Gita mulai terbawa perasaan atas sikap manis dan perhatiannya. Gita mengikuti dari belakang. Mereka keluar dari bungker dan berjalan mengendap-ngendap menuju dua cabang koridor yang terbentang di depan. Dengan langkah pasti, Lucas memilih ke bagian koridor kiri. Namun setelahnya ia nyaris salah memilih jalan. Di depan terdapat cabang koridor lagi. Tapi lagi-lagi Lucas memilih koridor sebelah kiri. “Stt ... Lucas,” panggil Gita pelan. Lucas menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh ke belakang. “Ada apa?” “Kamu salah berbelok. Harusnya sebelah kanan!” jawab Gita berseru lirih. Lucas menganggukkan kepala. Ia mengarahkan jempolnya kepada Gita. Ia memutar, berbelok ke arah kanan. Namun ia melihat di kejauhan seorang pria mengenakan blezer putih dan celana jeans biru navy berjalan ke arah mereka. Derap kaki pria tersebut mulai menggema. Buru-buru Lucas membalik badannya lagi. Mengurungkan niat menuju ke bagian koridor sebelah kanan. Ia memberi kode kepada Gita. Kedua jarinya berbalik dan bergerak-gerak, bahasa isyarat jika ada seseorang yang berjalan menghampiri mereka. Gita mengangguk mengerti. Ia segera mengikuti Lucas melangkah cepat ke arah koridor bagian kiri. Lucas segera bersandar di dinding. Berlindung menyembunyikan diri. Gita berdiri di sisinya. Mereka saling menatap. Jantung mereka berdebar tidak karuan. Takut tertangkap basah mengendap-ngendap ke markas bagian selatan tengah malam tanpa izin. Lucas menaruh ujung tangannya di depan bibir. “Stt ....” Gita mengerjapkan mata, mengerti. Bibirnya terkatup amat rapat. Bahkan suara deru nafasnya yang terengah-engah berusaha disenyapkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN