Derap kaki seseorang yang berjalan menyusuri koridor bagian kanan terdengar semakin jelas.
“Dia datang,” desis Gita.
Lucas masih mengarahkan ujung jari telunjuknya ke depan mulut. “Stt ....”
Gita mengangguk mengerti jika seharusnya dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun walau sangat lirih.
Jantung mereka berpacu cepat ketika derap kaki seseorang semakin tertangkap indera pendengaran.
Langkah kaki yang bergema di sepanjang koridor tersebut, membuat Lucas dan Gita yang bersembunyi di sisi koridor lain, mampu membuat perhitungan pria tersebut sudah akan sampai.
Tanpa sadar Gita meremas tangan Lucas.
Bayangan gelap seseorang terlihat. Tanda orang yang sedang menyusuri koridor tersebut akan melintas.
Lucas dan Gita segera lebih menyandarkan punggungnya ke bagian dinding.
Pria yang mengenakan blazer putih sama sekali tidak curiga dengan Lucas dan Gita yang bersembunyi merapat di balik dinding.
‘Bagaimana jika dia berbelok ke arah sini?’ tanya Gita di dalam hati.
Jika pria tersebut berbelok ke arah mereka, maka tamat sudah. Pasti malam ini akan terjadi kehebohan karena Profesor Ismunandar akan bertanya kenapa mereka menuju ke markas bagian selatan padahal sudah dilarang?
Derap sepasang kaki pria tersebut masih menggema dan terdengar. Namun suara derap kakinya justru semakin menjauh.
Lucas menyembulkan sedikit kepalanya. Mengintip ke bagian dalam. Memastikan jika memang pria tersebut sudah pergi.
Setelah ia yakin pria yang tadi melintas sudah pergi dan tidak terlihat lagi, Lucas mengarahkan jari jempolnya kepada Gita. Menandakan jika situasi sudah aman.
Lucas berbelok lebih dahulu. Lalu diikuti oleh Gita.
“Di bagian pintu sebelah mana ruangan anakku?” tanya Lucas sambil menoleh ke belakang sebentar.
“Hm ... Yang mana ya ....” Gita menatap jajaran pintu yang ada di sisi kanan dan kiri koridor. Teradapat tiga pintu dengan cat putih serupa dengan warna dindingnya.
“Gita, kamu tidak ingat? Kita sudah sampai di sini. Jangan buang-buang waktu. Bisa saja ada seseorang yang kembali melintas.”
“Iya, iya ... Ini aku berusaha mengingatnya. “Astaga, di mana ya ... Ya ampun aku lupa,” tukasnya lirih sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Semua pintunya tampak sama.”
Gita menghentikan langkah kakinya. Ia berdiri di depan pintu yang ada di tengah-tengah. “Sepertinya ini ....”
Lucas menatap Gita lekat. “Yakin di sini?”
“Sebetulnya aku tidak yakin,” jawab Gita sembari tersenyum kecut.
Raut muka Lucas langsung datar mendengarnya. Namun ia segera memegang kenop pintu yang ditunjuk oleh Gita.
Tidak ada banyak waktu. Mereka harus segera menyelesaikan semua ini.
“Kreeeek ....” Pintu terbuka perlahan.
Suara gema pintu terdengar dan ruangan tampak gelap.
“Tidak ada orang,” ujar Lucas.
Ia dan Gita segera masuk ke dalam agar jika ada seseorang yang melintas tidak akan bertemu tatap dengan mereka.
“Apa kita tidak bisa menyalakan lampunya?” tanya Gita lirih.
“Menyalakan lampu? Apa kamu gila? Bagaimana jika di dalam ruangan ini ternyata kamar orang lain? Bukan kamar putriku?” Lucas tidak setuju.
“Ya, sudah lakukan semau mu. Jika kamu bisa melihat dalam kegelapan, aku diam saja di sini,” ujar Gita sekali lagi.
Mereka berbicara dengan suara sangat lirih seperti berbisik-bisik.
“Kamu pikir aku memiliki kekuatan yang sangat hebat? Memiliki mata yang berpendar dalam gelap?”
“Siapa tahu saja kan ....”
“Ya, aku bisa,” ujar Lucas mantap. “Tapi dengan ini ....” Ia menunjukkan cincin emas yang dikenakannya.
Gita menatap cincin emas pernikahan yang terlihat sangat kokoh dan anggun. Ia pikir Lucas mengatakan dia akan mencari Laura, putrinya itu dengan kekuatan cinta seorang ayah.
“Di cincinku ada senternya,” kata Lucas melanjutkan kata-katanya. Ia mengusap cincin tersebut lima kali dan kemudian seketika cahaya berwarna biru LED yang lembut dan ramah di mata menerangi ruangan.
Netra Lucas dan Gita berpendar ke sekeliling ruangan.
Ruangan yang sunyi. Satu meja kerja besar dengan laci di bagian kanan dan kirinya. Lalu beberapa rak-rak buku yang berjajar rapi di dinding. Tanaman hias berada di sudut ruangan.
“Sepertinya ruangan yang aku masuki bukannya ini ... Kemarin itu, aku melihat Laura di sebuah raungan besar, berisi aneka permainan anak. Ruangan tersebut seperti taman bermain buatan. Bukan ruangan kerja seperti ini. Memang sama-sama ada sofa,” ujar Gita sembari menunjuk satu sofa abu-abu. “Persis seperti ini. Tapi isi ruangannya tidak begini.”
“Oke, kita salah ruangan,” kata Lucas. “Kita keluar dan mencari kamar yang benar.”
Gita mengangguk. Ia akan memutar kenop pintu untuk membukanya.
Cuping daun telinga Lucas bergerak-gerak sendiri. Menangkap suara dua pasang langkah kaki yang melintas. “Tunggu, tunggu, jangan membuka pintu! Jangan keluar sekarang!” seru Lucas lirih.
Sontak Gita mengikuti perintah Lucas. Ia menjauhkan tangannya dari kenop pintu.
Lucas terdiam. Wajahnya berekspresi serius, mendengarkan derap langkah kaki dua orang yang semakin dekat. “Aku takut mereka menuju ke ruangan ini. Lebih baik kita bersembunyi.”
“Iya, iya! Kita harus sembunyi!” Gita sedikit panik. Netranya berpendar ke sekeliling untuk mencari tempat persembunyian. Namun sayangnya tidak ada tempat yang aman. Hanya sebuah sofa panjang berwarna abu-abu. “Di sana!”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Lucas segera mengikuti Gita dan bersembunyi di kolong sofa yang tidak terlalu besar. Sungguh riskan bersembunyi bersama di sana. Tubuh Lucas yang tinggi dan besar tersebut terpaksa harus membagi ruang persembunyian dengan Gita.
Tidak ada jalan kecuali, ia memeluk Gita dari samping.
Untung saja kolong sofa memiliki ruangan besar. Sehingga Lucas bisa berposisi miring dan memeluk Gita agar bisa bersama bersembunyi.
Jantung Gita berdebar ketika ujung indera penciumannya menghirup aroma khas tubuh Lucas yang khas. Rona merah terlihat menghias di kedua pipinya.
“Jangan berisik,” ujar Lucas lirih.
Gita yang berposisi membelakangi Lucas mengangguk mengerti. Walau ia berposisi demikian, tapi karena terlalu dekat, hidungnya mampu menghirup aroma khas tubuh pria yang maskulin.
“Kreeek ....” Suara pintu terbuka.
“Mereka masuk ke mari,” desis Lucas.
Ruangan yang gelap kini terang. Salah seorang dari dua orang tersebut menekan saklar lampu.
Dua pasang kaki yang terlihat dari kolong sofa, menunjukkan jika mereka adalah pria.
“Tomi, bagaimana penelitian mu?”
“Bagus,” jawab Tomi singkat.
“Apanya yang bagus? Sudah tiga bulan ini aku lihat penelitian mu tidak berkembang. Padahal Profesor Ismunandar menginginkan hasil yang optimal. Aku heran, kenapa beliau masih mempekerjakan kamu ....”
“Lebih baik kamu mengurusi urusan kamu saja. Fokus kepada tugas-tugas dan pekerjaanmu. Profesor Ismunandar akan selalu merektrut aku karena aku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain,” jawab Tomi sembari tersenyum sinis.
“Apa itu?”
“Ini berkaitannya dengan putri dari profesor Rudi,” jawab Tomi sambil berjalan ke laci meja kerja dan mengambil sesuatu dari sana.
Gita dan Lucas yang bersembunyi di kolong sofa, sama-sama terkesiap mendengarnya.