Pencarian Laura

1149 Kata
“Memang ada apa dengan putri dari profesor Rudi?” tanya rekan kerja Tomi. “Rahasia,” jawab Tomi dengan wajah angkuh sesumbar. “Kau ingin dokumen yang kemarin kan, Farel?” “Hm ... Iya.” Tomi melangkah menuju laci dan mengambil satu dokumen besar. “Ini ... Tapi saranku lebih baik kamu kerjakan tugas besok saja. Ini sudah larut.” “Ya, siapa juga yang mau mengerjakan tugas-tugas pekerjaan saat ini? Gajinya terlalu besar untuk aku menggunakan waktu istirahatku,” jawab Farel sembari tertawa. “Aku kira kamu tipe manusia yang gila kerja.” “Tidak begitu, kamu salah sangka,” jawab Farel cepat. “Jadi jangan cemaskan aku akan mengambil posisimu atau akan mengganggumu demi jabatan dan pekerjaan. Aku hanya seseorang yang memiliki jiwa ingin tahu sangat tinggi. Hanya itu.” Tomi tersenyum simpul. “Tenang saja, aku tidak berpikir demikian. Ya sudah cepat kembali ke ruangan mu. Ada yang harus aku kerjakan di sini.” “Oh ternyata kamu salah satu manusia yang gila kerja rupanya,” ejek Farel kembali tertawa. “Whatever ...,” jawab Tomi membalas. Farel akan membalikkan badannya dan keluar dari ruangan. Tapi jiwa keingintahuannya yang amat tinggi membuatnya menghentikan langkahnya. “Aku masih penasaran ....” Tomi menggeser kursi kerjanya yang memiliki roda tiga di bawahnya dan sandaran punggung yang empuk. Lalu duduk di sana. “Penasaran apa?” “Tentang putri Profesor Rudi itu namanya Gita kan?” Tomi mengangguk pelan sembari sibuk membuka laptopnya yang tadi tertutup. “Memang kenapa?” “Dia ada di sini kan? Di markas bagian utara?” tanya Farel sekali lagi. “Iya. Memang kenapa?” Tomi berbalik bertanya. “Tugas pekerjaanmu kan bukan tentang dia.” “Aku hanya ingin tahu saja, memang apa saja yang kau tahu tentangnya. Hingga Profesor Ismunandar sangat mempercayai dan mempergunakan mu di tim penelitian pembuatan vaksin?” Bukannya segera pergi ke luar ruangan, ia justru menarik kursi yang ada di depan meja kerja Tomi dan duduk nyaman di sana. Tomi menghentikan gerakan jarinya di atas keyboard laptop. Menatap Farel lekat-lekat. "Ini rahasia. Aku tidak bisa memberitahukan kepadamu," jawabnya lirih namun tegas. Bibir Farel terkatup. Rahasia antara Tomi dan Profesor Ismunandar itu seolah membuatnya bak anak tiri. "Jadi ini rahasia yang sangat rapat? Walau orang lain itu adalah aku yang sama-sama bekerja untuknya dan tinggal di satu markas, tetap tidak boleh tau?" Tomi menggelengkan kepalanya. "Maaf. Ini rahasia." Farel tampak kecewa. "Jadi begitu?" tanyanya sembari tersenyum simpul. "Baiklah, aku tidak akan banyak tanya lagi. Tapi jika kamu membutuhkan pertolongan aku, jangan harap aku bisa membantu." Tomi mengedarkan senyuman simpulnya. Seolah ia tak takut dengan apa yang dikatakan oleh Farel. "Tenang saja, aku tidak akan membutuhkan bantuan." Kedua alis Farel naik ke atas. "Baiklah ... Aku juga tidak begitu tertarik rahasia yang kamu tahu. Oh ya, Laura ... putrinya Sandra itu bukannya masih memiliki ayah ya? Jangan merebut milik orang lain. Ini hanya sebuah nasehat untukmu." Sejak dahulu, Tomi merasa Farel selalu iri dengan prestasinya di pekerjaan. Juga jabatan yang dimilikinya. Tapi mereka masih tetep berteman hingga sekarang. "Sudah cukup Farel, jaga batasan mu. Jika kamu masih ingin kita terus berhubungan baik, maka jangan ganggu dan ikut campur dalam masalahku." Farel menepuk-nepuk dokumen berupa buku besar yang dipegangnya. "Aku tidak tertarik dengan masalahmu Tom," jawabnya sinis. "Baiklah, sampai jumpa." Kali ini ia benar-benar membalikkan badan dan kemudian berjalan menuju ke arah pintu. Lucas dan Gita yang sejak tadi bersembunyi di kolong kursi menguping dengan teliti. Mereka mendengarkan setiap kalimat yang terucap. Suara pintu terdengar terbuka dan tertutup. Suasana berubah sunyi. Tomi menatap daun pintu dengan tatapan lekat dan ekspresi datar. "Sial," pekiknya lirih. "Berusaha untuk menganggu ku, lihat saja," gerutunya yang merasa terusik. Lucas dan Gita sudah patah arang, Tomi akan keluar segera dari ruangan ini. Jika Tomi tetap ada di sini, maka mereka harus bersembunyi entah sampai kapan. Tomi menutup laptopnya dengan gerakan kasar dan mimik muka cemberut. Rasa semangat untuk mengerjakan pekerjaan pupuslah sudah. Itu semua karena rasa kesal yang tiba-tiba dirasakannya itu. "Siaal!" sungutnya sembari memundurkan kursi dan kemudian beranjak berdiri. "Karena Farel, aku jadi tidak fokus. Kenapa dia harus mengungkit diriku yang telah mencuri milik orang lain?" Ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu segera berjalan menuju pintu depan. Sebelum membuka pintu, Tomi mematikan lampu terlebih dahulu. Suara pintu terbuka diiringi dengan suasana yang menjadi gelap. "Braaak!" "Dia sudah keluar, pintunya sudah ditutup," ujar Gita kepada Lucas. Suaranya sangat pelan hingga nyaris berbisik. "Ya, sepertinya begitu," jawab Lucas. "Kita keluar perlahan," tuturnya lirih. Karena Gita yang berada di depan Lucas, ia lebih dulu keluar dari kolong sofa. Kemudian Lucas menyusulnya. Pandangan mata mereka berpendar kembali ke sekeliling ruangan. Lalu Lucas segera menyalakan senter yang ada di cincinnya. Mengarahkan senter tersebut ke bagian meja kerja Tomi. Ia membuka laptop milik yang ada di atas meja kerja tersebut, tapi ternyata laptop Tomi menggunakan pasword. "Apa paswordnya?" tanya Gita dengan sepasang mata berbinar. Lucas mengendikkan bahunya ke atas. "Tapi aku yakin ada sesuatu di sini." "Ya sudah, kita coba memecahkan sandinya," kata Gita lagi. "Menurutmu apa sandinya?" tanya Lucas sembari menatap Gita lekat. "Mungkin sandinya adalah ulang tahun seseorang yang dicintai ...." Hening sejenak. Mereka saling menatap satu sama lain. "Seseorang yang spesial di dalam hidupnya. Tomi belum menikah. Dia tidak memiliki anak atau pun istri. Mungkin orang spesial yang ada di kehidupannya adalah ibu kandungnya," pikir Lucas. "Tapi sayangnya, aku tidak tahu tanggal lahir ibu kandungnya. Nama ibu kandungnya saja aku tidak tahu, apa lagi hari ulang tahunnya," sambungnya sembari tersenyum pahit. "Siapa tahu bukan ibu kandungnya," kata Gita menyahut. "Lalu, siapa?" Gita ingin menjawab, tapi masih tidak enak hati kepada Lucas. Jawabannya ini pasti akan melukai perasaan Lucas. "Siapa?" tanya Lucas sekali lagi sembari menatap tajam Gita. "Jika kamu memang tahu, katakan ...." "Mungkin pasword laptopnya adalah tanggal ulang tahun istrimu," jawab Gita lirih. Lucas terdiam sebentar. Namun apa yang dikatakan oleh Gita memang ada benarnya. Mungkin pasword laptop Tomi adalah hari lahir Sandra. Ia mengatupkan bibir dan kemudian segera memasukan angka tanggal lahir Sandra. Sedetik kemudian laptop yang berwarna biru segera membuka laman beranda utama. Lucas tersenyum melihatnya. Laptop Tomi terbuka. Mereka bisa mengetahui apa yang sedang Tomi kerjakan. Apa yang diperintahkan oleh Profesor Ismunandar. Dan jika mencuri dengar tadi, ada tugas rahasia yang ditugaskan Profesor Ismunandar dengan Tomi. 'Tugas apa itu?' tanyanya di dalam hati. Namun di balik rasa senang karena bisa membobol pasword laptop Tomi, ada sedikit rasa perih menyayat hati. Ternyata hubungan Tomi dan Sandra memang sudah sangat jauh dan spesial. "Apa yang ada di dalam laptop?" Pertanyaan Gita membuyarkan rasa sedih yang menyelimuti hati Lucas. "Sebentar, aku akan lihat," tutur Lucas. Jarinya menggerakkan mouse dan kemudian menekannya dua kali. Sebuah data yang tersimpan dengan nama folder 'My Project' terbuka. "Astaga!" seru Lucas lirih. Mulutnya terngaga lebar setelah netranya melihat dan membaca sebagian isinya. "Aku juga ingin melihatnya," kata Gita semakin penasaran karena melihat raut muka Lucas yang sangat terkesiap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN