Kebingungan

1268 Kata
Punggung Lucas menghalangi netra Gita. Gita mendorong Lucas pelan. “Hei, agak sana dong ... Aku juga ingin lihat. Jangan menghalangi mataku terus,” ujarnya penuh harap. “Aku juga ingin lihat, minggir ih ....” Lucas menggeser langkahnya ke samping, dan akhirnya layar laptop bisa terlihat. “Apa maksudnya ini?” tanya Gita yang sebetulnya mengerti dengan maksud data-data yang tersimpan di folder tersebut. Tapi kurang yakin. “Kita harus segera keluar dari sini. Nyawamu terancam. Ternyata Profesor Ismunandar menginginkan seluruh darahmu. Bukan hanya sampel darah saja. Itu berarti, kamu bisa mati. Darahmu akan diambil habis dan akan mati,” ujar Lucs dengan raut muka pucat pasi. Kening Gita berkerut. “Apa ...?” desisnya lirih sambil menggeleng pelan. “Tidak mungkin Profesor Ismunandar melakukan ini. Tidak mungkin.” “Bagaimana jika mungkin?” tanya Lucas dengan sepasang mata membulat. “Semuanya bisa saja terjadi kan!” serunya lirih. “Kita harus keluar dari markas ini. Tapi sebelumnya, aku harus mengajak Laura. Aku tidak rela anakku menjadi anak Tomi!” “Tapi setelah keluar dari sini, kita keluar ke mana?” tanya Gita lirih. “Kita tidak ada tujuan. Ke tempat Profesor Ismunandar adalah satu-satunya tujuan kita.” “Yang terpenting kita harus keluar dari markas ini,” jawab Lucas penuh keyakinan. “Aku harus menyalin data-data ini,” sambungnya sembari mengeluarkan sesuatu dari kantung celana. Ada benda seperti gantungan kunci yang terlihat. “Apa itu?” tanya Gita ingin tahu. “Ini falshdisk.” “Apa data tersebut akan berguna untuk kita?” “Entahlah, tapi yang penting kita salin sakarang saja,” jawab Lucas lugas. Dalam hampir hitungan satu menit, data yang tersalin sudah nyaris seratus persen. Di layar laptop tertulis, ‘91% has been copied.’ Derap kaki seseorang kembali terdengar menyusuri koridor. Lucas segera menoleh menatap daun pintu yang tertutup. “Ada apa?” Gita ikut menoleh dan melihat apa yang dilihat oleh Lucas. “Ada seseorang yang akan ke mari lagi,” jawabnya lirih. “Siapa?” “Aku tidak tahu. Aku kan hanya mendengar saja. Mataku tidak bisa tembus pandang,” jawab Lucas cepat. “Yang aku tahu, ada seseorang yang akan ke mari!” serunya lirih. “Jadi kita harus bagaimana?” “Seperti tadi. Kita harus bersembunyi,” jawab Lucas. “Tapi data yang aku simpan di flasdisk ini belum semuanya tersalin. Sisa delapan persen lagi.” “Ya ampun, ayo dong cepat ...,” ujar Gita lirih. “Aku juga ingin cepat-cepat. Tapi bagaimana, datanya memang belum tersalin!” seru Lucas lirih. Derap kaki yang tadi didengar oleh Lucas, kini Gita pun ikut mendengarnya. Gita menarik-narik lengan baju yang dikenakan Lucas. “Hei, hei ... Aku mendengar suara derap kaki! Ada seseorang yang akan ke mari!” “Sebentar, ini belum selesai kan,” jawab Lucas dengan netra yang tidak lepas menatap layar laptop. Di layar sudah tertulis, ‘Has been 99% copied’. “Lucas derap kakinya terdengar sangat dekat. Bagaimana jika itu adalah Tomi yang kembali lagi?” Gita mulai panik. Sebetulnya Lucas juga merasakan kepanikan yang sama. Namun ia tidak terlalu menampakkannya. “Sudah!” serunya lirih sambil mencabut flashdisk. “Ayo cepat!” seru Gita yang akan mengajak Lucas untuk bersembunyi di kolong sofa lagi. Namun suara pintu terbuka segera terdengar sangat jelas. Lucas dan Gita tidak sempat bersembunyi ke kolong sofa. Tapi untung saja, lampu ruangan masih gelap sehingga Lucas dan Gita tenggelam dalam kegelapan dan tidak terlihat. Lucas menarik tubuh Gita bersembunyi di sela-sela sisi lemari dan celah dinding yang lumayan pas untuk mereka. Walau lagi-lagi tubuh Gita dan Lucas saling berhimpitan. Tomi yang saat masuk ke dalam ruangan dan langsung menyalakan lampu mengerutkan dahinya. Ia terkesiap dengan laptop di atas meja yang terbuka. Ia berdiri mematung di depan meja tersebut. Sungguh keheranan dengan laptop yang terbuka. “Tadi aku menutup laptop ketika meninggalkannya di sini. Kenapa sekarang terbuka ya?” tanyanya kepada diri sendiri. Lucas dan Gita yang mendengar gumanan Tomi, saling menatap satu sama lain. Tomi mengingat-ngingat ketika terakhir keluar ruangan. Ia menatap sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Lalu ia berjalan mendekat ke arah sofa. Sejak tadi ia ingin melihat sesuatu dari balik sofa. Ia mendekat. Mencondongkan punggungnya ke balik sofa. Dengan gerakan cepat ia segera melihat ke sana, tapi tidak ada siapa-siapa di balik sofa. Lalu Tomi mulai membungkuk, mengintip di kolong sofa. Tidak ada siapa pun di sana. Merasa tidak ada siapa-siapa dan suasana pun hening, Tomi mulai berpikir rasa gundahnya itu hanya perasaannya saja. Dan juga mulai menyimpulkan jika memang saat keluar ruangan, ia tidak menutup laptop. Ia mengambil sesuatu dari laci meja kerja. Mengambil sebuah tab miliknya dan kemudian mematikan saklar lampu. Lalu keluar ruangan lagi. Suara pintu kembali tertutup. “Braak!” “Dia sudah keluar,” kata Lucas sembari melangkah ke samping, keluar dari sela-sela antara lemari dan dinding. “Setelah ini kita ke mana?” tanya Gita yang sungguh tidak tahu harus berbuat apa. “Kita keluar dari sini dan menjemput Laura. Dia harus ikut kita,” kata Lucas serius. “Kamu yakin, mau mengajak Laura bersama kita?” tanya Gita dengan mimik muka serius. “Tantu saja yakin, dia adalah putriku,” jawab Lucas dan akan memutar knop pintu untuk membukanya. “Bukan begitu ... Pikirkan baik-baik, kita tidak tahu tujuannya. Kita tidak mau ke mana. Kita tidak tahu apa yang harus kita hadapi setelah keluar dari sini. Otomatis kita pasti akan dikejar-kejar oleh para sekutu Mr. Mun. Lalu ditambah sekutu dan kloni Profesor Ismunandar.” Lucas terdiam. Memikirkan kata-kata Gita. “Aku kira, Laura akan lebih aman di sini. Di markas yang akan melindunginya seperti rumah. Sebuah tempat tinggal yang tetap bersama ibunya. Walau Sandra jahat kepadamu, tapi dia pasti menyayangi putrinya,” kata Gita melanjutkan kata-katanya. Lucas menghela nafas panjang dan dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. Apa yang dikatakan oleh Gita memang benar. Walau Sandra jahat kepadanya, tapi Sandra pasti menyayangi dan melindungi Laura. “Tapi aku tidak rela jika Tomi menggantikan aku menjadi ayah Laura. Dia putriku ....” Gita menggenggam tangan Lucas erat. “Kita akan merebut Laura kembali setelah keadaan aman. Kamu bisa memberikannya sebuah alat komunikasi kepada Laura untuk berhubungan denganmu. Semisal alat pendeteksi lokasi. Sebuah gelang? Jadi kamu tahu di mana Laura berada. Jadi jika situasi sudah aman, kita bisa menyusulnya dan membawanya.” Hening sejenak. “Bagaimana, apa saranku lebih baik?” tanya Gita lirih. Sepasang matanya bersorot terang dan tajam. “Kita tidak memiliki tujuan dan tempat tinggal. Jika kita sudah memiliki tempat tinggal yang pasti dan dalam keadaan aman, kita bisa membawa Laura bersama kita. Sebelum itu, kita harus membuat sebuah kloni,” lanjutnya. “Kloni?” “Kamu lihat sendiri kan ... Mr. Mun, Profesor Ismunandar membuat Kloni untuk membuat vaksin tapi untuk memperkaya diri sendiri dengan menjual vaksin tersebut. Dengan harga mahal,” jawab Gita lirih. Ia mengulurkan tangannya, membalik lengannya dan menunjukkan nadinya yang berdenyut di urat berwarna hijau. “Kita memiliki ini bahan pokok pembuatan vaksin. Penelitian itu harus berasal dari darahku ....” “Jadi maksudmu setelah kabur dari markas ini, kita keluar membuat Kloni? Mencari sekutu?” tanya Lucas memastikan. Gita menganggukkan kepalanya pelan. “Baiklah kita bicarakan nanti. Sekarang kita harus kembali ke bungker kita. Aku harus mengambil gelang pendeteksi lokasi untuk diberikan kepada Laura. Besok malam kita akan kembali lagi ke mari dan mencari Laura,” jawab Lucas sembari membuka pintu. Kepala Lucas menyembul terlebih dahulu ketika pintu sedikit terbuka. Ia menengok ke kiri dan ke kanan. Memastikan situasi aman dan tidak ada orang. Gita di belakang Lucas. Ia juga sama, setengah membungkuk. Seperti seorang pencuri yang mengendap-endap masuk ke dalam rumah orang lain. “Bagaimana? Aman?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN