Lagi-lagi terjepit keadaan

1326 Kata
“Aman,” jawab Lucas mantap. Ia berjalan lebih dulu memimpin dan Gita tetap seperti sebelumnya. Lucas memilih kembali berbalik menuju ke arah bungker seperti yang dikatakannya sebelumnya. Gita mengekor sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan memang benar-benar tidak ada orang lain yang mengikuti mereka. “Lucas, mungkin Laura memang ada di kamar yang ada di tengah tadi,” jawabnya menduga-duga. “Memangnya kamu sangat yakin jika Laura memang ruangannya berada di tengah-tengah?” tanya Lucas sambil tetap berjalan dengan waspada. “Hm ... tidak sih. Aku tidak yakin, karena aku benar-benar lupa di ruangan mana aku bertemu dengan Laura,” jawab Gita masih sambil mengingat-ngingat bagian depan pintu ruangan yang di mana Laura berada di dalamnya. Sayangnya model di ruangan tersebut semuanya sama. Warna cat dinding dan pintu yang sama, putih bersih. “Gita, percepat langkahmu,” kata Lucas ketika mereka sudah berbelok. Namun sepertinya mereka salah berbelok, jalan lorong kali ini tampak lurus dan asing. Tidak seperti lorong koridor ketika mereka pertama kali masuk. “Tunggu, tunggu!” seru Lucas berhenti mendadak. Gita yang sejak tadi mengekor di belakang segera menghentikan langkah kakinya. “Ada apa?” “Sepertinya kita salah berbelok,” jawab Lucas sembari menoleh ke kiri dan kanan. Mereka di hadapkan lorong-lorong panjang seperti koridor di bangsal-bangsal rumah sakit lawas yang sunyi dan menakutkan. “Lalu, kita bagaimana dong? Kita sungguh tersesat?” tanya Gita yang masih sangat yakin jika dirinya akan tetap aman walau tersesat karena bersama Lucas. “Pasti akan bisa kembali ke bungker kita, tapi kemungkinan kita akan berputar-putar dahulu,” jawab Lucas sambil memamerkan deretan gigi-giginya yang tampak putih bersih. “Tidak usah nyengir seperti itu,” ujar Gita dengan kedua alis terangkat ke atas. “Aku tersenyum seperti ini untuk menghibur kamu. Agar kamu tidak panik,” jawab Lucas yang masih tetap tersenyum walau Gita sudah memperlihatkan raut muka kesal. “Ayo cepat, ini kita berbelok ke kiri atau ke kanan?” tanya Gita, yang kemudian dijawab oleh dirinya sendiri. “Sepertinya sih lewat sini.” Baru juga Gita melangkahkan kakinya ke lorong bagian timur, tiba-tiba suara bariton pria menegurnya. “Hei! Siapa di sana?” Gita terkesiap. Langkah kakinya segera terhenti. Lucas segera menarik Gita, untuk berbalik arah. “Cepat ke sini!” serunya lirih, Gita menurut. Ia segera berbalik dan mengikuti Lucas dari belakang. Mereka berlari menyusuri lorong-lorong panjang, redup dan asing. “Siapa di sana?!” Suara pria yang sama kembali menggelegar. “Lucas, bagaimana? Kita bersembunyi di mana?” Lucas juga kebingungan melihat ke kiri dan ke kanan. Tidak ada tempat yang bisa mereka jadikan tempat bersembunyi. “Di mana Lucas? Kita sembunyi di mana?” tanya Gita sekali lagi. Sedangkan sisi kanan dan kiri tidak ada tempat yang memungkinkan untuk dijadikan persembunyian. “Hei, kalian berhenti!” Suara bariton pria terdengar menggema kembali. Lucas dan Gita sibuk untuk mencari persembunyian. Namun beberapa pintu yang berjajar di sisi Lucas tertutup dan terkunci. Derap kaki pria yang tadi berada di belakang Lucas semakin terdengar menggema. “Ya Tuhan, Lucas ... Mereka ada di belakang kita! Cepat, kita harus bersembunyi!” teriak Gita panik. “Lirihkan suaramu Gita. Jangan sampai mereka mendengar kita,” kata Lucas dan kemudian menarik tangan Gita untuk meneruskan pelarian ke ujung lorong. Beberapa pintu yang berada di sisi kanan dan kiri, tidak dapat terbuka. Memaksa Lucas untuk segera berlari lagi, entah sampai ke bagian mana. “Hei, kalian ke mari!” panggil Nardi yang tiba-tiba berada di depan salah satu pintu. Lucas dan Gita langsung menoleh. Mereka terdiam sejenak, menatap Nardi yang memanggil tadi. “Kenapa diam saja? Ayo cepat ke mari! Cepat masuk ke sini!” Gita menoleh ke belakang, bayangan hitam pria berbadan tinggi segera muncul. Tanpa pikir panjang lagi, ia menarik tangan Lucas dan segera masuk ke dalam ruangan di mana Nardi berdiri di ambang pintunya. Nafas Gita dan Lucas terengah-engah. Setelah Gita dan Lucas benar-benar masuk ke dalam, Nardi segera menutup pintu dan menguncinya rapat. Tidak berapa lama, derap kaki berat menggema. Disusul suara bariton pria yang berbicara kepada salah satu rekannya. “Di mana mereka?” “Entahlah, apa mereka bersembunyi di salah satu ruangan ini?” jawab rekannya sambil menatap ke kiri dan kanan. Pria bertubuh tegap tersebut mendekat ke arah pintu dan memutar kenop. Lucas, Gita dan Nardi menatap ke arah kenop yang bergerak-gerak. Mereka saling melempar pandang. Menatap satu sama lain. “Dikunci!” Suara pria tadi terdengar. Namun mereka bertiga tetap diam membisu. Jika mereka bersuara sepatah kata, maka bisa-bisa keberadaan mereka bersembuyi di salah satu ruangan ini terdeksi. “Mereka menghilang. Ya sudah kita kembali saja.” “Siapa mereka? Kenapa gerak geriknya mencurigakan?” “Tenang saja, ada kamera cctv. Kita akan laporkan kejadian ini kepada Kapten Zein. Mungkin memang ada penyusup. Tapi dengan rekaman kamera pengawas pasti kita akan tahu siapa mereka.” “Betul. Ya sudah, kita kembali ke kamar kita. Waktu sudah sangat larut.” Dua orang karyawan di bagian pengawasan dan perencanaan di dalam markas besar Profesor Ismunandar ini pun memutuskan untuk kembali. Meninggalkan rasa penasaran mereka tentang siapa dua orang mencurigakan yang tadi berjalan mengendap-endap dan kemudian berlari ketika ditegur. Gita menarik nafas lega, ketika mendengar suara langkah dua pasang kaki yang pergi meninggalkan. “Ya Tuhan ... hampir saja. Terima kasih Nardi,” ucapnya sambil memeluk Nardi dengan cepat karena rasa syukur yang amat dalam. Nardi hanya tersenyum simpul membalas ungkapan rasa terima kasih Gita yang sangat dalam. Netranya memandangi bergantian dari Gita ke Lucas. Lucas sadar diri, ia memang harus berterima kasih kepada Nardi. “Terima kasih. Kamu sudah menolong kami.” “Tak masalah. Aku pikir, kalian memang membutuhkan bantuan.” “Tapi bagaimana dengan kamera cctv? Mereka akan memeriksanya,” kata Gita menyela. “Aku sudah menghapus rekaman cctv. Aku mematikan cctvnya di ruangan monitor,” ujar Nardi memberitahu. Lucas dan Gita terhenyak mendengarnya. Tidak percaya jika Nardi melakukan ini semua. “Ya Tuhan, Nardi ... kamu baik sekali. Apa yang mendasari kamu melakukan ini semua?” tanya Gita dengan sepasang mata berbinar. “Kata hatiku,” jawab Nardi sederhana. “Aku mendengarkan kata hatiku. Aku mendengarkan apa yang harusnya aku dengar ... Itu saja.” “Maaf, aku pernah berburuk sangka kepadamu,” kata Lucas menyesal. Ia menepuk bahu Nardi yang lebih rendah darinya. “Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan mu. Sekarang kalian ingin kembali ke bungker kalian?” Gita mengangguk. “Ya, benar. Kita lewat depan? Menunggu semua orang benar-benar terlelap?” “Jangan! Terlalu beresiko. Terkadang ada beberapa penjaga yang berkeliling di dalam. Walau hal tersebut jarang terjadi, karena pengawasan di lakukan sangat ketat di luar markas. Tapi bisa saja kan tiba-tiba para penjaga berkeliling di dalam markas?” Nardi menatap Gita dan Lucas bergantian ketika berbicara. “Aku setuju dengan Nardi. Tapi kita lewat mana jika tidak lewat depan?” tanya Lucas. Nardi membalikkan badan. “Kita lewat jalan belakang,” jawabnya sembari menunjuk sebuah lemari dua pintu. Karena jarak pandang terbatas karena lampu tidak dinyalakan dan gelap. Lucas kembali mengusap cincinnya sebanyak lima kali. Lalu cahaya seperti senter LED muncul dari arah cincin yang dikenakannya. Lucas dan Gita mengikuti ke arah jari telunjuk Nardi. “Memang di sana apa?” tanya mereka nyaris bersamaan karena tidak faham dengan maksud Nardi. “Di sana sebuah pintu ke jalan rahasia. Dari sana kita bisa langsung menuju ke gedung bagian markas di utara. Tempat bungker kalian berada,” jawab Nardi lirih. “Jadi kamu mengetahui seluk beluk markas ini?” Lucas bertanya dengan mimik muka takjub. “Tentu saja, Lucas. Nardi kan bekerja di sini. Pasti dia faham seluk beluknya,” jawab Gita menyahut. Sepasang mata Lucas berbinar. Seolah sorot matanya tampak seperti mendapatkan sebuah harapan baru. “Apa kamu tahu di mana ruangan kamar seorang gadis kecil berusia sembilan tahunan?” “Hm ... Gadis kecil? Siapa namanya?” Nardi berbalik bertanya. Dahinya berkerut dan kedua alisnya bertaut. “Laura. Dia putriku. Kamu pasti tahu di mana ruangan kamarnya berada,” jawab Lucas penuh pengharapan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN