“Laura, putrimu?” Nardi seakan tidak percaya.
“Iya, dia adalah putriku. Memang kenapa? Apa kamu tidak percaya dengan kata-kataku?” Lucas mengerutkan dahinya.
“Bukannya tidak percaya. Aku hanya terkejut. Selama ini, aku kira Tuan Tomi adalah ayah Laura dan Nyonya Sandra adalah istri Tuan Tomi. Tapi ternyata ....” Kata-kata Nardi menggantung. Ia menatap nanar Lucas. “Tapi ternyata Laura adalah putrimu ....”
“Iya, Laura adalah putriku. Awalnya aku kira dia diculik dan Sandra istriku sudah meninggal,” jawab Lucas lirih dan dengan ekspresi sedih.
“Bagaimana bisa kamu mengira jika istrimu sudah meninggal?” tanya Nardi tidak mengerti.
“Ceritanya sangat panjang,” jawab Lucas sembari tersenyum simpul.
“Walau ceritanya panjang aku bisa menyimaknya,” jawab Nardi penasaran.
“Jangan malam ini, kerena aku bisa selesai bercerita hingga esok pagi. Dan jika begitu, kita akan terjebak di sini.” Lucas menyeringai. “Nardi, beritahu kami jalan rahasia yang kamu tunjukkan di belakang lemari itu. Jika bisa tolong, besok malam antarkan kami ke kemar Laura.”
“Dengan senang hati, aku akan mengantarkan seorang ayah untuk menemui putrinya.” Nardi berjalan lebih dahulu mendekat kepada lemari besar dua pintu.
Mereka bertiga berdiri di depan pintu tersebut.
Gita dan Lucas yang berada di belakang Nardi saling memandang satu sama lain.
Perlahan tapi pasti, tangan Nardi mengambang dan membuka kedua pintu lemari yang berukuran dua meter.
“Kreeek ....” Suara pintu lemari terbuka perlahan.
Deretan anak-anak tangga menjorok ke bawah. Terlihat lorong berbelok yang sunyi dengan lampu LED putih menggantung di atasnya.
“Apa jalan rahasia ini memang dibuat jika ada kejadian yang tidak diinginkan?” tanya Gita lirih.
“Sepertinya begitu,” jawab Lucas sembari berjalan menyusuri lorong sunyi di belakang Nardi.
“Entahlah ... Tapi aku sependapat dengan Lucas, sepertinya jalan rahasia ini dipersiapkan bila ada serangan musuh.” Nardi menimpali.
“Lalu setelah ini kita ke mana?” Lucas bertanya sambil mengamati dinding-dinding di kanan dan kiri mereka.
“Kamu bilang, ingin diantarkan ke kamar Laura,” jawab Nardi.
“Ini sudah sangat larut. Tadi aku bilang, tolong antarkan aku ke kamar Laura besok malam saja. Bukannya sekarang.”
Nardi tidak begitu menyimak. Ia menghentikan langkah kakinya di depan dan mengusap dinding. “Sepertinya di sini kamar Laura, putrimu itu,” ujarnya sembari menatap Lucas.
“Apa kamu yakin?” tanya Gita. “Jangan ragu dengan mengucapkan ‘Sepertinya’. Jika sepertinya, nanti ujung-ujungnya bisa seperti aku tadi. Kita salah masuk ruangan dan pulang tersesat. Lalu nyaris ditangkap.”
“Tapi salah masuk ruangan itu membuat kita bisa menyalin data-data di komputer Tomi. Dan juga mengetahui jalan rahasia ini,” jawab Lucas tersenyum. “Semuanya pasti ada hikmahnya. Aku sangat yakin ....”
Gita memandang takjub pesona Lucas. Dia sungguh bijaksana dan menawan, batinnya. Tapi sayang hatinya masih terpaku oleh cinta istrinya yang ternyata seorang pengkhianat.
“Lalu bagaimana aku masuk ke kamar Laura?” tanya Lucas kepada Nardi.
“Sentuhlah ini ....” Nardi menekan sebuah saklar. Lalu tidak lama, dinding yang rapat tersebut merenggang dan memberikan celah selebar satu meter.
Lucas dan Gita kembali terhenyak melihatnya.
Dinding yang tadi tertutup benar-benar terbuka dengan sempurna.
Ruangan dengan cahaya remang-remang terlihat. Seorang gadis kecil tidur nyenyak di atas sebuah ranjang besi bercat putih.
Air mata Lucas mulai menggenang di pelupuk mata. Ia tidak sanggup menahan emosi jiwanya. Tidak bisa memungkiri jika betapa ia sangat merindukan putrinya itu.
Lucas melangkahkan kakinya ke dalam.
Gita segera menarik lengannya. “Hei, jika Laura terbangun, apa dia akan menyembunyikan rahasia ini? Jika ayahnya ke mari? Ke kamarnya, menemuinya?”
“Semoga saja dia pikir, malam ini adalah mimpi. Jangan lupakan jika Laura hanya seorang gadis kecil berusia sembilan tahun.”
Hening sejenak.
Gita dan Lucas saling menatap satu sama lain. Seolah mereka berbicara dari hati ke hati.
Gita melepaskan tangannya yang memegangi lengan Lucas. Membiarkan Lucas melangkah masuk ke dalam kamar Laura dari pintu rahasia. Sedangkan dirinya tidak ikut masuk, karena takut membuat suasana menjadi lebih gaduh.
“Kamu tidak ke dalam menyusul pacarmu?” tanya Nardi lirih. “Bukankah berati Laura adalah calon anakmu juga?”
Gita melirik Nardi. Sepasang matanya memicing. “Lucas bukan pacarku. Kita tidak sedang menjalin asmara,” jawabnya ketus dengan suara pelan.
“Oh ....” Mulut Nardi membentuk huruf O ketika menjawab. “Tadinya aku kira Lucas adalah pacarmu.”
“Bukan,” jawab Gita cepat dan singkat. “Dia bukan pacarku,” lanjutnya memperjelas.
“Tapi kalian terlihat sangat dekat.”
“Kami mitra,” jawab Gita sekali lagi. “Apa kamu tahu, apa artinya mitra? Rekan kerja yang berarti kami harus sangat dekat.”
Nardi tidak langsung menimpali. Ia menatap Gita.
Gita terlihat salah tingkah karena dikira kekasih Lucas.
“Sebetulnya aku tidak peduli dengan hubungan di antara kamu dan Lucas,” ujar pria dengan tubuh ideal dan tinggi badan yang hanya lebih tujuh sentimeter dari tinggi badan Gita. “Aku hanya mengatakan, kalian seperti pacaran. Seperti sepasang kekasih. Sangat dekat.”
Gita menggelengkan kepalanya pelan. “Bukan,” jawabnya singkat dan kemudian mengalihkan topik pembicaraan. “Kami akan kabur dari markas ini, apa kamu mau ikut bergabung dengan kami?”
Kening Nardi berkerut. “Kalian akan kabur dari markas ini? Kenapa? Apa yang kalian ketahui hingga ingin kabur dari sini?”
***
Di ambang pintu rahasia, Nardi dan Gita sedang sibuk bercakap-cakap sendiri dengan suara yang diusahakan sangat pelan agar suasana tetap senyap. Sedangkan Lucas berdiri mematung di sisi ranjang tidur menatap wajah polos putrinya yang sedang tertidur lelap. “Putriku ...,” desisnya pelan.
Ia berjongkok di sisi ranjang tidur. Menatap Laura yang nyenyak terlelap dan sedang bermain-main di alam mimpinya. Ia mengusap kepala dan rambut Laura. Memainkan helaian rambut ikal yang sangat dirindukannya. Harum khas rambut dan aroma tubuh putrinya yang telah lama hilang, kini ditemukannya lagi.
“Ayah akan ke mari lagi besok malam sayang. Ayah akan memberikanmu sebuah gelang yang akan selalu mendeteksi keberadaan mu di mana pun. Dan ketika waktunya tiba, kita akan kembali berkumpul bersama-sama. Tidak akan ayah biarkan siapa pun menggantikan posisi ayah di hatimu. Apa lagi seorang pengkhianat seperti Tomi. Dia sudah mencuri ide-ideku. Menelitinya dan mengimprovisasi semuanya. Seakan dialah yang kelak akan menemukan vaksin pandemi ini. Setelah mencuri ide-ide ayah, dia mencuri ibumu dan juga berusaha mencuri kamu. Ayah tidak akan membiarkan semua itu terjadi ....” Lucas seolah mencurahkan isi hatinya kepada Laura yang tidak akan mendengarnya.
Netra Lucas berkaca-kaca. Sepasang matanya berkabut. Air mata hangat meleleh membasahi pipinya. Ia mengusapnya segera.
Menarik nafas panjang dan dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. Ia beranjak berdiri. Mencondongkan tubuhnya, dan kemudian mengecup pipi Laura dengan lembut.
Gadis kecil itu bergerak pelan. Seolah sadar, bila ada seseorang yang mengecup pipinya. Namun netranya tetap terpejam dan tetap nyaman bermain-main di alam mimpinya.
Lucas ingin segera pergi setelah mengecup pipi sang buah hati. Tapi sudut matanya menangkap sebuah bingkai foto yang terbuat dari ukiran kayu.
Ia mengambil bingkai foto yang ada di sisi Laura. Sepertinya sebelum tidur, Laura memandangi foto ini.
Lucas menghela nafas panjang dan dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. Foto yang dipandangi oleh Laura adalah foto keluarga.
Keluarganya yang tampak bahagia dan harmonis. Namun ternoda oleh sebuah pengkhianatan dan kebohongan.
“Jadi, kamu juga merindukan ayah, sayang ...,” ujar Lucas parau dan dengan suara yang gemetar. “Ayah juga sama. Ayah juga sangat merindukan kamu, dan juga Mamamu ....”
“Stt ... Lucas!” desis Gita memanggil lirih.
Lucas menoleh dan menatap ke arah ambang pintu rahasia di belakangnya.
Gita menggerakkan tangan kanannya. Memberi isyarat jika mereka harus segera bergegas.
Lucas mengangguk dan mengusap air mata yang sejak tadi tak dapat ditahan meleleh dari netranya.
Dalam samar cahaya remang kamar Laura, Gita dapat melihat rasa cinta dan kerinduan yang sangat besar seorang ayah kepada putrinya. Hal tersebut mengingatkannya kepada ayahnya sendiri, Profesor Rudi.
‘Di balik tubuh kekar dan wajah kaku mu, hatimu masih selembut sutra,’ ujar Gita di dalam hati.