Jalan keluar

1564 Kata
“Cepat keluar dari sana ...,” panggil Nardi lirih. Lucas bergegas melangkahkan kaki menuju Gita dan Nardi yang sejak tadi menunggunya di ambang pintu rahasia. “Bagaimana, rindu hatimu sudah terobati?” tanya Nardi. “Terima kasih. Besok malam bisa aku ke mari lagi? Kamu bisa mengantarkan aku kan?” tanya Lucas penuh harap. “Kamu bisa pergi ke mari berdua dengan Gita jika sudah tahu arah jalannya.” Lucas menatap Nardi dan kemudian pandangan matanya beralih kepada Gita. “Kita pasti bisa kembali ke mari hanya berdua saja. Sejak kapan kamu menjadi bimbang dan takut?” Gita tersenyum simpul. “Bisa melihat Laura, putriku lagi. Membuatku menjadi takut akan bahaya. Karena aku tahu, Laura pasti akan menungguku. Dia memegang bingkai foto keluarga dan memandangi foto kami. Pasti di dalam hatinya sama seperti aku, merindukan sebuah rumah. Dia menginginkan semuanya kembali normal seperti sedia kala.” Gita terharu mendengarnya. Ikatan ayah dan anak yang terpisah karena keadaan. “Kamu dan Laura pasti akan bersama-sama lagi. Aku yakin. Jangan sampai kamu lupakan hal itu,” ucapnya lirih. “Kita harus cepat keluar dari sini,” Nardi mengingatkan. “Mengobrolnya bisa kan dilanjutkan nanti saja.” Gita menarik tangan Lucas dan tanpa sadar mereka bergandengan tangan. Sedangkan Nardi segera menekan tombol yang ada di dinding. Dinding yang merenggang dan memberikan celah satu meter itu pun kembali tertutup. Dari celah pintu yang terbuka tersebut. Lucas menatap Laura, putrinya yang sedang terlelap. Laura seakan putri tidur yang sama sekali tidak merasakan kehadiran ayahnya. “Kita akan kembali lagi ke mari, besok malam,” kata Gita menenangkan hati Lucas. Lucas tersenyum pahit mendengarnya. Besok pun ia bertemu Laura hanya memberikan gelang pedenteksi lokasi. Ia tidak bisa membawa pergi putrinya dari markas ini, juga menjauh dari Sandra dan Tomi. Mereka kembali mengekor di belakang Nardi. Setelah berjalan sekitar dua ratus meter, terdapat lorong bercabang dan Nardi berbelok ke arah kiri. “Banyak belokan,” tutur Gita sembari berdecak. “Jika begini, bisa-bisa kita akan tersesat lagi bila kembali tanpa Nardi.” “Perhatikan jalannya,” kata Lucas memperingatkan. “Jika Nardi saja tidak tersesat dan hafal jalan. Maka sebetulnya kita juga tidak akan tersesat.” Nardi berbelok lagi ke arah kanan. Lalu sekitar sepuluh meter dia berbelok ke arah kiri. Tepat setelahnya sekitar lima langkah, ia menghentikan langkah kakinya. Menatap dinding yang terlihat rata dan sama saja seperti dinding lainnya. Gita dan Lucas berdiri bersebelahan. Menatap dinding yang dilihat Nardi. Nardi meraba dinding tersebut. Sedikit berjinjit dan kemudian sudut bibirnya tertarik ke atas ketika telapak tangannya menemukan sesuatu yang tidak rata. Namun sebelum menekan tombol tersebut, ia membalikkan badan. “Ini adalah jalan rahasia, yang diketahui oleh para pekerja, ilmuan dan juga prajurit. Kalian pasti tidak akan diberitahu jalan ini, karena aku rasa kalian akan menjadi tawanan di sini,” ujarnya lirih. “Kamu, tahu dari mana jika kami akan menjadi tawanan?” tanya Lucas. “Aku pikir kalian sudah tahu, bila kalian akan menjadi tawanan Profesor Ismunandar. Makanya kalian lalu lalang di malam hari seolah mencari tahu apa saja yang ada di bagian markas bagian selatan,” jawab Nardi menerka. Lucas mengatupkan bibirnya sebelum menjawab. Netranya melirik ke arah Gita, dan kemudian tatapan matanya kembali lagi kepada Nardi. “Kami sudah tahu. Awalnya aku merasa gelagat Kapten Zein dan Profesor Ismunandar sangat aneh. Tapi Gita tidak percaya dengan dugaan dan perkiraan ku.” “Tentu saja aku sulit menerima pemikiranmu yang meragukan Profesor Ismunandar, karena dia adalah teman ayahku,” jawab Gita menyela. “Ya, aku juga tahu bila Profesor Ismunandar adalah teman dekat Profesor Rudi. Profesor Ismunandar bahkan menjual jalinan persahabatan tersebut kepada investor-investor yang akan membiayai seluruh operasional penelitian dan gaji semua pekerja. Tidak ada yang tak percaya kepada Profesor Rudi, seorang ilmuan yang hebat,” ucap Nardi memberitahu. “Jadi dengan kata lain, para investor-investor yang mendanai penelitian ini karena percaya kepada profesor Rudi?” tanya Lucas memastikan. Netranya melirik ke arah Gita. Nardi mengangguk mantap. “Ya, begitulah ... Para Investor sepertinya mau membiayai seluruh penelitian Profesor Ismunandar dikarenakan sangat percaya dengan penelitian yang sedang dikembangkan oleh Profesor Rudi. Namun sayang Profesor Rudi keburu wafat ....” Hening sejenak. Gita kembali teringat kejadian di malam ketika beberapa orang penyusup masuk ke dalam rumahnya, mencari-cari sesuatu di ruangan kerja ayahnya dan kemudian menghabisi ayahnya. Profesor Rudi tahu jika malam itu ia akan mati. Ia menyuruh Gita untuk kabur dari rumah melewati jalan bawah tanah di rubanah yang tembus ke stasiun Kota bawah tanah. “Ayahku, seorang ilmuan dan beliau pun memiliki indera keenam. Ayah seperti seorang cenayang, ia mampu melihat masa depan yang tidak pernah dilihat oleh manusia biasa, makanya penemuan-penemuan ayah selalu bermanfaat untuk manusia karena sebelumnya beliau sudah tahu apa yang akan terjadi. Tapi sayang penglihatan masa depan yang dilihatnya itu hanya sampai ketika malam ia akan meninggal. Ayah tidak pernah tahu kelanjutannya. Maka, kehidupan yang aku jalani sekarang bagai misteri ...,” ujar Gita dengan wajah sayu dan tatapan sendu. “Yakinlah jika orang baik pasti akan berakhir baik,” ujar Nardi memberi dukungan. “Karena itu walau aku di sini hanya seorang pelayan, tapi aku mengikuti kata hatiku untuk membantu kalian. Aku tidak suka kepalsuan. Aku tidak suka Profesor Ismunandar yang menggunakan kerja keras orang lain demi kepentingannya. Profesor Ismunandar selalu menjual nama Profesor Rudi untuk kepentingannya.” “Dari mana kamu tahu tabiat Profesor Ismunandar seperti itu?” tanya Gita yang masih setengah tidak percaya jika ternyata profesor Ismunandar tidak sebaik yang dipikirkannya. “Pekerjaan ku di sini adalah pelayan. Aku bertugas membawakan minum dan suguhan kepada tamu yang bertandang. Dan secara tidak sengaja, aku selalu mendengar perbincangan mereka. Profesor Ismunandar selalu menjual nama Profesor Rudi. Apa lagi kepada para investor.” Gita terhenyak. Ia sungguh tidak menyangka jika ternyata profesor Ismunandar bisa melakukan hal seperti ini. Padahal ayahnya sangat percaya kepadanya. Profesor Ismunandar juga teman baiknya. “Jika kalian memang ingin melarikan diri dari sini. Larilah, di ujung markas sayap kanan di bagian selatan terdapat pintu benteng belakang. Benteng belakang tersebut tidak dijaga ketat oleh prajurit. Dan menguntungkan untuk kalian yang akan melarikan diri karena benteng tersebut langsung berhadapan dengan hutan. Kalian bisa bersembunyi di sana.” Pengetahuan Nardi yang sudah merajai seluk beluk seluruh markas sangat bermanfaat bagi Lucas dan Gita. “Terima kasih Nardi, kamu sangat membantu kami,” ujar Lucas sembari menepuk simpati bahu Nardi. “Sama-sama. Semoga kalian berhasil di luar sana.” “Apa kamu yakin tidak ikut kami?” tanya Gita memastikan. Nardi menggelengkan kepala. “Maaf, aku tidak sepemberani kalian. Di luar sana penuh resiko. Kehidupan yang keras. Pandemi virus Orthovirinae-18 yang belum berakhir. Kekuatan negara yang hampir rapuh untuk melindungi segenap warganya, belum lagi harus bertahan dari para kanibal,” tuturnya lirih. “Lebih baik aku di sini. Lebih aman, walau aku tahu jika aku berlindung kepada manusia yang mungkin saja bukan orang yang baik.” “Itu adalah keputusan kamu,” ucap Lucas. “Aku menghargainya. Semoga kamu selalu aman di sini. Dan aku ingin minta tolong satu lagi kepadamu ....” Nardi menatap Lucas lekat. “Apa?” tanyanya pelan. “Apa yang bisa dibantu oleh seseorang yang hanya bekerja sebagai pelayan ini?” “Kamu bukanlah pelayan biasa. Kamu berbeda. Terutama di sini ....” Lucas menunjuk d**a Nardi. “Di hatimu ... tersimpan sosok pribadi manusia yang baik dan juga pemimpin sejati.” Nardi terharu mendengarnya. “Terima kasih Tuan Lucas.” “Jangan panggil aku dengan sebutan Tuan. Mulai sekarang kita adalah teman. Panggil saja aku Lucas.” Mereka saling melempar senyuman. Begitupun dengan Gita yang melihat pemandangan mengharukan ini. “Apa yang bisa aku bantu?” tanya Nardi sekali lagi. “Besok malam setelah memberikan gelang kepada Laura, kami akan pergi. Di sini tidak ada yang bisa aku percaya, selain kamu. Tolong, jagalah putriku ... Aku percaya kepadamu.” Nardi mengatupkan bibirnya. Tatapan matanya bergetar. Baru pertama kali dalam hidupnya, dirinya dipercaya oleh orang lain dan diembankan tugas dan tanggung jawab yang besar. “Kamu percaya kepadaku?” tanyanya lirih. “Aku bukanlah, seorang pahlawan super atau seorang petarung hebat. Aku tidak pantas untuk kamu percayai. Apa lagi untuk menjaga putrimu ....” “Sudah aku bilang, hatimu sangat mulia. Kamu adalah satu-satunya orang baik yang kami temui di sini,” ucap Lucas sekali lagi. Nardi tersenyum haru. “Terima kasih telah mempercayaiku ...,” jawabnya pelan. “Sekarang kalian keluarlah dahulu. Aku akan keluar dari pintu yang lain. Aku juga tidak mau ambil resiko jika ada yang melihat malam-malam begini aku bersama kalian keluar dari salah satu pintu rahasia.” Lucas dan Gita mengangguk. Nardi kembali meraba dinding dan setengah berjinjit. Lalu ia menekan tombol di bagian dinding yang tidak rata. Perlahan tapi pasti dua dinding bergerak. Bergeser dan memberikan celah dengan jarak sekitar satu meter. “Hati-hati,” ujar Nardi lirih. Lucas dan Gita tersenyum simpul. Seulas senyuman yang mengartikan ucapan rasa terima kasih yang besar. Lucas dan Gita melangkahkan kakinya keluar. Mereka sudah berada di bagian ujung lokasi bungker-bungker di markas sebelah utara. Gita menarik nafas lega. “Syukurlah kita bisa kembali dengan selamat,” katanya lirih. Namun baru saja ia mengucapkan rasa syukur dan menghembuskan nafas kelegaan. Suara seorang pria yang familiar di indera pendengaran menegurnya. “Dari mana kamu Gita ... Lucas?” Lucas dan Gita terkesiap. Mereka saling memandang satu sama lain. Profesor Ismunandar berada di belakang punggung mereka. “Dari mana kalian?” tanya Profesor Ismunandar sekali lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN