Wajah asli Profesor Ismunandar

1417 Kata
“Kalian dari mana?” Lucas dan Gita membalikkan badan bersamaan. Seolah sudah siap menghadapi Profesor Ismunandar bersama-sama. “Dari mana kalian?” Profesor Ismunandar berdiri tegap dengan kedua tangan saling mengait ke belakang. “Kami tidak dari mana-mana,” jawab Lucas cepat. “Tadi aku ke bungker, tapi kalian tidak ada,” kata Profesor Ismunandar memberitahu. “Kami sedang berkeliling prof,” jawab Gita menyahut. “Ya, kami sedang berkeliling,” ucap Lucas menambahi. “Berkeliling ke mana?” Profesor Ismunandar bertanya sekali lagi. “Di sini hanya ada ini,” jawabnya cepat. “Kami berkeliling untuk melepas bosan dan kepenatan,” jawab Lucas. “Apa itu melanggar aturan?” “Ya, itu melanggar jam malam. Tidak ada yang boleh berkeliaran di malam hari. Semua orang harus berada di dalam bungker!” “Maaf, kami tidak tahu.” Lucas menjawab dengan air muka tanpa dosa. Profesor Ismunandar terlihat geram. Raut mukanya terlihat tidak seperti biasanya. Binar mata keramahan kini tidak ada lagi. “Ini peringatan pertama dan terkahir kalinya. Jika sudah jam delapan malam tidak ada yang boleh keluar bungker!” “Memang kenapa?” Gita segera mengajukan pertanyaan. Sebuah pertanyaan jebakan yang mungkin saja lidah Profesor Ismunandar tergelincir untuk mengatakan sesuatu tentang apa yang telah mereka sembunyikan dan rencanakan. Profesor Ismunandar menatap Gita lekat. “Kerena mamang begitulah aturannya. Lewat jam delapan malam, tidak ada yang boleh keluar dari bungker dan berkeliling. Lokasi ini bukanlah study tour,” jawabnya tegas. “Tapi jika tidak ada alasan, justru semakin membuatku penasaran, Prof ...,” tutur Gita. Profesor Ismunandar semakin menatap Gita tajam. Bibirnya sebentar terkatup. Sejenak membisu untuk mencari jawaban yang tepat. “Memang kenapa diadakan jam malam? Bukankah kita aman di dalam markas ini? Untuk apa harus diadakan jam malam. Memang akan ada penyusup yang akan mengambil data-data?” Gita semakin bertanya lagi. Sepertinya ia tidak akan berhenti mengajukan pertanyaan hingga Profesor Ismunandar menjawab dengan tepat. “Aku setuju dengan Gita,” timpal Lucas. “Kenapa memangnya? Apa tempat ini masih tidak aman? Kenapa harus ada jam malam. Dan sepertinya pukul delapan malam itu masih terlalu sore.” Profesor Ismunandar menghela nafas panjang dan dalam. Kedua tangannya direntangkan dan kemudian terlipat di depan dadanya. “Aku ingin bertanya kepada kalian ...,” katanya dengan mimik serius. Gita dan Lucas kini yang berganti membisu. Bersiap menyimak kalimat lanjutan yang akan keluar dari bibir tua, sedikit berkeriput dan berwarna ungu kebiruan profesor Ismunandar. Apa lagi kumis tipis beruban itu lama kelamaan membuat Gita merasa geli. “Markas ini milik siapa?” tanya Profesor Ismunandar. Gita maupun Lucas tidak ada yang menjawab. Pertanyaan itu seperti sebuah pertanyaan yang jawabannya bukan lagi rahasia. “Aku bertanya, dan tolong jawab,” kata Profesor Ismunandar sekali lagi. “Ini adalah markas Profesor.” Akhirnya Gita menjawab. “Profesor siapa? Tolong jawab secara lengkap,” pinta Profesor Ismunandar lugas. Gita melirik ke arah Lucas. Kedua alisnya bertaut. Gelagat Profesor Ismunandar terlihat sudah tidak seperti biasanya. Lucas mengerjapkan matanya. Memberi isyarat kepada Gita, untuk menjawab seperti kata hatinya. “Tentu saja markas ini adalah milik profesor Ismunandar,” jawab Gita. “Kamu tahu kan, jika markas ini milikku. Bukan milik ayahmu. Maka kamu harus mengikuti segala peraturan yang berlaku. Tidak perlu banyak tanya, karena aku tidak suka banyak pertanyaan itu,” tutur profesor Ismunandar ketus. Dahi Gita semakin berkerut. Kedua alisnya semakin bertaut dalam. Profesor Ismunandar semakin menunjukkan gelagatnya yang aneh. Padahal mereka belum dua hari tinggal di sini. “Kenapa anda mengatakan hal seperti itu, Prof ... Sedangkan anda meneliti penelitian yang sudah dikembangkan ayahku semasa hidupnya.” Gita merasa diremehkan. Tatapan profesor Ismunandar itu memuakkan. “Penelitian ayahmu itu kini menjadi penelitianku,” jawab Profesor Ismunandar dengan tatapan tajam bak sembilu. “Kenapa mengatakannya jika itu adalah penelitian anda?” Gita mulai kesal. “Sudah jelas jika aku yang memberikan data-data di tablet itu kepada anda.” “Memang awalnya adalah milik ayahmu. Tapi akulah yang meneruskan penelitian,” jawab Profesor Ismunandar dengan seulas senyuman sinisnya. Profesor Ismunandar kini telah menampakkan wujud aslinya. Dia memang tidak sebaik yang dipikirkan oleh Gita. “Anda tidak boleh begitu profesor,” tegur Lucas. “Anda telah melanggar kode etik.” “Kode etik apa yang aku langgar?” sahut Profesor Ismunandar dengan wajah angkuhnya. “Anda menggunakan penelitian orang lain dan mengklaimnya sebagai penemuan anda,” jawab Lucas mengingatkan. “Semua itu melanggar kode etik. Harusnya tidak seperti itu.” “Lalu bagaimana sepertinya? Aku mengakui kepada khalayak publik jika tidak bisa mengembangkan vaksin untuk mengendalikan pandemi ini? Aku adalah ilmuan yang gagal seperti kamu?” Profesor Ismunandar memicingkan matanya ketika berbicara dengan Lucas. Lucas mulai tersinggung. “Jika menurut anda, aku adalah seorang ilmuan gagal. Lalu kenapa anda seakan memintaku tetap tinggal di sini?” Profesor Ismunandar tertawa lirih. Suara mereka memang terasa senyap di ruangan yang sangat besar dan terdapat beberapa bungker-bungker yang hanya terlihat atap sedikit menjorok keluar dari tanah. “Lucas ... Lucas ... kamu salah faham,” tuturnya sembari menahan tawa. “Tidak ada yang menahan kamu di sini. Jika kamu ingin pergi dari sini. Silahkan saja. Tapi Gita tetap tinggal di sini,” sambungnya sambil menatap Gita tajam dan penuh arti. Gita melangkah mundur. Ia bergerak spontan. Ia menggenggam tangan Lucas tanpa sadar. “Aku tahu, kegagalan penelitian yang kamu alami, membuatmu menjadi seorang manusia super. Kamu begitu hebat. Tapi kamu tidak begitu penting bagi kami. Gitalah sesungguhnya permata di sini.” Lucas dan Gita mengerutkan dahi. Gita menunjuk dirinya sendiri. Perasaannya mulai tidak enak. “Maksud anda apa?” tanyanya lirih. “Tidak usah takut Gita. Kami tidak akan menyakitimu,” jawab Profesor Ismunandar. “Bagi kami ... kamu adalah pahlawan. Karena kamu akan menyelamatkan dunia.” Gita semakin tidak enak hati. Firasatnya semakin buruk. Terlebih ketika ia melihat senyuman Profesor Ismunandar yang penuh arti. “Anda akan menyekap aku profesor?” tanyanya dengan sepasang mata mendelik. Profesor Ismunandar tidak langsung menjawab. Ia tersenyum kembali. Senyuman profesor Ismunandar kini seperti misteri. “Profesor, anda ingin menggunakan Gita untuk apa?” tanya Lucas dan kemudian berdiri di depan Gita dengan sikap penuh waspada. “Jangan berburuk sangka dulu kepadaku,” tutur Profesor Ismunandar. “Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Aku tidak akan menyakiti Gita. Tenang saja ....” Lucas menatap tajam profesor Ismunandar yang lebih pendek darinya. Sedangkan Gita berdiri bersembunyi di belakang punggung Lucas. “Sekarang, lebih baik kalian kembali ke bungker. Tempat tinggal kalian di sini,” kata Profesor Ismunandar. Nada bicaranya setengah memaksa. “Jika kami tidak mau bagiamana?” Lucas menantang. “Ini sudah larut malam, Lucas. Percuma saja kamu bersikeras tidak mau kembali. Lagi pula di bungker ataupun di sini, kamu dan Gita tetap berada di dalam bungker milikku,” kata Profesor Ismunandar dengan seulas senyuman angkuhnya. Terjadi keheningan. Mereka saling menatap satu sama lain. Profesor Ismunandar juga tidak kalan menampilkan sikap berani seperti Lucas. Saat ini dia tidak seperti seorang lelaki berusia lima puluh tahunan. Dia seolah seperti pria yang memiliki kekuatan. Terlihat sangat percaya diri. “Kalian kembalilah ke bungker ....” Lucas menggenggam tangan Gita. Ia membalikkan badan. Mau tidak mau memang harus terpaksa kembali ke bungker, karena hal itu adalah pilihan yang terbaik dari pada kedinginan di sini. Lucas mengandahkan mukanya. Menatap atap yang saat malam terbuka. Menampilkan pemandangan malam yang indah dengan bulan bersinar terang di kelilingi oleh bintang-bintang yang bertaburan bak permata. Gita menoleh ke belakang. Menatap Profesor Ismunandar yang tersenyum ke arahnya. “Entah kenapa aku tiba-tiba sangat takut kepada profesor Ismunandar. Jangan-jangan semua yang dikatakan oleh Nardi memang benar. Profesor Ismunandar memang menggunakan nama besar ayahku untuk mengundang para investor untuk mendanai penelitian ini,” kata Gita lirih. Lucas kembali menatap lurus ke depan. Ia mengatupkan bibirnya sebentar. “Sudah pasti, apa yang dikatakan oleh Nardi semuanya benar. Terlebih perubahan sikap Profesor Ismunandar. Ia seolah berkuasa dan tidak membutuhkan mu lagi setelah mendapatan data-data di tablet yang kamu berikan kepadanya.” Gita menghela nafas panjang dan penuh penyesalan. “Tapi aku pikir, kamu masih memiliki sesuatu yang dibutuhkan olehnya,” tutur Lucas sambil berjalan sejajar dengan Gita. Mereka sudah semakin jauh dari Profesor Ismunandar yang tetap berdiri dan memandangi mereka penuh pengawasan. Profesor Ismunandar tidak akan mengalihkan matanya dari Gita dan Lucas, sampai mereka masuk kembali ke dalam bungker tempat tinggal yang sudah disediakan. “Ya, aku tahu ... pasti darahku,” jawab Gita lesu. “Jangan-jangan mereka akan mengambil darahku sampai habis tidak bersisa. Ya Tuhan ... Lucas, kita terlepas dari ancaman serigala, kejaran sekutu Mr. Mun, tapi justru masuk ke dalam kadang singa.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN