Lucas dan Gita kini sudah masuk ke dalam bungker. Mereka spontan bersamaan menghela nafas panjang dan lega.
“Ya, ampun ... Apa kamu tadi lihat manik matanya, Lucas?” Gita segera mengajukan pertanyaan dengan sepasang mata mendelik.
“Sudah kuduga ...,” ujar Lucas lirih. “Aku yakin ada sesuatu yang ganjil sebelumnya.”
“Aku tidak percaya ...,” keluh Gita lirih. “Aku tidak percaya Profesor Ismunandar berlaku demikian.”
“Tapi pada faktanya memang seperti itu kan. Dia memanfaatkan nama besar ayahmu dan kini dirimu!” Lucas berbicara dengan suara yang lebih nyaring dari pada sebelumnya.
Gita melangkahkan kakinya berjalan menuju kursi yang tidak jauh darinya. Satu-satunya kursi yang ada di dalam bungker ini.
“Bagaimana jika Profesor Ismunandar tahu, kita dari markas bagian selatan? Keluar dari jalan rahasia?” tanya Gita. Raut mukanya serius. “Dia tiba-tiba berdiri di belakang kita kan?”
“Semoga saja tidak seperti itu ... Mudah-mudahan profesor Ismunandar baru tiba dan berdiri di belakang kita. Dia tidak melihat kita keluar dari jalan rahasia itu. Jika profesor Ismunandar mengetahuinya, maka Nardi akan dalam masalah,” jawab Lucas sambil berjalan menuju kamar mandi. “Gita, sekarang kita lebih baik segera tidur. Ini sudah larut.”
“Tunggu dulu, Lucas ...!” Suara Gita membuat langkah Lucas terhenti. Ia membalik badan dan memandang Gita. “Ada apa?”
“Jika kita melarikan diri dari sini. Ke mana tempat tujuan kita? Apa kita akan terus berlari tanpa arah? Mencari kloni dan sekutu juga kita harus memiliki kekuatan. Seperti profesor Ismunandar, jika dia tidak menggunakan nama besar dan keagungan ayahku, tidak akan ada investor yang akan menanam modal, membiayai penelitiannya dan juga melindungi markasnya.”
Lucas menatap Gita sedikit lebih lama dari pada sebelumnya.
“Kita harus memiliki tujuan Lucas,” tutur Gita lirih dan dalam.
“Berarti memang tidak ada pilihan,” kata Lucas dengan suara parau.
“Maksudmu apa? Aku tidak mengerti. Pilihan apa?”
“Tunggu sebentar, aku ke kamar mandi dulu. Nanti kita lanjutkan percakapan ini,” jawab Lucas dan kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi.
Gita terpaksa menunggu Lucas di satu-satunya kursi panjang yang ada di dalam bungker. Ia tidak akan tidur jika Lucas tidak memberitahukannya dulu, pilihan apa yang harus diambil oleh mereka.
Suara kran kamar mandi terhenti. Tidak lama kemudian Lucas membuka pintu kamar mandi dan duduk bergabung dengan Gita. “Maaf, tadi aku ingin ingin berkemih sejak tadi,” ungkapnya jujur.
Gita hanya tersenyum. “Hm ... ya tidak apa-apa. Baguslah jika kamu masih ingin berkemih, itu berarti kamu masih seperti manusia.”
“Pujianmu sangat menyanjungku,” jawab Lucas terkekeh.
“Tolong, lanjutkan kata-kata yang ingin kamu sampaikan tadi. Pilihan apa yang harus terpaksa kita ambil?” tanya Gita dengan sepasang mata menyipit. “Jangan membuatku penasaran ....”
Lucas duduk dengan rapi dan menatap Gita lekat. “Ada hal yang belum aku ceritakan kepadamu. Hal yang sebetulnya, aku enggan memberitahukan kamu.”
Hening sejenak.
Gita semakin penasaran. Rasa keingintahuannya semakin memuncak. “Apa?”
“Sebetulnya aku adalah salah satu keturunan Daniel Abraham.”
Gita mengerutkan dahinya semakin dalam. “Hm ... Daniel Abraham?”
Lucas menganggukkan kepalanya.
“Siapa dia?” tanya Gita jujur. Ia memang tidak mengenal Daniel Abraham.
“Memang kamu tidak pernah mendengarnya?” tanya Lucas sekali lagi.
Sejenak mereka masih saling menatap satu sama lain.
Gita menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku sungguh tidak mengenal atau pun pernah mendengar nama itu. Memang siapa?”
“Astaga, kamu sungguh-sungguh ....,” guman Lucas. “Jika tahu begini, aku ceritakan saja sejak kemarin.”
“Apa sih? Aku tidak mengerti. Sumpah Lucas, aku tidak mengenal nama Daniel Abraham. Siapa dia?”
“Dia adalah ayahku. Pemilik dan pemimpin perusahaan besar berbagai produk kecantikan dan produk kesehatan. Termasuk multivitamin, antiseptik, dan juga masker.”
“Wow ... Bukankah itu sungguh keren? Jadi kamu adalah keturunan sultan. Kamu berasal dari keluarga kaya raya. Kenapa tidak meminta bantuan keluargamu?” Gita menyarankan. “Kita melarikan dari sini dan menuju pulang ke keluargamu. Kita mencari perlindungan di sana. Dan jika kita memang memiliki tujuan, maka kita bisa pergi bersama Laura kan? Kita bisa membawa putrimu ....”
“Tapi tidak semudah itu. Pulang adalah pilihan terakhir. Jika masih ada cara, jalan dan rencana lainnya, aku tidak akan pulang. Aku tidak akan kembali ke keluargaku.” Raut muka Lucas mendadak berubah serius. “Sungguh aku tidak mau kembali ke sana.”
“Memang kenapa? Bukankah, keluarga adalah satu-satunya tempat aman dan nyaman?” tanya Gita tidak mengerti.
“Iya. Mungkin untukmu. Tapi tidak untukku. Pulang ke rumah membuatku seperti di neraka,” jawab Lucas dengan muka sedih.
Gita bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Lucas. Entah apa yang terjadi dengan keluarga besarnya, hingga Lucas tidak mau kembali pulang? tanyanya di dalam hati.
“Tapi jika memang tidak ada jalan lagi, maka pilihan terakhir yang bisa kita ambil adalah kembali pulang ke keluargaku,” ujar Lucas lirih.
“Aku juga bisa ikut denganmu?” tanya Gita ragu. “Aku kan bukannya keluargamu. Istri pun bukan. Hanya seorang rekan.”
“Rekan adalah keluarga. Sejak kemarin-kemarin kita selalu bersama dan saling melindungi kan? Dan hal itu akan terus berlangsung hingga nanti. Mengerti?” Lucas menatap Gita tepat di bola matanya.
Gita tersenyum mendengarnya. Ia menepuk-nepuk telapak tangan Lucas. “Aku sangat percaya kepadamu.”
Lucas tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. “Ayo, kita tidur,” katanya setelah beberapa menit.
Mereka pun beranjak berdiri dan menuju ke kamar masing-masing. Kamar yang sangat mungil. Tapi bagi Lucas dan Gita yang terpenting kamar mereka memiliki kasur yang nyaman untuk bisa membaringkan tubuh yang telah lelah.
***
Besok pagi sekitar jam sepuluh pagi, kapten Zein sudah menghadap kepada Profesor Ismunandar. Ia menekan bel di depan pintu berbahan besi.
Di sebuah bungker yang paling besar, di sanalah tempat tinggal profesor Ismunandar.
Kapten Zein menekan bel untuk kedua kali. Ia berdiri tegap walau sirat keresahan terukir di air mukanya.
Setelah dua menit menekan bel yang kedua kali, akhirnya pintu bungker terbuka. Kapten Zein melangkah masuk ke dalam dan membuka dua pintu yang tertutup menempel di tanah namun tidak terkunci.
Ketika pintu bawah tanah terbuka, terlihat tangga besi yang menempel. Kapten Zein segera menuruni anak tangga dan kedatangannya segera disambut oleh Profesor Ismunandar.
“Ada apa Kapten Zein?”
Kapten Zein segera membalik badan setelah kedua kakinya benar-benar menapak lantai. “Selamat pagi Profesor Ismunandar. Aku ke mari ingin memberikan kabar kepada anda,” ujarnya.
Kedua alis Profesor Ismunandar bertaut. “Kabar apa?” tanyanya curiga. “Apa ada kabar yang harus segera disampaikan padahal hari ini adalah hari minggu?”
“Semalam terjadi hal yang aneh, Prof,” jawab Kapten Zein sembari berjalan mendekat.
“Ke mari, duduklah,” ujar Profesor Ismunandar sambil menunjuk ke arah empat buah sofa.
Kapten Zein duduk di salah satunya.
“Apa kamu ingin kopi?” tanya Profesor Ismunandar yang masih terlihat santai.
“Tidak usah Prof. Terima kasih. Aku tidak mau merepotkan.”
“Hei, kenapa berkata begitu? Kamu tidak merepotkan. Aku serius menawarkan kopi. Buatanku sendiri. Bukan buatan Nardi,” ujarnya sembari tertawa.
“Baiklah jika anda tidak merasa direpotkan, aku juga ingin kopi,” jawab Kapten Zein dengan sopan.
“Tunggu sebentar.” Profesor Ismunandar mengambil teko dari mesin kopi dan kemudian menuangkan kopi ke dalam cangkir porselen.
Kapten Zein mengamati setiap gerakan Profesor Ismunandar, hingga tangan berkulit keriput itu memberikannya kopi yang telah rampung dibuat. “Ini, silahkan ....”
“Terima kasih prof. Bisa minum kopi buatan anda adalah sebuah sanjungan luar biasa bagi saya,” ujar Kapten Zein sembari menerima cangkir kopi tersebut.
Profesor Ismunandar kini telah duduk di sofa. Berhadapan dengan Kapten Zein. “Beritahu aku kabar apa yang kamu bawa? Hingga hari minggu yang berharga, bisa dikalahkan dengan kabar tersebut,” tanyanya sembari menyesap kopi yang masih panas perlahan.
Kapten Zein meniup permukaan kopi. Kepulan uap panas terlihat berpendar ketika udara dari mulut Zein berhembus. Ia menyesap perlahan-lahan. Menikmati kopi hitam robusta yang nikmat. “Sungguh kopi yang membangkitkan semangat,” ujarnya memuji.
Profesor Ismunandar tersenyum. Netranya menatap lurus Kapten Zein, sekaligus menunggu lanjutan cerita yang akan diberitahukannya.
“Semalam ada dua orang penjaga yang memergoki dua orang asing berkeliaran di dalam markas bagian selatan,” ujar Kapten Zein mulai menjelaskan maksud kedatanganya. “Tapi mereka tidak berhasil menangkap dan mengetahui siapa yang berlarian di lorong koridor.”
Profesor Ismunandar terkesiap. Garis rahangnya mulai mengeras dan ekspresi wajahnya mulai tegas. “Apa sudah diperiksa rekaman cctv-nya?”
“Justru hal ini yang anehnya Prof,” sahut Kapten Zein.
“Apa?” Profesor Ismunandar semakin penasaran.
“Seluruh rekaman cctv terhapus. Di bagian rekaman setelah pukul dua belas malam terhapus. Bukankah hal itu sangat aneh?”
Profesor Ismunandar terdiam sejenak. Mulutnya terkatup rapat dan perlahan lidahnya sedikit terjulur keluar untuk membasahi bibir bawahnya. “Kejadiannya semalam?” tanyanya memastikan. Hati kecilnya langsung curiga dengan Lucas dan Gita. “Kenapa video rekaman cctv-nya bisa terhapus begitu? Pasti ada orang yang menghapusnya. Agar kita tidak bisa mengetahui siapa yang menyelinap tengah malam di markas bagian selatan.”
“Sudah pasti Prof,” jawab Kapten Zein yakin. “Sudah pasti tujuan menghapus rekaman cctv agar kita tidak bisa melihat siapa yang menyelinap. Para penjaga mengatakan, ‘Mereka dua orang’. Apa pikiran anda dan saya tertuju pada hal yang sama? Curiga kepada dua orang yang sama?” lanjutnya sambil menatap tajam.
Profesor Ismunandar tidak menjawab. Namun binar matanya yang membalas tatapan Kapten Zein, dapat mengartikan segalanya.
“Mungkin saja ... Dua orang yang menyelinap malam tadi adalah Lucas dan Gita,” kata Kapten Zein melanjutkan kata-katanya.
“Ternyata ... kita tidak bisa memandang sebelah mata pada mereka. Gita dan Lucas, dua orang yang sama-sama selalu ingin tahu dan berpikiran lebih cerdas dan cepat selangkah ke depan,” sahut Profesor Ismunandar dengan sorot mata berapi-api.