“Lalu apa yang harus kita lakukan, Prof?” tanya Kapten Zein. Ekspresi wajahnya terlihat sudah siap untuk menerima tugas dan perintah dengan segara.
“Aku pikir kita harus segera menjalankan rencana awal. Membuat vaksin dengan bahan baku darah Gita yang telah disuling. Kita tidak ada waktu lagi, Prof ... Gita dan Lucas adalah dua orang yang cerdas. Lama kelamaan mereka pasti tahu jika kita hanya memanfaatkan salah satu diantara mereka.”
“Tapi alat yang dibuat oleh Tomi belum juga rampung. Tabung penyulingan darahnya belum siap,” jawab Profesor Ismunandar.
“Jadi maksud anda kita harus menunggu sampai alat penyulingan yang dibuat oleh Tomi rampung, begitu?” tanya Kapten Zein. Ia sudah tidak sabar dengan lambatnya gerak dan pekerjaan Tomi. Entah kenapa Tomi masih dipekerjakan oleh Profesor Ismunandar, padahal Tomi bukanlah orang yang cekatan. Perjanjian pembuatan alat penyulingan darah yang akan dijadikan bahan baku dan juga penelitian lanjutan pembuatan vaksin tidak segera selesai sesuai harapan.
“Mau bagaimana lagi,” tutur Profesor Ismunandar. “Kita harus menunggu alat penyulingan darah Gita selesai.”
“Memang tidak ada orang lain lagi yang bisa membuat alat seperti itu selain Tomi?” tanya Kapten Zein.
“Aku sudah memberi Tomi tenggat waktu penyelesaian. Malam ini dia harus segera menyelesaikan alat tersebut,” jawab Profesor Ismunandar tegas dan lugas.
***
“Tidaaak!” teriak Gita sembari terbangun dan segera duduk. Nafasnya terengah-engah. Mimpi buruk menghantuinya.
Peluh dingin bercucuran.
Suara pintu kamar terbuka dengan digeser ke samping terdengar. Membuat Gita menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Lucas berdiri di ambang pintu. Memandang tajam ke arahnya.
“Ada apa?” Lucas bertanya sambil mengamati keadaan Gita. Peluh bercucuran di mukanya menandakan jika habis bermimpi buruk.
“Jam berapa ini?”
“Jam sepuluh. Dan kamu perawan kesiangan,” jawab Lucas sambil terkekeh pelan.
Gita menghela nafas panjang dan dalam. “Aku bermimpi buruk.”
“Ya, terlihat dari ekspresi mukamu.” Lucas tidak menampik.
Gita segera beranjak turun dari ranjang dan kemudian keluar kamar.
Jarak antara tempat tidur dan pintu hanya satu meter. Ia bergegas melangkahkan kaki menuju ke dapur mini di dalam bungker mereka.
Lucas memiringkan tubuhnya, agar Gita bisa melewatinya. “Mimpi apa kamu, sampai berkeringat banyak begitu?” tanyanya saat melihat kaos yang dikenakan Gita basah dan juga buliran peluh masih menghiasi kening dan juga sekitar hidungnya.
Gita mengingat-ngingat tentang mimpi yang tadi menghampirinya. Sembari berjalan untuk mengambil air dingin di lemari es yang tidak besar, menenggak air langsung dari botol kacanya, pikirannya tetap terfokus kepada mimpinya barusan.
Suara air dingin yang mengaliri kerongkongan Gita terdengar jelas. Lucas menunggu Gita menceritakan dia bermimpi apa semalam.
Gita menyeka air dingin yang membasahi sekitar bibir dan mulutnya. Menghela nafas panjang karena lega sudah kembali ke dunia nyata dan keluar dari alam mimpi. Juga air dingin yang telah menyegarkan pikirannya.
“Mimpimu sangat buruk sekali? Mimpi apa? Bertemu dengan Ethan?” tanya Lucas yang sebetulnya mengajak Gita bercanda.
Namun Gita masih tidak ingin bersenda gurau. Tatapannya lurus menerawang, memikirkan mimpinya itu.
“Hei, kenapa diam saja?” tegur Lucas ketika mendapati Gita yang hanya bisa termenung tanpa suara.
“Aku tadi memang bermimpi buruk,” jawab Gita. “Tapi aku lupa, aku mimpi apa ....”
“Hah, bagaimana?” Lucas mendelikkan matanya.
“Ya, aku lupa mimpi apa tadi ...,” jawab Gita sekali lagi.
“Kenapa bisa kamu lupa? Bukannya tadi kamu bilang jika mimpimu buruk?”
“Ya, benar ... Mimpiku buruk. Tapi aku lupa bagaimana mimpiku itu,” jawab Gita untuk kesekian kalinya.
Lucas menggelengkan kepalanya pelan. Ia mulai mengabaikan mimpi Gita dan mulai mengambil radio di dalam tasnya. Memutar-mutar tombol pencari frekuensinya agar mendapatkan suara dan jaringan radio yang jelas.
Gita menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia sungguh memikirkan mimpinya. “Aku mimpi apa ya tadi ....”
“Sudahlah, lupakan saja. Itu hanya bunga tidur. Mungkin kamu kelelahan dan semalam kita tidur sangat larut. Jadinya kamu mimpi buruk,” sahut Lucas.
“Tapi tadi aku merasa mimpiku sangat nyata. Bahkan jarum yang menusuk kulit dan menembus daging di lenganku terasa jelas,” jawab Gita dengan tatapan menerawang. “Tapi aku lupa, bagaimana mimpiku. Hanya saja aku merasa dari terang, semuanya menjadi gelap. Lalu suara ayahku terngiang-ngiang.”
Lucas menghentikan gerak jarinya yang memutar tombol radio. Ia terdiam sebentar dan menatap Gita yang masih berdiri di samping lemari es. “Ayahmu mengatakan apa?”
Gita berusaha mengingatnya. Ayahnya masuk ke dalam dimensi alam bawah sadarnya untuk mengatakan sesuatu. “Maafkan ayah. Lari ....”
“Apa?” Lucas mengerutkan dahinya ketika bertanya. “Ayahmu meminta maaf dan menyuruhmu berlari?”
Gita menganggukkan kepalanya. “Maafkan ayah. Lari ...,” ulangnya sekali lagi. “Begitulah yang aku dengar di dalam mimpiku.” Ia memejamkan matanya. Mengingat bagaimana alur mimpi buruknya tadi.
Ia berlari, dikejar-kejar oleh beberapa orang. Satu tangan terulur kepadanya. Tangan yang memiliki tanda lahir kecil berwarna hitam di dekat ibu jari.
Karena hanya satu-satunya tangan tersebut yang terulur kepadanya, ia pun meraih tangan tersebut.
Ia merasa aman dalam hitungan detik. Hanya untuk sementara.
Hingga langit terang berubah menjadi gelap gulita seketika. Ia mengandahkan muka untuk melihat siapa sosok yang menolongnya. Namun ia tidak bisa melihat apa pun. Semuanya gelap. Bahkan ia tidak bisa melihat siapa sosok seseorang yang meraih tangannya.
Hanya sebuah tanda hitam di pergelangan tangan pria berkulit kendur tersebut yang dilihatnya.
"Apa ini sebuah pertanda Lucas?" tanya Gita dengan suara lirih.
Lucas tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus menatap tajam. "Tentu saja ada yang harus kita waspadai. Apa lagi jika bukan Profesor Ismunandar. Pasti ayahmu datang ke dalam mimpi. Memperingatkan kamu agar waspada terhadap Profesor Ismunandar. Kata maaf yang disampaikan ayahmu itu pasti penyesalan karena telah menyuruh kamu mencari Profesor Ismunandar dan mempercayainya."
Gita menarik nafas panjang dan dalam. "Jangan-jangan di alam sana, ayahku merasa tidak tenang ...."
"Bisa jadi," sahut Lucas.
Suasana menjadi semakin serius. Mereka saling bertatapan, hingga Lucas menegur Gita, "Lebih baik kamu mandi dulu. Biar pikiran kamu segar dan melupakan mimpimu. Jangan dianggap serius. Aku hanya asal bicara. Kita pasti bisa keluar dari sini."
Gita mengangguk tanpa bersuara. Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Tidak lama setelah Gita melangkah masuk ke dalam bilik mandi yang amat kecil. Hanya ada closed duduk dan shower di sampingnya. Suara pintu benteng besi di atas terdengar diketuk oleh seseorang. Suara besi yang digedor dengan kepalan tangan itu terdengar menggema hingga ke bawah.
Suara kran shower terdengar dinyalakan. Diiringi dengan senandung merdu Gita yang bernyanyi, "Sebagai seorang anak, anda akan menunggu. Dan perhatikan dari jauh.
Tapi anda selalu tahu bahwa anda akan menjadi orangnya. Hal itu akan bekerja saat mereka semua bermain.
Bangun di malam hari, dari semua hal yang akan diubah. Tapi semua itu hanya mimpi."
Lucas mendengarkan senandung merdu dan lirik yang mendalam. Ia melangkah menuju ke arah tangga besi yang menjuntai dan mulai naik ke atas. Dengan gerakan cepat dan lengan yang kekar, Lucas pun sampai di atas hanya dengan hitungan tiga puluh detik.
Sesampainya di atas. Ia berdiri menghadap ke arah daun pintu besi yang kini kembali digedor oleh seseorang.
Suara gedoran tangan yang tak sabar agar pintu segera terbuka.
Lucas tidak langsung membukanya. Ia terdiam sejenak. Berdiri waspada takut hal yang tidak diinginkan terjadi. Mungkin saja orang yang menggedor-gedor pintu besi ini adalah Profesor Ismunandar atau Kapten Zein. Atau mungkin mereka menyuruh seseorang.
Lucas ragu untuk membuka pintu. Netranya melirik ke arah selot pintu besi yang terkait. Apa lagi Gita saat ini sedang mandi.
"Dak! Dak!" Suara pintu besi kembali dipukul-pukul tak sabar.
Lucas menunggu suara kran di kamar mandi terhenti dan pintunya terbuka.
Dua menit kemudian, suara kran diputar dan tak terdengar lagi air kran mengucur ke bawah. Suara pintu kamar mandi pun terbuka.
Aman, batin Lucas. Setidaknya jika ada apa-apa mereka mudah kabur karena Gita sudah mengenakan pakaiannya kembali.
"Dak! Daaak!" Suara gaduh itu kembali menggema.
"Iya, tunggu," akhirnya Lucas menjawab. Tangan kanannya segera menarik selot kunci besi yang mengait.
Pintu terbuka.
"Lucas, kenapa kamu lama sekali membuka pintunya?!" seru Nardi dengan raut muka panik dan pucat. Ia segera berhambur masuk ke dalam bungker.
Lucas masih bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa Nardi ke mari dengan wajah gugup. Tapi pertanyaan itu ditunda dahulu. Ia segera kembali menutup pintu besi dan menguncinya.
"Nardi ada apa?" tanyanya saat pintu telah benar-benar kembali rapat.
"Mereka semua sedang membicarakan dua orang yang menyelinap di tengah malam! Mereka mengatakan penyusup telah memasuki markas."