“Apa mereka tahu jika dua orang penyusup itu adalah kami?” tanya Lucas dengan sepasang mata membulat.
Nardi menggelengkan kepalanya. “Sepertinya tidak ada yang tahu karena rekaman videonya telah aku hapus. Dan Semoga saja tidak ada yang curiga jika aku lah pelaku yang menghapus rekamannya.”
Gita telah berganti pakaian dan keluar kamarnya. Sejak tadi ia tidak melihat Lucas di dalam bungker. Padahal bungker mereka tidaklah besar.
Suara Lucas dan Nardi yang sedang berbincang menggema dan terdengar hingga ke bagian bawah.
Gita berjalan ke dekat tangga besi yang menempel di dinding. Tangga yang seperti tangga darurat itu menjorok ke bawah. “Lucas,” panggilnya sembari mengandahkan muka ke atas dan menatap lubang berdiameter sedang yang berada tepat di atas kepalanya. “Hei, apa kamu di sana?”
Di atas, Lucas mendengar suara Gita yang memanggilnya. “Ya, aku di sini,” jawabnya cepat.
“Kamu di sana sedang apa? Apa ada orang lain?” Gita bertanya kembali untuk memastikan.
“Ada Nardi,” jawab Lucas singkat.
“Ajak saja dia turun ke bawah,” ujar Gita.
Nardi memandangi Lucas setelah mendengar suara Gita menyebutkan namanya.
“Apa kamu mau ke bawah?” tanya Lucas lirih. “Sepertinya lebih baik kita mengobrol di bawah saja.”
Nardi menganggukkan kepalanya. “Iya, itu lebih santai,” jawabnya lirih.
Lucas lebih dulu menuruni anak-anak tangga besi yang melekat ke dinding. Ia setengah meloncat saat sudah berada di anak tangga terbawah. Nardi menyusulnya.
“Hai, selamat datang,” sapa Gita sembari tersenyum. “Kamu ke mari untuk berkunjung? Kebetulan, hari-hari kami membosankan. Menunggu hari kembali berganti malam saja begitu lama.”
Nardi menggerakkan tangannya. “Aku ke mari untuk memberitahu kalian jika semua orang sudah tahu, malam tadi ada dua orang penyusup.”
“Apa wajah kami terlihat?” Sepasang mata Gita mendelik tajam.
“Jika terlihat, pasti mereka sudah ke mari.”
Baru saja Nardi berbicara, tiba-tiba suara ketukan di pintu besi kembali terdengar nyaring.
Mereka bertiga mengandahkan muka ke atas.
Suasana hening sejenak. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Siapa lagi yang datang?" tanya Lucas sekaligus bertanya pada dirinya sendiri.
"Menurutmu siapa?" Gita justru melemparkan pertanyaan kembali.
"Pasti mereka yang menggedor pintu bungker kalian ...." Timpalan Nardi membuat suasana semakin terasa menegangkan.
Kalimat Nardi yang menggantung membuat bulu kuduk Gita meremang. "Mereka yang kamu maksud itu adalah Profesor Ismunandar dan Kapten Zein?" tanyanya memastikan.
"Jika bukan mereka, menurut kalian siapa?" Kedua alis Nardi terangkat ke atas.
Suara gedoran di pintu besi semakin kencang terdengar.
"Jika kamu tidak membuka pintunya, pasti mereka akan berasumsi yang tidak-tidak," tutur Gita mengingatkan. "Apa pun itu, lebih baik kita berlagak jika tidak tahu apa-apa."
Lucas menarik nafas panjang dan dalam. "Kamu benar. Lebih baik kita berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Jika mereka menanyakan semalam kita sedang apa ketika bertemu Profesor Ismunandar di halaman bungker, jawab saja jika kita bosan di dalam bungker yang kecil ini. Malam itu kita hanya berjalan-jalan di sekitar bungker saja," ucapnya memberitahu.
Gita mengangguk mengerti. "Tenang saja, aku sudah pandai merangkai kata untuk berbohong," jawabnya sembari tersenyum tipis.
Lucas mendengarkan jawaban Gita sembari berjalan menuju ke tangga besi yang menempel di dinding. Ia mulai merayap menaiki anak-anak tangga tersebut. Tiga puluh detik kemudian sepasang kakinya yang kekar sudah menapak di depan pintu bungker.
Pintu bungker terus digedor dengan kencang. Walau orang-orang yang menggedor pintu berteriak kencang untuk memanggil Lucas dan Gita. Tapi suara mereka tidak akan bisa masuk ke dalam karena suara yang ditimbulkan seperti terpantul.
Lucas memantapkan diri untuk menarik selot pintu besi.
Pintu besi terbuka lebar.
Perlahan tapi pasti, wajah profesor Ismunandar dan Kapten Zein terlihat. Di belakang mereka berdiri tiga orang pria berbadan tegap. Mereka seperti bukan dari bagian tim penilitian atau karyawan yang bekerja di bagian dalam.
"Selamat pagi, Lucas ...," sapa Profesor Ismunandar dengan senyuman lebarnya.
"Pagi Prof ...." Lucas membalas sapaan. "Ada apa anda ke mari bersama beberapa orang?" tanyanya sambil melihat Kapten Zein dan tiga orang pria yang berdiri di belakang.
"Kami ingin bicara dengan kamu dan Gita," jawab Profesor Ismunandar tegas.
Lucas segera mempersilahkan. Ia sama sekali tidak menunjukkan gelagat takut ataupun gugup. "Oh iya, silahkan saja prof. Apa yang ingin anda tanyakan kepada kami?"
"Boleh kami masuk?" tanya Profesor Ismunandar kembali.
Sebetulnya Lucas tidak mau profesor Ismunandar memasuki bungker mereka. Tapi tindakan melarang profesor Ismunandar masuk ke dalam bungker sama saja membuat curiga.
"Apa kami boleh masuk ke dalam untuk membicarakan perihal yang penting?" tanya Kapten Zein menyela.
"Tentu saja," jawab Lucas dengan segera. "Silahkan masuk ... Aku hanya merasa aneh. Memangnya ada apa? Baru saja kami tinggal dua hari di sini, tapi sepertinya terjadi sesuatu yang genting."
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Lucas. Profesor Ismunandar maupun Kapten Zein, sama-sama sengaja merapatkan bibir mereka.
Bahkan mereka dengan santainya melangkah masuk ke dalam bungker dan kemudian segera turun ke bawah. Sedangkan tiga orang pria tegap dan tinggi seperti Lucas berdiri di depan pintu bungker.
"Ada apa lihat-lihat?" tanya salah satu dari mereka ketika Lucas memandangi.
"Kalian terlihat aneh. Seperti robot dan boneka saja," sahut Lucas. "Mau saja diperintah ini dan itu." Ia sengaja memprovokasi.
Tiga orang berkulit sawo matang dan cenderung kulit mereka lebih gelap, tersinggung mendengarnya.
"Jika kami seperti robot, kamu ini akan jadi apa?" kata salah satu di antara tiga orang tersebut.
"Aku adalah tamu di sini. Apa kamu tidak sadar jika aku lebih dihargai di sini?" Lucas kembali memancing.
Salah seorang, sudah mulai kesal kepada Lucas. Ia mengepalkan tangannya dan kemudian mulai menarik dan mencengkeram kerah baju Lucas. "Kamu sangat yakin jika ternyata lebih dihargai dari pada kami? Aku rasa sebentar lagi kamu akan berubah pikiran."
"Feri, sudahlah ... Lepaskan cengkeram tangan kamu. Jangan sampai kamu terpengaruh dengan apa yang dia katakan," tegur temannya merelai.
"Lucas, kenapa tidak segera turun? Kami menunggu kamu di bawah," tanya Profesor Ismunandar.
Semua orang yang masih ada di ambang pintu, terdiam dan mendengarkan suara teguran Profesor Ismunandar. "Kalian dengarkan, aku harus pergi dari sini. Aku lebih dicari dan penting dari pada kalian."
Sudut bibir Feri menukik ke atas. "Kamu lihat saja apa yang akan terjadi kepada kalian setelah ini. Kamu dan putri Profesor Rudi itu aman tamat. Ingat kata-kataku ini." Bermaksud mengancam. Tapi justru Feri, malah membocorkan rencana.
Lucas melangkah mundur. Ia tidak menanggapi kembali apa yang sudah diucapkan Feri kepadanya. Yang terpenting kini ia sudah tahu apa yang akan dilakukan Profesor Ismunandar dan Kapten Zein kepada mereka.